Karma Cinta

Karma Cinta
Penangkapan Adnan


__ADS_3

Dengan perancangan yang di buat tim detektif dan kepolisian, mereka berjaga mengintai sekitar tempat mencurigakan itu. Dengan bantuan kaca mata sistem, mereka tidak melihat bom aktif, lalu mereka mencoba membersihkan pintu yang tertutup dengan tanah dan daun kering itu menggunakan ranting kayu. Mereka hanya waspada jika terpasang jebakan berupa listrik.


Benar, ternyata ada sebuah pintu terbuat dari alumunium berukuran dua badan orang dewasa. Namun terkunci. Dia terletak tepat di bawah gundukan tanah besar.


"Sepertinya ini menggunakan sandi atau sebuah sidik jari untuk membukanya," lapor detektif kepada anggota polisi.


Berpikir keras, mereka begitu berpikir, mondar mandir namun tak menemukan apapun. Sampai salah seorang anak buah kepolisian tanpa sengaja bersandar pada batu kecil yang tertanam pada tanah gundukan itu.


Kreakk


Pintu otomatis itu terbuka dengan sendirinya.


"Apa? semudah itu?!"


Dengan perlahan dua detektif dan juga anggota kepolisian masuk ke dalam. Dengan sangat hati-hati tanpa membuat suara.


Di dalam tanah tersebut ternyata membawa pada ruangan yang lumaya luas. Disana memperlihatkan berbagai layar monitor CCTV dari area sekitar tempat ini, rumah Kaisar, kafe Syila dan juga kantor Kaisar.


"Sejauh ini dia memantau!!" kata seorang detektif itu.


"Wahhh aku kedatangan tamu tanpa permisi rupanya, sudah seperti maling saja," suara dari balik kursi panjang bagian sandarannya yang besar mengagetkan anggota kepolisian juga detektif itu.


Dengan santai Adnan memutar kursinya, tersenyum mengerikan, "Kalian akan selamat, jika keluar sekarang dengan baik-baik tanpa menggangguku lagi, beda, jika kalian ingin mati disini. Aku sudah menyiapkan ruang pembuangan mayat, tenang ruangan itu begitu dalam dan muat menampung 50 mayat," dia tertawa seperti orang gila.


Para anggota kepolisian saling pandang dan bergidik ngeri.


"Menyerahlah, kau sudah di kepung!" kata komandan kepolisian.

__ADS_1


"Hahaha, aduh kalian membuatku bahagia dengan candaan kalian, dengar! bukan aku yang dikepung tapi kalian yang terkepung," ucap Adnan. Ia lalu berjalan menuju meja yang penuh tombol yang tidak di mengerti oleh kepolisian. Lalu ia menekan salah satunya, keluarlah bidikan berupa pistol dan juga anak panah yang sudah mengepung para kepolisian dan detektif tadi melalui dinding di dalam tanah.


"Aku ingin bercerita dulu, sebelum kalian mati. Kalian harus mendengarkan kisahku dulu. Aku Adnan, pria cerdas dalam bidang IT dan juga mempunyai kenalan, apa yaa? anggap saja mafia. Mereka membantuku membuatkan istana bawah tanah ini. Bagaimana keren bukan? tehnologi ini hanya di rancang di luar negeri, dan ini satu-satunya yang ada di dalam negeri, semua sudah di atur disini, jika aku menekan tombol ini sekali saja maka, semua yang menempel di dinding itu akan mengeluarkan 5 kali peluru dan anak panah," jelasnya seperti sedang mendongeng.


"Kacamatamu bagus, pasti bisa mendeteksi bom aktif," membuat detektif yang memakainya gelagapan karena ketahuan.


"Hahaha...! dimana wajah garang kalian, kenapa sekarang pias pucat pasi begitu," dia semakin terbahak.


Yang tidak Adnan ketahui adalah dalam sebuah sekolahan pesantren yang pernah Kaisar bangun untuk anak-anak kurang mampu, disana sudah siap komputer canggih yang akan di operasikan oleh teman lama Rana, Jack.


Setelah mendapat kabar tentang tempat persembunyian yang mencurigakan, Rana mulai menggali sesuatu yang terkait dengan kawasan itu. Cerita dari seorang petani yang menjadi saksi akan pembangunan diam-diam setiap hari dari siang ke siang kembali. Dan yang mencurigakan, dia sampai membawakan truk container yang entah apa isinya tidak di ketahui. Setelah itu ia langsung menceritakan kepada temannya Jack. Jack pun merasa tertantang, ia langsung terbang ke tempat Rana tentukan.


Jack adalah salah satu anggota dari organisasi pemberantas para mafia dan juga penyeludupan senjata api secara ilegal. Jack pernah menggagalkan aksi penyeludupan senjata api secara besar-besaran hanya melalui tehnologi IT. Begitupun yang akan ia lakukan saat ini. Ia sudah membekali micro chip untuk bisa ia pantau pada pihak polisi juga detektif, yang mereka tempelkan di mana saja karena menyerupai tahi lalat. Dalam jarak radiasi kurang 5 meter ia bisa menangkap sistem yang tertanam dalam komputer Adnan. Atau apapun itu yang berhubungan dengan tehnologi IT.


"Rana, kau harus membayarku dengan mahal untuk ini," ucap Jack. Masih dengan berkutik dengan laptopnya dan ia benar-benar konsentrasi dengan earphone yang terpasang di telinganya. Begitupun dengan Kaisar, Syila, dan Lewis.


Syila sedang ke kafenya, tentu di kawal dengan penjagaan yang ketat. Agar tidak mencurigai jika dari sisi Kaisar juga mulai bergerak.


Sedangkan Lewis ia mengoperasikan perusahaannya seperti biasanya. Walau dengan waspada tingkat tinggi.


"Ayolah, ulur waktunya," rapal Jack yang baru 70% menginstal virusnya dan akan ia sebarkan pasa sistem Adnan.


Setelah beberapa waktu, Jack telah berhasil membobol pertahanan Adnan.


"Silahkan beraksi, tapi jika dia membawa senjata berarti itu satu-satunya senjata, kalian masih harus hati-hati," intruksi dari Rana untuk para kepolisian.


Setelah Adnan tertawa terbahak-bahak seorang diri, ia merasakan haus, ia mengambil minum dengan menyuruh detektif itu. Si detektif patuh, ia mengambilkan minumnya.

__ADS_1


"Hahaha lihat, ini adalah pangkat tertinggi ketika para polisi dan detektif patuh padaku dan melayaniku sebagai raja," senang Adnan.


"Sudah cukup kau tertawa! sekarang ikut kami untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" komandan dari kepolisian maju dengan menodongkan pistolnya juga borgolnya.


Adnan semakin tertawa, setelah tawanya surut bersamaan dengan ia akan menekan tombol B yang berada di remot kontrol di balik saku jasnya, mulanya mereka panik setelah tahu bukan di layar penuh tombol yang akan Adnan tekan. Namun setelah intruksi semua aman dari Jack, mereka semua sedikit tenang.


Komandan kepolisian masih menodongkan pistolnya, dan Adnan menekan tombol yang sudah membuatnya semakin lupa diri.


Klik klik klik


Berkali-kali ia tekan, raut wajah panik sudah mulai terlihat.


"Bagaimana dengan sistemmu? mengapa tidak terjadi apa-apa?" ledek si komandan.


"Damn it!!" ia cek komputernya ternyata sudah penuh virus yang mengacaukan sistem pada persiapan tempurnya.


"Menyerahlah, tidak usah melawan, kau kalah kali ini!" komandan tersebut memborgol Adnan tanpa perlawanan karena dirinya sendiri juga masih terluka. Anak buahnya tidak ada di sana sama sekali.


Dalam tangan yang terborgol Adnan mendial ponsel, langsung terhubung dengan semua anak buahnya.


"Lakukan rencana berikutnya," setelah mengatakan itu Adnan tertawa lepas.


Rana, Jack, Kaisar, Lewis dan Syila yang masih terhubung dengan mereka merasa was-was.


"Hahaha, lihatlah kekacauan apa yang akan terjadi!"


"Diamlah! dan ikut kami tanpa berontak!"

__ADS_1


Dengan kaki yang setengah pincang Adnan di giring menuju mobil tahanan. Benar-benar di kawal dengan ketat.


__ADS_2