Karma Cinta

Karma Cinta
Kelahiran Baby Twin


__ADS_3

Tak mau ambil resiko, Kaisar langsung membawa ke dokter kandungan yang biasa Syila melakukan kontrol.


''Ini hanya kontraksi palsu Tuan, jika rasa sakit yang ditimbulkan sudah sering, dengan durasi lima menit sekali barulah bawa kemari.''


''Rangsang saja dengan sering berjalan kaki, atau melakukan kegiatan dengan posisi jongkok atau menungging, bahkan sangat disarankan si Ayah untuk sering-sering berkunjung. Tapi tetap dengan prosedur keamanan ya, jangan ngebut-ngebut,'' sambung si dokter yang membuat Syila malu diakhir kalimat.


Setelah melakukan konsultasi Kaisar dan Syila kembali pulang. Mereka mempraktekkan apa yang dokter sarankan.


Syila melakukan kegiatan senam Ibu hamil, di temani dengan Kaisar yang akhir-akhir ini berbuat semena-mena terhadap perusahaannya. Ia hanya akan datang jika meeting urgent.


Malam menjemput insan yang sudah lelah dengan siang yang penuh peluh juga cacian untuk sebagian orang. Namun tak menyurutkan semangat mereka.


Tapi tidak untuk Kaisar dan Syila.


Mereka baru akan memulai saran dokter yang terakhir.


''Apa begini?''


Syila menggeleng.


"Apa begini?" ulangnya lagi dan gelengan Syila sebagai jawabannya. Dengan perut yang besar untuk melakukan 'hal' itu memang sulit menemukan posisi yang nyaman.


"Huft," helaan terdengar dari Kaisar. Dia sudah begitu ingin, hasratnya sudah terpancing sempurna, tapi ya sudah dia tidak boleh egois.


Syila mengulum senyum melihat suaminya yang begitu frustasi saat Kaisar mulai beranjak ingin melakukan konser solonya tangan Syila mencegah.


"Ayo lakukan!" ajak Syila. Dia pun mengarahkan bagaimana seharusnya. Walau rumit tapi dia tidak tega melihat suaminya menahan sesuatu yang harus bersama dituntaskan.


Dua hari kemudian.


Ini pukul sembilan pagi, Kaisar sedang melakukan meeting online di ruang kerjanya. Memakai kemeja rapi dengan dasinya, tapi bawahan hanya kolor abu-abu.


"Kai!" teriak Syila tepat di depan ruangan kerja Kaisar.


"Kai!"


Kaisar menyudahi meetingnya, seperti biasa ia serahkan kepada Lewis.


"Sayang ada apa?" Kaisar begitu khawatir apa lagi melihat Syila yang terus meringis dengan menyangga perutnya yang besar.


"Kai, aku keluar cairan, apa ini ketuban, aku takut!" keluh Syila, wajahnya mulai dipenuhi peluh.


"Tanpa pikir panjang, Kaisar langsung membawa Syila masuk ke dalam mobil, menjalankannya dengan begitu khawatir.


"Sttt ..." desis Syila membuat Kaisar semakin panik.


"Auhh ..." Syila meremas lengan suaminya saat rasa sakit menyerang. Kaisar menambah laju mobilnya.

__ADS_1


"Sayang, kumohon yang kuat," ia biarkan jemari lentik itu memberikan rasa perih di lengan kirinya.


Beberapa menit kemudian mobil menepi dengan asal.


Kaisar berlari memanggil suster untuk meminta kursi roda.


"Syila!" pekiknya saat melihat Syila keluar mobil dan berjalan dengan santainya.


"Apa?"


Kaisar masih dalam kebingungan bercampur paniknya.


"Kau mengerjaiku?" selidik Kaisar.


"Tidak. Tadi memang sakit, sekarang tidak," jawab Syila.


Kaisar masih menatap Syila tak percaya.


"Kai, bisakah kita masuk untuk periksa, lihat cairannya keluar lagi!"


Ucapan Syila membuyarkan Kaisar dari asumsinya. Dengan bantuan suster Syila langsung dibawa ke ruang IGD. Setelah itu langsung dibawa ke ruang bersalin.


Dokter memasukkan tangannya untuk mengecek sudah pembukaan berapa.


"Apa yang kau lakukan!" cegah Kaisar.


"Tuan, saya hanya ingin mengecek jalan lahirnya sudah terbuka berapa centi," jawab dokter sedikit terkejut.


"Kai, sudahlah, kita butuh dokter, untuk membantuku melahirkan, jangan dipersulit!" ucap Syila menengahi.


Akhirnya Kaisar mengalah walau dengan bersungut-sungut seperti ingin mencekik dokter itu sekarang juga. Dan berarti dokter itu akan melakukan lebih dari sekali selama pembukaan belum sempurna.


"Tenang ya Nyonya, jangan panik, dan harus sabar, ini baru pembukaan ke tiga, kita harus menunggu pembukaan sempurna untuk melakukan tindakan," kata dokter yang akan menangani Syila.


"Dok, tapi dia kesakitan!" cerca Kaisar.


Dokter itu mengulas senyumnya, "Tuan, mana ada orang mau melahirkan tidak merasakan sakit? Tuan yang tenang, beri semangat terus pada istrinya. Istri Anda membutuhkan Anda saat ini."


Setelah mengatakan itu dokter keluar ruangan.


"Sayang, apa yang harus kulakukan?" Kaisar duduk disamping Syila menggenggam tangannya, mencium tangan yang jari-jarinya membesar, bahkan cincin nikahnya harus dipakai di jari kelingking.


"Apa? kau ingin melahirkan juga?" ledek Syila, agar suaminya tidak sepanik dan khawatir ini.


"Jika bisa digantikan aku bersedia."


"Sstttt ..." desis Syila lagi, kali ini matanya sampai terpejam. Menandakan rasa sakitnya semakin sakit sesuai tempo.

__ADS_1


Kaisar membelai pinggang Syila, memberi sentuhan lembut berharap bisa mengurangi kadar sakitnya.


Posisi janin dalam kondisi bagus, mereka bisa dilahirkan secara normal. Dokter memberikan saran normal daripada harus operasi. Normal lebih cepat pemulihannya.


Lalu rasa itu hilang lagi. Syila mengulas senyumnya lagi melihat suaminya yang turut merasakan kekhawatiran.


"Kenapa kau tersenyum begitu, apa yang lucu?" sarkas Kaisar.


"Kau sangat lucu, lihat kau kemari masih memakai celana kolor, kau tidak malu?"


Kaisar melihat kebawah, ia baru menyadarinya, pantas banyak yang memandangnya aneh tadi.


"Huh, sudah biarkan saja."


Walau bicara begitu Kaisar tetap menghubungi Lewis memintanya membawakan baju ganti dan perlengkapan bayi Syila yang tadi tidak sempat ia bawa.


Setelah itu Kaisar kembali pada istrinya.


Semakin kesini, rasa sakit yang menerjang Syila semakin sering dirasa. Wajahnya sudah pucat, peluh bercucuran, desisan, namun dia tidak mengeluh.


Kaisar sudah memakai celana panjangnya, ia juga sudah memakai baju khusus agar bisa menemani Syila dalam proses melahirkan. Semua sudah disterilkan menurut prosedur rumah sakit.


"Dokter lakukan sesuatu! istriku kesakitan! jika tidak lakukan saja operasi!" bentaknya kepada dokter yang baru saja mengecek pembukaan Syila.


"Lakukan persiapan!" aba-aba untuk suster yang akan membantunya.


Dokter wira wiri begitu juga dengan suster mengabaikan seorang suami yang begitu khawatir .


Kaisar seperti keledai bodoh saat ini, merasa tidak berguna sebagai suami dan tidak mengerti tentang medis.


Posisi siap, tidak ada harapan selain keselamatan dan kesehatan saat ini yang terpanjat untuk Tuhan dari pasangan suami istri itu. Kaisar terus membisikkan kata cinta dan sayangnya, terus menyemangati, sesekali mengecup wajah Syila yang penuh peluh. Sungguh, ia tidak tega melihat wanitanya menahan sakit begini, dia memperjuangkan dua nyawa seorang diri. Kaisar jadi mengingat Ibunya.


"Sesuai aba-aba ya," arahan dokter.


"Dorong ketika rasa itu datang!" imbuhnya.


Dan benar saat rasa sakit datang, seolah si bayi mengerti intruksi, mereka seperti bekerja sama, dua kali dorongan bayi pertama keluar. Tangis yang begitu lantang seperti memberitahu seantero jika sudah terlahir bayi berjenis kelamin laki-laki dengan sehat dan sempurna.


Rasa haru bahagia membayar perjuangan pertama.


Lima menit kemudian rasa sakit datang lagi.


"Kai!" panggil Syila saat Kaisar sempat melepas genggamannya melihat anak pertamanya.


Kaisar mendekat, "Sayang, anak pertama kita laki-laki!"


Senyum bahagianya tak dapat disembunyikan.

__ADS_1


Seperti yang pertama, anak kedua juga lahir dengan lancar, tapi ia tidak langsung menangis.


"Dok, kenapa dia diam?" tanya Syila.


__ADS_2