Karma Cinta

Karma Cinta
Kepergian Mertua


__ADS_3

Orangtua Kaisar belum juga tidur, ahh iya Syila lupa, semalam mereka tidur dimana, di rumah ini hanya ada dua kamar.


''Kalian belum tidur? Bukankah besok harus berangkat pagi-pagi sekali?'' Tanya Syila sembari mendudukkan badannya disalah satu sofa tunggal.


''Iya sebentar lagi sayang, kau sendiri mengapa malah keluar kamar?'' Tanya Tuan Mahendra.


''Emm tidak apa, belum mengantuk.'' Jawab Syila sembari senyum tipis.


''Oh iya maaf ya, kemarin Syila tidak memberi fasilitas layak untuk Ayah dan Ibu,'' ada kecanggungan saat mengucap 'Ayah dan Ibu', ''Syila tidak tahu kalian tidur dimana dan memakai apa. Malam ini tidurlah di kamar Ayah dan Ibuku. Syila tidur di kamar Syila sendiri.''


Tuan dan Nyonya Mahendra sangat senang, Syila memanggilnya 'Ayah dan Ibu'. Begitu juga dengan Kaisar yang sedari tadi hanya mengamati percakapan mereka.


''Ibu..'' Ucap Kaisar, memeluk dan bersandar dibahu Ibu Lulu dengan suara yang dibuat manja juga merengek. Tuan Mahendra sampai tersedak kopinya, mendengar anak bungsunya bicara dengan nada yang tidak pernah ia lakukan, dan bertingkah seperti bocah.


Sedangkan Ibu Lulu mengulum senyumnya mendapati tingkah Kaisar yang seperti itu, "ada apa nak?"


"Lihat ini.." Kaisar menunjukkan ibu jarinya yang tadi digigit Syila, ''ini sangat menyakitkan.'' Padahal tidak seberapa, dia hanya ingin menggoda istrinya, terlihat Syila yang kembali memasang wajah garangnya dengan mata yang hampir keluar.


''Tadi ada yang lapar, lalu dia menggigit jariku.'' Semakin mengusel pada Ibunya.


Bukk...!! Ayah Mahen melempar bantal sofa tepat diwajah Kaisar.


''Hentikan Kai!!! Kau terlihat menjijikan!! Jauhkan tangan juga kepalamu dari Ibumu!!'' Syila tak kuasa menahan tawanya, sekejap wajah Kaisar berubah kembali dingin dan berwibawa, matanya seperti menyiratkan perang dimulai kepada Ayahnya.


''Bu, sepertinya bayi kalian benar-benar tertukar saat melahirkan dulu.'' Ucap Syila meledek.


''Iya kau benar Syila, mana mungkin keturunan Mahendra bersifat seperti itu.'' Bela Tuan Mahendra tidak percaya dengan sifat Kaisar yang terpendam.


''Sudah.. Sudah.. Sudah malam tidak enak didengar tetangga. Syila kau masuk kamar, kau memerlukan banyak istirahat untuk memulihkan kesehatanmu.'' Ibu Lulu menengahi, Syila menurut ia pun segera pergi ke kamar, tak lupa ia kunci dari dalam.


Orangtua Kaisar juga pergi untuk istirahat, Kaisar masih tinggal sendirian di sofa. Ia tersenyum mengingat adegan dengan Syila.


Syila keluar kamar membawa selimut dan bantal, "kau tidur disini!" Ucapnya untuk Kaisar.


''Apa? Tapi aku..'', ''No protes!!'' Pangkas Syila.


''Jika tidak mau, kau juga bisa pergi besok dari rumah ini.'' Sambungnya lagi.


''Syila, aku suamimu!'' Ingatkan Kaisar.

__ADS_1


''Oh ya? Aku lupa, dan aku tidak peduli!'' Syila berlalu menuju kamarnya dan menguncinya.


'Suami istri, tidurnya begini, kapan punya anaknya.' Kaisar memijat pangkal hidungnya. Istri barunya membuat ia pusing.


Pagi-pagi sekali Syila sudah bangun, mengingat mertuanya akan pergi pagi ini, ia mencoba membuatkan makanan. Kakinya membawa Syila menemui Kaisar. Syila membenarkan selimut Kaisar yang terjatuh.


Beberapa saat kemudian, Ibu Lulu juga pergi ke dapur.


''Syila? Kau sedang apa?'' Tanyanya.


''Ehh, sudah bangun, apa aku terlalu mengganggu?'' Syila nyengir.


''Tidak, memang sudah biasa bangun pagi, membuat makanan.'' Jawab mertuanya.


''Sudah kubuatkan sarapan, tapi tidak tahu apa kalian suka atau tidak, entah enak atau tidak, Syila kurang pintar urusan dapur.'' Jawabnya jujur.


''Tidak apa, Kai mengapa tidur diluar?'' Tanya Ibu Lulu membuat Syila tergagap.


''Ehh itu emm...'', ''Yaa sudah tidak apa, pelan-pelan, Kaisar akan bersabar.'' Potong Ibu Lulu.


'Ehh.. Aku belum memberi jawaban dia sudah memberi pendapatnya.'


''Jaga dirimu baik-baik ya, jangan terlalu bersedih lagi, kapan-kapan jika kau ada waktu berkunjunglah, Ibu akan membawamu berkeliling disana.'' Sembari memeluk menantu barunya, Syila hanya menjawab iya dan berterimakasih.


''Ayah berangkat, jika terjadi sesuatu, kabari saja kami.'' Juga memeluk Syila.


''Aku putra kalian!!'' Kaisar memecah momen sendu diantara menantu dan mertua.


''Kau ini, mengapa menjadi seperti itu sifatmu? Kau menjijikan Kai.'' Sarkas Ayah Mahen, namun juga dengan memeluk erat putranya. ''Jaga istrimu baik-baik, Ayah sudah berjanji pada alm. Ayahnya.''


''Tanpa Ayah suruh, aku akan menjaganya dengan baik.'' Jawab Kai yang hanya terdengar oleh mereka berdua.


Lagi-lagi, Syila harus merasa kehilangan. Syila pergi masuk, mengambil bekal lalu hendak pergi lagi.


''Syila mau kemana?'' Tanya Kaisar yang kehadirannya tak dianggap oleh istrinya sendiri.


''Pergi.'' Syila benar pergi, Kaisar mengejarnya setelah ia mengunci rumah.


Disepanjang perjalanan, para Ibu-Ibu tak hentinya menggoda Kai, membuat Kai merinding sendiri membayangkan jika semua mengeroyoknya.

__ADS_1


Kai meraih tangan Syila, ia membawa apa yang Syila bawa lalu menggenggam tangan itu. Tentu mendapat penolakan.


''Apa yang kau lakukan, lepaskan!!''


''Sebentar saja, kumohon, lihat banyak anjing yang kelaparan disini.'' Kaisar berbisik, Syila melihat sekeliling, yang dimaksud Kai anjing kelaparan adalah Ibu-Ibu berdaster yang tengah menatap dengan penuh damba pada Kai.


Sampailah mereka di kebun, Syila melepas genggaman tangan yang lebih besar itu.


Syila memeriksa kebun, ada stowberri dan buah naga yang siap untuk dipetik. Sementara Kai hanya menyaksikannya dari kejauhan.


Syila datang dengan keranjang yang hampir penuh. Senyumnya mengembang kala memperhatikan buah-buahan itu.


''Apa ini kebuh Ayahmu?'' Tanya Kai.


''Iya, kami suka menghabiskan waktu bersama disini, dan disana, kami pernah mendirikan tenda untuk berkemah merayakan kelulusanku.'' Tanpa sadar Syila bercerita.


''Emm ini cobalah, ini minuman kesukaan Ayah juga.'' Syila menyodorkan teh lemon kepada Kaisar.


''Enak.'' Jawab Kai, ia masih terpesona oleh wajah alami yang cantik. Sangat sederhana tapi mampu memporakporandakan hati Kaisar.


''Syila maafkan aku untuk kecelakaan itu.'' Ucap Kaisar penuh sesal.


''Tidak usah dibahas, aku sedang mencoba berdamai dengan takdir, mencoba menuruti semua permintaan alm. Ayah.''


''Terimakasih ya.'' Ucap Kai yang hanya mendapat anggukan dari Syila.


Mereka pulang, dengan tangan yang masih saling bartautan. Kaisar sempat memohon tadi. Padahal akal-akalannya saja.


''Kai, lepaskan tanganmu!!'' Kala banyak pasang mata yang melihatnya.


Bukan menjawab atau melepaskan, Kaisar semakin mempercepat langkahnya, hingga membuat Syila kesusahan untuk menyeimbangi langkah lebarnya.


Mereka sampai di halaman rumah, dengan Syila yang bernapas ngos-ngosan, ''kau gila! Napasku hampir habis karenamu.'' Syila memegangi dadanya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tidak pernah berolahraga membuatnya cepat sekali lelah.


''Apa masih sulit bernapas? Aku bisa membantumu memberi napas buatan.'' Kaisar tersenyum tanpa rasa bersalah.


Ia hanya kesal melihat beberapa pria yang menatap Syila dengan tatapan memuja.


Istrinya itu memang mempunyai daya tarik sendiri, walau sudah menutup seluruh tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2