
''Kita bawa 2 mobil saja.'' Saran Rully.
''Maaf, aku dan Fanya naik motor saja, kebetulan tadi aku bawa motor. Kita bisa mengikuti mobil dari belakang.'' Usulku yang ingin menghindar dari Sam.
Kusenggol lengan Fanya dengan sikuku. Berharap dia peka maksudku.
''Loh kenapa ? Apa kau tidak suka mobilku atau mobil Sam ? Apa menurutmu jelek ?'' Rully.
''Bukan begitu, mobil kalian bagus kok, hanya saja aku tidak terbiasa naik kendaraan berAC, itu membuatku pusing. Maklumlah orang kampung.'' Merendah serendah-rendahnya. Yang penting jangan satu mobil dengan Sam.
Sam hanya menatap Syila, sangat susah diartikan arti tatapannya itu.
''Biarkan saja, yang penting nanti kau harus sampai ketika rombongan mobil juga sampai.'' Sam menengahi.
Syukurlah...
Diperjalanan, Fanya terus saja berbicara.
''Kanapa kau menolak satu mobil dengan idola kampus, bahkan dia membawa mobilnya sendiri. Jika aku jadi kau, aku pasti akan duduk di kursi samping Sam.''
''Kau tidak mendengarkanku tadi ? Aku mabuk kendaraan berAC.'' Kilah Syila.
''Tapi aku tidak mempercayaimu.'' Balas Fanya.
''Terserah kau saja.'' Syila.
***
Mereka sudah sampai di panti asuhan. Anak-anak panti sangat antusias menyambut donatur dari kampus Syila.
Syila membawa kantong plastik yang ukurannya besar. Didalamnya adalah peralatan belajar.
Ketika senior mereka dan tim lainnya sedang menemui Ibu Panti, Syila malah asyik berkenalan dengan anak-anak panti.
Syila hidup tanpa saudara kandung. Bahkan Syila hadir diusia pernikahan orangtuanya yang sudah 10 tahun lamanya. Kadang Syila juga ingin merasakan hidup bersaudara.
Melihat anak-anak panti, Syila jadi terharu, mereka tetap semangat dan bahagia. Masih saling merangkul dan menganggap mereka semua adalah saudara. Walaupun mereka tidak mengetahui orangtua mereka.
''Hai anak-anak...'' Sapa Syila.
''Hai kakak !" Dengan begitu kompaknya.
''Kenalkan nama kakak, kak Syila, kakak senang bertemu dengan kalian, kakak bawakan pensil warna dengan buku gambarnya. Hayoo siapa yang jago menggambar disini ?'' Tanya Syila begitu riang.
Anak-anakpun berkumpul mengerumuni Syila.
''Kalau gambar kalian bagus, kakak mau membeli karya kalian untuk di pajang di dinding kamar kakak.'' Dengan senyum manisnya.
Lalu Syila membagikan buku gambar serta pensil warna untuk masing-masing anak. Merekapun senang, menggambar dengan ceria.
__ADS_1
Rully yang ditugaskan mengabadikan setiap moment itupun memotret Syila. Dia terpana saat Syila tanpa canggung berbaur dengan anak panti. Apa lagi senyumnya. Seolah bagai aliran listrik yang membuat lampu-lampu menyala.
Sam memperhatikan Rully, dia tahu apa yang sedang Rully lakukan.
''Dia targetku, bagaimana menarik bukan ?'' Ucapnya dingin.
''Dia gadis yang polos Sam. Jangan mengajarinya yang tidak-tidak.'' Berlalu dengan menepuk bahu Sam. Sam hanya menyeringai.
'Gadis polos, membuatku penasaran.' Batin Sam.
Seperti biasanya, Sam hanya melihat-lihat, karena memang dia yang berkuasa. Dia yang mendonasi paling banyak. Sedangkan yang lain sibuk dengan kegiatan. Ada yang membantu petugas panti membersihkan halaman, ada juga yang mencoba menghibur anak-anak panti seperti Syila dan Fanya lakukan.
''Paman Kai !!!" Teriak salah satu anak ketika mobil yang ia kenali memasuki halaman panti, membuat teman-temannya mencari objek yang diteriakkan tadi. Syilapun mengedarkan pandangannya juga.
Sebuah mobil mewah datang. Lalu turun pria dengan setelan jas serba hitam.
Pria itu turun memberi hormat pada Ibu Panti. Menyampaikan apa yang Tuan mereka perintahkan. Dan memberikan beberapa buah tangan juga bantuan secara materi.
''Ibu, Paman Kai tidak kemari ?'' Tanya seorang gadis kecil.
''Tidak sayang, kata teman Paman Kai tadi, Paman Kai sangat sibuk bekerja jadi belum sempat kemari. Kau merindukannya ?'' Tanya Ibu Panti.
Gadis itu mengangguk lemas. Syila yang mendengarnyapun mencoba menghibur.
''Hai gadis manis,'' sapa Syila, ''Mengapa bersedih seperti ini, Pamanmu itu pasti akan datang jika pekerjaannya sudah selesai. Maka dari itu kau bermain dulu dengan Kak Syila sembari menunggu Paman.'' Diangguki oleh gadis tadi.
''Apa kau menyukai ini ? Ini kesukaan kakak loh.''
Gadis itu berbinar dengan menganggukkan kepalanya senang.
''Karena kau sudah menjadi anak yang manis, ini hadiah untukmu.'' Syila memberikan jepit rambut itu lalu memakaikannya.
''Terimakasih Kakak Manis.'' Syila gemas sendiri.
Seharian bermain dengan anak-anak tanpa orangtua, membuat Syila kelelahan juga.
''Ini minumlah.'' Sam.
''Terimakasih.'' Syila menyambutnya dan hendak pergi namun tangannya ditahan oleh Sam.
''Aku ingin bicara.''
Syilapun kembali ke tempat duduknya.
''Kau sangat menyukai mereka sepertinya.''
''Iya, mereka mengagumkan.'' Jawab Syila.
''Kau juga mengagumkan,'' sambung Sam.
__ADS_1
''Syila, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Mungkin aku sudah jatuh cinta padamu dari awal. Hanya saja aku takut untuk menyampaikannya padamu.'' Dengan acting serius dan sedih.
Syila nampak terkejut, dan merasa tidak nyaman.
''Itu hakmu, Sam.'' Sam tersenyum semanis mungkin mendengar jawaban Syila.
'Sial, baru kali ini ada wanita yang merespon ungkapan cintaku begitu remeh.'
''Jika begitu, apa kau mau menjadi pacarku ?'' Tanya Sam to the point.
''Maaf, Sam. Aku sudah bertunangan.'' Tanpa berbelit Syila langsung memberi jawaban skakmat kepada Sam.
Syila memperlihatkan cincin dijarinya. Lalu pergi meninggalkan Sam.
Tapi lagi-lagi Sam tidak merasa sakit hati atas penolakkan Syila, jiwanya malah tertantang.
'Jangankan bertunangan, bersuami punya anak 2pun bisa kutaklukkan.' Sam menatap lurus pada punggung Syila yang mulai menghilang.
Fanya dan yang lainnya juga sedang istirahat, dengan jamuan dari Ibu Panti tadi.
Ponsel Syila berdering, panggilan video dari Dika. Syilapun mengangkatnya tanpa menjauh.
''Sayang kau belum selesai dari bakti sosialmu ?''
''Sebentar lagi pulang, ini sedang istirahat.'' Jawab Syila.
''Baiklah hati-hati di jalan ya, ohh iya lusa aku di tugaskan ke luar kota.'' Lapor Dika. Syilapun beranjak lalu agak menjauh dari teman-temannya.
''Maksudmu, kau pindah tempat kerja ?''
''Dika mengangguk, waktunya belum tahu sampai kapan, yang pasti aku akan sangat merindukanmu.''
''Kau dengan Laura ?''
''Iya sayang, itu bukan kemauanku, itu tugas dari atasanku. Kuharap kau bisa mengerti dan mau mempercayaiku.''
''Apa tidak bisa diganti saja partner kerjanya. Aku tidak tenang jika kau hanya dengan Laura.'' Protes Syila.
''Sebenarnya ada 5 orang yang dipindahkan untuk sementara, hanya saja yang 3 orang itu berbeda tempat.'' Terang Dika.
''Kami hanya rekan kerja sayang tidak lebih.'' Meyakinkan sebisa mungkin.
''Kau tahu, pertemanan lawan jenis itu tidak akan bisa biasa-biasa saja. Apa lagi kalian mempunyai kisah masa lalu. Kau pernah menaruh hatimu sepenuhnya untuknya Dika. Aku takut dengan waktu selama apapun itu kau dengannya, akan menumbuhkan sesuatu yang sudah hilang. Ahh bahkan aku tidak yakin kau sudah benar-benar bisa melupakannya.'' Panjang Syila.
''Sayang kau terlalu banyak bicara, tenanglah, kau hanya cemburu. Dan tidak akan terjadi apa-apa diantara aku dan Laura. Semua hanya masa lalu.''
'Tapi mengapa hatiku mengatakan akan terjadi sesuatu diantara kalian.'
''Baiklah jika begitu.'' Syila mengakhiri panggilan videonya. Tanpa ia sadari ada Sam yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1