Karma Cinta

Karma Cinta
Pria


__ADS_3

Sesudah dari makan bakso. Kini mereka beralih kesebuah taman. Mereka duduk di bawah pohon.


"Pukul berapa kau berangkat ??"


"Nanti jam empat sore. Kau sendiri kapan akan ke Ibu Kota ?" Tanya Dika kemudian.


"Mungkin beberapa hari lagi. Bagaimana Ayah dan Ibu saja."


"Lalu nanti disana mau tinggal dimana ?"


"Rencana ikut Bibi dulu, kata Ayah lumayan jarak tempuhnya ke kampus. Kalau sudah mulai beradaptasi aku diperbolehkan ngontrak sendiri nantinya." Jawab Syila.


"Baiklah nanti kabari jika sampai sana."


"Emm"


"Syila..."


"Iya". Diraihnya kedua tangan Syila. Diusap dengan ibu jarinya.


"Apakah kau bahagia dengan status kita sekarang ?" Tanya Dika.


"Mengapa bertanya seperti itu ? Tentu aku bahagia." Ditatapnya dengan lembut, wajah tampan yang selalu ia puja kepada Tuhannya sembari tersenyum tulus.


"Kau sangat cantik jika sedang tersenyum begitu. Aku tidak ingin status kita ini menjadi penghalang cita-citamu."


"Aku tahu. Ini justru menjadi semangatku untuk meraih cita-citaku." Jawaban yang membuat Dika gemas sendiri.


"Aku ingin memelukmu." Melas Dika.


"Tidak boleh !" Tegas Syila.


"Tapi mengapa ? Aku tunanganmu !"


"Ck.. Aku tahu kau tunanganku. Kau seharian ini sudah sangat banyak mengingatkanku tetang status kita." Jawab Syila.


"Lantas mengapa ?"


" Tidak apa-apa. Hanya tidak biasa saja. Mendapat pelukkan dari orang lain selain Ayah." Jujur Syila.


"Baiklah aku akan bersabar untuk bisa memelukmu seperti yang Ayah lakukan kepadamu. Bahkan lebih dari pelukkan yang Ayah berikan." Seringai tipis muncul kepermukaan bibirnya.

__ADS_1


"Iya bersabarlah Tuan." Syila yang memang tidak koneks dengan pikiran Dikapun hanya menjawab sekenanya.


***


Sementara di tempat lain. Disebuah ruangan. Seorang pria dewasa, yang biasa bersikap dingin, tampan tak kalah dengan Dika dan sangat mapan, pemilik beberapa cafe besar yang cabangnya sudah merajalela, yayasan pesantren yang tersebar di beberapa wilayah kota, dan kini dia sedang membantu pekerjaan Ayahnya disebuah perusahaan textile.


Jika Dika memiliki wajah khas Asia, pria ini manis berwajah khas Arabia. Dia sedang merasa frustasi. Dia merindukan gadis yang namanya saja dia tidak tahu. Insiden tabrakan yang tidak sengaja itu membekas sampai saat ini.


Masih teringat jelas wajahnya yang ayu serta tatapan matanya yang meneduhkan. Membuat jantungnya terpompa lebih cepat.


"Ohh.. Sial..!!" Bergegas pergi. Karena dia sendiri tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya. Sebelum sebuah suara menghentikannya.


"Kau mau kemana nak ?"


"Ayah.. Aku tidak bisa konsentrasi. Bagaimana ini jika dipaksakan aku hanya akan mengacaukan pekerjaanku. Aku tidak pernah semenderita ini dalam urusan wanita. Bahkan dengan mendiang istriku sendiri tidak sefrustasi seperti ini. Bayangannya sangat menggangguku sekali." Cercahnya.


"Memintalah kepada Tuhan. Memohonlah untuk hatimu. Jika kalian berjodoh, suatu saat pasti akan bertemu kembali." Ucap sang Ayah yang sudah mengetahui apa yang putranya alami.


"Bagaimana mungkin Yah, bahkan namanya saja aku tidak tahu. Tapi hati dan pikiranku penuh oleh bayang-bayangnya. Ini sangat menyiksa. Bahkan hanya mengingat wajahnya saja membuat jantungku berdebar tak karuan." Adu sang anak.


"Baiklah.. Untuk hari ini pulanglah. Ayah yang akan menggantikanmu. Tenangkan dirimu dulu."


Sang anakpun langsung pamit pergi. Dia pergi ke sebuah panti yayasan anak yatim piatu. Membawakan banyak mainan, makanan serta buku-buku. Bermain bersama mereka. Berharap rasa yang bergemuruh didadanya sedikit teralihkan.


Mendekati anak-anak yang tidak mempunyai orangtua itu. Berbaur menjadi satu. Tertawa bersama. Dan ternyata hal itu membuat perasaannya lebih baik.


"Paman. Mengapa kau terlihat murung ?" Tanya seorang anak perempuan yang memang dekat dengannya.


"Tidak. Paman tidak apa-apa. Ada apa nak ? Mengapa kau tidak ikut bermain bersama teman-temanmu ?" Tanya pria itu sangat lembut.


"Aku merindukan Paman. Paman beberapa pekan ini tidak berkunjung. Sekalinya berkunjung Paman nampak gelisah seperti itu. Ini.. Makanlah Paman. Itu cokelat kesukaanku. Aku tidak akan menangis atau bersedih lagi jika sudah memakan cokelat. Namun Ibu Panti suka memarahiku jika aku makan cokelat terlalu banyak. Atau aku sengaja memberikan kepada temanku. Jadi rahasiakan ini darinya ya Paman. Aku takut dimarahi lagi." Ucap gadis berumur lima tahunan itu setengah berbisik, waspada dengan keadaan sekitar seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang amat penting dan besar padanya.


Pria tadi tertawa. Lalu diambilnya cokelat dari tangan mungil itu. Memakannya seperti perintah gadis kecil tadi.


"Paman sudah memakannya. Dan paman menjadi lebih baik seperti katamu tadi. Terimakasih ya." Gadis itu mengangguk antusias dengan wajah sumringah.


"Dengar, walaupun kau suka sekali dengan cokelat ini, kau tidak boleh banyak-banyak memakannya. Itu bisa merusak gigimu." Jelas pria itu seperti seorang teman yang sedang menasehatinya.


"Aku rajin menggosok gigiku, Paman."


" Good girl. Ayo kita bermain."

__ADS_1


Dan akhirnya mereka bermain layaknya teman sebaya. Dia mungkin terlihat dingin ketika menyangkut pekerjaan dan wanita. Tapi jika sudah dihadapkan dengan makhluk polos tak berdosa seperti mereka ini, sisi hangatnya keluar begitu saja. Mungkin itu yang membuatnya nampak mudah mendekati anak-anak.


***


Syila mengantar Dika ke bandara. Lagi-lagi jarak memisahkan mereka. Membawa secuil hatinya itu pergi bersama sang pujaan.


Syila pulang. Dia juga harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke kota.


Ayah dan Ibu akan mengantarnya. Jadi merekapun ikut menyiapkan apa saja yang akan dibawa.


Lalu tiba-tiba suara bising motor berhenti dihalaman rumahnya.


Ahh teman-teman.


Semenjak kelulusan itu beberapa dari mereka memang disibukkan dengan berbagai kegiatan.


Dan entah mengapa mereka bisa kemari secara bersamaan.


Aku melupakan ponselku. Pasti aku juga melewatkan banyak informasi.


"Hai.." Sapaku.


"Hai.." Saling berpelukkan satu sama lain.


"Kemari tidak mengabariku dulu. Apakah ada sesuatu yang kulewatkan ?" Tanyaku kembali.


"Ck.. kau ini dimana tata kramamu Syila. Ada tamu bukannya dipersilahkan masuk, duduk, lalu dijamu malah kau hadang dengan berbagai pertanyaan." Protes Una. Aku rindu dengan mulutnya yang pedas.


"Yang melewatkan sesuatu itu kami. Bukan dirimu." Kali ini Talita yang angkat bicara.


Tanpa dipersilahkan merekapun menerobos masuk. Dasar mereka ini tamu macam apa coba.


Setelah saling bersapa dengan Ayah dan Ibu. Kini mereka menatapku horor.


"Jelaskan bagaimana ceritanya cincin itu bertengker manis dijarimu. Bahkan kau tak mengundang salah satu diantara kami !!" Una protes.


Mengerti arah pembahasan mereka. Aku hanya nyengir kuda. Aku lupa. Semalam aku memamerkan foto cincin ini kepada mereka di group WA.


"Setelah kau upload foto dengan caption dari pangeran tak berkuda lalu kau tak ingin menjelaskan sesuatu kepada kami. Hm ?!" Dea mengapa ikut-ikutan memojokkanku.


"Baiklah baiklah.. jangan memberondong pertanyaan yang memojokkanku. Aku sudah seperti penjahat saja."

__ADS_1


Lalu Syilapun menjelaskan semuanya. Kini tiada lagi rahasia seperti yang ia lakukan ketika bersama Adji dulu.


__ADS_2