
Dika mampir ke rumah Bibi Nuha sebelum berangkat ke luar kota. Tentu untuk menemui kekasihnya.
''Sayang..'' Ucapnya lembut.
''Aku pamit ya, hari ini aku berangkat, jaga diri baik-baik, jaga hati juga, jangan lupa makannya, jangan sering bergadang, jangan dekat-dekat dengan pria manapun.'' Pesan Dika.
Hatiku melow.. Sedih rasanya, sangat sedih. Padahal kemarin-kemarin bisa hubungan jarak jauh dan tidak sesulit ini. Kenapa sekarang sangat berat.
''Sepertinya memang tidak boleh berdekatan ya, sekarang sudah harus berjarak lagi.'' Ucapku sendu.
''Aku jauh-jauh kesini, kau malah jauh-jauh kesana.'' Sambungku.
Dika mendekatkan dirinya, ''Jangan berkata begitu sayang,'' dielusnya pucuk kepalaku dengan sayang.
''Doakan saja pekerjaan disana lancar, lalu cepat kembali kesini lagi.''
'Bukan, bukan karena pekerjaanmu, tapi karena partner kerjamu yang membuatku sangat risau begini.
''Lalu kau disana nanti menginap dimana ?''
''Sudah disediakan kontrakan yang dekat dengan tempat kerja.''
''Apa kalian akan satu kontrakan ?'' Pemikiran dari mana ini entahlah.
''Tidak sayang,'' wah ada yang lega didasar hati sana, ''namun bersebelahan.'' Hah tidak jadi lega, malah tambah was-was.
''Aku masih mempunyai beberapa jam, kau ingin kemana ?'' Tanya Dika menawarkan diri.
''Emm aku tahu, ayo, tapi bawa motor saja ya.'' Dika bersemangat.
Akhirnya pagi itu mereka pergi menggunakan motor Bibi Nuha yang biasa dipakai Syila ke kampus.
***
Syila tak percaya dengan tempat pilihan Dika, dia kira akan dibawa kesuatu tempat romantis atau semacam wahana permainan, atau yang lainnya, ini tempat pemancingan ikan.
''Dika, untuk apa kau membawaku kemari ?''
''Tentu saja memancing ikan, apa lagi ? Jika kau mencari seekor badak disini tidak akan ada.'' Syila mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Dika seperti itu.
''Aku tidak suka memancing ikan !'' Tolak Syila.
''Kalau memancing yang lain ?'' Tanya Dika dengan senyuman penuh arti.
''Maksudmu ? Memancing yang lain, memang apa yang mau dipancing selain ikan'' Syila bingung, bukankah yang di pancing hanya ikan.
Lagi-lagi Dika membisikkan sesuatu ditelinganya yang membuat Syila bungkam tak ingin menjawab namun langsung ingin mengulitinya hidup-hidup.
''Memancing birahi.''
Dika tertawa setelah mengatakan itu.
'Dika ini bahasanya mengapa menjurus ke pembahasan dewasa terus sih.'
Syila terlalu bodoh jika membahas yang berbau intim, walaupun ia diajarkan ketika sekolah dalam bentuk biologi, karena pastinya waktu itu ia hanya mendengarkan telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tanpa berminat memperhatikan dan menyerap ilmunya.
__ADS_1
Syila dan Dika memilih umpan, Syila menjerit ketika ia melihat berbagai ulat juga cacing.
''Dika !! Buang hewan itu.'' Tubuh Syila sudah merinding. Dia langsung merengkuh lengan kekar Dika dan menyembunyikan wajahnya disana.
''Itu dagangan orang sayang, mengapa kau menyuruhku untuk membuangnya ?''
''Jika begitu kita ganti umpannya saja, bisa kue, nasi, mie atau daging saja.'' Masih menyembunyikan wajahnya. Dika gemas mendengar Syila bicara. Sampai orang yang menjual umpanpun ikut tertawa.
''Nona ini mau memancing ikan atau memancing perut sendiri ?'' Jawab penjual.
''Ayo pergi dari sini, Dika !'' Tak menghiraukan ocehan pedagang.
Setelah memilih dan membayar Dikapun pergi dari sana, Syila tak melepaskan lengan Dika sama sekali.
''Aku mau pulang saja !!''
''Heii lihat aku.'' Dika mengangkat wajah Syila.
''Buka matamu,'' Syila menggeleng.
''Aku akan menciummu.'' Syila langsung membuka matanya.
''Tidak apa, ini tidak mengigit, sayang. Aku yang memasangnya kau yang mengarahkan kedalam kolam.''
Mau tak mau Syilapun mengikuti intruksi Dika.
Dan ketika umpan dimakan ikan, Syila sangat bahagia.
''Dika lihat !!"
Syila menarik kenur dibantu Dika.
''Kau bisa, apa ini membosankan ?'' Tanya Dika.
''Tidak terlalu buruk,'' 'jika itu denganmu.' Batinnya.
Setelah dirasa cukup, mereka pulang, sebelumnya mampir di kedai kopi.
''Kau sering meminum kopi ?''
''Tidak juga sayang, hanya jika ingin saja.''
Tak jauh dari tempat duduk mereka ada sepasang mata yang sedang mengawasi.
''Jadi ini tunangannya, akanku buat drama untukmu Syila. Kau dan dia akan berakhir, lalu kau akan jatuh dalam pelukkanku. Kupinta baik-baik kau menolak, bagaimana dengan cara lain.'' Sam. Yaa orang itu adalah Samuel. Senior Syila yang sudah tertarik dengan Syila dari awal bertemu.
Sam menghubungi seseorang, anak orang kaya tentu saja semua lebih mudah ia lakukan karena kuasa juga karena uang.
Setelah menyampaikan apa yang dia mau, Sam mematikan panggilannya lalu beranjak pergi.
***
Waktu berlalu, hari sudah mulai senja. Dika masih saja betah duduk manis memandangi Syila yang nampak malu-malu dan salah tingkah.
''Dika berhenti melihatku seperti itu.''
__ADS_1
''Aku harus mempunyai stok bayangan wajahmu, aku akan pergi untuk waktu yang belum bisa ditentukan, aku akan sangat merindukanmu.''
''Jika begitu jangan pergi.'' Jiwa kekanak-kanakannya kembali.
''Semua juga untuk kebaikkan kita sayang.'' Jika melihat arlojinya, waktunya berangkat.
Dika menghela nafas beratnya.
''Aku pergi ya.'' Syila memalingkan wajah. Dia ingin menangis.
''Tatap mataku Syila.'' Diarahkannya dengan lembut.
''Tunggu aku kembali. Dan jangan menangisiku, aku pergi untuk kembali.'' Ucapnya sembari menghapus air mata yang meleleh dipipi mulusnya.
Dika mengikis jarak, memeluk Syila, awalnya ragu, namun Syila tidak menolak, akhirnya ia mengeratkan pelukkannya. Menciumi ujung kepala Syila berulang-ulang, menghirup aroma rambutnya, seolah-olah itu adalah oksigennya.
Sedangkan Syila, dia berperang batin, deg degan, sedih, dan khawatir. Syila menumpahkan tangisnya di dada bidang Dika.
'Aku percaya dan akan terus percaya, semoga kau benar-benar pergi untuk kembali.'
Dika mengurai pelukkannya, dia tersenyum manis membuat Syila enggan berpaling.
''Jangan menangis ok !" Lalu mengambil sesuatu dari saku jaketnya.
''Semoga bisa membuatmu kembali tersenyum.'' Sebuah cokelat kesukaannya, lalu...
Cup..
Kecupan dikening beberapa detik. Syila memejamkan matanya menikmati sensasi yang ada, semakin membuatnya berat akan kepergian Dika.
Dika menatap wajah ayu Syila yang sudah merona. Dia tersenyum.
''Bagaimana mungkin wajahmu bisa semerah ini, aku hanya mengecup keningmu, belum yang lainnya.'' Dika mulai menggoda Syila lagi.
''Cukup !! Cukup disini saja, yang lainnya biar nanti jika sudah waktunya.'' Syila malu mengucapkan kata itu. Telinganya juga sudah memerah.
Dika hanya tertawa, sungguh gemas batinnya.
Dika sudah membuka pintu mobilnya lalu mau masuk, sebelum Syila berkata..
''Aku mencintaimu Dika, jadi cepatlah selesaikan urusanmu dan kembali. Jika tidak aku pastikan kau akan menyesal !!'' Jantung Syila berdebar.
Dika sangat senang mendengar kata cinta dari Syila. Sejauh ini dia tak pernah mau mengungkapkan kata itu, dan sekarang ia mengatakannya menambah berat langkahnya untuk pergi.
Dikapun mengurungkan niatnya memasuki mobil, ia kembali ke arah Syila, lalu memeluknya kembali.
''Terimakasih sayang, aku akan pulang, aku sangat sangat mencintaimu, tunggu aku ya''
Syila mengangguk dalam pelukkan Dika.
''Sudah dramanya, jika begini terus kapan Dika berangkatnya !" Ucap Bibi Nuha sontak membuat Syila salah tingkah sendiri karena malu. Sedangkan Dika, dia biasa saja.
Dikapun berpamitan dengan Bibi Nuha yang baru saja datang dari tokonya.
Lalu dia benar-benar berangkat, pergi meninggalkan Syila untuk sebuah pekerjaan.
__ADS_1