
Dika mematung ditempatnya. Sedangkan Laura segera melancarkan aksinya, melihat Dika yang nampak diam ditempat.
Laura menaruh gelas kopi tepat didepan Dika, dengan posisi badan yang menunduk membuat Dika mampu melihat dengan jelas belahan dada yang tertutup kain itu.
Lalu Laura memutari kursi Dika, berdiri tepat disamping Dika, memberikan berkas-berkas yang perlu persetujuan dari Dika.
Dengan dada yang dengan sengaja ia tempelkan dibahu Dika, sedikit menekan saat Laura menjelaskan poin-poin yang perlu Dika pertimbangkan.
''Beri tanda tangan disini Tuan.'' Bicaranya dengan menghembuskan nafas menggoda tepat ditelinga Dika dan tangan yang menujuk tempat yang harus Dika bubuhi tanda tangannya.
Dika merasakan hawa panas pada tubuhnya, menikmati umpan yang diberikan oleh Laura, otaknya jauh dari kata jernih saat ini. Apa lagi saat Laura sengaja menjatuhkan kertas tepat di paha Dika, Laura menjulurkan tangannya hendak mengambil dengan cara tangan yang meraba bahunya, memberi sentuhan di dada lalu gerakan erotis pada perut hingga mengelus paha Dika, beberapa saat baru dia memungut kertas itu.
Dika memejamkan matanya, sebagai pria matang dia juga membutuhkan sentuhan ini.
Dika menerawang ke masa lalunya. Hubungannya dengan Laura memang tak sesimple dengan Syila. Jika Syila lempeng dengan status, berbeda dengan Laura yang akan membuatnya penuh sensasi dari status itu.
Dia dan Laura memang tidak sampai melakukan hubungan intim, namun jika hanya pemanasan-pemanasan, mereka sering melakukannya yang berujung Dika di kamar mandi.
Jelas hal itu menjadi salah satu yang membuat Dika begitu kehilangan, sedangkan dengan Syila, dia bisa memeluk tanpa debat baru sekali, ketika ia mau berangkat dinas ke luar kota.
''Apa maumu Laura ?'' Tanya Dika dengan menahan rasanya. Sedangkan Laura masih setia bergelayut manja dengan memeluk bahu Dika dari belakang.
''Aku ? Apa kau tidak merindukan saat-saat begini bersamaku ?'' Balik tanya Laura.
''Aku tak ingin apa-apa Dika, cukup kau membalas ini saja.'' D*s*han dengan sengaja ia bubuhi pada kalimatnya. Sedangkan tangannya masih setia memberi sentuhan-sentuhan kecil namun memancing sesuatu.
''Kau tak ingat dengan status kita ?'' Dika mencoba memperingati tapi sisi lain dari dirinya memerintahkan melanjutkan dan menikmati.
''Apa ? Aku lupa ? Setahuku kita saling mencintai dan membutuhkan.'' Jawab Laura yang entah mengapa itu terdengar sangat seksi dan menggoda ditelinga Dika.
''Aku masih mencintaimu Dika, dan aku sangat merindukanmu.'' Laura menggigit kecil telinga Dika.
Dika sudah tidak tahan, ditariknya tangan Laura, Laura yang berpengalamanpun langsung mendudukkan diri dipangkuan Dika, mereka beradu bibir, bertukar saliva dan saling mengecap satu sama lain. Tangannyapun tak tinggal diam, tangan Dika sudah berada pada sesuatu yang sejak awal sudah menggodanya. Meraba, memeras dan memilinnya, membuat pemiliknya mend*sah.
Laura mengganti posisi duduknya, yang tadi duduk miring, sekarang duduk sepenuhnya berhadapan dengan Dika, membuat roknya tersingkap naik.
Dan itu membuat Dika lebih mudah melakukan aksi pada dada Laura. Dika memberikan tanda merah pada dada itu, ketika ingin melebihkan aksinya ponsel Dika berdering, panggilan dari Syila.
Deg.. jantungnya seolah berhenti. Dika kembali pada kewarasannya.
__ADS_1
***
Sedangkan diwaktu yang sama hanya berbeda tempat, Syila hendak berangkat menuju kafe, dengan tidak sengaja ia menyenggol fotonya bersama Dika saat mereka sedang melakukan acara pertunangan yang ia cetak, lalu di letakkan dekat fotonya bersama Ayah Ibunya.
Lalu boneka kelinci yang Dika berikan jatuh dari meja tanpa angin ataupun sentuhan. Awalnya ia mengira kontrakannya horor, namun seketika dadanya berdenyut nyeri.
Tanpa berpikir apapun Syila langsung mendial nomor Dika lalu menelfonnya.
Syila menunggu dengan perasaan tidak tenang.
'Mengapa rasanya menjadi sangat lama hanya menunggu telfonnya tersambung.'
''Halo.'' Suara Dika.
''Dika, apa kau baik-baik saja ? Atau kau sedang sakit ?''
''Emm.. i iya, a aku aku baik.'' Jawab Dika tergugup.
Syila mengernyitkan alisnya.
''Kau terdengar sangat gugup Dika, ada apa ? Apa pekerjaanmu tidak lancar ?'' Syila benar-benar khawatir.
''Iya ada sedikit kendala, dan aku sangat sibuk, nanti aku kabari lagi ya.'' Dika mengakhiri telfonnya.
'Ah sudah mau telat, aku harus segera ke kafe.'
''Tuan Kelinci, kau jaga diri baik-baik ya di kontrakan, aku pergi dulu.'' Ucap Syila kepada boneka kelinci pemberian Dika.
Syila bekerja dengan sepenuh hatinya, walau banyak beban hati yang ia rasakan.
***
Sementara Dika, ia mengusap wajahnya frustasi, rasa bersalah merasuki dirinya. Ia menuduh Syila mengkhianatinya, namun dirinya sendiri tak mampu menjaga diri untuk Syila.
Dan Laura ia sudah pergi ketika Dika menghentikan aksinya tadi, dia tersenyum puas.
Laura menelfon seseorang.
''Dia bisa kutaklukkan, aku yakin setelah pekerjaan ini selesai, hubungan merekapun selesai.'' Lapor Laura.
__ADS_1
''Bagus, aku akan menyelesaikan yang disini.'' Panggilan berakhir.
***
Setelah kejadian itu, kini Laura lebih blak-blakan mendekati Dika, walaupun ditempat umum sekaligus.
Bahkan beberapa relasi yang bertemu Dika mengira bahwa Laura adalah calon istrinya.
Sementara Sam, dia juga lebih gencar mendekati Syila walaupun selalu dapat penolakan dan diacuhkan. Hal itu malah semakin membuatnya menggila. Karena selama ini jika ia memilih wanita, maka dengan senang hati wanita-wanita itu akan menempel padanya. Apa lagi jika dia sudah mengajaknya berbelanja, maka apapun yang Sam minta pasti akan dilakukan oleh wanita-wanita itu.
Namun Syila tidak begitu, ia berbeda, maka dari itu Sam sangat menggilai gadis kampung itu.
***
''Sayang, bagaimana kabarmu ?'' Bibi Nuha menelfon.
''Ahh Bibi, aku baik, bagaimana dengan Bibi, aku rindu dengan Bibi.'' Ucap Syila.
''Bibi akan mampir ke kontrakanmu, Bibi selesai mengantar pesanan ini. Kau mau dibawakan apa ?'' Tanya Bibi Nuha.
''Bibi bisakah bawakan bahan-bahan untuk membuat kue ? Aku tadinya mau belanja, namun karena Bibi menawarkan, aku rasa tidak apa sedikit merepotkan. Hehe.'' Kata Syila merasa sungkan juga.
''Kau mau membuat kue ?'' Tanya Bibi.
''Iya Bi, sepertinya aku menemukan resep baru. Tapi aku kurang yakin dengan hasilnya. Karena Bibi akan kemari jadi, aku rasa Bibi juga bisa menjadi jurinya.'' Canda Syila.
Bibi Nuha terkekeh dengan penuturan Syila.
''Baiklah akan Bibi bawakan, apa saja yang kau butuhkan ?'' Tanya Bibi lagi.
''Aku kirim lewat pesan saja ya.''
Kemudian Syilapun mengetik apapun yang dibutuhkan untuk resep barunya.
Hari ini Syila sedang libur kerja, jadi untuk mengisi waktu luangnya dia ingin membuat kue.
Bagaimana hubungannya dengan Dika ?
Syila belum mengetahui Dika sudah mengkhianatinya.
__ADS_1
Dan Dika, kini mulai perlahan luluh oleh Laura. Laura mampu mencuci otak Dika dengan foto-foto Syila dan Sam yang disabotasekan.
Seolah-olah mereka memang memiliki hubungan, namun itu hanya rekayasa belaka.