
Sampainya di rumah, tepatnya di kamar. Syila masih saja memasang mode marahnya.
“Sayang,” Kaisar mencoba merayunya.
“Ayolah, aku tadi hanya ingin melihatmu cemburu atau tidak, bukan bermaksud ingin di goda oleh wanita lain. Ternyata kau begitu cemburu, aku senang, tapi sudah marahnya, aku minta maaf. Aku juga sudah membuang pakaian yang tadi tersentuh oleh wanita itu,” bicara pada punggung Syila. Karena kini Syila tengah tidur dengan memunggungi suaminya.
“Masa bodoh! Aku tidak ingin bicara denganmu!”
“Sayang aku mengaku salah, hukum saja aku tapi jangan marah begini, mana bisa aku tidur jika istriku yang paling kucintai ini masih marah dan memunggungiku,” ucap Kaisar memelas, ia coba memegang bahu Syila, namun segera di tepisnya.
Tak lama terdengar isakan dari Syila, Kaisar tertegun, dengan sedikit paksaan ia membalikkan tubuh Syila yang kini masih mengenakan hijabnya.
“Sayang? Kau menangis? Aku sangat menyakitimu? Aku sungguh bodoh, aku minta maaf, sini pukul saja aku!” Kaisar membawa tangan Syila yang enggan ia pegang mengarah ke dadanya.
“Apa kau meragukan perasaanku selama ini? Setelah semua yang terjadi di antara kita! Jahat sekali!” cerca Syila dengan deraian air mata.
Bodoh! Kaisar merutuki kebodohannya. Hanya ingin melihat istrinya cemburu sampai membuat istrinya menangis.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku minta maaf, sungguh!” janji Kaisar.
Kaisar mengusap sisa air mata istrinya. Mengecup mata yang baru saja menangis, turun ke bibir ranumnya, ********** sebentar, lalu melepas hijab yang masih terpasang sebagai bentuk marahnya Syila pada Kaisar. Ia tidak memperbolehkan suaminya itu melihat auratnya.
Sadar dari buaian, Syila memberi jarak, Kaisar bingung.
“Kenapa lagi?”
“Sebagai hukumannya, jatahmu tidak di berikan selama seminggu,” Syila hendak membalikkan tubuhnya lagi, ingin memeluk guling yang biasa terlupakan.
“Apa!” segera Kaisar beranjak dari tidurnya, mengungkung tubuh Syila di bawah sana.
“Aku keberatan!” menatap dengan wajah sendunya.
“Tidak bisa di ganggu gugat!” tegas Syila.
“Sayang—“ masih mencoba bernegosiasi.
“Tidak kasihan dengan yang sudah berharap di bawah sana?” di buat semerana mungkin. Tangannya sudah bergerilya ke perut, di elusnya pelan. Tidak mempan!
“Sayang, menolak suami itu dosa loh,” namun Syila masih acuh. Sedangkan tangan Kaisar sudah mengelus bagian paha, ia tempelkan tubuh sisi bawahnya ke tubuh Syila. Membuat Syila memejamkan mata dan menggigit bibir bagian bawahnya.
“Sayang—“ ia endus leher yang terselimut helaian rambut, mencari aroma damai dari sana.
Kaisar merasakan tubuh Syila menegang, ia tersenyum. Semakin menggencarkan aksinya dan pada akhirnya ******* dari Syila keluar juga.
‘Yes!’ sorak Kaisar dalam batin.
__ADS_1
“Baiklah, aku menyerah,” Kaisar hendak bangun dari tidurnya.
‘Apa-apaan dia ini, memancing bukannya di tarik pengaitnya malah mau di tinggal pergi!’ Syila bangkit lebih dulu, menahan tubuh Kaisar yang hendak bangun.
“Tanggung jawab!” ucap Syila penuh penekanan.
‘Good job!’ batin Kaisar dengan senyum smirknya.
“Tapi katamu—“ terhenti kala Syila terlebih dulu membungkamnya dengan ciuman.
Dan malam itu, peraturan Syila hanya terjadi di bibir saja. Nyatanya ia tak pernah bisa menolak pesona dari suaminya. Apa lagi jika tangan Kaisar sudah mulai menyentuh kulit, memberi sensasi panas di sekujur tubuhnya. Malam panas bagi kedua insan yang sedang memadu kasih. Melupakan sisi lain dari ruangan yang terdapat pria lebih muda. Ia sedang menerka-nerka apa yang terjadi dengan kakak-kakaknya setelah tadi ia melihat wajah horor dari Syila. Sangat terlihat marah. Membuka pintu mobil dengan kasar dan menutup dengan membantingnya.
“Hah, kapan aku menemukan wanita yang sepenuhnya bisa kumiliki? Apa harus melakukan cinta satu malam dulu, seperti yang teman-temanku di sana lakukan.”
Rayhan membayangkan, pergi kencan melalui aplikasi jodoh, lalu melakukan hubungan terlarang, setelah itu ada yang pergi ada yang bertahan
“Iyuhh, bukan pria baik-baik. Aku tidak mau! Sudahlah aku sepertinya harus banyak tidur.”
.
.
.
Pagi ini Kaisar akan mengajak Rayhan pergi ke kantornya, hari pertama magangnya. Tidak ada yang spesial, Rayhan akan bekerja seperti karyawan biasa. Dengan status karyawan magang.
Syila menghentikan aktivitasnya, memberi pendapat tentang pertanyaan Rayhan.
“Bagus yang bertitik itu.”
Rayhan mencoba memakainya.
“Kemari!” perintah Syila. Syila membantu merapikan dasi Rayhan dan itu membuat jarak mereka begitu dekat.
Sesaat Rayhan terpesona lagi dengan wajah Syila. Matanya, bibirnya, jika di padu padankan terlihat pas dan sangat sejuk di pandang.
“Sayang,” panggil Kaisar tepat dengan selesainya Syila membantu Rayhan.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya lagi.
“Tidak ada Kai, hanya membantu merapikan dasinya,” jujur Syila menunjuk Rayhan dengan ekor mata.
Kaisar mendelik kepada adik tengilnya itu. Rayhan tersenyum aneh.
“Kalian sudah berbaikan?” tanya Rayhan yang menyadari kemesraan mereka kembali sesudah perang dingin semalam.
__ADS_1
“Memangnya apa yang kau harapkan?” ketus Kaisar.
“Kalian marah lalu pisah, jika sudah pisah aku akan menjadi penggantimu om!” seloroh Rayhan dengan gaya tengilnya yang membuat pasangan suami istri itu langsung menatapnya dengan tajam. Seperti ingin membunuhnya saat itu juga.
“Eits, just kidding gais!” merasa atmosfer berubah menyesakkan dan terasa panas. Rayhan masih menampilkan wajah tengil yang salah tingkah dengan meminum banyak air guna menghilangkan rasa gugup yang menyelimuti hatinya. Tiba-tiba ia merasakan hawa tidak nyaman.
.
.
.
“Apa-apaan ini? Aku calon S1, di bidang marketing, dari universitas ternama, kenapa magang di kasih kerjaan kain pel dan sapu!” tersungut-sungut dengan membersihkan toilet.
Klarisa yang hendak masuk ke toilet, menghentikan langkahnya, matanya awas mengamati OB tidak pada tempatnya. Karena menurutnya, dia lebih pantas di bagian pemasaran atau model sebuah produk.
“Kau OB baru?” tanya Klarisa pada Rayhan.
Rayhan tidak langsung menjawab, ia mengamati penampilan Klarisa yang sudah seperti kerja di klub malam. Lalu Rayhan melanjutkan pekerjaannya lagi tak menghiraukan kalimat tanya dari seniornya.
“Cih, sombong sekali! Dari pada menjadi OB lebih baik menjadi asistenku saja,” Klarisa mengerlingkan matanya.
Rayhan berlalu dari sana.
“Menarik, sayang hanya karyawan biasa.”
.
.
.
Syila baru saja dari toko kuenya, yang sebentar lagi sudah siap beroperasi. Setelah dari sana ia membeli banyak camilan.
“Non, banyak sekali, Tuan tidak memakan yang seperti ini,” kata Bi Lila membantu Syila merapikan belanjaannya.
“Ini stok untukku, Bi,” lalu Syila mengambil sebungkus kripik kentang, membawanya ke depan tv. Ia menonton drama romantis, ada adegan hampir ciuman. Syila mematikan TV nya. Ia segera berlari menuju kamar, mengambil tasnya dan pergi lagi. Tujuannya kantor suaminya.
.
.
.
Di kantor.
__ADS_1
Tidak ada kata basa basi permisi. Sudah tahu di mana ruangan suaminya Syila langsung meluncur.
“Nona, kau mau ke mana? Tuan sedang tidak bisa di ganggu,” cegah Klarisa yang melihat Syila sudah memegang knop pintu Kaisar.