
Syila juga langsung di bawa ke ruang perawatan, setelah sempat lemas dan hampir pingsan saat menunggui Kaisar tadi, luka di tangannya juga harus segera diobati, dia juga memerlukan transfusi darah, akibat darah yang dikeluarkan juga cukup banyak.
Setelah selesai tansfusi, Syila memaksa ingin menjenguk Kaisar. Jarum infus masih tertancap ditangan satunya, dengan membawa infusan Syila mencoba keluar dari kamar inapnya.
''Nona, Anda belum pulih,'' Lewis mengingatkan kala melihat Syila berjalan tertatih ke ruangan Kaisar, mungkin sedikit pusing, karena ia juga belum makan.
''Aku hanya ingin melihat suamiku,'' Lewis pun menemani Syila.
''Bagaimana dengannya?'' tanya Syila. Kini mereka sudah berdiri di ruangan Kaisar, masih dengan jarak jauh dari ranjang tempat Kaisar berbaring.
''Tuan sudah melewati masa kritisnya, hanya saja ia mengalami koma,'' sesal Lewis tak bisa menjaga keturunan Mahendra.
Tanpa terasa airmata Syila menetes, ia amati wajah tampan yang terus memejamkan matanya, bahkan wajahnya pucat seperti tidak di aliri darah.
''Ayah dan Ibu bagaimana?'' tanya Syila kembali, yang di maksud adalah orangtua Kaisar.
''Mereka sedang dalam perjalanan, Nona,'' jawab Lewis lagi. Sebelumnya Syila meminta Lewis menghubungi mertuanya.
''Aku ingin berdua dengan suamiku, bisakah kau memberi kami waktu?'' usir halus Syila. Lewis menunduk lalu pergi dari ruangan itu.
***
Syila perlahan mendekati Kaisar yang terbaring lemah, kabel yang tersalur dengan layar monitor memenuhi dada bidangnya. Ada yang teriris di dalam sana, rasa takut kehilangan menyeruak dalam hati Syila begitu luas. Ia kembali takut kehilangan. Sekeras Syila menolak kehadiran Kaisar nyatanya takdir sudah mengikatnya menjadi satu.
''Kai, kau bisa mendengarku tidak?'' Syila mendekat, duduk di samping Kaisar.
''Jika bisa, beritahu aku,'' namun tidak ada tanda-tanda dari Kaisar. Ia masih terpulas.
''Kai..., terimakasih..., terimakasih karena sudah melindungiku. Dan maaf..., karena aku...,'' ucapan Syila seakan tertelan ditenggorokannya, ''Karena menolongku, kau harus merasakan sakit seperti sekarang,'' air matanya kembali tertuang tanpa wadah bermuara di pipinya.
__ADS_1
Syila menyandarkan kepalanya di bahu Kaisar sisi kanan, sangat pelan, ''Kau tidak ingin beradu mulut denganku, Kai? jangan tidur lama-lama disini, kau tahu? aku tidak bisa tidur nyenyak disini, tidak ada yang meminjamkan bahunya untukku,'' isak Syila.
''Kau tahu? semenjak Ayah dan Ibu di rawat di rumah sakit, lalu meninggalkanku di rumah sakit juga, aku menjadi sangat membenci rumah sakit. Kenapa malah sekarang kau yang berada disini?''
Di alam bawah sadarnya, Kaisar mendengar semua, hanya saja sangat sulit untuk menggerakan raganya.
****
Keesokan harinya, Ibu Lulu, Ayah Mahen, dan Kak Rana datang. Mereka langsung menemui Kaisar. Ibu Lulu sama sedihnya dengan Syila, ia menangis melihat putra bungsunya terbaring lemah disana. Dia yang terlihat dingin dan acuh, bahkan terlihat angkuh jika tidak mengenalnya dengan baik, kini ia menjadi pria lemah yang berjuang hanya untuk sekedar sadar.
Syila berdiri di belakang mereka, sembari menundukan kepalanya, sekarang ia takut, takut jika ia disalahkan atas semua yang menimpa putra mereka, bagaimanapun juga, Kaisar terluka karena menyelamatkannya.
''Heii, kau Syila?'' sapa Rana yang memang baru pertama kali bertemu dengannya.
Syila mengangguk, wajah tampan yang sempat membuatnya ternganga kemarin ketika bicara melalui video call sekarang malah tak memberikan efek sama sekali.
''Aku kakak Kaisar, aku turut prihatin dengan apa yang menimpa kalian,'' ucapan Rana sontak membuat Syila mengangkat pandangannya lagi, dia tidak menyalahkan Syila atas apa yang menimpa Kaisar?! ahh, iya mungkin mereka tidak tahu kejadiannya
Ibu Lulu melerai pelukannya dari suaminya, menghapus air matanya, berjalan mendekati menantunya yang nampak tidak baik-baik saja. Dengan tatapan yang tajam, Syila menundukan kepalanya lagi, siap dengan apapun yang akan di lakukan oleh Ibu dari pria yang menjadi suaminya.
Tangan Ibu Lulu berada di kepala Syila yang terbalut hijab, ''Apa yang kau bicarakan? dia suamimu, sudah seharusnya menjagamu, jika dia membiarkanmu celaka, maka Ibu akan marah padanya, ini semua adalah musibah, tidak ada yang perlu di salahkan,'' Ibu Lulu mencoba menenangkan Syila melalui usapan tangannya. Ia paham, sulit juga di posisi Syila, menjadi korban penculikan, hampir di lecehkan, bahkan menjadi korban penganiayan, hampir terbunuh juga oleh raga mantan kekasihnya sendiri. Begitu informasi yang Lewis katakan.
''Nak, sebaiknya kau istirahat, pulihkan dulu dirimu, kau tidak boleh sakit juga, Kaisar juga membutuhkanmu, jangan pikirkan yang membuatmu stres,'' Ayah Mahen menimpali.
''Aku baik, Yah, aku akan menjaganya disini,'' tolak Syila yang merasa tidak rela untuk meninggalkan Kaisar.
''Ada kami sayang, biar kami yang menjaganya hari ini, Ibu dengar kau juga sampai transfusi darah, kau butuh pemulihan,'' bujuk Ibu Lulu lagi.
Akhirnya Syila patuh. Benar, Syila harus segera pulih untuk Kaisar, ia tidak boleh sakit. Begitu pikirnya. Beristirahat di ranjang pasien nyatanya sangat tidak nyaman, walau ia mencoba untuk tidur, namun sangat sulit untuk benar-bensr memejamkan matanya.
__ADS_1
Biasanya jika sudah begini, Kaisar dengan senang hati merebahkan bahunya untuk Syila tiduri. Tak jarang dengan usil dan maksud terselubung ia lakukan semua itu, hanya untuk berdekatan dengan Syila, atau ia mempunyai alasan untuk memeluk Syila.
Lalu sekarang apa? Syila hanya mempu merindukan kenyamanan itu.
***
''Bagaimana dengan Adji?'' tanya Rana kepada Lewis disana juga sudah ada Mahendra.
''Dia berhasil meloloskan diri, Tuan,'' Lewis menunduk.
''Apa?!! bagaimana bisa? bagaimana cara kerja pasukanmu itu?'' Rana marah.
''Ternyata dia membawa bom asap, jadi semacam bom tidak bersuara tapi hanya menimbulkan asap, asap itu beracun walau tidak berbahaya, hanya jika mengenai mata akan membuat mata buram sementara, dan jika di hirup akan menyesakan dada,'' tutur Lewis memberi laporan kepada keluarga Mahendra.
''Apa tujuannya?'' tanya Mahendra.
''Aku rasa ia masih menyukai Nona,Tuan atau tujuan ke dua adalah Tuan Kaisar sendiri, entah apa alasannya tapi dia terlihat sangat membenci Tuan Kaisar,''
Tuan Mahendra pun memutuskan untuk mencari pengawal untuk Kaisar. Ia merasa was-was apa lagi mendengar jika Adnan malah bisa kabur.
***
Di tempat lain, di balik sebuah gundukan tanah yang tinggi Adnan nampak gelimpungan, antara menahan sakit di tubuhnya juga ia tengah berebut raga dengan Adji.
''Seharusnya kau terbunuh, Adnan!'' teriak Adji.
''Hahaha kau juga ikut mati bodoh!!'' remeh Adnan.
''Biarkan saja, aku hidup juga tidak ada yang peduli lagi!'' frustasi Adji.
__ADS_1
''Pria lemah, aku melakukan ini karena aku peduli denganmu, bedebah!!'' Adnan melawan Adji lagi.
Mereka beradu kepribadian dalam satu tubuh, sungguh sudah sakit, tertimpa tangga juga, begitu kata untuk Adji.