
Pulang sekolah aku benar-benar menagih janjinya tadi. Coklat dan ice cream adalah makanan terbaik jika moodku sedang buruk begini. Doni tahu itu.
"Syila"
Deg..
Aku mengenal suara itu, Adji ? Dia benar-benar menjemputku. Sekilas bayangannya bersama wanita dan seorang anak berterbangan di benakku. Telepon dan pesanku diabaikannya saat itu.
Dia mendekat.
"Ayo.." Ajak Adji menunjukkan jok motor belakang yang masih kosong.
Aku melengos. Hatiku mulai panas lagi. Tidak sanggup menatapnya. Pria yang datang malam-malam memberi bayangan dan harapan indah. Lalu keesokkannya memberi luka yang mendalam.
"Ehh.. maaf yank aku pulang sama teman, tadi lupa tidak memberimu kabar. Sudah ada janji terlebih dulu. Lagian kan biasanya juga tidak ada waktu walau sekedar menjemputku. Jadi aku sudah terbiasa pulang sendiri walaupun kamu sebenarnya disampingku." Sarkasku.
"Sudah tidak apa kan. Kamu bisa menghabiskan waktumu dengan orang lain." Jawabku panjang penuh sindiran saking kesalnya.
Adji mulanya nampak khawatir lalu kemudian dia merasa gelisah. Entah apa yang difikirkannya.
Tin tin tin. Suara klakson motor Doni menyadarkan.
"Syila jadi tidak ?? Kesempatan terakhir loh !" Huhh dewa penyelamat.
Adji masih bungkam lalu aku berlalu menuju pada Doni. Doni nampak terkejut saat melihat wajahku lebih muram.
***
Doni...
Pria itu kan yang pernah dia buntuti waktu itu. Mengapa Syila mengenalnya. Interaksi merekapun sepertinya kurang baik.
Sebenarnya aku sudah datang beberapa waktu lalu namun aku masih ingin memberi waktu kepada Syila. Siapa tau mereka membicarakan hal yang penting.
***
Kami sudah duduk di taman dengan ice cream di tangan kami masing-masing.
"Doni.."
Syila memulai percakapan diantara kami.
"Pria tadi adalah pria yang menjadi alasanku menolakmu tempo hari lalu"
Uhukk. uhukk.
Aku tersedak. Syila ini bercanda atau jujurnya tidak tepat waktu. Tapi setelah kuperhatikan lagi ada segurat kesedihan di wajahnya.
__ADS_1
"Emmm. Syila apa ucapanmu itu serius ? Karena sepertinya dia itu pria yang sudah berkeluarga." Pelan kuucapkan. Takut menyinggungnya.
Pandangan Syila tertuju lurus kepada ice cream di tangannya. Sesekali menikmati makanan dingin itu.
"Waktu perkenalan dia bilang masih sendiri. Hingga beberapa bulan setelah kami bersama, dia pergi merantau. Dua tahun ini aku berhubungan jarak jauh dengannya. Yang membuatku yakin dia masih sendiri karena Ibunya juga berhubungan baik denganku. Beliau bahkan menceritakan bahwa anaknya itu bucin sekali denganku. Hal itu membuatku menghangat." Jelas Syila.
"Di cafe waktu kita makan siang itu adalah pertama kalinya dia membuatku sakit amat sakit. Aku bahkan masih belum percaya jika mereka adalah keluarga. Tapi saat melihat bagaimana dia memperlakukan wanita dan anak kecil itu begitu mesra, hangat tanpa sungkan membuat kepercayaanku seakan runtuh. Bahkan telepon dan pesanku dia abaikan saat itu juga."Cerita Syila panjang lebar.
"Lalu jika kemungkinan buruknya dia memang sudah berkeluarga dan selama ini membohongimu apa yang akan kamu lakukan ?" Tanyaku pada Syila.
"Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengembalikannya kepada keluarganya bukan ?" Jawaban Syila membuatku ikut terenyuh.
"Emmm Doni bisakah kau membantuku.. ?"
"Apapun itu akan aku lakukan demi senyummu kembali." Kugoda dia agar tidak terlalu murung. Padahal memang nyatanya keinginanku seperti itu.
Syila tersenyum tulus.
"Terimakasih ya."
"Hmm. Jadi apa yang bisa hamba lakukan untuk tuan putri ?" Kubuat seperti seorang prajurit. Dan itu lagi-lagi membuat Syila tertawa kecil. Aku senang melihatnya.
"Tolong antarkan aku ke rumah wanita itu hari ini juga. Hihihi."
Gubrak cuma disuruh jadi tukang ojeg ternyata. Aku kira akan mendapat tugas besar. Tapi tak apa, aku akan menjadi perisainya semampuku.
"Baiklah apapun itu" Jawabku tetap semangat.
***
Bahkan tanganku sudah mengeluarkan keringat dingin. Sungguh tidak nyaman dengan segala kemungkinan diotakku ini.
Lohh Doni berhenti tepat didepan rumah wanita itu. Kenapa dia bisa tahu ?? Ahh nanti saja bertanyanya.
"Kamu kuat Syila !" Doni memberiku semangatnya. Kuanggukkan kepalaku.
Langkah tegap maju jalan. Kuat kuat kuat apapun yang akan terjadi ini takdir Tuhan.
Tok tok tok
Kuketuk pintu. Tak lama pintu terbuka dan keluarlah sosok itu. Hatiku langsung teriris. Sangat amat sakit. Pria yang aku percaya dan aku kasihi ada di tempat wanita lain yang entah apa hubungan mereka.
Adjipun tak kalah terkejutnya. Wajahnya pias pucat pasi. Seolah-olah tidak ada aliran darah di sekitar wajahnya.
Aku tersenyum namun dengan mata memanas.
"Tolong jelaskan semua ini." Tanpa basa basi aku menuntut penjelasannya.
__ADS_1
Adji masih mematung seperti tak percaya. Lalu tak lama ada seorang perempuan menyusulnya.
"Siapa Yah ?"
Tanya sang wanita tadi. Dia memanggil Adji dengan sebutan "Yah". Jantungku terpompa kencang sekali seperti mau lepas dari tempatnya. Nyeri di dada semakin menjadi. Sesak sekali rasanya. Matapun sudah memanas. Ada yang memaksa untuk keluar namun sekuat mungkin aku tahan.
***
Disinilah aku berada. Duduk berseberangan dengan Adji dan wanita itu.
Dengan menahan segala gemuruh. Aku sisihkan, aku tekan amarahku.
Kutarik nafas dalam kucoba menetralkan keadaan.
"Kedatangan saya kesini hanya ingin mencari sebuah penjelasan. Saya tidak ingin mencari masalah."
"Perkenalkan saya Syila. Pacar dari pria bernama Adji yang duduk tepat di sebelah Anda saat ini."
"Disini saya hanya ingin tahu hubungan kalian ini sebagai apa ?"
To the point tanpa lama-lama. Sudah sesak rasanya dadaku.
Kutatap Adji dengan wajah gelisahnya dengan bungkam seribu bahasa. Sedangkan si wanita itu tampak terkejut dan bingung.
"Apa hubungan kalian ini sebuah keluarga ?? Suami istri ??" Tanyaku masih dengan nada rendah.
Belum ada yang menjawab juga. Geram geram kesal amarahku memuncak.
"Jawab..!!" Teriakku khususnya kepada Adji, sudah tak mampu mengkontrol lagi.
"Syila aku bisa menjelaskan semua ini tolong tenanglah." Jawab Adji.
"Iya kami suami istri baru resmi beberapa hari ini. Lebih tepatnya waktu aku pulang hari Kamis yang lalu." Lanjutnya.
Pecah.. air matakupun mengalir tanpa aba-aba. Sungguh dia sudah keterlaluan sekali. Sudah cukup aku tak ingin mendengar apapun lagi cukup ini saja. Aku beranjak ingin pergi. Saat itu pula tanganku di tahan.
"Aku minta maaf kepadamu. Aku tahu hubungan kalian. Kalian saling mencintai. Aku juga mencintai Adji jauh sebelum kau mengenal Adji. Kami pernah sama-sama dalam keterpurukkan. Sama-sama terjun di dunia hitam."
Masih dalam keadaan terisak aku mendengarkan apa yang ingin wanita ini bicarakan.
Apapun alasannya seharusnya dalam sebuah hubungan itu harus dilandasi dengan kejujuran.
Pantas saja Adji sejauh ini seperti menutup diri dengan masa lalunya.
***
Bantu favorite, like, komen, and vote ya readers. Maaf kalau banyak kurangnya. Ini author masih tahap pembelajaran untuk menyalurkan hoby. Semoga berkenan..
__ADS_1
Terimakasih
***...