Karma Cinta

Karma Cinta
Pengklarifikasian


__ADS_3

Ia urungkan sebelum benar-benar memutar knop pintu.


"Aku lebih penting dari apa pun yang sedang Kaisar kerjakan!" tatapan menghunus.


Tak kalah sengit, Klarisa semakin geram dengan Syila, baru ingin berucap, salah satu karyawannya memotong perseteruan.


"Maaf Nona Klarisa, ada paket dari sebuah percetakan khusus untuk Tuan Kaisar."


Klarisa juga Syila penasaran, terlebih Klarisa yang tak tahu menahu jika itu untuk perusahaan.


"Ini tadi dia membawa satu contoh yang tidak di ikut sertakan ke dalam kardus," imbuh si karyawan tadi.


Klarisa membaca contoh kartu, undangan pernikahan. Dadanya semakin bergemuruh, atas nama Kaisar Javier Mahendra dan Arsyila Putri.


"Siapa wanita ini? beranis sekali!" tanpa sadar Klarisa bertanya.


"Oh, itu aku!'' dengan santai Syila menjawab.


"Letakkan di meja situ dulu saja, aku ingin bicara dengan bos kalian!" titah Syila yang di angguki oleh bawahan Kaisar itu. Sedangkan Klarisa masih menerka-nerka.


Kesempatan itu, Syila gunakan masuk ke ruang Kaisar.


"Ada apa? sudah kukatakan aku sibuk tak ingin di ganggu!'' kata Kaisar begitu dingin ketika mendengar pintu terbuka tanpa mengalihkan pandangannya pada pekerjaan.


Syila berjalan mendekat, sebal sekali melihat suaminya acuh seperti itu, harusnya ia melihat dulu siapa yang masuk.


Syila merebut paksa dokumen yang sedang Kaisar baca dari depan wajahnya. Ia tutup begitu saja tanpa tahu itu berisi tentang hal penting atau tidak.


Belum selesai dengan keterkejutanannya, Kaisar yang hendak marah jadi lebih syok lagi, saat Syila langsung menjatuhkan dirinya di pangkuan suaminya.


Tepat saat itu Klarisa masuk, melihat pemandangan yang memuakkan.


"Maaf Tuan, wanita itu tidak punya etika, langsung menerobos masuk begitu saja, padahal saya sudah mencegahnya,'' kata Klarisa.


Kaisar hanya mengibaskan tangannya, pertanda ia mengusir Klarisa.


Geram-geram kesal, Klarisa yang mengharapkan sebuah pembelaan malah terabaikan.


''Ada apa? jauh-jauh kemari? kau membuatku terkejut, jangan lakukan seperti tadi, aku takut membentakmu,'' ucap Kaisar begitu lembut.


''Katakan apa maksudmu membuat undangan?" Syila enggan bangun dari duduknya.


"Apa sudah datang? aku mau membuat resepsi, seminggu lagi, semua sudah di persiapkan," tersenyum hangat.

__ADS_1


''Kau tidak membicarakannya padaku?'' kesal Syila, ia mengerucutkan bibirya.


"Tadinya aku mau membuatkan kejutan, tapi kau malah sudah mengetahuinya.''


"Huft, baiklah yang itu termaafkan,'' terjeda.


Syila tampak bingung ingin membicarakannya. ia terus menggigit bibirnya, sesekali memainkan dasi suaminya.


''Ada apa?'' tanya Kaisar yang melihat gelagat aneh dari istrinya.


''Kai, sebenarnya aku kemari menginginkan sesuatu,'' resah sendiri, ingin rasanya langsung bicara pada inti, tapi diantara rasa ingin dan malu. Entahlah, perasaannya memaksa untuk segera meminta tak ingin memunda.


Lalu dia membisikkan sesuatu pada telinga Kaisar, membuat Kaisar terheran-heran.


''Apa tidak bisa di tunda? setengah jam lagi aku ada meeting,'' lembut Kaisar mencoba memberi pengertian.


''Ck, mana bisa di tunda! aku jauh-jauh kemari untuk hal itu. Ahh, ya sudahlah,'' hendak berdiri namun tertahan.


Kaisar menghembuskan napas beratnya, mendial nomor telepon, ''Meeting tunda satu jam kedepan!''


Setelah itu Kaisar membuka jas, dasi, dan juga beberapa kancing baju kemejanya.


''Ayo tunggu apa lagi? waktumu hanya satu jam!''


Mereka melakukan di kursi kerja, Kaisar sudah menawarkan di ruangan yang biasa ia gunakan untuk istirahat. Ada kasur walau tidak lebar. Tapi Syila menolak, kali ini permainan Syila yang memimpin. Ia baru mengerti selain kepuasan rasa, kepuasan yang lain saat melihat pasangan di bawah kendali tak henti mengerang itu begitu menyenangkan.


Mereka sudah kembali memakai pakaian. Duduk bersejajar di sofa, dengan wajah Syila yang terus merona.


''Kau pintar juga, tahu gaya tadi dari mana?'' Kaisar menggoda. Ia juga sangat penasaran


''Felling,'' jawaban singkat.


''Sebenarnya kau habis menonton apa?'' curiga Kaisar.


''Tidak ada Kai, hanya drama roman, lalu aku terbawa alur, sampai rasa itu muncul sendiri, memaksaku kemari. Nyatanya untuk menahan, itu membuatku tidak nyaman,'' jelas Syila, Kaisar hanya mengulum senyumnya geli.


''Sudah jangan meledekku terus!''


''Aku suka, sering-sering saja memintanya.''


''Aku ada meeting, kau mau menunggu di sini?"


Syila menggelengkan kepalanya, ia pulang, dengan wajah berseri dan masih memerah. Melihat hal itu, Klarisa tidak suka.

__ADS_1


Ia langsung mendorong tubuh Syila hingga terhuyung hampir jatuh, sebelum tangan kekar menahannya, Rayhan.


''Wanita murahan memang! kau tidak lihat?'' di tunjukkannya undangan yang tadi baru sampai. Undangan hanya nama tanpa foto.


''Tuan Kaisar akan segera menikah, kau masih saja menggodanya?'' remeh Klarisa.


Rayhan hendak berucap, sebelum ia mendapatkan kode dari Syila.


''Seharusnya kau tahu diri sebagai wanita!''


''Baju saja di lebarin, tapi malunya sudah tidak ada!"


Kaisar keluar dengan beberapa dokumennya, melihat keramaian, ia langsung menghampiri. Terlihat Syila yang di belakangnya ada Rayhan dengan wajah merah padamnya.


''Ada apa?'' Klarisa terkejut mendengar suara bariton di belakangnya.


''Tuan Kaisar, sepertinya para karyawanmu tidak tahu siapa Nyonya di perusahaan ini, apa Anda tidak berniat mengklarifikasinya? jika tidak, saya yakin seorang Nyonya akan di perlakukan sebagai wanita rendahan!'' ucap Rayhan dengan lantang menggunakan bahasa formal untuk Kaisar. Ia geram dengan Kaisar yang tidak memperkenalkan kedudukan Syila. Sehingga beberapa memandang dengan sebelah mata.


Kaisar tertegun, benarkah sampai segitunya, ia padahal ingin membuat kejutan, tapi malah berantakan begini, tiba-tiba Kaisar merindukan Lewis. Jika ada Lewis pasti dia terima beres. Kepalanya berdenyut, ia memijat pangkal hidungnya.


Lalu Kaisar berjalan mendekati istrinya, ia rengkuh pinggangnya, ''Perhatian semuanya,'' semua berkumpul.


''Mulanya saya ingin membuat sebuah kejutan untuk istri saya, tapi karena kesalahan saya tidak memperkenalkannya kepada kalian, beberapa dari kalian ada yang bertindak tidak semestinya.''


''Arsyila Putri, nama yang berada di kartu undangan yang sudah kalian terima, itu adalah nama wanita yang sudah saya nikahi beberapa bulan terakhir ini. Dan karena sebuah alasan pribadi, kami baru akan mengumumkannya nanti di resepsi. Tapi ternyata hal itu membuat istri saya kurang nyaman, mungkin karena di oandang sebelah mata. Dan ini,'' Kaisar memandang penuh sayang kepada Syila yang sedari tadi sudah menatapnya dengan intens.


''Dialah wanita yang mempunyai nama Arsyila Putri. Jadi, jika dia kemari, tolong hormati dia selayaknya kalian menghormatiku, dia adalah bagian dari perusahaan ini, walau dia tidak bekerja di sini. Mengerti?''


Penjabaran panjang lebar dari Kaisar membuat sebagian wajah karyawan menjadi pias. Apa lagi dengan Klarisa yang masih mencerna perkataan Kaisar.


'Pernikahan? istri? resepsi? wanita ini ...' tak percaya. Bagaimana bisa?


Syila melirik Klarisa, tatapan mereka bertemu. Wajah Klarisa menjadi pias pucat pasi.


Setelah pengklarifikasian singkat dari Kaisar, kini semua menatap senggan kepada Syila.


''Kai, kau membuat mereka melihatku seperti penjahat, apa mereka takut kepadaku?'' bisik Syila.


Tangan mereka terpaut, Kaisar mengantar Syila hingga ia menaiki mobilnya. Setiap mereka melintas, karyawan akan menundukkan sedikit bahunya tanda hormat tak terucap.


''Mereka juga harus tahu siapa dirimu, maaf aku telat menyadari betapa pentingnya sebuah pengakuan,'' sesal Kaisar.


''Sudah, aku tidak apa.''

__ADS_1


__ADS_2