
Syila menatap Kaisar setengah takut, terlihat jelas kilatan luka bercampur amarah dimatanya, apa lagi dengan pembawaan ucapannya yang tegas dan dingin semakin mengikis keangkuhan yang tadi sempat ia pamerkan.
''Ini adalah hukumanmu karena kau menggunakan bibirmu ini untuk mengucapkan kata 'itu', jika kau melakukannya lagi, tak peduli dimanapun dan kapanpun itu, aku pastikan kau akan mendapatkan lebih dari ini.''
''Syila dengarkan aku, pernikahan kita memang bukan atas dasar diri kita yang menginginkan, tapi bagiku pernikahan adalah hal yang sakral dan suci, jadi.. jangan harap kau bisa berpisah dariku atas dasar perceraian.'' Ucap Kaisar dengan penuh penekanan dan dengan nada yang dingin.
Syila hanya menatap Kaisar dengan dada yang masih naik turun, ''kenapa hanya diam? Kemana tadi nyali dan keangkuhanmu, hm?'' Lanjut Kaisar sembari jari tangannya yang mengusap bibir Syila yang ternyata sangat manis rasanya.
''Minggir!!'' Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Syila yang terasa kebas itu. Syila masih terkunci diantara lengan kokoh suaminya.
Kaisar menatap dalam Syila, Syila merasa terintimidasi.
''Aku bilang minggir!! Apa lagi yang akan kau ambil dariku, setelah orangtuaku, kebahagiaanku, kedamaianku, sekarang kau juga akan mengambil hidupku untuk kau atur begitu!!''
''Sebenarnya apa salahku kepadamu dan keluargamu, sampai takdir harus mengikatku dalam hubungan seperti ini denganmu!!''
Kaisar diam mencerna perkataan Syila, apa seterluka itu dia hidup dengannya. Seperti apa luka yang ia dapat dimasa lalunya, sampai ia membenci sekuat itu dan menutup hati untuk pria lain.
Kaisar membawa Syila dalam pelukannya. Syila memberontak, ''jangan menyentuhku!! Lepaskan!!''
''Diamlah, aku minta maaf atas semua perlakuanku hari ini, jangan membenciku lebih dari ini lagi, kau bisa menghukumku dengan cara lain selain kebencian. Aku sudah hidup dalam bayang-bayang kesalahan atas kecelakaan orangtuamu, membuat hidupku begitu terganggu dan tak tenang. Itu sudah cukup Syila, jangan menambahnya dengan kebencianmu. Kumohon.''
Syila diam, dia kembali terluka oleh pria, pria sebagai suaminya, pemaksa, dan semaunya. Ia merindukan sosok Ayahnya, merindukan tutur lembut Ibunya.
''Aku bilang lepaskan aku!!'' Akhirnya Kaisar melerai pelukan mereka, mundur dua langkah dari hadapan Syila namun dengan mata yang masih mengawasi wajah Syila.
__ADS_1
Syila pergi dari kamarnya, menyambar kunci motornya berlalu dari rumah itu, Kaisar panik melihat istrinya pergi setelah pertengkaran mereka. Bahkan Syila tidak memberikan pendapatnya atas semua perkataan yang keluar dari bibir Kaisar. Kaisarpun menyusul Syila dengan motor satunya.
Pemakaman..
Motor Syila berhenti disana dengan membawa sekeranjang bunga tabur. Syila bersimpuh ditengah dua gundukan tanah yang baru mulai mengering namun masih ada sisa bunga tabur disana. Artinya makam itu masih baru.
''Ayah... Ibu...'' Syila mulai terisak.
''Apa kalian bahagia disana hanya berdua tanpa diriku?''
''Syila seperti kehilangan arah jalan tanpa kalian, hatiku kebas tidak bisa merasakan, selain rasa kehilangan dan kerinduan pada kalian.''
''Ayah... Ibu... Syila merindukan kalian, kenapa tidak mengajakku pergi bersama saja. Apa kehadiran Syila akan mengganggu keromantisan kalian seperti biasanya yang Syila lakukan, jika iya, Syila berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kembalilah Ayah, Ibu, Syila tidak mau sendirian, tidak ada yang menyayangi Syila seperti kalian lagi. Atau kalau tidak ajak saja Syila pergi bersama kalian.'' Tersedu Syila dengan memeluk nisan bertuliskan 'Hermansyah' dan 'Rahmawati'.
Kaisar sudah berdiri dibelakang Syila dengan jarak, namun masih bisa mendengar semua yang Syila ucapkan.
Sembari menaburkan bunga, ''Syila akan pergi ke kota, setelah meresmikan toko, Syila akan menyerahkan kepada teman Syila saja, dan hasil bagi dua seperti yang Ayah dan Ibu lakukan kepada Bibi Nuha, Syila akan kembali lagi kesini. Syila menyayangi kalian.'' Syila mengecup nisan orangtuanya.
Syila beranjak, dan berbalik badan, ia terkejut ada Kaisar yang berdiri dibelakangnya seperti patung. Tidak ada kata yang terucap, Syila menghapus sisa air matanya berlalu dari hadapan Kaisar.
Sedangkan Kaisar menatap Syila nanar, luka dan kesedihan tergambar jelas dimatanya.
Setelah Syila pergi, Kaisar menuju makam mertuanya.
''Haii Ayah... Ibu... Apa putri kalian tengah mengadu? Maafkan aku yang sempat kelepasan kendali, dia mengucapkan kalimat 'cerai' dengan lantang, membuat dadaku bergemuruh marah. Bagaimana mungkin, aku sangat mencintai putri kalian bahkan sebelum niat kalian dan Ayahku untuk menjodohkan. Dan aku begitu senang karena diberi kesempatan bersanding dengannya. Walau dengan pertemuan yang tidak kuharapkan. Pertemuan yang membuat putri kalian begitu membenciku. Tapi aku berjanji tidak akan menyerah untuk cinta putri kalian. Doakan aku selalu dari sana, semoga putri manja kalian itu bisa menerimaku.'' Setetes cairan bening membasahi pipi Kaisar. Sakitnya dibenci oleh wanita yang memenuhi hatinya sangat membuatnya sakit.
__ADS_1
Kaisar bergegas pulang, ia melihat Syila sudah rapi di ruang tamu.
Lagi-lagi Syila dibuat terkejut oleh tindakan Kaisar, ''Maaf.'' Ucap Kaisar sembari bersimpuh dihadapan wanita yang teramat ia cintai, ia menundukan wajahnya, menjatuhkan dalam pangkuaan Syila.
Tak lama suara klakson mobil terdengar, ''hentikan dramamu, kau akan membuatku tertinggal pesawat.''
Akhirnya mereka pergi, Syila kembali menoleh melihat rumah yang dulu begitu terasa hangat dan penuh cinta. Bahkan setelah kepergian Dika, Syila tak merasakan kekurangan cinta kasih dari orangtuanya, yang malah selalu bertambah setiap harinya.
Namun tidak untuk saat ini, rumah itu seperti bangunan tak bertuan. Sepi, dingin. Klise kebersamaan bersama orangtuanya kembali berputar, halaman itu, teras itu, dapur, ruang tamu, dan kamar.
Syila mendongakan wajahnya, menghalau airmata yang akhir-akhir ini mudah sekali keluar.
Kaisar hanya melihatnya, ia ingin memeluk wanitanya itu, tapi ia urungkan setelah mendengar penuturan Syila kepada orangtuanya tadi.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Syila mulai mengatuk, ia tertidur. Dibawanya dalam sandaran Kaisar.
Kaisar memperhatikan bibir Syila, ada luka disana karena perbuatannya, dan bibir itu terlihat sedikit tebal dari biasanya.
'Maafkan aku Syila, aku tidak bermaksud membuatmu semakin terluka dan membenciku, aku hanya takut jika kau benar-benar akan meninggalkanku. Mungkin aku akan semakin gila lagi jika kau benar pergi. Aku sangat mencintaimu, aku berharap suatu saat kau bisa membalas cintaku ini.' Kaisar mengecup singkat dahi wanitanya, membuat Syila sedikit terusik namun kembali dalam alam mimpinya.
Setelah sampai dibandara, Kaisar melakukan registrasi ulang, karena tadi hanya memesan lewat online. Sedangkan Syila hanya menunggu, lalu ada pria yang mencoba mengajaknya berkenalan. Tanpa menanggapi, Syila berlalu begitu saja, membuat pria asing itu penasaran dan mencoba mengejarnya.
Tangan Kaisar sudah lebih dulu mencegah pria asing itu. ''Dengar, dia istriku, jangan mengganggunya, atau kulaporkan kau kepada petugas!!'' Pria itu pergi tanpa ingin berurusan yang panjang.
'Syila, kau seperti bunga dimusim semi, banyak sekali serangga yang mengganggumu.'
__ADS_1
Setelah itu Kaisar menggenggam tangan Syila, walau mendapatkan protes dan tatapan tidak sukanya, Kaisar mengabaikan itu. Ia lebih tidak rela wanitanya di ganggu pria lain.