
Semburat senja menghiasi angkasa, sebelum terganti oleh kelabunya gulita malam. Masih terasa daun dan tanah yang basah, mungkin sebelum langit cerah tadi sempat mendung dan hujan.
Aku mematung terdiam dalam bisuku, memandangi rumah sederhana yang asri dan penuh kasih. Rumah yang hampir satu tahun ini aku tinggalkan, demi alasan cita-cita.
Meninggalkan rasa aman dan nyaman dalam pelukkan cinta yang hangat, demi sebuah pembelajaran dan jati diri.
Aku pulang, aku kembali, bukan dengan prestasi, hanya dengan membawa kisah pilu dan rasa sakitku.
Tak lupa rinduku yang setiap waktu semakin rimbun, bagai tanaman yang terkena pupuk, air dan cahaya yang cukup. Beranak pinak menumbuhkan tunas baru dan tumbuh seperti induknya. Hingga rasa mati untuk sebuah rindu itu mustahil adanya.
Aku melihat sosok pria yang selama ini menjadi cinta pertamaku, sedang membereskan peralatan berkebunnya, membelakangiku tepatnya, hingga ia tak sadar akan kehadiranku. Terlihat ada keranjang penuh dengan hasil kebun, ahh hidup sederhana yang tenang dan senang.
Kutapaki jalanan padang hijau ini, rapi, karena penuh dengan perawatan dari sang empunya.
''Ayah.'' Ucapku.
Ayah sejenak menghentikan aktifitasnya, sedikit tertegun, lalu membalikkan tubuhnya menghadapku. Kulihat pancaran rindu yang tak kalah besarnya denganku.
Masih diam, membisu, hanya terasa angin senja yang melintas. Kuberikan senyuman terbaikku, senyuman yang biasa kuhadirkan saat bersamanya. Ceria dan penuh kebahagiaan.
Ayah masih dengan posisinya, tanpa bergerak namun matanya yang berbicara. Tanpa menunggu aba-aba, aku berlari menuju pelukkannya, pelukkan yang sangat menenangkan, aku merasa aman dan nyaman.
Merasa seperti ada pelindung yang kokoh, yang tak akan goyah walau badai menerjangnya.
''Arsyila.'' Ucapnya gemetar, kurasakan balasan erat pada pelukanku. Bertubi-tubi ia daratkan kecupan pada ujung kepalaku. Airmata yang kutahan-tahan lolos juga, kutumpahkan segala rasa yang kupendam lewat tangis dipelukkan Ayah.
Ayah ingin melerai pelukakan diantara kami, tapi aku tidak mau. Semakin kutahan, seolah aku tak akan mampu menggapai tubuh gagahnya yang sudah tak sekencang dulu lagi. Semakin kutenggelamkan wajahku pada dada bidangnya.
Mungkin Ayah sedikit bingung dan penasaran.
''Ada apa sayang ?'' Tanya Ayah.
Rasanya ingin kutumpahkan semuanya, kuceritakan tanpa menutupi sedikitpun tentang apa yang sudah kulalui, namun lidahku kelu. Hingga akhirnya hanya gelengan kepala yang bisa kulakukan.
Tak lama Ibu juga keluar dari rumah, ''Ayah mana sayuran dan cabainya ? Kenapa la...'' Tanyanya terhenti kala Ayah memberi kode dengan jari telunjuk yang menempel dibibirnya.
Ibupun mendekat, dia juga terkejut, melihatku datang tanpa kabar, lalu tiba-tiba menangis tiada henti dalam pelukkan Ayah.
__ADS_1
''Putri Ibu..'' Ucapnya dengan menyentuh rambutku, mengusapnya lembut.
Aku melepaskan pelukkan pada Ayah, namun kembali memeluk Ibu. Masih sama, masih dengan menangis. Aku seperti tak ingin kembali meninggalkan mereka, cukup seperti ini, tak ingin masa depan atau apalah itu. Tapi itu pasti akan membuat orang-orang terkasihku kecewa. Walaupun mereka tak mengatakannya.
Doa harapan orang tua pada anak-anaknya, pasti ingin melihat suksesnya, lalu hidup dengan baik, serta bahagianya.
''Ayo masuk, jangan disini, nanti tetangga lihat.'' Ajak Ibu.
Aku masuk dengan pelukkan Ayah dan Ibu.
Masih dengan sisa-sisa tangisanku, aku menundukkan pandanganku kala Ayah menatapku, seperti meminta penjelasan. Sedangkan Ibu langsung pergi kedapur, membuatkan cokelat hangat penuh krimer untukku.
Ibu duduk disampingku, sedangkan Ayah tepat dihadapanku. Aku meminum cokelat hangat buatan Ibu, sedikit memberiku ketenangan.
''Kenapa datang tidak memberi kabar, nak ?'' Ibu bertanya.
''Maaf Bu, ini mendadak.'' Ucapku.
''Ada yang ingin kau jelaskan kepada kami ?'' Kali ini Ayah yang bertanya.
''Ayah, sudah.'' Ibu menggelengkan kepalanya, melarang Ayah yang akan kembali bertanya, melihatku hanya diam penuh dengan kegundahan.
''Sayang, istirahatlah dulu, kau pasti lelah, Ibu akan memasak makanan kesukaanmu.'' Ibu menengahi.
Akupun mengangguk beranjak dari dudukku menuju kamarku.
Tiada yang berubah, hanya sedikit berbeda hawanya, mungkin karena lama tak berpenghuni.
Ayah mengantarku beristirahat. Aku selesai membersihkan diri. Memilih posisi yang nyaman. Ayah membelai kepalaku.
''Ada Ayah disini, Ayah akan selalu ada untukmu, jadi jangan biarkan kau menaggung bebanmu sendiri. Jika kau membutuhkan untuk berbagi, berbagilah kepada Ayah. Ayah sangat sedih melihatmu bersedih begini. Sekarang pejamkan matamu dan tidurlah. Nanti Ayah bangunkan jika Ibu sudah selesai masak.'' Ucap Ayah lembut. Aku hanya mengangguk sebagai balasannya.
Ternyata ingin mengadupun memerlukan tenaga.
***
Kini semua sudah berkumpul di meja makan, Ayah nampak mengamati putri kesayangannya itu,
__ADS_1
''Sayang, makanlah yang banyak, kau terlihat semakin kurus, apa uang yang Ayah kirimkan tidak mencukupi kebutuhanmu ?'' Khawatir Ayah.
''Ahh tidak Yah, uangnya lebih dari cukup, mungkin hanya terlalu lelah saja.'' Jawab Syila.
Urusan makanpun selesai, kini duduklah mereka diruang tamu dengan menonton tv,
''Ayah, Ibu, Syila ingin bicara.''
''Katakan, sayang !" Sahut Ibu.
''Syila ingin membatalkan pertunangan dengan Dika.'' Syila mengucapkan itu dengan menunduk dan mata terpejam. Ada yang sakit didasar sana dan rasa tak rela, namun jika dipertahankan berarti Syila yang tidak waras.
Ayah dan Ibu tentu saja terkejut.
''Apa masalahnya ? Kami pikir, selama ini kalian baik-baik saja.'' Tanya Ibu lagi.
''Ada sesuatu yang tidak bisa Syila bicarakan, namun keputusan ini sudah bulat. Jika dilanjutkan, Syila yakin, ini akan menjadi hubungan yang tidak sehat.''
''Maafkan Syila.'' Ucapnya penuh sesal.
Ayah nampak menahan amarahnya, gemeletuk giginya sampai terdengar di telinga Syila.
''Jadi pria itu sudah menyakiti dan mengecewakanmu, begitu ?'' Sarkas Ayah.
Syila berpindah tempat duduk, mendekati Ayah. Memeluknya kembali, menyandarkan kepalanya pada bahunya, mencoba melebur amarah yang tak pernah ia tampilkan didepan Syila. Rasanya ia benar-benar terlindungi saat ini, tapi Syila juga sedih orangtuanya nampak kecewa dan marah.
''Ayah, ternyata menjadi dewasa itu tidak enak ya, mencoba mandiri juga sulit, rasanya Syila ingin menjadi anak-anak saja, yang hanya memikirkan bermain dan dimanja oleh kalian.'' Ucap Syila sendu.
''Tapi mana mungkin bisa begitu, Syila tetap harus berjuang bukan, demi hidup yang lebih baik, seperti yang Ayah dan Ibu katakan, dan perjuangan Syila nyatanya banyak rintangannya.''
''Apa keputusan Syila ini membuat kalian kecewa dan sedih ? Jika iya, Syila tidak jadi membatalkan saja.'' Lanjutnya kemudian.
Ibu nampak memandang sendu, walaupun tidak tahu apa permasalahan antaranya dan Dika, tapi Ibu bisa menangkap ada luka dimata Syila.
Ayahpun demikian, ia memeluk Syila membelai putri tercintanya.
''Kau berhak atas hidupmu, sayang. Lakukan apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. Jangan menambah bebanmu karena kami.'' Tutur Ayah sangat lembut.
__ADS_1