Karma Cinta

Karma Cinta
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Baru saja Kaisar melepas jilbab Syila. Menghirup dalam-dalam aroma istrinya yang memabukkan. Memberi tanda-tanda merah di sekitar leher jenjangnya.


“Emmh,” suara tertahan Syila membuat Kaisar semakin gemas. Kancing baju sudah mulai ia lepas, lalu hendak menurunkan ciumannya, sebelum suara seorang wanita menggagalkan semuanya.


“Ma-maaf,” Klarisa tampak terkejut dengan pemandangan yang tak sengaja ia lihat tadi. Ia sudah mengetuk pintu beberapa kali. Tidak ada sahutan. Dia kira jika memang Kaisar sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya atau Klarisa yang tak mendengar jawaban dari Kaisar, tak tahunya ia sedang bercumbu dengan wanita yang ia sebut peminta sumbangan kemarin.


Klarisa kesal, tidak mungkin saingannya harus wanita seperti itu. Jauh sekali dengan fashion nya.


Sementara Syila yang kepergok langsung mendorong dada Kaisar kuat-kuat. Karena rupanya ia tidak terganggu sama sekali. Hasrat yang mulai mendidih mengalihkan dunianya.


“Kai, jangan di sini, karyawanmu melihatnya, untung wanita dan kau belum bertelanjang!” tolak Syila.


Kaisar merasa kesal kesenangannya terganggu, ia merutuki siapa pun yang masuk tadi.


“Bukankah kau akan meeting? Kita bisa melakukannya jika sudah di rumah, jangan memasang wajah murung seperti itu,” bujuk Syila dengan bergelayut manja mengelus rahang tegas sedikit kasar karena bulu-bulu yang sengaja ia biarkan tumbuh. Akhirnya Kaisar menyetujui juga.


Syila segera merapikan pakaiannya, ia berlalu keluar sembari celingukan, entah siapa yang Syila cari. Kaisar sedang menyiapkan bahan meetingnya lagi.


“Apa yang kau lakukan dengan Tuan Kaisar?” hadang Klarisa. Dia membawa Syila ke lorong yang sepi.


“Memang apa yang kau lihat?” tantang Syila dengan melepaskan cengkeraman Klarisa.


“Heh, ternyata hanya kedok saja menutup tubuh, nyatanya di hadapan bos besar kau membuka tubuh!” Klarisa merendahkan.


“Kau itu tidak pantas dengan Tuan Kaisar, level kalian jauh. Lebih cocok aku yang bersanding dengannya,” tambahnya lagi.


“Kau banyak bicara sekali, Nona? Bukankah seharusnya kau mempersiapkan untuk meeting klien penting. Kenapa malah mengurusiku?” tidak suka Syila.


“Jauh-jauh dari Kaisar! dia targetku!” setelah mengatakan itu Klarisa pergi.


“Bagaimana jika aku lebih pantas untuknya dari pada dirimu?” membuat kaki Klarisa berhenti.


Ia menoleh ke arah Syila yang berjalan mendekat.


Syila menelisik cara pakaian Klarisa, “Nona—“terpotong dengan Syila menarik name tag yang terpasang di baju Klarisa.


“Nona Klarisa, bagaimana mungkin kau lebih pantas untuk suamiku? masih ingin bersaing dengan istri sahnya? apa sudah begitu tidak laku sampai ingin berebut suami orang?” hal itu membuat Klarisa mencerna, ‘istri’ setahunya bosnya adalah duda. Tidak mungkin kan jika seorang bos melakukan pernikahan tanpa resepsi, tanpa ada yang tahu seisi kantornya. Dan apa lagi dengan wanita seperti di depannya itu. Menambah ketidakmungkinan di akal Klarisa.


“Bangunlah, kau masih bermimpi ini sudah siang!” kata Klarisa.


“Apa yang kalian lakukan? Kau pergi ke ruang meeting segera!” yang di tunjukan pada Klarisa. Kedatangan Kaisar secara tiba-tiba memotong perseteruan mereka.


Kaisar mendekati istrinya. Hanya dari tatapan mata, Syila mengartikan ada kekhawatiran di sana. Syila sendiri tidak tahu apa yang membuatnya khawatir.


Syila mendaratkan ciuman singkat di bibir Kaisar sehingga membuatnya tersenyum.


“Aku pulang,” pamitnya.

__ADS_1


.


.


.


Setelah itu Syila mampir di toko buah kebetulan stok buah menipis.


“Syila?” Syila membelalakkan matanya melihat siapa yang menghampiri.


“Talita?” tak kalah hebohnya saat bertemu. Mereka berpelukan sesaat.


Dan kini mereka sudah duduk di kafe Kaisar yang tidak jauh dari sana.


“Sejak kapan kau di sini? Tidak mengabariku,” Syila mengerucutkan bibirnya.


“Baru tiga hari ini, aku akan menetap di sini,” kata Talita.


Syila yang mendengarnya begitu senang.


“Tunggu-tunggu,” ia melihat cincin di jari manis Talita.


“Kau sudah menikah?” yang di angguki oleh Talita dengan antusias.


“Jahat sekali! tidak mengundangku,” rajuk Syila.


Yang di sanggupi oleh Syila. Ia akan membuatnya di toko satunya.


“Baiklah, aku harus pergi suamiku sudah menjemput,” pamit Talita.


“Sudah selesai?” suara bariton seperti Syila kenal, dan ketika mendongakkan wajahnya, Syila lebih terkejut lagi dengan kehadiran Doni.


“Apa-apaan ini? aku tertinggal banyak cerita ya?” tak percaya jika Doni dan Talita adalah suami istri. Mereka berdua hanya mengulum senyum melihat ekspresi Syila seperti itu.


.


.


.


Percakapan singkat karena kesibukan Doni. Syila melihat-lihat sebentar kafe milik Kaisar yang sudah lama sekali tidak pernah ia kunjungi. Tempatnya dulu menghabiskan waktu untuk memodali usahanya. Tak tahunya ini milik suaminya sendiri. Takdir yang lucu.


Puas berkeliling dan menyapa karyawan di sana, Syila memutuskan untuk pergi ke toko kue satunya. Mempersiapkan pesanan Talita dan Doni.


Ia juga mengecek data di tokonya itu. Dan menggantikan sebentar bagian pemesanan yang merangkap sebagai kasir juga.


“Kak Syila?” Syila mencari di mana sumber suara yang memanggilnya.

__ADS_1


Ada pria yang lebih muda darinya tersenyum tengil mendekati Syila dengan membawa beberapa potong roti.


“Siapa?” karena sejauh ia memaksa untuk mengingat, nyatanya tidak ingat sama sekali.


“Jahat sekali, berondong semanis ini di lupakan begitu saja, Rayhan!” saat kaca mata hitam ia lepas baru Syila mengingatnya. Anak SMA yang menggodanya sebagai anak vespa.


Perawakannya sangat berubah, otot yang tercetak di kaos polos lengan pendeknya terekspos dengan jelas, dadanya menjadi lebih bidang dan berisi. Serta gaya yang lebih cool. Satu yang tidak berubah darinya, senyum tengilnya.


“Ray? ya ampun, kau tumbuh dengan baik,” ucapan Syila membuat bronis itu memberengut.


“Memang sebelumnya aku tumbuh seperti apa?” tanya Rayhan.


“Tumbuh seperti tanaman kurang air dan pupuk, hehehe,” Syila terkekeh sendiri dengan ucapannya.


“Kakak juga semakin cantik,” matanya berbinar memandang wanita yang lebih tua darinya.


“Jaga pandanganmu, nanti kau diabetes,” candaan dari Syila. Rayhan mengangguk setuju.


“Kak, mumpung ketemu, minta nomor ponsel dong,” karena hanya menganggap sebagai adik saja, Syila memberikannya.


“Kau lama tidak terlihat, Ray, atau memang aku yang jarang kemari ya?” tanyanya pada diri sendiri.


“Oh itu karena memang aku melanjutkan kuliah di negeri orang. Sekarang pulang untuk tugas magang. Mau magang di perusahaan saudara,” jelasnya.


“Emmm hebat, semoga magangnya lancar.”


.


.


.


Pertemuan yang singkat dengan Rayhan. Karena di sini dia akan menumpang di rumah saudaranya untuk sementara. Ayahnya masih di negeri orang bersama dengan Ibunya. Tadinya ia di ajak magang di sana, dalih rindu negara tercinta jadi, orang tuanya tidak bisa memaksa.


“Bi, memang mau ada tamu?” saat melihat Bibi Lila sibuk menyiapkan kamar tamu yang lama tidak terpakai.


“Iya, Non, Tuan memberi tugas seperti itu saya tidak tahu pastinya,” Syila berlalu ke kamarnya. Mengambil ponsel yang tertinggal dan menghubungi Kaisar.


“Iya benar, nanti ada sepupuku yang akan datang, maaf aku lupa tidak memberitahumu. Ingat temui dia sewajarnya saja. Gunakan jilbabmu yang paling besar,” Syila tertawa mendengarnya.


Telepon di tutup lalu tak lama, pukul delapan malam bel berbunyi. Syila yang kebetulan sedang di ruang tamu segeram membuka pintu.


“Rayhan!” terkejut.


Rayhan juga masih mengumpulkan rasa keterkejutannya, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri yang hanya di dengar oleh telinganya sendiri pula. Apa dia salah alamat, apa dia sedang nyasar. Lama tidak berkunjung apa jangan-jangan rumahnya di sebelah rumah ini.


(Begitu aja terus Ray nyampe siluman berubah jadi bidadari, ga bakal nemu jawaban kalo ga nanya langsung!)

__ADS_1


#Author😆


__ADS_2