
Pagi harinya di dapur. Syila yang sedang memasak untuk sarapan, sedangkan Bi Lila harus pergi ke pasar karena ada yang perlu di beli. Sepasang lengan kokoh melingkar di perut Syila. Sudah rapi dengan jas juga jam tangan di sana. Aroma maskulin tercium sangat pekat. Di ciumnya pipi Syila yang merona.
“Kai, awas. Aku sedang menggoreng, nanti kau terkena minyak,” Syila memperingati. Namun Kaisar seolah tidak peduli dengan larangan Syila, ia malah ikut memegang spatula yang Syila pegang untuk membalik ikan gorengnya.
“Auhh!” desis Kaisar saat merasakan percikan minyak panas mengenai kulitnya.
Syila segera membalikkan tubuhnya menghadap Kaisar, “Tadi aku sudah memperingatimu, lihat ini hasilnya kau tidak menurut!” cerca Syila membawa tangan Kaisar pada adonan terigu yang tersisa. Lalu ia oleskan di bagian yang terluka.
“Setelah ikan kau juga mau menggoreng tanganku?” melihat Syila melumuri tangannya dengan terigu basah.
“Ck, kau ini, ini pertolongan pertama di dapur saat kulit terkena minyak panas atau luka bakar ringan, agar tidak melepuh,” jelas Syila. Kaisar hanya mangut-mangut.
Di tatapnya dengan penuh kelembutan, wanita yang sudah mampu mengalihkan dunianya. Mengembalikan senyum yang sempat hilang.
“Aku ingin membuat resepsi untuk pernikahan kita,” kata Kaisar.
“Aku tidak butuh itu, Kai,” Syila membalas dengan tatapan yang meneduhkan di sertai senyum yang memabukkan.
“Orang-orang harus tahu hubungan kita, aku tidak mau ada pria lain lagi yang diam-diam menyukai istriku. Aku tidak bisa membayangkan hal itu, pasti akan sangat membakar hati,” dengan mengusap pipi yang perlahan merona.
Bertatap dalam diam, membungkam mulut dan membiarkan jantung yang berkata. Kaisar juga Syila sedang menikmati ritme cinta yang sedang tumbuh berbunga.
Tiga centimeter lagi seharusnya bibir mereka beradu, “Ikan gosong woy!” seloroh Rayhan. Membubar jalankan suasana romantis yang baru saja tercipta.
Rayhan yang tidak sengaja melihat kemesraan mereka mempunyai niat jahil. Pagi-pagi lapar ingin minum susu hangat dari dapur dengan roti panggang atau apa pun, yang ia dapat malah pemandangan 21+ bukan pada tempatnya.
Syila yang lupa akan adanya Rayhan di rumah itu langsung kelabakan salah tingkah. Mencari sesuatu untuk mengangkat ikan yang di gorengnya, saking paniknya yang ia ambil bukan spatula tapi malah gunting sayur.
“Hahahaha,” tawa Rayhan membahana melihat tingkah wanita lebih dewasa darinya seperti itu.
Sedangkan Kaisar memasang wajah kesalnya, “Pengganggu!”
Dengan gaya ponggahnya, ia menuju ke lemari pendingin, membuka dan mengambil minuman soda. Karena susu tidak ada di sana. Melirik Syila yang wajahnya sudah merah, baru juga mulut ia buka hendak menuangkan air soda tiba-tiba kaleng soda sudah berpindah tangan ke Kaisar.
“Kebiasaan! jangan minum soda pagi hari!”
“Apa aku haus!” rengek Rayhan.
“Ada air putih, minum saja itu!”
Huh kesal, Kaisar masih sama seperti yang dulu. Menyebalkan.
Mereka makan dalam diam. Syila mengantar Kaisar pergi di depan rumah. Tak lupa kecup sana kecup sini.
Dengan binar bahagia Syila hendak masuk ke rumah, “Rayhan!” kesal Syila, kemunculannya yang seperti jin membuatnya terkejut.
__ADS_1
“Kak, aku sedang membayangkan jadi Kak Kaisar, cium sana cium sini, bagaimana jika tadi di dapur hanya berdua, adegannya lebih hot kali ya?” dengan ekspresi menyebalkan, dagu yang di sangga dengan tangan, mata yang menerawang ke langit-langit, dan senyum yang menjijikkan, ingin sekali Syila menendangnya.
“Seperti kata Kaisar, hebatlah dulu! dan jauhkan pikiran kotormu itu!” menoyor pelan kening Rayhan.
“Aduh lumayan dapet sentuhan sayang!” Rayhan terkekeh sendiri.
Lalu ia membuntuti Syila ke mana ia pergi.
“Kak, bagaimana bisa Kakak bertemu om om itu?”
“Takdir, Ray,” Syila merapikan sisa makan pagi tadi.
“Lalu kenapa kalian menikah tidak mengadakan pesta?”
“Tidak apa-apa,” sekarang ia sedang mencuci piring.
“Apa Kakak juga langsung terpesona dengan om om itu saat pertama bertemu?”
“Tidak,” Syila pergi ke halaman rumah, melihat tanaman di sana.
“Bagaimana bisa tidak? Jika aku wanita, aku pasti langsung meleleh melihatnya,” masih dengan senyum tak jelasnya.
“Apa lagi di ranjang, pasti hot ya Kak?”
“Aku telefon Kaisar sekarang juga!” gertak Syila.
“Hahaha, wajahmu merona, aku tahu Kakak sedang malu membayangkan hotnya seorang om om!” jurus seribu kaki Rayhan keluarkan saat Syila memegang kran dan mengarahkan kepadanya.
Syila tersenyum malu, memang benar yang di katakan Rayhan. Tapi jika harus di jadikan bahan obrolan jelas itu memalukan. Sangat tidak pantas.
.
.
.
Klarisa sedang menyiapkan dokumen-dokumen yang akan menjadi bahan untuk meeting hari ini. Pergi ke ruangan Kaisar dengan membawa secangkir kopi hitam.
“Tuan, ini dokumen yang Anda minta dan ini kopinya,” kata Klarisa.
“Kemana OB?”
“Emm ada sedang mengerjakan pekerjaan yang lain, saya rasa sekalian saya ke ruangan Anda.”
Telepon Kaisar berdering.
__ADS_1
“Sayang, kenapa baru bilang pergi malam ini?”
Telinga Klarisa bagai di tarik menjadi lebar selebar-lebarnya. Mendengar Kaisar memanggil seseorang dengan sebutan ‘sayang’ membuat jiwanya penasaran. ‘Siapa lagi sainganku?’ batinnya geram.
...
“Aku ada pekerjaan sampai malam, kau tahu kan?”
...
“No. Aku tidak mau kau pergi sendiri. Ajaklah bocah tengil itu! aku datang jika sempat.”
Percakapan selesai, Kaisar menatap Klarisa penuh selidik. Dan Klarisa tampak salah tingkah. Ia pamit undur diri.
.
.
.
Rayhan sudah siap dengan setelan jas tanpa dasi berwarna tosca, dengan celana jeans dan sepatu kets putih. Rambut setengah berdiri dengan rapi karena pomade. Jam brand bertengker di tangannya.
Syila terpesona melihat adik sepupu dari suaminya ini. Dia semakin gagah tapi tak mengurangi kadar keberondongannya. Malah semakin manis.
“Kak, aku sudah tampan?” berharap sekali untuk di puji.
“Sangat tampan, aku takut nanti pengantinnya pindah haluan saat melihatmu,” ledek Syila.
“Kau bohong, jika aku tampan, kau pasti akan menerima cintaku,” sok sedih.
“Sudah, aku mencintaimu, sebagaimana Kaisar mencintaimu,” berjalan dengan anggun menuju mobil yang sudah siap jalan.
“Kak, tapi aku tidak mencintai om om itu. Itu menggelikan! Aku pria normal,” teriaknya dengan menyusul langkah Syila.
Malam ini Syila akan menghadiri pesta Talita dan Doni. Namun ia enggan mengajak Kaisar saat suaminya terlebih dulu bercerita jika ia akan kedatangan klien penting yang kemungkinan datang sore menuju malam hari. Akhirnya ia mengajak Rayhan, walaupun tadinya ingin sendiri, tapi ternyata Kaisar mengkhawatirkannya.
.
.
.
Tatapan para tamu tertuju pada kehadiran Syila dan Rayhan. Kali ini bukan Syila yang menjadi pusat perhatian mereka, tapi Rayhan. Banyak gadis-gadis secara terang-terangan memuja ketampanan Rayhan.
Sedangkan Rayhan berjalan angkuh. Mengangkat dagunya berjalan di sisi Syila sedikit ke belakang.
__ADS_1
"Ponggah sekali!" ucap Syila dengan menyikut perut Rayhan