Karma Cinta

Karma Cinta
Apartemen


__ADS_3

Hangat. Bahkan dinginnya malam tidak terasa untuk seorang Kaisar. Dia tengah menatap kekasih halalnya yang sedang bergelut dengan makanannya yang ia sodorkan pada api. Wajahnya lebih cantik, dengan senyum yang terus mengembang. Membuat damai yang menatapnya.


''Sayang sudah larut, kita perlu istirahat, apa kau tidak merasa lelah?'' tanya Kaisar yang melihat Syila masih nyaman di posisinya.


''Kau duluan saja, sebentar lagi aku istirahat,'' Syila masih ingin menikmati api unggun itu, sembari memutar lagi kenangan bersama kedua orangtuanya. Bedanya sekarang, Syila sudah tidak lagi menangis, walau rindu tetap menyeruak dalam kalbunya. Suaminya benar selalu ada untuk Syila ketika hatinya sedang rapuh.


Mereka tidur dengan damai di sebuah tenda seperti orang sedang pramuka. Tiba-tiba Kaisar terbangun karena merasakan dingin di sekitar tubuhnya. Dengan malas ia melepas dekapannya pada Syila, lalu ia memegangi bagian tubuh yang terasa dingin, basah. Hah..., ternyata hujan di luar sana dan pintu tenda tidak tertutup rapat membuat air hujan dengan mudahnya masuk. Syila tidak terusik sama sekali, bahkan suara petir tidak mengganggunya tidur.


''Sayang bangun, sepertinya kita harus tidur di kamar saja,'' ajak Kaisar.


Syila menggeliat, membuka matanya perlahan.


Duarrr...!! Suara petir langsung membuat mata Syila kehilangan kantuknya.


''Ini hujan, Kai?'' tanya Syila di tengah-tengah keterkejutannya.


''Iya, ayo kita pindah saja,'' Syila mengangguk setuju, mereka berlari menyusuri air hujan yang turun. Saling menggenggam, basah-basahan bersama.


Kaisar membuka pintu apartemennya, mereka masuk, sesaat diam dan saling pandang, baju mereka sudah basah semua, lalu keduanya tertawa.


''Hahaha..!!'' menertawakan keadaan mereka masing-masing. Huhh terlelap dalam mimpi, di bangunkan oleh petir, dan di mandikan oleh air hujan, ini sudah lebih dari tengah malam.


''Ayo bersihkan tubuhmu dulu baru kembali istirahat, jangan tidur dalam keadaan basah, nanti kau sakit,'' Kaisar mengingatkan.


Syila masuk dalam kamar mandi, sedangkan Kaisar, memilih pakaian ganti pergi ke kamar sebelahnya.

__ADS_1


Beberapa saat, Kaisar sudah selesai dengan kegiatannya. Ia memasuki kamar, namun Syila belum juga selesai. la memutuskan untuk membuat susu hangat. Namun ketika Kaisar masuk kamarpun Syila juga belum ada.


Rasa khawatir langsung menyergap hatinya, ''Syila?!! kau masih di dalam?'' dengan menggedor pintu agak kencang.


''I.. Iya!'' jawab Syila terbata.


''Apa yang kau lakukan di sana begitu lama, keluarlah, aku khawatir, apa kau membutuhkan sesuatu sampai kau merasa kesulitan di dalam?'' Kaisar sudah sangat khawatir.


''Emmmm, Kai, aku baru menyadari aku tidak mempunyai pakaian ganti, bagaimana aku bisa keluar?'' jawab Syila ragu. Tapi dia juga sudah semakin dingin hanya dengan melilitkan handuk.


Kaisar menepuk jidatnya, ia sendiri melupakan hal itu, tapi kemudian seringai licik timbul di wajahnya.


''Sayang, maaf aku juga melupakan itu, aku hanya ada baju kemeja di lemari, kau mau memakainya? dan untuk pakaian dalam, kau mau memakai punyaku? tapi bagian atas aku tidak punya,'' di buat seperti sedang prihatin padahal dia sedang tertawa.


'Kau memusingkan pakaian, sedangkan tanpa pakaian pun kau sudah di halalkan bagiku, Syila.'


''Baiklah berikan pakaian itu,'' dengan sangat terpaksa Syila memakainya, kemeja putih yang ia pakai sampai batas atas lututnya. Memamerkan betisnya yang mulus, lengan yang menutupi jari-jarinya dan sangat kebesaran bagian tubuhnya, namun tetap memperlihatkan bagian tubuh yang menonjol, sedangkan kepalanya ia tutupi dengan handuk.


''Sayang, kenapa lama sekali? apa kau pingsan di dalam, aku akan mendobrak pintunya, jika kau tidak keluar dalam hitungan ke tiga,'' ancam Kaisar, ia sudah tidak sabar ingin melihat istrinya keluar dari kamar mandi, ia menunggu dengan merebahkan dirinya di ranjang.


''Satu...''


Syila sangat malu ingin keluar dengan pakaian seperti itu, apa lagi yang akan melihatnya saat ini adalah seorang pria, walaupun suaminya sendiri.


''Dua... ,'' Kaisar hendak turun dari ranjangnya, lalu terdengar pintu terbuka.

__ADS_1


Hanya sedikit pintu yang terbuka, ''Kai, kau bisa menutup matamu dulu? aku ingin tidur terpisah malam ini, aku ingin keluar tapi aku malu,'' teriak Syila di balik pintu.


Kaisar gemas sekali dengan ulah istrinya, ''Aku tidak mau, keluarlah, apa yang perlu di malukan? kita suami istri, bahkan tanpa busana kita sudah di perbolehkan untuk saling melihat, bahkan lebih.''


Ucapan Kaisar yang terdengar frontal membuat jantung Syila berdegup kencang, wajah juga telinganya sudah merona, malu sekali, itulah yang ia rasakan.


''Kau sengaja ya?!'' tuduh Syila, membuat Kaisar ingin cepat menjemputnya, menggendong, dan ia rebahkan di ranjang.


''Apa yang sengaja, tanpa kita tahu, hujan tiba-tiba turun, dan untuk kembali ke rumah itu tidak mungkin, hujan semakin lebat, tidur di sini adalah pilihan terakhir. Aku benar-benar lupa urusan pakaianmu,'' jujur Kaisar.


''Baiklah, bisakah kau mematikan lampunya, kumohon untuk malam ini saja kita tidur terpisah ya, aku sudah kedinginan, Kai.''


Kaisar berjalan menuruni ranjangnya, sedikit melirik pintu kamar mandi, ia mematikan lampu, semua lampu, dan membuka pintu kamar, kemudian menutupnya kembali.


Mendengar pintu yang sudah tertutup, Syila keluar dari tempat persembunyiannya, dengan cara mengendap-endap, ia ingin mengunci pintu dan kembali menyalakan lampu.


''Kenapa dengan jantungku? kenapa semakin kencang detaknya?'' bermonolog sendiri. Kaisar yang mendengarnya berusaha untuk membungkam mulutnya agar tidak tertawa.


Pintu sudah ia kunci, lalu ia meraba tembok mencari saklar lampunya, ketemu, dan klik semua terang, nampak sosok pria yang berdiri di depannya dengan senyum liciknya. ''Aaaaaaa...!!'' Syila begitu terkejut, ia melempar handuk yang berada di kepalanya pas terkena wajah Kaisar dan terhuyung hampir terjatuh karena berusaha kabur namun kakinya terpeleset. Dengan sigap Kaisar menahan tubuh mungil sang istri, dengan langsung membungkam teriakannya dengan bibirnya.


Menyeimbangkan tubuh mereka tanpa ingin melepas pangutan, bisa Kaisar rasakan bagian dada Syila yang begitu lembut ketika menempel di dadanya. Itu karena Syila tidak memakai penyangga seperti biasanya, rambut Syila yang tergerai masih setengah basah, harum shampoo juga sabun yang pekat di indra pencium Kaisar, juga detak jantung Syila yang terasa sangat kencang seperti detak jantungnya.


Kaisar menggiringnya menuju ranjang, sedangkan Syila berusaha memberontak, namun tidak menghasilkan apapun.


Mereka terjatuh di ranjang dengan Syila di bawah dan Kaisar di atasnya. Kaisar melepas pangutannya. Ia pandangi wajah istrinya yang untuk pertama kali ia melihat tanpa hijabnya. Rambut hitam legam seperti malam dengan kilau seperti kilat, sepanjang bawah bahu dan poni yang menghias dahinya. Dia terlihat seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Wajah yang merona menambah kesan manis dan menggoda.

__ADS_1


Sejenak ia merasakan suatu rasa yang sudah lama mati seperti hidup kembali. Iya, hasratnya sebagai pria dewasa tiba-tiba muncul, hanya karena Syila. Sebelumnya tidak pernah, walau ia melihat wanita dengan pakaian yang menggoda sekalipun.


__ADS_2