
Syila masuk kamarnya, ia memegangi keningnya lalu dadanya. 'Jika Ayah yang melakukannya rasanya tidak seperti ini'.
Masih dengan senyum yang mengembang.
Lalu Syila membuka laptopnya, email. Ada balasan begitu juga dengan ponselnya ada pesan untuk melalkukan intervew. Tepat di kafe yang Syila inginkan.
***
Beberapa hari kemudian.
Syila sudah mendapatkan kontrakan, tinggal pindah saja, Bibi Nuha sebenarnya tidak ingin Syila pergi, karena itu akan membuatnya sendirian lagi, tapi mengingat jarak tempuh yang lumayan jauh jika dari rumahnya menuju kampus, akhirnya Bibi menyetujui.
Dan Senin nanti Syila sudah bisa bekerja.
''Sayang, kau yakin akan tinggal di tempat seperti ini ?'' Tanya Bibi Nuha yang melihat kondisi kontrakan Syila yang kecil.
Sebenarnya sudah layak, dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi yang tergabung dengan dapur, juga ruangan kosong yang bisa untuk menerima tamu.
''Aku hanya sendirian Bi disini, ini sudah layak, jarak tempuh dengan kampus kurang lebih hanya 10 menit jika jalan kaki.'' Jawab Syila meyakinkan.
''Baiklah mari belanja kau perlu beberapa perabotan juga sayuran.'' Syila menyetujuinya.
Syila memilih melengkapi perabotan dapur. Kasurpun ia hanya menggunakan kasur kecil, jika dipakai dua orang pasti akan sangat sempit.
Bibi Nuha pamit, setelah membantu Syila pindahan juga berbelanja, tinggal menata saja.
''Besok sajalah aku lelah.'' Baru juga matanya ingin terpejam, ada pesan masuk. Foto dimana Dika dan Laura sedang melakukan makan malam, dan itu hanya berdua.
Syila membuka kembali matanya, hawa cemburu juga curiga merasuki hati dan pikirannya. Namun ia sudah berjanji untuk saling percaya.
'Aku rasa Dika juga akan menjaga kepercayaanku.' Syila mengabaikan pesan itu.
Esok harinya, Syila pergi kuliah dengan jalan kaki, yaa.. dia menolak fasilitas yang ingin Bibi Nuha berikan, termasuk motor, dia tidak ingin merepotkan orang lain.
''Fanya !!'' Teriak Syila.
''Hei, ada apa ?'' Seketika Fanya menghentikan langkah kakinya.
''Kau tinggal dimana ? Aku sekarang pindah, mengontrak dekat kampus, mana tahu aku boleh berkunjung ke rumahmu.'' Jelas Syila.
''Benarkah ? Aku juga tinggal didekat kampus, baiklah, nanti tunjukkan dimana kontrakanmu, aku akan pergi kesana.'' Ucap Fanya semangat.
Mereka memasuki kelas, mengikuti pelajaran seperti biasanya, lalu Syila mendapatkan pesan lagi, ponselnya bergetar. Lagi-lagi foto dimana saat Dika tertawa hangat bersama dengan Laura.
__ADS_1
Seketika membuat mood Syila menjadi buruk. 'Siapa sih orang yang mengirimkan gambar-gambar ini ?' Karena setiap ia mengirimkan foto, nomornya selalu berbeda.
Syilapun mencoba berbalas pesan dengan Dika.
''Dika kau sedang apa ?'' Lama menunggu, hingga pelajaran usai tidak ada balasan.
'Mungkin dia sedang bekerja, bodoh !! Ini jam kerja.' Meruruki dirinya sendiri karena kebodohannya yang terbawa rasa cemburu.
Fanya mengajaknya pulang, sebelum itu mereka pergi ke kantin dulu. Karena memang lapar, Sam mendekati mereka berdua.
''Haii boleh gabung ?'' Membuat Fanya mendongakkan kepalanya seketika beku, hanya mampu memandanginya tanpa berkedip. Pria terkeren di kampusnya sedang duduk di hadapannya.
Berbeda dengan Syila, dia nampak acuh, pikirannya sedang kepada Dika.
Lalu ada beberapa mahasiswi yang bercerita dengan jelasnya di belakang Syila.
''Sudah jangan bersedih lagi, kau tidak pantas menangisi pria seperti itu.'' Temannya seperti menenangkan seseorang yang sedang menangis.
''Kau tahu, dia menjanjikan untuk menikahiku, hanya dalam hitungan hari dia mendapat tugas yang mengharuskan pergi bersama mantannya, selama itu juga dia mulai mengkhianatiku. Apa salahku, aku bahkan tidak ingin mencurigainya, tapi dia menghancurkan hatiku menjadi tak karuan.'' Dramatis, sedramatis mungkin.
''Sudah ayo kita pergi, kau juga harus bahagia. Kita cari kebahagiaanmu di tempat lain !''
Mereka pergi, dengan mengerlingkan mata kepada Sam. Sam tersenyum, melihat ekspresi Syila yang semakin murung, membuatnya yakin jika sekarang hatinya sedang gundah.
''Tiba-tiba aku kenyang, kau sudah selesai ? Jika sudah ayo pulang, dua jam lagi aku akan pergi ke kafe.'' Kata Syila. Sam semakin tersenyum.
''Sam, kau kenapa sedari tadi tersenyum sendiri ?'' Tanya Syila yang sebenarnya tidak nyaman dengan Sam.
''Apa tidak boleh ? Aku terlalu bahagia bisa dekat denganmu seperti ini.'' Jawaban Sam.
Syila yang mendapat kalimat seperti itu, Fanya yang meleleh hatinya.
''Oh terserah, tapi kami harus pergi.'' Syila menarik tangan Fanya pergi dari sana.
***
Sampai di kontrakan Syila, Fanya terkejut. Karena didalamnya masih sangat berantakan.
''Syila kau membeli ini semua ?'' Fanya bertanya.
''Itu Bibiku yang membelikannya, bahkan tadinya aku suruh menyewa apartemen saja sekalian.''
Fanya yang melihat barang elektronik mahal, bahkan tidak cocok jika diperuntukkan di kontrakan seperti ini.
__ADS_1
''Bibimu kaya ?''
''Anggap saja begitu.'' Jawab Syila acuh.
Mereka berduapun membereskan kontrakan Syila. Satu jam, kontrakan itu terlihat lebih baik dari sebelumnya. Fanya pamit pulang, dia juga mengambil pekerjaan sampingan di toko kakaknya. Fanya perantau, dia hidup sendirian di sini, orangtuanya juga jauh sama seperti Syila. Hanya saja, dia mempunyai kakak-kakak yang selalu rutin mengunjunginya.
Ada telepon dari Dika.
''Sayang..?'' Ucapan itu membuat Syila bersemu. Dia rindu Dika.
''Kau sedang apa ? Bagaimana hari ini ? Kau sudah makan ? Kau dimana Syila ?'' Tanya Dika tanpa jeda.
'''Aku baik Dika, hanya sedikit rindu denganmu. Aku di kontrakanku.'' Wajahnya semakin bersemu saat mengatakan rindu secara gamblang.
''Kau mengontrak sendiri ? Sejak kapan ? Kau tak memberitahuku ?'' Protesnya.
''Dika, bahkan kau lama sekali membalas pesanku, bagaimana aku memberitahumu ?''
''Ahhh benar, aku sangat sibuk, maafkan aku. Tapi kau baik-baik sajakan, kau pindah bukan karena ada masalah dengan Bibikan ?''
''Aku hanya ingin belajar mandiri saja. Kau sedang apa ?''
''Dika ini makanannya juga vitaminnya, kau harus menjaga kesehatanmu jadi makanlah dulu.'' Ucap gadis itu dengan lembut. Syila yakin itu Laura.
''Aku sedang di kontrakan juga, istirahat kerja ini juga mau makan.''
''Itu Laura ?''
''Iya, dia datang membawakanku makanan.''
''Baiklah jika begitu, kau makan saja dulu. Aku ingin istirahat.'' Bohong Syila.
Panggilanpun berakhir. Syila mulai bersiap untuk kerja. Lalu dia memegang dadanya sendiri, dimana ada rasa rindu namun bercampur dengan cemburu dan curiga, membuatnya terasa sesak.
'Aku tak mengerti mengapa begini, sebelumnya tidak masalah dia dekat dengan wanita manapun.'
Tak lama kemudian pesan dari nomor baru lagi, yang memperlihatkan Laura sedang menyuapi Dika, dan Dika menyambutnya, karena dia nampak sibuk dengan laptopnya.
Semakin terasa sesak, Syila mencoba menekan perasaan itu. Lalu tangannya memegang liontin dari sang Ibu. Dibukanya, menampilkan foto mesra Ayah dan Ibunya.
'Untuk saat ini, aku harus semangat dan bahagia demi kalian. Orang-orang yang sudah berjuang dengan keras demi hidupku.'
Syila pergi bekerja menaiki angkutan umum, hanya 10 menit dia sampai di tempatnya bekerja.
__ADS_1