
Bibi Nuha datang membawa banyak belanjaan, ''Syila bantu Bibi !!'' Teriaknya karena merasa keberatan juga. Bagaimana tidak setiap yang Syila pesan, dibelikan tiga kali lipatnya.
''Ya ampun Bibi, mengapa sebanyak ini ? Syila bagaimana membayarnya ?!'' Keluh Syila.
''Bibi tidak meminta bayaran Syila, anggap saja ini oleh-oleh dari Bibi.''
''Tidak Bi, aku akan tetap membayarnya.'' Syila pada pendiriannya.
''Dasar anak keras kepala, baiklah bayar sesuai pesananmu saja.'' Kata Bibi Nuha.
Dengan secepat kilat Syila berkata, ''Setuju !''
Membuat Bibi Nuha tersenyum, dia teringat anaknya sendiri.
***
Kue buatan Syila sudah jadi, kue dari aneka buah. Bibi Nuha benar-benar menjadi juri dadakan dari karya dadakan Syila.
Syila memejamkan mata ketika Bibi Nuha memasukkan satu persatu hasil Syila.
Dengan sengaja Bibi Nuha menunjukkan wajah yang nampak terkejut lalu ingin memuntahkan makanan itu, padahal ia telan.
''Bi, ini minumlah, apa sangat buruk rasanya ? Sampai Bibi ingin muntah begitu.'' Syila sudah putus asa.
''Iya, ini memang sangat...'' Bibi sengaja memberi jeda lalu minum air mineral yang disodorkan Syila tadi.
''Sangat lezat sayang, rasanya unik pas semua. Bakat Ibumu menurun padamu. Kau pandai memadu padankan bahan untuk sebuah resep baru. Dan sepertinya kau harus membuatnya lebih banyak, Bibi akan memajangnya di toko sebagai menu baru.'' Kata Bibi Nuha.
Tentu saja itu menjadi kabar baik untuk Syila. Syila sangat senang mendengarnya.
''Bibi tidak hanya sekedar membuatku banggakan ? Bibi benar-benar jujur bukan ?'' Syila setengah tak percaya dengan yang diucapkan Bibi Nuha.
Lalu Bibi Nuha menyuapkan kue itu ke mulut Syila, setelah menelan Syila mengambil lagi dan lagi guna memastikan memang rasanya enak dan tak berubah.
''Bibi kau harus menungguku, aku akan produksi banyak untuk toko Bibi.'' Syila dengan semangat yang menggebu.
__ADS_1
'Ya Tuhan.. Semoga ini menjadi awalan yang baik.'
Setelah itu, Bibi Nuha benar-benar membawa kue Syila untuk tokonya. Dan ketika Bibi Nuha pulang, Syila kembali membuat untuk tester di kampusnya. Dia akan meminta bantuan Fanya untuk membantu mempromosikan.
Keesokannya Syila dan Fanya dengan semangat membagikan terster kue-kue itu beserta brosurnya. Walaupun tidak semua mampu diterima dengan baik oleh calon konsumen, tapi pesanan hari itu sudah cukup membanggakan sebagai apresiasi awal untuk Syila.
''Syila kau juga bisa menitipkan kuemu di toko Kakakku. Walaupun tokonya tidak sebesar mall, tapi cukup ramai pembeli.'' Fanya memberikan saran.
Tentu Syila sangat senang, ''Aku akan membuatkannya Fanya, terimakasih sudah mendukungku.'' Dengan memeluk Fanya haru bahagia.
***
Ternyata Syila tidak sampai 3 bulan bekerja di kafe itu, hanya 2 bulan dia sudah mengundurkan diri. Walaupun dia sudah mulai betah, namun tujuan awalnya bekerja hanya mencari modal, setelah modal terkumpul, Syila memilih merintis usahanya.
''Syila, mengapa kau mengundurkan diri ? Apa kau tidak betah disini ? Apa karena Nerra ?'' Yumma merasa sedih. Karena dia mulai merasa akrab dengan Syila.
''Bukan begitu, memang dari awal aku bekerja hanya ingin mencari modal untuk memulai usahaku. Kau jangan bersedih Yumma. Kita masih bisa berteman walau sudah tidak satu kerjaan lagi.'' Syila menenangkan Yumma, satu-satunya teman yang menerimanya dengan baik saat Syila memasuki kafe itu.
''Baiklah, jaga dirimu baik-baik, aku doakan usahamu sukses. Dan jangan lupakan aku jika sudah berada diatas.'' Yumma sungguh sedih.
''Terimakasih.'' Mereka berpelukan, sebagai tanda perpisahan mereka.
''Syila kau sungguh merugi karena kau tidak bekerja disini lagi.''
''Kenapa begitu ?''
''Seharusnya setelah Senin saja kau mengundurkan diri, bos kafe ini akan melakukan kunjungan kemari.'' Wajah Yumma sudah berubah berbinar lagi.
''Memangnya ada apa jika bos berkunjung ? Apa kalian akan mendapat bonus ? Jika iya maka aku akan sangat menyesal.'' Syila merubah wajahnya menjadi sangat sedih.
''Bukan hanya bonus, tapi sudah seperti anugerah, jika bisa bertemu bos kafe ini. Dia Kaisar.'' Ucap Yumma semangat.
''Ck, Kaisar apa ? Kau berkhayal seperti di dunia kerajaan saja ada Kaisarnya.'' Ucap Syila yang tidak tahu, bahwa yang di maksud Kaisar itu adalah nama orang.
''Syila !! Kaisar itu namanya !!'' Gemas Yumma.
__ADS_1
'Sepertinya aku pernah mendengar nama itu tapi aku lupa, ah sudahlah tidak penting.'
''Ohh.. Hehehe maaf aku tidak tahu.'' Nyengir saja.
Hari sudah sangat malam, mereka mengakhiri obrolan mereka. Dan hari itu menjadi hari terakhir Syila bekerja di kafe.
***
Di kota lain, Dika tengah menemani Laura jalan-jalan malam. Mengenang masa lalu mereka yang begitu membahagiakan. Saling menggenggam tangan dan tersenyum.
Mereka sudah seperti muda mudi yang di mabuk cinta kembali. Bahkan Dika akhir-akhir ini seperti mengabaikan Syila.
Dika juga bingung dengan hatinya sendiri, seperti dia ingin memiliki keduanya, namun tidak mungkin, jika harus melepas Syila dia terlanjur sayang, jika harus menjauh dari Laura dia juga merasa enggan.
Dika sudah seperti suami yang mempunyai 2 istri yang tidak pernah akur saja.
''Laura, apa kau sungguh-sungguh masih mencintaiku ?'' Tanya Dika.
''Kau mau bukti seperti apa Dika ? Agar kau mempercayaiku lagi.'' Tatap Laura sendu.
Laura memang masih mencintai Dika, namun cintanya bercampur iri dengki yang membuat dia mampu melakukan apapun agar kemauannya tercapai. Dulu Laura tidaklah seperti ini. Mungkin waktu yang sudah merubahnya.
''Aku bingung, aku tidak bisa memilih saat ini.'' Ucap Dika.
''Apa yang kau pertimbangkan Dika ? Syila bahkan tidak pernah memanjakanmu seperti yang kulakukan padamu. Bahkan waktunya untukmu sekarang tidak ada. Dia lebih mengutamakan dunianya sendiri. Apa yang membuatmu berat meninggalkannya ?'' Laura benar-benar tidak habis pikir, Dika sudah merubah seleranya, kepada anak ingusan seperti itu.
''Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa aku bisa begitu berat melepaskannya,'' dengan menatap Laura dalam dan menggenggam tangannya, ''tapi aku juga tidak ingin hubungan kita berakhir lagi.''
Laura yang mendengarnyapun tersinggung dan kesal.
''Jangan egois Dika, aku maupun Syila pasti tidak ingin hidup dimadu. Pilihlah, jangan mau dua-duanya, aku juga tidak mau !"
''Aku juga tidak ingin berpoligami Laura, hanya aku bingung aku harus bagaimana ?'' Berat Dika dengan perasaannya sendiri.
''Baiklah, jangan menemuiku lagi jika begitu, kita tidak kebih dari rekan kerja !" Laura merajuk. Dia pergi mendahului Dika, Laura yakin Dika akan mengejarnya seperti dulu, dan benar saja. Dika mengejarnya, menggenggam tangan Laura yang sangat pintar memberi sentuhan-sentuhan itu, membuat Dika enggan melepaskannya. Karena cintanya kepada masa lalunya itu ternyata sudah bersemi kembali.
__ADS_1
''Kita jalani dulu saja ya, nanti setelah aku bertemu Syila akan aku pertimbangkan.'' Ucap Dika. Kini dia merasa menjadi pria tanpa pendirian.
'Aku pastikan kau akan kembali kepadaku Dika.' Batin Laura yakin.