Karma Cinta

Karma Cinta
Ayah


__ADS_3

Setelah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan itu, sore ini kami mulai berkemas.


Liburan telah usai.


Kami pulang ramai-ramai sudah terlihat seperti konvoy saja. Aku diantar Talita.


***


Ibu sudah menyambut Syila. Memeluknya erat seakan-akan sudah tak bertemu lama sekali.


Talita langsung pulang. Dia berkata juga ingin istirahat.


''Ayah mana Bu ?''


''Menjenguk tetangga kita paling pojok sayang, dia habis jatuh dari tangga.'' Jawab Ibu.


''Innalillah.. semoga lekas membaik.''


''Aku ke kamar ya Bu, lelah'' Imbuh Syila.


''Iya sayang beristirahatlah.''


Sesaat aku teringat Dika. Dia tidak memberiku kabar sama sekali. Sepintas itu mengingatkanku kepada Adji, saat dia jarang memberiku kabar alibi sibuk dengan kerjaan, nyatanya dia sibuk mengurus wanita lain.


Kucoba menghubunginya. Tersambung tapi tidak diangkat. Panggilan ke tiga barulah telefonku diangkat


''Lama sekali.'' Desisku sebal.


Yang diseberang sana hanya terkekeh.


''Baru selesai mandi''.


Kulihat arloji ditanganku. Sudah menunjukkan pukul delapan malam.


''Baru mandi ? Memang pulang kerja jam berapa ??''


''Jam tujuh. Kau sedang apa ?'' Dika.


''Aku juga baru sampai rumah, lelah, tapi menyenangkan.'' Ceritaku.


''Apa saja yang kau lakukan dipantai ?? Bukankah kata Ibu kau mabuk laut ??'' Tanya Dika.


''Tidak ada. Hanya melihat teman-teman tertawa dan bermain. Atau sekedar berjemur atau membaca novel.'' Jawabku.


''Syila.. aku merindukanmu.''


Aku tersenyum. Malu hanya sekedar ingin berkata aku juga merindukanmu .


''Setelah lulus, apa rencanamu ?''


''Aku sudah mendaftar difakultas negeri di kota. Semoga diterima. Selain itu menjadi impianku. Poin kedua juga agar dekat denganmu.'' Jawabku bersemu.

__ADS_1


''Baguslah jadi setiap malam minggu aku bisa berkencan sungguhan, agar tidak dikatai penunggu rumah terus.'' Jawabnya sumringah.


Aku hanya tertawa mendengar keluh Dika.


Setelah telefon selesai. Akupun mulai merebahkan tubuhku.


Sungguh menyenangkan beberapa hari ini.


Baru juga mulai memejamkan mata. Pintu kamarku terbuka.


Suara langkah kaki mendekat. Aku pura-pura tidur.


Ada tangan yang mengelus dengan sayang dikepalaku. Lalu kepipi. Dikecupnya keningku.


''Arsyila Putri. Putri kesayangan Ayah. Tidak terasa kau sudah tumbuh sebesar ini. Bahkan kau sudah berani mengambil keputusan untuk masa depanmu.'' Terjeda oleh isakan.


''Padahal rasanya baru kemarin kau tertidur ditimangan Ayah. Sebenarnya Ayah tidak rela berjauhan denganmu. Tapi Ayah tidak ingin menjadi penghalang masa depan, kebahagiaanmu, serta cita-citamu.''


''Selamat malam putri kesayangan Ayah.'' Dikecupnya lagi keningku.


Setelah pintu tertutup lagi. Aku tertegun. Aku bangun. Ayah ini kenapa, mengapa sampai menangis begitu. Baru kali ini aku tahu Ayah menangis. Dan kemungkinan itu karenaku.


Aku pergi juga untuk membawa nama Ayah dan Ibu. Untuk membanggakan kalian. Setelah itu aku akan pulang dengan mengangkat derajat Ayah dan Ibu. Aku akan terus menyayangi kalian.


****


Paginya, aku membuat teh dan susu. Teh bercampur mint, madu dan lemon untuk Ayah dan susu kunyit untukku sendiri.


''Ayam tetangga kebanyakan melamun besoknya disembelih sama yang punya loh Yah. Soalnya disuruh makan melamun, disuruh main melamun, bahkan dia bertelorpun dia melamun.''


Ayah tertawa.


''Lalu kalau Ayah yang melamun siapa yang akan menyembelih ?''


''Hehehe bercanda Yah. Apa yang sedang Ayah pikirkan ?''


''Tidak ada sayang. Kau mengapa ke kebun ? Tumben sekali tidak takut bertemu ulat bulu ?'' Tanya Ayah. Aku merinding kembali teringat hewan menjijikkan itu.


''Entahlah. Tapi tiba-tiba aku sangat merindukan Ayah.''


''Ini aku bawakan teh untuk Ayah. Dan ini kue dari Ibu.''


''Tanamannya subur-subur ya Yah. Ayahku ini memang paling hebat.'' Basa basiku.


''Apa yang ingin kau bahas nak ?''


''Ck.. Ayah sudah seperti sutradara saja. Belum juga selesai basa basinya.'' Cebikku.


''Tidak perlu basa basi, kau bisa mengatakan apa yang ingin kau katakan tanpa pembuka dan penutup.''


''Ayah kira aku mau berpidato apa ?'' Aku pura-pura sebal.

__ADS_1


Lalu Ayah meminum teh yang aku bawakan tadi dengan bibir tersenyum.


''Mengapa tidak dibuatkan kopi ? Biasanya kan kau membuatkan kopi untuk Ayah.''


''Ayah.. terlalu banyak mengkonsumsi kopi itu tidak baik. Teh ini juga banyak manfaatnya loh, akan membuat Ayah lebih awet muda dan panjang umur. Karena tadi aku membuatnya dengan madu, mint, lemon dan cinta Syila kepada Ayah yang luar biasa besarnya.'' Ceritaku.


Lagi-lagi Ayah tertawa mendengar penuturanku.


''Terimakasih sayang. Kalau begitu mulai detik ini Ayah akan mengganti kopi dengan teh buatanmu.''


''Itu bagus..'' Kupamerkan ibu jariku pada Ayah.


Hening.. Ayah memandang tanaman yang terlihat subur itu dengan senyuman.


Dan aku memandang Ayah yang sedang tersenyum.


''Ayah.. semalam Ayah kekamarku bukan ? Ayah menangis ?'' Tanyaku pelan-pelan.


''Ayah menganggu tidurmu ya ?''


''Tidak, sebenarnya aku masih terjaga. Mendengar Ayah menangis aku tidak mau memperkeruhnya. Jadi aku hanya diam. Ayah.. Ayah ingin aku bagaimana ? Jika Ayah tidak meridhoiku pergi bicaralah Yah. Aku akan tetap tinggal. Aku tidak ingin menjadi alasan Ayah untuk menangis.''


Ayah menghela nafas beratnya.


''Kemarilah..'' Aku menyusutkan tubuhku bersandar dibahu Ayah. Bahu yang memikul beban keluarga begitu banyak dan berat. Aku yakin aku takkan mampu menjalani kehidupanku jika tidak ada Ayah.


''Ayah hanya sedikit berat melepasmu. Kau tahu nak. Kau dihadirkan ditengah-tengah keputusasaan Ayah dan Ibu. Karena suatu kecelakaan, Ibu di vonis susah hamil kemungkinannya hanya 10%. Padahal waktu itu kami menikah muda. Dan kau hadir di usia 10 tahun pernikahan kami. Betapa bahagianya kami saat itu. Apapun Ayah lakukan, demi kandungan Ibumu. Sama seperti saat ini Ayah memperlakukanmu dengan segala yang Ayah mampu.''


''Anak Ayah ini selalu memberikan warna di kehidupan Ayah. Waktu kau berkata ingin berlibur ke pantai sebenarnya Ayah keberatan sekali. Hingga Ibumu menyadarkan Ayah. Bahwa kau tak selamanya berada dipelukkan Ayah. Suatu saat juga akan ada pria yang memperistri anak Ayah ini. Lalu kapan lagi kau bisa menikmati masa-masamu.''


''Aku sangat menikmati hidupku, bersama Ayah dan Ibu.'' Selaku.


Ayah mengelus rambutku.


''Kau juga perlu bersosialisasi nak, Ayah tak akan mampu menjagamu seumur hidupmu. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil Ayah atau Ibu. Kau perlu belajar mandiri untuk bekal hidupmu nanti. Mungkin dengan pilihanmu itu kau bisa belajar untuk bertahan hidup. Ayah tak ingin menjadi Ayah yang jahat. Menghalangi cita-cita anak Ayah sendiri. Maaf jika karena Ayah kau menjadi ragu akan pilihanmu.''


Tak terasa airmataku meleleh begitu saja.


''Ayah dengar, aku tak ingin menikah jika pria itu tidak sebaik Ayah.'' Selaku lagi.


''Pasti akan hadir seseorang yang lebih baik dari Ayah. Doa Ayah dan Ibu selalu bersamamu.''


''Aku mencintai Ayah. Aku mencintai Ibu. Tidak menikahpun tidak apa. Yang penting Ayah dan Ibu selalu bersamaku.''


Kupeluk Ayah dengan erat.


...Part ini Author nangis ngetiknya. Merasakan jadi Syila yang mendapat kasih sayang Ayahnya yang luar biasa....


...Karena bagi Author sendiri, Ayah itu super hero diatas super hero....


...Semoga Ayah kita selalu diberi kesehatan, kekuatan, umur panjang, dan kemuliaan tersendiri....

__ADS_1


...Aamiin......


__ADS_2