Karma Cinta

Karma Cinta
Lulus


__ADS_3

Setelah pengungkapan rasa dan jawabanku tempo hari lalu, kini Dika terasa lebih mendominasi. Sering menanyakan kabar sesibuk dia dengan kegiatannya.


Jika menelfon ketika aku di rumah tak jarang telfonnya aku berikan kepada Ayah atau Ibu. Merekapun bertukar cerita tanpa canggung.


Hubungan yang sangat baik. Ayah dan Ibupun ikut senang melihatku senang.


Hingga sebulan sebelum ujian akhir sekolah. Aku meminta pengertiannya jika nanti tidak bisa sering membalas chatnya. Aku di sibukkan dengan segala kegiatan untuk menyambut ujian.


Sudah aku tekadkan untuk mendapat nilai terbaik.


Aku memutuskan untuk melanjutkan study ke unversitas di ibu kota. Selain menjadi kampus impian aku juga ingin mengikis jarak dengan Dika.


Yang selama beberapa bulan ini sudah memenuhi cerita hari-hariku.


Dan semenjak dengan Dika, aku sudah tidak lagi bertemu dengan Adji. Mendengar kabarnya pun tidak. Mungkin dia sudah bahagia.


Hanya Ibunya beberapa kali pernah menelfonku menanyakan kabar dan sekolahku. Beliau masih sama perhatiannya seperti dulu. Hanya jika diperhatikan ada pancaran luka yang tak ketara dibaca oleh peraba.


Kadang beliau bercerita, bibir tertawa namun matanya basah. Akupun sedih melihatnya. Jika aku tanya mengapa, jawabannya selalu mengatakan bahwa semua baik-baik saja, hanya rindu.


Walaupun hubunganku dengan Adji sudah kandas. Aku tak berniatan memutus tali silaturahim kepada keluarganya. Terutama kepada Ibunya yang sudah seperti Ibu sendiri.


****


Ujianpun telah selesai kami lewati. Aku dan teman-teman berdebar menantikan hasilnya.


Saat ini kami sedang berkumpul di taman sekolah. Sengaja datang walau tidak ada kegiatan.


Awalnya lapar ingin makan. Namun yang terjadi disini malah menjadi ajang sedih-sedihan, memikirkan sebentar lagi akan ada perpisahan dan mulai menjalani kehidupan kedepannya masing-masing.


Aku yang tadinya tidak ingin ikut-ikutan akhirnya menyeka air mata juga. Lantaran satu per satu teman-temanku memeluk, meminta maaf, memberi semangat, juga menyampaikan kesan-kesannya ketika kami berteman bersama dalam sebuah geng dengan kata-kata sendu ada juga dengan nada yang putus-putus karena terisak oleh tangis.


Ahh.. memang pertemuan itu pasti ada perpisahan. Akupun sedih dengan hal itu. Aku hanya berharap kedepannya kami akan selalu menjadi teman. Walau keadaan tak lagi sama seperti saat ini. Setidaknya masih saling mengingat dan mengasihi dari jarak masing-masing.


Apapun langkah yang dipilih. Ada yang ingin nikah muda, ada yang ingin langsung kerja, sekedar bantu orangtua, atau melanjutkan study. Semoga semua berjalan dengan lancar. Selalu diberi kesehatan, kemudahan dan perlindungan dari yang Maha Pembuat Hidup.


Hal itupun tak lepas dari momen foto. Memilih tempat yang sekiranya bagus, juga yang memiliki banyak kenangan.


***


Hari ini adalah hari kelulusan. Berdebar hati menantikan pengumuman itu. Sudah seperti mau diajak kencan sang pujaan hati saja rasanya.


''Yesssss.... Aku lulus... ''


Serempak kami melantangkan kalimat itu dengan saling berpelukkan haru.


Kuamati nilai-nilaiku. Huaaa aku lulus dengan nilai yang lumayan.

__ADS_1


Ayah pasti akan bangga. Batinku senang.


Sejak pengumuman itu kami tidak langsung pulang. Melainkan pergi ke pantai biasa kami kunjungi. Memesan tempat untuk malam ini.


Jauh-jauh hari kami sudah merencanakannya. Sudah mengantongi izin dari orang-orang rumah. Walau awal-awalnya harus penuh drama meminta izin kepada Ayahku.


Bahkan teman-teman secara langsung memohon kepada Ayah untukku. Dengan sedikit paksaan. Ayah akhirnya menyetujui.


Tempat sudah selesai. Masalah belanja-belanja sudah. Nanti malam tinggallah merayakan kelulusan kita.


Sore hari kami kembali lagi ke pantai. Setelah selesai memesan tadi kami langsung pulang mengambil keperluan.


Sesampainya di sana aku terkejut. Mengapa ada Doni's geng ??


''Haii''. Sapaku.


''Nih dia tuan puteri sudah datang.'' Sindir Dea.


''Kenapa ? Drama lagi ??'' Kini Una yang komentar melihat penampilanku yang luar biasa susahnya.


''Yaa begitulah..'' Jawabku.


Bagaimana tidak, aku saat ini memakai celana kulot hitam dengan baju rajut warna kuning panjang yang aku masukkan ke dalam celana kulotku. Lalu Ayah tadi menambahkan jaket tebal lalu Ibu memasangkan syal di leherku. Mereka bilang angin laut di malam hari itu tidak baik.


Memangnya malam-malam aku mau berlayar di laut apa. Batinku. Sudah seperti nelayan.


Sudah seperti mau pergi kemana saja. Aku tak mau memprotes yang ada nantinya malah tidak jadi diizinkan.


Aku memesan ojeg online. Malas membawa motor sendiri. Bawaan banyak sekali. Tadinya mau diantar Ayah. Tapi aku menolak.


Sesampainya malah ada Doni cs.


''Kenapa mereka juga disini Ta ?'' Tanyaku pada Talita.


Talita hanya menggeleng.


Telephone berdering. Ahh pujaan hati menelfon.


''Sedang apa ?'' Tanyaku


''Sedang merindukanmu.'' Jawabnya. Aku geli mendengarnya tapi juga senang.


''Jadi merayakan kelulusan ?'' Tanyanya kemudian.


''Iya ini sudah di lokasi. Mau menyiapkan apa-apa yang mau dimasak untuk makan malam nanti.'' Jelasku.


''Ya sudah jaga diri baik-baik. Mata dan hati dijaga untukku.'' Katanya.

__ADS_1


''Emm kau juga.'' Kataku malu-malu.


Baiklah sekarang waktunya senang-senang.


****


Semua sudah disiapkan didekat pantai. Senjapun sudah bersembunyi. Bergantikan langit hitam pekat berhias bintang-bintang.


Ternyata Doni juga memesan tempat disini. Agar lebih ramai kami memutuskan untuk bergabung saja. Teman Doni yang hadir 10 orang juga.


Malam yang indah. Dengan desiran ombak yang tenang, semilir angin yang lembut, dan bintang-bintang yang menjadi penerang angkasa.


Kami para wanita sedang mengadakan pesta barbeque.


Dan para pria sedang membuat api unggun di pinggir pantai. Mereka membawa alat musik seperti gitar dan harmonika, memainkannya serta bersenandung.


Malam ini temanku dengan teman Doni terlihat sangat harmonis. Tanpa ada yang membuat onar dan berakhir diperang mulut.


Membuat malam semakin cerah.


Hidangan sudah siap dan mari kita santap.


Aku menjauh saat menerima panggilan dari Ayah.


Ayah memastikan diriku baik-baik saja atau tidak. Setelahnya dimatikan.


Aku ingin kembali bergabung dengan teman-teman.


Ketika berbalik, terkejut bukan main. Doni sudah ada dibelakangku dengan makanan dan minuman ditangannya.


Lalu kamipun duduk berdua di pinggir pantai.


Angin malam membelaiku.


Ayah benar ini memang terasa dingin. Dan tadi aku malah melepas jaket dan syal dari tubuhku.


''Selamat ya buat kelulusannya'' Ucap Doni.


''Ya kau juga'' Jawabku.


''Lalu setelah ini mau kemana ?'' Tanyanya lagi.


''Ayah memintaku untuk melanjutkan study. Aku ingin memasuki kampus favoriteku jika nilai-nilaiku diatas rata-rata. Ayahpun setuju.'' Jelasku kepada Doni.


''Kalau kau mau kemana ?'' Imbuhku.


''Aku juga disuruh melanjutkan study tapi belum ada gambaran mau melanjutkan dimana.'' Jawab Doni terasa masa bodoh.

__ADS_1


__ADS_2