
''Arsyila..''
''Arsyila..''
''Arsyila..''
Suara yang terdengar sangat kesakitan diiringi isakan tangisan. Syila seperti disebuah tempat yang sangat gelap, tiba-tiba petir menyambar sana sini. Samar-samar terlihat seseorang penuh luka dan darah tertatih berjalan ke arahnya. Tubuh Syila gemetar hebat, ia takut namun kakinya lemas, ia tidak bisa menjauh, ingin teriak namun bibirnya seakan terkunci. Syila hanya bisa menyaksikan dengan air mata yang terus mengalir. Berharap ada pertolongan untuknya dan untuk seseorang yang berdarah itu. Bau darah semakin jelas diindra penciumnya. Syila merasa mual, lalu ia dikejutkan oleh dua orang yang tergeletak, tersungkur dikakinya. Syila teriak sebisanya walaupun tidak terdengar suara. Lalu salah satu diantaranya mendongakkan wajahnya yang sudah tak berbentuk sembari tersenyum, menggenggam tangan orang disebelahnya dan tak lama kemudian mereka sama-sama tak bergerak.
Syila bangun dengan nafas yang menderu, pelipisnya penuh dengan peluh. Ia duduk bersandar pada tembok. Syila bermimpi, mimpi apa itu, jantungnya berdebar sangat kencang, seolah mimpi itu sangat nyata. Mengerikan. Syila mencoba mengambil air minum bersamaan dengan suara petir yang sangat kencang, gelasnya pun terjatuh dan pecah. Syila terkejut, jantungnya semakin menjadi. Dia mencoba membersihkan pecahan beling itu, karena tidak hati-hati jarinya malah terluka.
'Ada apa ini ?' Batinnya meronta meminta penjelasan pada takdir.
Hujan turun sangat deras, baru jam delapan malam. 'Hah Ayah dan Ibu aku belum mengabarinya sejak siang tadi. Bukankah seharusnya mereka sudah tiba atau masih dalam perjalanan.' Syila mencoba menghubungi orangtuanya. Namun karena hujan dan petir mungkin berpengaruh pada jaringannya, hingga sangat sulit untuk menghubungi orangtuanya.
Lalu Syila mengirimi pesan, terkirim walau sangat lama, namun belum ada balasan, bahkan belum terbaca. Syila tidak bisa memejamkan matanya kembali. Ia menjadi sangat takut dengan suara petir. Hujan tak reda-reda.
Syila memeluk boneka kelincinya, duduk dipojokkan kamar, menyembunyikan wajahnya.
'Ayah.. Syila takut..! Ibu.. Syila takut..!'
Begitu terus ia ucapkan. Lalu suara ponsel memecahkan ketakutannya. Ayah sang penelfon.
''Hallo sayang ? Pesawat kami mengalami delay. Jadi di undur malam ini, malam ini malah cuacanya sangat buruk. Jadi mau tak mau ditunda lagi. Kau baik-baik saja sayang ?'' Tanya Ayah agak keras. Karena memang agak bising.
Bukannya menjawab Syila malah menangis, ia teringat mimpi buruknya.
''Ada apa ? Mengapa menangis ?'' Ayah sudah khawatir diseberang sana.
''Syila baik Yah, tadi hanya bermimpi buruk. Ya sudah kalian hati-hati. Atau kalau memang tidak bisa datang, tidak apa-apa jangan memaksa. Syila khawatir.'' Ucap Syila.
__ADS_1
''Apa disana juga sedang hujan ?'' Tanya Ayah.
''Iya Yah, hujannya deras sekali. Juga petirnya, membuat Syila takut.'' Lapor Syila dengan manjanya.
''Tenanglah, semua akan baik-baik saja.''
Panggilan berakhir, Syila melihat jam, pukul satu malam. Tak percaya akan sesulit ini bertemu dengan kedua orangtuanya.
'Ayah dan Ibu pasti sangat lelah menunggu di bandara.'
Syila mencoba memejamkan matanya kembali. Besok adalah acara wisuda Syila. Syila sudah menyuruh orangtuanya untuk datang lebih awal. Namun mereka tidak bisa, karena sudah menyanggupi pesanan para konsumennya.
Syila tidur lagi, diwaktu Subuh datang, Syila kembali bermimpi hal yang sama. Membuatnya terbangun dengan nafas ngos-ngosan. Syila mencoba menghubungi orangtuanya lagi. Namun operator yang menyahut panggilannya.
Syila mengirimkan beberapa pesan. Isinya, Syila memberitahu acara dimulai pukul delapan pagi, memberitahu nama universitasnya dan memberitahu jika baju-baju mereka dia bawa sekalian. Namun jika tak bisa hadir tidak apa, Syila memberitahu orangtua untuk beristirahat di rukonya saja. Namun basa basi hanya sekedar ingin tahu kabar orangtuanya pun tidak ia dapatkan. Pesan-pesannya belum juga terkirim. Syila semakin khwatir.
Syila di haruskan hadir, karena ia akan memberi beberapa sambutan Karena dalam acara ini, Syila yang paling tersorot.
Syila sudah berada di kampusnya, namun enggan masuk, ia masih saja di depan gerbang, memperhatikan setiap taxi yang berhenti. Berharap orangtuanya yang hadir.
''Syila mengapa kau disini ? Ayo masuk, hari ini kau bintangnya.'' Ucap Fanya.
''Pergilah dulu, aku menunggu Ayah dan Ibuku. Mereka belum juga datang dan tidak mengabariku sama sekali.'' Syila sangat cemas.
''Mengapa secemas itu ? Mungkin mereka terjebak macet.'' Fanya menenangkan.
''Kenalkan ini Ibu dan Ayahku.'' Fanya berusaha mengalihkan kecemasan Syila. Merekapun berkenalan. Namun bukannya lebih tenang perasaannya malah semakin tak karuan. Hingga sebuah telfon membuatnya lebih baik. Ayah.
''Hallo sayang ? Apa acara sudah dimulai ? Ayah dan Ibu baru saja sampai namun ini jalanan sangat macat, jika kami terlambat kami minta maaf ya.'' Ayah penuh penyesalan.
__ADS_1
''Syukurlah, Ayah dan Ibu membuatku cemas karena susah sekali dihubungi. Sudah jangan pikirkan apa-apa dulu. Sampailah dengan selamat Yah, Bu.''
Setelah mendapat kabar dari orangtuanya Syila bergegas masuk aula yang akan menjadi tempat wisuda. Kampus besar dan elit, ia mempunyai gedung yang cukup luas untuk acara ini.
Syila memberikan beberapa pesan kesannya, harapannya, serta doa-doa yang ia panjatkan, untuk kampusnya juga masa depan dirinya dan teman-temannya.
Riuh tepuk tangan memenuhi aula itu. Syila tersenyum, namun hatinya lagi-lagi merasa kebas. Orangtuanya tidak ada menyaksikan ini semua karena jalanan yang tidak lancar. Padahal semua ia persiapkan untuk kedua orangtuanya.
Sebelumnya Syila sudah meminta Fanya untuk merekam, semua tanpa terkecuali ketika dia tampil.
Teman-teman Syila memberikan ucapan selamat atas prestasi yang ia peroleh. Syila menanggapinya dengan senyuman dan ucapan terimakasih.
Sesi foto, yang lain hadir dengan walinya berfoto ria dengan keluarganya. Terlihat wajah-wajah bahagia. Bahkan ada yang hadir membawa keluarga besarnya. Hangat, begitulah pandangan Syila melihat keluarga yamg harmonis.
''Hei mengapa melamun ?'' Sapa Fanya. Dia terlihat cantik dari hari-hari sebelumnya. Terlihat lebih dewasa ketika mengenakan toga begitu.
''Ahh tidak apa.'' Jawab Syila. Fanyapun mengerti jika saat ini sahabatnya itu sedang merasa sedih karena orangtuanya tidak bisa hadir. Padahal Syila sudah berjuang dengan keras untuk mendapatkan ini semua.
Kadang ia sampai lupa makan siang karena terlalu banyak kerjaan sebagai asisten dosen. Jika diingatkan makan, jawabannya, 'Sebentar nanggung.'
Nanggung itu hanya beberapa menit, nah dia bahkan sampai satu jam nanggungnya.
Kerja kerasnya tidak sia-sia. Fanya kagum dengan Syila, dimatanya Syila sosok yang kuat dan mandiri.
''Mari kita abadikan momen ini.'' Ajak Fanya. Mereka berfoto.
''Syila, wajahmu sangat jelek, cobalah tersenyum. Jangan menampilkan wajah seperti cucian belum disetrika.'' Protes Fanya, karena hanya fotonya yang terlihat bahagia.
Syilapun mencoba mengembangkan senyumnya, walau terasa aneh. Karena senyuman itu berisi kekhawatiran yang tiada habisnya.
__ADS_1
''Apakah begini lebih baik ?'' Tanya Syila ketika melihat hasil foto mereka.