
Kaisar datang bersama para tim medis, ''Nona tolong tunggu diluar.''
''Tapi saya ingin menemani orangtua saya Dok !" Syila sudah sangat kalut.
''Mohon kerja samanya Nona.'' Akhirnya Syila pergi dari ruangan itu, sebelumnya ia berkata pada Ayah dan Ibunya, ''Syila akan menikah Yah, Bu, Syila akan menuruti apa mau kalian, tapi kalian harus sembuh.''
Pintu tertutup, Syila langsung berhambur memeluk Fanya. Tidak ada kata yang terucap, hanya usapan dibahu yang Fanya berikan. Syila terus menangis, menumpahkan segala rasa pada tangisannya.
''Syila makanlah dulu. Kau dari tadi belum mengisi perutmu.'' Setelah sesaat mereka melerai pelukan, Syila masih duduk dikursi tunggu bersama Kaisar namun mereka hanya diam dengan jarak yang berjauhan. Fanya membelikan beberapa potong roti dan susu.
''Aku tidak lapar Fanya.'' Jawaban itu yang Fanya dapatkan. Lalu Fanya meletakkannya disamping Syila. Ia ikut duduk menemani mantan asisten dosen itu.
Kaisar diam-diam memperhatikan. Dia memasang telinga dan mata dengan benar tak ingin melewatkan sedetikpun tentang Syila.
Rasanya benar-benar membingungkan saat Ayahnya meminta ia untuk menikahi putri dari orang yang tidak sengaja taxinya berserempetan dengan mobilnya tadi.
Kata Ayahnya, Paman Herman hanya ingin putrinya menikah sebelum ia pergi. Awalnya Kaisar menolak karena hatinya masih terpaut dengan Syila. Namun karena permohonan di sela-sela kesadarannya, Kaisar menyanggupi itu semua sebagai bentuk tanggungjawabnya atas kecerobohannya juga. Namun tak disangka gadis yang akan dinikahinya adalah wanita yang selama ini ia puja. Lalu bagaimana tunangan gadis itu ? Ahh Kaisar tidak ingin memikirkannya. Biarkan saja ia menjadi orang jahat saat ini. Dia tidak ingin dikatai gila lagi.
Beberapa waktu kemudian, setelah dokter mengatakan bahwa Ayah Herman keadaannya semakin melemah begitu juga dengan Ibu Rahma yang saat ini mengalami kritis. Syila semakin sedih, dia tidak ingin melakukan apa-apa selain menunggu orangtuanya.
''Syila aku harus pulang, orangtuaku mencariku, kau jaga dirimu baik-baik, besok aku akan kemari lagi.'' Pamit Fanya yang sebenarnya merasa kasihan meninggalkan Syila dalam keadaan seperti ini.
''Terimakasih Fanya.'' Fanyapun menyerahkan kunci vespanya dan pergi.
Diluar ruangan sudah ada Kaisar, tadi ia sempat tidak ada ditempat. Dia sudah berganti baju dan ada Lewis juga. Mereka nampak membicarakan sesuatu yang amat penting. Kaisar memberikan beberapa tanda tangan pada berkas-berkas yang Lewis bawa.
''Aku serahkan perusahaan padamu, jika perlu persetujuanku kau bisa datang kemari seperti hari ini.'' Kata Kaisar.
''Baik Tuan.'' Walaupun ia penasaran mengapa Tuannya mau menunggui orang sakit dan rela tidur di kursi tunggu begini. 'Siapa memang yang sakit ? Tuan dan Nyonya Mahendra dalam keadaan sehat semua. Tugasku semakin menumpuk.' Keluh Lewis yang tak mendapatkan jawaban dari siapapun.
__ADS_1
Kaisar masuk keruang rawat orangtua Syila. Ia melihat gadis itu tengah terlelap dikursi tunggu sisi Ibunya.
Kaisar juga merasakan kesedihan melihat gadis itu terus bersedih.
Lalu ia sendiri duduk di sisi Ayah Herman. Ayah Herman membuka matanya kala merasakan sentuhan pada tangannya. Dia tersenyum melihat siapa yang datang.
''Kai..''
Buru-buru Kaisar mendekatkan dirinya, '' Ada apa Paman ? Apa ada yang sakit ? Perlu ku panggilkan dokter ?'' Tanyanya merasa cemas.
''Aku baik-baik saja, bagaimana dengan permintaanku ? Kau mau menikahi putriku ?'' Ternyata pikiran Ayah Herman hanya tentang pernikahan putrinya, ia benar-benar ingin melihat Syila menikah.
'Tentu aku mau Paman mau sekali, dia wanita yang selama ini aku doakan dalam diamku, yang selalu aku semogakan dalam ketidakmungkinanku, yang selalu aku mimpikan dalam tidur dan bangunku. Bayangannya saja tak mampu aku lupakan dan itu selalu membuat dadaku berdebar, mana mungkin aku menolaknya.'
''Aku bersedia, aku berjanji akan menjaga dan menyayangi putri Paman seperti yang Paman lakukan bahkan melebihi itu.'' Janji Kaisar pada Ayah Syila.
Lalu Syila terbangun ia merasa terusik karena mendengarkan orang mengobrol, melihat Ayahnya membuka mata Syila langsung menghampiri Ayahnya.
''Ayah kau sudah sadar ? Ada apa ? Membutuhkan sesuatu atau ada yang sakit, biar kupanggil dokter.'' Syila sudah ingin bergegas pergi namun jawaban 'tidak' dari sang Ayah menghentikan langkahnya.
''Baiklah jika tidak apa-apa, sebaiknya Ayah kembali istirahat, jangan pikirkan yang tidak-tidak ya.'' Ucap Syila dengan lembut penuh kasih.
''Nak kau sudah berjanji pada Ayah kau mau menikahkan ?''
Syila tak habis pikir, Ayahnya masih saja memikirkan pernikahan untuknya, padahal keadaan Ayah sedang sekarat seperti itu.
''Always for you, my herro. Sudah tenanglah Yah, Syila akan menikah sesuai kemauan Ayah. Sekarang Ayah istirahat lagi ya.'' Ayah Hermanpun memejamkan matanya kembali. Syila memgecup pipi Ayahnya beralih pandangannya kepada Kaisar.
''Aku ingin bicara padamu !'' Perintah Syila. Dengan senang hati Kaisar mengekori gadis itu dari belakang, ada senyuman yang terbit di wajahnya.
__ADS_1
'Terimakasih takdir.' Jantungnya kembali berdetak dengan kencang, ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya itu.
''Apa yang kalian bicarakan tadi ?'' Tanya Syila dengan nada tidak suka kepada Kaisar setelah mereka duduk di kursi taman rumah sakit.
''Hanya menanyai tentang pernikahan kita.'' Jawab Kaisar.
''Dan kau setuju ?'' Tanya Syila lagi.
''Apa aku masih bisa menolaknya ?'' Jawaban Kaisar membuat Syila terdiam.
''Jika aku menolaknya bukankah akan membuat orangtuamu semakin sedih dan menyebabkan kemungkinan buruk terjadi.'' Kaisar mencoba membuat Syila mengerti dan mau menikah dengannya seperti yang ia janjikan kepada Ayahnya tadi.
''Kita sebelumnya hanya orang asing, dan pernikahan ini adalah pernikahan dadakan tanpa cinta, kita bisa bercerai setelah orangtuaku membaik nanti. Aku tak ingin mempunyai hubungan apapun dengan pria lain.'' Kalimat Syila menohok hati Kaisar.
'Bagaimana mungkin, menikah saja belum tapi dia sudah berkata tentang perceraian. Jangan harap bercerai denganku.' Seringai muncul dibibir Kaisar.
''Bagaimana nanti saja, kita bahkan belum menikah.'' Acuh Kaisar.
''Kau yang bertanggungjawab mengurus pernikahan ini.'' Asal memerintah.
'Siap tuan putri dengan senang hati.'
''Baiklah.'' Jawab Kaisar untuk Syila.
Syila memijat pelipisnya yang merasa pusing, ia sudah mengabari Bibi Nuha untuk datang besok juga Fanya. Mereka berdua sama-sama terkejut tentang kabar pernikahan Syila. Apa lagi Bibi Nuha yang mendengar jika Herman dan Rahma mengalami kecelakaan mobil dan keadaan mereka kritis.
Sedangkan Kaisar menyuruh Lewis mencarikan penghulu untuknya. Ia juga mengabari persetujuan pernikahan antaranya dan Syila kepada orangtuanya juga Kakaknya yang berada di negara lain.
'Mencari penghulu malam-malam begini ? Tuan ingin menikahi siapa, mengapa sangat mendadak ?' Lagi-lagi jam istirahat Lewis terganggu karena permintaan Tuannya. Ia tidak dapat menolak, karena jasa keluarga Kaisar untuknya sangatlah besar. Maka dari itu dia menjadi orang yang setia dan patuh.
__ADS_1