
Syila tersadar, ia menyesuaikan dengan keadaan sekitar, lalu dengan gerakan cepat ia turun dari ranjang pasien, mencabut paksa infus ditangannya. Kaisar yang hendak membuka pintu untuk melihat keadaan Syila terkejut. Ia langsung menangkap tubuh itu memeluknya, berharap kekuatan dapat tersalurkan.
Syila terus memberontak dengan deraian air mata, mengingat keadaan orangtuanya, dia sangat takut, pikirannya menjadi linglung, ''Lepaskan aku !! Jangan menyentuhku !!"
Bukannya melepaskan, Kaisar malah mengeratkan pelukkannya. Ia juga merasakan kesedihan.
''Ini pasti sangat berat untukmu.''
''Tahu apa kau tentang diriku ! Lepaskan aku ! Aku hanya ingin menemui orangtuaku. Aku bermimpi bertemu dokter sialan yang mengatakan Ayah dan Ibuku meninggal. Aku ingin melihat keadaan Ayah dan Ibu. Kumohon lepaskan aku !" Tubuh Syila melemah tidak lagi memberontak. Melawan tubuh pria yang pasti jauh lebih kuat membuatnya lelah.
''Aku akan melepaskanmu, tapi tenanglah.'' Pinta Kaisar.
''Aku akan menemanimu. Ayo.'' Ajak Kaisar ingin menggandeng tangan Syila, namun Syila menolaknya.
Didalam ruangan, Syila masuk dengan perlahan. Ada Bibi Nuha, Fanya, juga orangtua Kaisar disana. Lewis kembali keperusahaan, ada yang perlu ia urus.
''Mengapa monitornya dimatikan Bi, kenapa infusnya dicabut, Ayah dan Ibu kan belum pulih ?'' Tanyanya kepada Bibi Nuha.
''Kenapa wajah Ayah dan Ibu ditutupi, nanti mereka akan sulit bernapas.'' Syila mendekati ranjang orangtuanya berbaring. Bibi Nuha langsung memeluknya dengan menangis juga.
''Ada Bibi sayang, masih ada Bibi. Bibi juga menyayangimu. Kau harus kuat dan sabar.'' Disela-sela pelukkan mereka.
''Apa maksud Bibi ? Aku tahu Bibi menyayangiku seperti Ibu menyayangiku.'' Jawab Syila yang tidak ingin menerima kenyataan pahit ini.
Mata Syila beralih pada sahabatnya, Fanya, ia melerai pelukkan bersama Bibi Nuha, ''Kau mengapa menangis ? Apa kau sedang gagal ta'arufan dengan teman lamamu itu ?''
Fanya langsung memeluk Syila, tidak ada jawaban, ''Kau aneh Fanya.''
Syila beralih kepada orangtua Kaisar, ''Paman dan Bibi juga mengapa bersedih ? Kenapa kalian semua bersedih ?''
Syila membuka kain penutup wajah Ayahnya, ''Ayah...'' Syila menangis lagi.
Beralih pada Ibunya, ia lakukan hal yang sama, ''Ibu...''
Wajah setenang air namun pucat seperti tidak ada darah yang mengalir. Ada senyum tipis yang menghiasinya. Syila memeluk dan menciumi jasad kedua orangtuanya secara bergantian.
__ADS_1
''Kalian bangunlah, mengapa tertidur begitu pulas, kapan kita akan merayakan kelulusanku, kita juga akan meresmikan toko kueku. Syila ingin membakar jagung dan berkemah dengan kalian. Bangunlah Yah... Bu... !! Apa kalian sudah tidak menyayangi Syila lagi ?'' Syila terus menangis, ia sadar orangtuanya sudah tiada, namun ia ingin menampik kebenaran itu.
Kaisar ingin menenangkannya, namun mendapat penolakkan, ''Jangan menyentuhku !! Kau lancang Tuan !!'' Bibi Nuha dan Fanya segera membawa Syila dalam pelukkannya.
Kaisar mengerti, pasti semua ini sangat sulit untuk Syila. Tidak apa, dia akan berjuang demi cintanya juga karena janjinya kepada orangtua Syila.
***
Langkahku kian rapuh, tiada lagi penompang untuk kuatku. Hati ini semakin terasa gersang atau mungkin hampir mati, kehidupan disana telah terbawa pergi bersama cinta kasih sayang yang sudah tiada lagi.
Lalu untuk apa semua ini ? Prestasi ? Kedudukan ? Cita-cita ? Aku bahkan tidak mempunyai semangat hidup lagi. Jika bisa, aku ingin menukar semua itu untuk nyawa Ayah dan Ibu.
Aku ingin marah kepada Tuhan, sungguh aku ingin melakukan itu jika mampu. Mengapa Tuhan juga harus memisahkanku dengan kedua cintaku yang ini.
Tidak tahukah ? Aku sangat sedih. Tuhan... ambillah apapun itu, asal jangan Ayah dan Ibu. Batin Syila menjerit. Memohon sesuatu yang mustahil.
Pemakaman dilakukan sore hari, melalui perjalanan udara dan ambulan, semua menjadi cepat dan lancar. Sebelumnya Syila sudah meminta tolong warga disana untuk menyediakan pemakaman dikampung halaman orangtua Syila. Itu permintaan orangtua Syila yang dulu tanpa sengaja pernah mereka utarakan. Para tetangga juga merasa kehilangan dan bersedih, karena bagi mereka, orangtua Syila adalah orang yang baik dan ramah. Mampu menyesuaikan keadaan dengan baik.
Setelah pulang dari pemakaman, Syila terus berdiam diri dengan sesekali menangis, ia menempati kamar orangtuanya.
Bibi Nuha ingin mengantar makanan ke kamar itu, namun segera diminta oleh Kaisar.
''Biar aku saja Bi.'' Bibi Nuhapun menyerahkannya.
Kaisar mengetuk pintu, tok tok tok. Tidak ada sahutan, pintupun tidak dikunci, Kaisar masuk membawa nampan berisi makanan, minuman juga vitaminnya. Kaisar melihat Syila tengah duduk memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya dibalik tangan yang ia silangkan. Disampingnya ada figura Ayah, Ibu juga Syila. Mereka tersenyum bahagia.
''Syila, sayang makanlah dulu.'' Ucap Kaisar.
Mendengar sebutan 'sayang' dari pria yang turut andil membuat orangtuanya meninggal, Syila langsung menatapnya tidak suka.
''Siapa yang mengizinkanmu memasuki kamar ini ?!!" Sorot kebencian mampu terlihat oleh Kaisar, Kaisar merasa sedih dengan hal itu.
''Maaf, aku hanya mengantar makanan untukmu. Makanlah sedikit.'' Kaisar mencoba menyuapi Syila, dengan kasar Syila menampik sendok itu.
''Aku tidak lapar, aku tidak mau makan, aku mau Ayah dan Ibuku ! Kembalikan mereka padaku !'' Teriak Syila, Kaisar diam. Bibi Nuha masuk, mencoba membujuk Syila, namun lagi-lagi Syila menolaknya.
__ADS_1
Sampai keesokan harinya Syila masih begitu, bahkan badannya mulai demam.
''Syila makanlah dulu nak.'' Bibi Nuha membujuknya namun tetap ia menolak.
''Bagaimana Bi, apa dia mau makan ?'' Tanya Kaisar begitu khawatir dengan Syila.
''Dia tidak mau makan, dia masih saja menangis.'' Jawab Bibi Nuha.
''Kemarikan biar aku yang memaksa bocah manja itu.'' Kaisar masuk tanpa mengetuk, Syila duduk ditempat tidurnya. Bahkan ia belum mengganti baju, berarti Syila juga belum membersihkan diri dari kemarin.
''Aku tidak mau makan !" Sela Syila ketika mengetahui Kaisar masuk masih dengan membawa nampan makanan.
Kaisar duduk disamping Syila, Syila terkejut, lalu menggeser duduknya.
''Makanlah sedikit saja.'' Bujuk Kaisar.
''Apa kau tuli ! Aku tidak mau makan !'' Teriak Syila lagi, dia benar-benar tidak ingin berbuat apapun. Bahkan untuk sekedar makan. Dia masih sangat terpukul kehilangan kedua orangtuanya.
''Baiklah, kau yang memaksaku melakukan ini.'' Kaisar menyendokkan nasi kemulutnya sendiri, mendekat pada Syila, ia sudah meraih tengkuk lehernya agar mendekat.
Syila melotot. ''Apa yang kau lakukan ?'' Berontaknya namun kalah dengan tenaga Kaisar. Kaisar memasukkan makanan dimulutnya kemulut Syila. Bibir mereka bersentuhan.
''Kunyah dan telan ! Ini perintah bukan permintaan ! Aku akan melakukannya sampai makanan ini habis.'' Ucap Kaisar dengan seringai liciknya.
''Kau lancang !! Kau menjijikkan !! Pria gila !!'' Caci Syila.
''Terserah.'' Jawab Kaisar dengan santainya. Kaisar sudah memasukkan makanannya lagi. Dengan cepat Syila merebut piring itu.
''Aku bisa makan sendiri.'' Sewot Syila.
''Anak pintar !" Tangan Kaisar terulur mengelus puncak kepala Syila.
''Singkirkan tanganmu itu !!'' Sarkas Syila.
Akhirnya Syilapun menghabiskan makanannya dan meminum obat serta vitaminnya. Kaisar masih dengan setia menunggui Syila. Walaupun sudah diusir, dicaci, dimaki, tak membuatnya gentar. Bahkan ia tanpa malu malah ikut merebahkan diri disisi Syila. Membuat Syila memberingsut pergi ke kamar mandi dikamarnya. Karena baju gantinya disana. Tak memperdulikan lagi tubuhnya yang sedikit demam.
__ADS_1
Lagi-lagi ditengah duka yang di alami, Kaisar merasa mendapatkan berkah dari Tuhan.