
Syila mengerjapkan mata, masih terasa berat rasa di kepalanya. Sedikit demi sedikit mengumpulkan nyawanya.
'Kamar siapa ? Ini aroma parfum pria.' Jantungnya langsung terpicu dengan cepat. Segala takut menyeruak dalam hati dan pikirannya.
Syila berusaha duduk, dia melihat pakaian yang ia kenakan, lembut tapi ini bukan pakaiannya. Ini seperti piyama pria dewasa.
Lagi-lagi rasa takut memenuhi relung hatinya. Matanya memanas memikirkan sesuatu telah terjadi padanya.
Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sesosok wanita paruh baya yang bersahaja. Syila meringkuk dalam selimutnya, mengeratkan cengkraman pada kain tebal itu untuk melindungi tubuhnya sendiri. Dia masih takut, takut akan musibah yang menimpanya semalam, lalu ketika ia membuka mata, ia di kamar asing.
''Siapa kau ?'' Tanya Syila saat wanita itu berjalan mendekat.
''Syukurlah kau sudah bangun, apa aku menakutimu ?'' Syila diam matanya masih awas mengamati apa yang akan dilakukan wanita ini.
''Saya Bi Lila pekerja dirumah ini, saya datang untuk mengecekmu sudah sadar atau belum, sudah saatnya mengisi perut lalu minum obat agar kau lekas pulih.'' Jelas Bi Lila.
Syila melihat apa yang ditangan Bi Lila, Semangkuk bubur dan air minum juga ada paper bag.
''Makanlah..'' Bi Lila mencoba menyuapi Syila. Syila tak bergeming.
''Saya bukanlah orang jahat Nona, saya tidak memberikan racun.'' Jelasnya yang melihat Syila enggan berinteraksi dengannya.
''Aku bisa sendiri.'' Ucap Syila mengambil alih mangkuk bubur itu, melahapnya sedikit demi sedikit, namun perutnya terasa penuh hanya dengan beberapa suapan.
Bi Lila masih setia menunggu, menunggu apa lagi yang diperlukan. Karena itu yang dipesankan oleh Tuan Mudanya.
''Apa tidak enak ?'' Melihat bubur yang hanya berkurang 4 sendok.
''Aku kenyang, terimakasih.'' Ucap Syila.
''Baiklah sekarang minum obat juga vitaminmu.'' Kata Bi Lila. Syila menurut, karena dia merasa wanita ini bukan orang jahat seperti yang ia katakan tadi.
Setelah meminum obatnya, Syila ingin bertanya tapi enggan.
''Emmm Bi..''
''Katakan saja Nona, apa butuh sesuatu ?'' Tanya Bi Lila.
''Pakaianku ?'' Ragu bertanya takut dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
''Ohh, Bibi yang membantu mengganti pakaianmu, karena pakaianmu basah dan tidak layak pakai, maaf Bibi sudah membuang pakaian Nona. Itu perintah Tuan Muda sebenarnya. Dan ini Tuan Muda sudah menyiapkan pakaian ganti lengkap.'' Diserahkannya paper bag yang sedari tadi hanya ia pegang.
''Lalu kemana Tuan, Bi ?'' Tanya Syila ragu.
''Tuan sedang ada pertemuan kolega penting pagi-pagi sekali sudah berangkat, Nona disuruh untuk menunggunya.'' Syila hanya diam.
Ia bertanya-tanya seperti apa Tuan Muda yang menjadi penolongnya, ia sampai repot-repot mengurusnya begini. Di dalam kamar yang luas ini tidak ada fotonya sama sekali.
Syila kembali teringat Dika, membuatnya merasa sedih lagi. Hatinya sakit lagi.
''Nona, ada apa mengapa bersedih ?'' Saat melihat tamu Tuannya murung.
''Ahh tidak apa, aku harus pergi Bi, aku teringat orangtuaku.'' Ucap Syila.
''Tunggu Tuan kembali dulu Nona, itu pesannya.'' Bibi Lila.
''Maaf, Bi, aku ingin sekali menunggunya untuk berterimakasih, namun ada hal penting yang harus aku kerjaan hari ini. Aku mohon..''
Dengan segala rayuan dan alasan yang ada, akhirnya Bi Lila luluh juga, ia akhirnya mengizinkan Syila pergi tanpa menunggu Tuannya kembali.
Syila membersihkan tubuhnya, hatinya berdebar, merasakan sensasi aneh kala memasuki kamar mandi itu.
'Apa disini ada hantu ? Hanya memasuki kamar mandi pria saja hawanya sudah seextream ini' Pikiran tidak jelasnya.
Tiba-tiba wajahnya merona, mengingat siapa yang membelinya tadi, 'Tuan Muda ? Kenapa pandai sekali memilih size nya ? Semua terasa pas.'
***
Syila kini berada di kampusnya, semua mata menuju ke arahnya, gadis desa yang biasa tampil sederhana, kini terlihat lebih anggun dan cantik dengan pakaian berbentuk dress yang elegan itu.
Malu, hanya ada rasa itu saat ia sadar ia menjadi pusat perhatian. Syila tak pernah pergi dengan pakaian seperti ini, tentu itu menjadikan hal yang langka untuknya.
Semua itu juga tak luput dari pandangan mata Sam, terpesona, begitulah arti matanya bicara.
Syila pergi ke kampus karena ingin mengurus izin. Ia mengambil izin untuk alasan keluarganya.
Setelah selesai, Syila hendak pulang menuju rukonya, namun ada pemandangan mengejutkan.
Sam tengah diampit oleh petugas kepolisian. 'Apa yang ia perbuat ?', hanya sekedar ingin tahu namun tak ingin terlibat. Syila acuh meneruskan jalannya, ia akan pulang ke kampung halaman hari ini juga.
__ADS_1
***
Sepanjang perjalanan menuju kampung halamannya, ia tak henti-hentinya memikirkan Dika, 'Bagaimana bisa pria itu menjelma seperti siluman, aku yang sudah bodoh atau bagaimana ? Lalu apa salahku ? Dia berkali-kali dengan keyakinannya menawarkan secawan madu, namun ternyata yang ia berikan adalah racun.' Syila menghapus air mata yang meleleh lagi.
'Kenapa bisa sesakit ini, apa aku sudah terlanjur mencintanya terlalu dalam.'
Ditengah ratapan nasib cintanya, pesan masuk dari Fanya, yang mengatakan bahwa Sam di tuntut dan kini harus mendekam dipenjara, karena keterlibatannya sebagai dalang sebuah tidak asusila.
Syila hanya membaca, tak berniat membalas ataupun membahasnya, membicarakan asusila dia teringat dirinya sendiri. Membuatnya sangat ketakutan dan tidak percaya diri lagi.
***
Sementara Dika, hari ini ia kerja dengan sangat kacau, beberapa kali terkena teguran karena kelalaiannya.
Pikirannya sangat kalut, memikirkan kesalahannya kepada Syila, ingin menghubunginya, namun nomornya sudah di blokir. Dia mencoba ke kontrakan seperti yang Bibi Nuha katakan, namun tidak ada, ia sudah pindah.
Bibi Nuha hanya menjalankan tugas untuk menjaga rahasia, ia tidak tahu jika hubungan Syila dengan Dika sudah selesai dengan sad ending.
'Mengapa baru terasa ketika ia sudah pergi, selama ini aku hanya mngedepankan ego dan n*fsuku. Aku mohon pengampunanmu Syila hukum aku apa saja itu, tapi jangan dengan mengakhiri hubungan seperti ini. Ini seperti menuntunku pada kesekaratan'. Sesal Dika.
Selain Dika, juga ada Kaisar yang kini tengah uring-uringan,
''Bi, sudah kukatakan jangan melepaskannya, suruh ia menungguku !'' Bagaimana tidak kacau hatinya, ia baru saja mendekap wanita yang selama ini merasuki kehidupannya, belum juga tahu siapa namanya, ia harus kembali ditinggalkan.
Bi Lila hanya bisa meminta maaf, karena ia sendiri tidak kuasa saat melihat Syila mulai sedih dan menangis.
Kaisar masuk kamarnya, merebahkan diri bekas Syila tempati, memeluknya seolah ia sedang memeluk Syila. Lalu kakinya menginjak sesuatu, 'kalung ?'
''Aku pikir Tuhan hanya memintaku untuk lebih bekerja keras mendapatkanmu.'' Kaisar tersenyum simpul.
Lalu melihat secarik kertas diatas mejanya.
Tuan, terimakasih sudah menolongku
Maaf jika itu sangat merepotkan
Lain waktu jika kita bertemu kembali, aku akan membalas kebaikanmu dengan kemampuanku
Aku harus pergi karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan.
__ADS_1
Terimakasih.
''Tentu saja, kau harus membayar dengan mahal untuk apa yag sudah kulakukan untukmu.'' Yakin Kaisar