Karma Cinta

Karma Cinta
Ayah Main Boya Agi ya


__ADS_3

Seperti hari ini, aku satu ruang dengan Syila dia duduk tepat di depanku. Teman-temanku berusaha menggodanya. Yang digoda hanya tersenyum. Ahh senyum malu-malunya itu membuat aku gemas sekali.


Setelah selesai mengerjakan soal. Dia keluar6 kususul dia. Tidak, lebih tepatnya ku kuntitin dia dari belakang. Entahlah apa tujuannya. Aku hanya merasa suka saja melakukan ini. Bodoh memang. Ehh dia seperti tersadar aku panik mau bersembunyi juga tidak ada tempat yang pas.


Ketika dia menoleh aku hanya tersenyum bodoh. Sial kurutuki diriku sendiri.


"Ada apa Don ?"


"Ehh ketahuan ya ?" Jawabku bodoh lagi.


Kudekati dia. Dia sedang membereskan peralatannya. Kalau aku jangan ditanya dimana lokerku. Aku berangkat hanya membawa sebuah bolpoint, kartu identitas serta dompet juga kunci motor. Masalah belajar untuk persiapan soal semesteran aku serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa saja.


Hahaha begitulah aku. Aku lebih semangat jika langsung terjun keprakteknya daripada teori begitu.


"Pulang bareng yuk" Tawarku. Dia terlihat sedang menimbang tawaranku.


"Please.."


"Janji tidak yang aneh-aneh."


Memang biasanya aneh kenapa pikirku sendiri dengan perkataanku tadi. Aku melihat Syila seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Yaa sudah ayo. Tapi tidak memakai cintakan bayarnya." Telisik Syila yang membuatku terkekeh.


***


Kami menuju parkiran motor. Sudah mulai sepi karena memang tadi kami diloker lumayan memakan waktu.


Doni memakaikan helmnya kekepalaku. Tentu kebesaran. Hari ini aku pulang diantarnya. Padahal Adji pulang tapi aku meminta dijemputnya dia berkata ada urusan lain. Kecewa sih. Tapi ya sudah.


"Ehh kalau ini disini lalu bagaimana denganmu ?" Tanyaku.


Lalu aku lihat dia menyambar helm di motor sebelah yang pengemudinya sudah mau on the way memakainya


"Minjem ya Bay" Kata Doni. Yang dipinjami hanya melongo. Dia bukan meminjam tapi memaksa. Belum dijawab empunya Doni main pakai saja.


"Kebiasaan. Kalau tahu mau bawa anak orang modal donk.." Sarkas teman Doni si Bay.


Doni memaksaku naik.


"Ajimumpung Bay.. Tanpa rencana ini kapan lagikan ?" Dia menjawab sambil berlalu.


Anak ini memang ya.. Untung Bay tetangga Doni yang rumahnya tidak jauh dari sekolah.


Ditengah-tengah jalan Doni memberhentikan motornya. Dia menepi.

__ADS_1


"Lapar Syila. Semesteran seruangan sama kamu bikin nguras tenaga tahu tidak." Alibi Doni sekenanya.


"Bilang saja mau sekalian ajakin kencan." Ehh apa ini mulut.


"Hahaha.. Duhh.. kok tahu sih." Jawab Doni.


Aku tersenyum melihat tingkah Doni ini. Dia pandai sekali membuatku tersenyum walau terkadang dia sudah seperti orang gila demi menghiburku.


Kami duduk di meja dekat taman. Setelah memesakan makanan Doni pamit ke toilet.


Ada pesan masuk dari Dika. Dia laporan sedang banyak pekerjaan tidak bisa mengabari lebih dari ini. Juga tidak lupa pesan-pesan jangan lupa makan. Jangan lupa belajar. Jangan lupa istirahat yang cukup. Jangan lupa bahagia. Dan jangan dekat dengan anak otomotif.


Sudah macam koran saja ini pesannya. Dia lebih seperti pacar posesifku daripada aku anggap kakak.


Kubalas dengan kata siap dan semangat. Setelah itu kualihkan pandanganku kearah lain.


Deg.


Kulihat Adji bersama wanita lain dan seorang anak kecil. Seperti yang dibilang Ibu kemarin. Kalau kakaknya, itu tidak mungkin Adji anak tunggal sekarang. Siapa itu batinku penasaran.


Mesra sekali mereka di pandangan mataku. Sudah seperti keluarga kecil bahagia.


Kucoba menghubungi Adji. Tersambung diapun nampak melihat ponselnya. Tapi diabaikan. Kucoba mengirimi pesan. Tapi diabaikan juga. Seolah-olah dia tidak mau momen itu terganggu.


Tak terasa mataku sudah memanas dan sudah mulai mengeluarkan cairan beningnya.


***


Syila tidak merespon. Kuamati dia. Kenapa menangis. Lalu kuikuti pandangan matanya. Tertuju kepada keluarga kecil yang masih muda. Pikirku mereka itu keluarga yang lagi hangat-hangatnya. Tapi kenapa Syila malah menangis, mungkinkah terharu.


"Heii..!" Kupegang bahunya. Diapun tersadar sambil mengusap airmatanya. Mencoba tersenyum ke arahku tapi matanya tertuju pada keluarga tadi.


Aku tidak suka melihat Syila seperti ini.


Tak lama pelayan datang dengan pesanan kami. Kami makan dalam diam. Inginku bertanya kenapa tapi sepertinya Syila sedang butuh waktu.


Setelah itu tidak ada percakapan sama sekali. Aku mengantar Syila pulang. Yang tadinya masih ingin mengobrol banyak tapi harus aku urungkan melihat Syila sesedih itu.


Sampai dihalaman rumah. Syila masih bungkam hanya mengucapkan kata terimakasih tanpa berniat mengajakku mampir.


"Syila.. "


Dia melihatku dengan senyuman terpaksanya. Ahh sial aku benci melihat dia seperti ini.


"Sebelumnya kita saling bertukar ceritakan walaupun cerita-cerita itu tidak berfaedah. Aku bisa menjadi teman ceritamu untuk ceritamu yang berbagai macam bentuknya. Please jangan sungkan. Jangan kau pendam sendiri. Aku tidak suka melihatmu bersedih seperti ini"

__ADS_1


Dia hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Oke mungkin masih butuh waktu.


Akupun melajukan motorku untuk kembali pulang. Namun kenapa aku malah kefikiran dengan keluarga kecil tadi yang membuat Syila menangis.


Mengapa hatiku jadi penasaran siapa dan ada hubungan apa keluarga kecil itu dengan Syila.


Mungkinkah Syila juga menginginkan hubungan keluarga seperti itu ? Pemikiran macam apa lagi ini.


Dalam perjalanan aku mendapat pesan dari bibiku. Dia memintaku untuk mengambil baju pesanannya di toko langganan bibi yang dekat dengan pasar.


Dan ketika itu aku melihat keluaraga itu lagi dengan motornya, mereka masuk ke salah satu gang.


Naluriku membawaku untuk mengikutinya. Tak jauh dari jalan mereka berhenti mereka masuk ke dalam rumah.


Ada seorang wanita yang lewat dengan pakaian serba pres aku coba bertanya. Dia melihatku dengan mata nakalnya. Ahh tidak jadi. Aku merinding di dekatnya.


Aku masih setia menunggu di atas motorku. Hah seperti orang tidak punya kerjaan saja.


Ehh ada bola di kakiku. Lalu ada anak kecil bersama pria tadi yang kulihat menghampiriku.


"Bolanya ya ." Kukembalikan bola itu yang di sambut dengan senyuman lucunya


"Ayah main boya agi ya." Ajak anak itu memanggil ayah pada pria tadi.


Benarkan mereka ayah dan anak mereka keluarga.


Berlama-lama disini hanya untuk memastikan mereka keluarga bukan.


Lalu kenapa Syila tadi sampai sesedih itu.


Kulajukan motorku mengambil pesanan bibi lalu aku pulang.


Sepanjang perjalanan aku masih bisa melihat Syila yang menangis. Dan senyum terpaksanya tadi yang entah mengapa menggangguku sekali.


Aku tidak suka melihatnya seperti itu.


***


Di sisi lain disebuah kamar. Terdengar isakan tangis tertahan dari seorang gadis.


"Adji..." Sebutnya lirih.


Masih dengan perasaan kecewanya. Mencoba mencerna apa yang dilihatnya dan apa yang terjadi pada hubungan mereka.


Mereka dekat tapi mengapa seperti jauh bahkan lebih jauh dari jangkauan saat mereka berjarak seperti sebelumnya.

__ADS_1


Tangisnya surut seiring lebih tenangnya perasaan. Lalu mata itu terpejam.


__ADS_2