
''Jadi, jika bukan di tempat umum kau mau melakukannya?'' Tanya Kaisar menggoda.
''Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun.'' Elak Syila.
''Kenapa ciumanmu payah sekali?'' Kaisar mengulum senyum, sebentar lagi Syila pasti akan salah tingkah dengan wajah semakin merona.
Syila merengut mendengar pertanyaan Kaisar yang cenderung mengejeknya.
''Apa aku adalah orang pertama yang melakukannya padamu?'' Semakin gencar menggoda.
Syila masih diam, mengunyah makanannya dengan kasar, menandakan ia sedang kesal.
''Bagaimana jika aku mengajarimu, dengan suka rela tidak akan meminta apapun, aku berjanji. Sampai kau lihai mempraktekannya.''
Kali ini dengan tatapan horor Syila, ''Baiklah ayo kita praktekan di sini, tapi tutup matamu, aku malu.'' Alibi Syila
Kaisar sudah menutup matanya, dengan seulas senyum, tapi tidak benar-benar menutupnya, ia melihat Syila tengah mengambil kentang goreng lalu ia cocolkan ke saus sambal dan ia arahkan ke bibir Kaisar. Kaisar masih membiarkannya sampai sambal itu mendarat di bibirnya.
''Ck, mengapa tidak ada responnya?! Seharusnya kau terkejut, lalu kesal!'' Syila sendiri yang merasa kesal.
Kaisar menjilat bibir dimana ada saus sambalnya dengan tatapan mata tak lepas dari Syila. Melihat Kaisar seperti itu atmosfir sekitar berubah panas, 'Sepertinya aku harus kabur.' Batin Syila.
''Aku suka, ini hot.'' Senyum smirknya membuat Syila merinding.
''Emm.. tiba-tiba aku kenyang, aku mau pulang.'' Syila hendak berdiri dan kabur namun sudah terlanjur di cekal pergelangan tangannya.
''Aku masih lapar, aku ingin merasakan yang hot lainnya lagi.'' Tatapannya semakin mengintimidasi.
''Kau bisa makan sendiri, aku tidak menyukainya.'' Syila berusaha melepaskan tangannya, firasat buruk menyergap hatinya.
''Oh.. ya.. ? Jika begitu aku akan membuatmu menyukai yang hot-hot.''
Dengan sekali sentak, Syila kembali terjerambah di sofa, dengan kepala menyandar sofa atau badan yang terbaring di sofa namun kaki tetap di lantai.
''Ka Kai ka kau mau apa?'' Syila terbata, ia panik kala tubuh Kaisar semakin mendekat dan menghimpitnya.
''Mau ini,'' Kaisar mengusap bibir Syila yang terasa manis dan kembali mendaratkan bibirnya dibibir Syila. Syila memberontak, namun percuma, semakin dalam dan dalam lagi Kaisar membuat sentuhannya.
__ADS_1
Hingga beberapa saat, Syila mencoba mencubit pinggang Kaisar yang terasa keras itu, ia merasakan sesak karena kurangnya pasokan oksigen.
Kaisar melepaskan pangutannya, napas yang menderu dari keduanya, ''Kau lupa bernapas?'' Masih saja meledek.
''Awas... Kau berat.'' Syila tidak mau menjawab pertanyaan Kaisar, ia berusaha mendorong tubuh Kaisar yang setengah menindihnya.
Kaisar menginginkan lebih dari ini, lama menduda membuat stok 'keinginannya' begitu besar. Namun Kaisar harus menahannya lagi, belum saatnya.
Syila mulai resah, ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana. Namun kungkungan Kaisar begitu kuat, ''Kai!! Lepaskan aku!!'' Masih dengan intonasi angkuhnya.
''Sekali lagi, buka mulutmu, baru aku akan melepaskanmu.'' Bukannya membuka, Syila malah membekap mulutnya sendiri dengan tangannya sembari menggelengkan kepalanya.
''Baiklah, aku akan memaksa.'' Ucap Kaisar dengan santainya.
Kaisar mencekal lagi kedua tangan Syila ke atas kepalanya. Ia menyusuri lagi wajah istrinya yang benar-benar membuatnya jatuh cinta itu.
Dan lagi Kaisar melakukan ciuman yang mungkin akan menjadi candunya, mulai dari pertama kali dia merasakan bibir Syila.
Kaisar menggigit bibir Syila berharap dia mau membuka mulutnya, dan berhasil, Syila membuka mulutnya sedikit memberi akses kepada Kaisar untuk menjelajah ke dalam. Bertukar saliva.
Sebuah ciuman dari pria, yang benar-benar tidak pernah ia rasakan sebelumnya, Syila hanya mampu menikmatinya. Iya itu benar-bear nikmat. Gemuruh hawa panas merasuki tubuh Syila juga akhirnya, rasa asing yang belum pernah ia rasakan. Seperti ingin meminta lebih dari ini, membuat akal sehatnya nyaris menghilang.
''Kau berat!! Menyingkir!!'' Syila mendorong dada Kaisar sampai ia juga ikut terbangun, membenarkan posisinya, dan hijab yang terasa berantakan.
Kaisar masih saja memperhatikan Syila dengan senyumannya, membuat Syila menjadi salah tingkah sendiri dengan wajah yang sudah semerah buah cerry.
''Kau lucu sekali.'' Kaisar sudah mengulurkan tangannya dan Syila sudah waspada.
''Jangan lagi,'' larang Syila. Kaisar menyatukan kedua alisnya, ''Memangnya apa?''
''Aku hanya ingin membantumu membenarkan jilbabmu.'' Membuat Syila semakin malu dan salah tingkah sendiri dengan pemikirannya.
Makan malam penuh kecanggungan dan kekesalan bagi Syila, dia yang biasa bicara ketus, kali ini lebih banyak diam, karena Kaisar mengancam akan melakukan hal yang sama dan mungkin lebih, jika Syila masih saja menggunakan nada kasar begitu.
***
Mereka kini sudah berada di kamar ruko Syila. Syila sudah membaringkan tubuhnya di kasur yang kecil itu, Kaisar keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
''Syila, geser sedikit aku ikut rebahan. Aku juga lelah.'' Ucap Kaisar.
''Ini sempit, tidak muat untuk berdua, aku punya saran untukmu, bagaimana jika kau kembali ke rumahmu saja, dan tidur di kamarmu.'' Niat sekali mengusirnya.
Syila sedang membaca buku novelnya, lalu tiba-tiba Kaisar memposisikan dirinya diatas Syila, Syila terkejut, ''Apa yang kau lakukan?''
''Ayo, kita tidur di posisi ini.'' Dengan senyum liciknya.
''Mana bisa!! Kau berat Kaii!!'' Berontak Syila, yang kakinya sudah menjadi tempat tumpu Kaisar.
''Apa kau mempunyai penawaran yang bagus selain ideku ini?'' Tanya Kaisar.
'Aku membencimu.. Aku membencimu.. Jika bisa, aku ingin meremasmu, memasukkanmu di tong sampah!' Umpat Syila yang tentu hanya dalam kalbunya.
''Baiklah baiklah, tidurlah disini, tapi tidak macam-macam!!'' Syila waspada.
Syila memberi ruang untuk Kaisar, mereka berbaring di kasur yang sangat kecil. Namun membuat Kaisar sangat senang, karena ia ada alasan untuk tetap berdekatan dan memeluk istrinya tanpa celah.
Mode serius.
''Syila,'' bisik Kaisar. Syila menggeliat karena geli, ''Emmm,'' jawabnya masa bodoh masih setia membaca buku.
''Jangan membenciku.'' Ucap Kaisar.
''Aku sungguh meminta maaf untuk kejadian orangtuamu.'' Sesal Kaisar.
''Aku berusaha memaafkanmu, demi orangtuaku.'' Masih acuh tidak peduli.
''Bisakah kita memulai hubungan ini dengan baik?'' Pinta Kaisar, ia bahkan sudah takut jika nanti amarah Syila meluap lagi dengan kebenciannya seperti kemarin waktu masih di kampung. Syila hanya meliriknya.
''Jika tidak bisa sebagai suami istri, bagaimana jika menjadi sepasang kekasih?'' Bernegosiasi.
''Asal jangan jadi musuh, kecuali musuh dalam selimut.'' Ucapnya penuh makna.
''Apa maksudmu?'' Syila sudah menajamkan matanya Kaisar hanya nyengir.
Kaisar mengambil buku Syila, membawa Syila dalam pelukannya. ''Sudah malam, ayo istirahat. Aku anggap kau setuju dengan pemintaanku tadi'' Ucapnya kemudian.
__ADS_1
Kaisar mengecupi ujung kepala Syila dengan penuh sayang. Dan Syila membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya, mencari kenyamanan disana.
'Aku mencintaimu Arsyila Putri, sangat mencintaimu.'