
*Mengenang sebuah pengkhinatan
Diatas janji-janji manis kelembutan
Keberanian yang selalu kau ajarkan
Seharusnya kau patrikan dulu di sanubarimu
Ketika sudah ku sediakan cinta kasih beserta kesetiaan
Kau malah membuangnya
Ketika aku meyakini tiada bintang yang lebih indah selainmu
Kau malah sengaja menutup lalu berpaling
Bahkan untuk sebuah pengharapan hanya akan menjadi harapan
Karena yang ku harapkan itu mustahil nyatanya
Ternyata aku tak lebih dari sebuah dermaga untukmu
Hanya untuk bongkar pasang kisah semu lalu berlalu
Padahal yang aku mau aku ini sebagai istanamu
Yang menjadi tujuan akhirmu untuk perpulang dan berkasih
Sudahlah aku sadar meminta yang bukan milikku itu tidak baik
Semoga laraku lekas pulih
Dan bahagia selalu kau dengan pilihanmu*
^^^By : Chengil^^^
.
.
.
.
.
Pagi menyapa dengan tetesan embun yang mulai memudar.
Aku terjaga. Masih terasa pilu oleh kisah lalu. Walau air mata sudah mengering di tempatnya.
Hari ini aku berjanji hanya ada senyuman meski terasa kelu.
***
Seperti biasa aku berangkat sekolah . Ayah hari ini mengantarkanku sekolah . Biasanya aku menolak tapi hari ini aku yang meminta.
Tepat datangnya Doni, Ayah sedang mencium keningku dan mengusap kepalaku dengan sayang. Membuatku merasa berharga. Menambah kewarasan yang sempat pudar dan memberi kebahagiaan untuk stok hari ini.
__ADS_1
Seluarbiasanya itulah kehadiran Ayah untukku.
Doni mensejajarkan langkahnya denganku. Lalu disodorkan sebuah cokelat. Aku tersipu malu. Mengingat bagaimana keadaanku kemarin tepat di hadapan Doni yang mungkin terlihat sangat menyedihkan.
"Nanti beri tahu jawaban matematika ya." Dia nyengir sambil menaik turunkan alisnya.
Hah dia sedang menyuapku ternyata.
Namun aku tertawa juga dibuatnya.
"Berdoa saja semoga pengawas kali ini Pak Kafri bukan Bu Ardiyan." Selorohku mengambil cokelat di tangannya lalu pergi berlalu darinya.
"Doni terimakasih coklatnya." Aku tertawa senang sekali pagi ini.
Setelah kemarin aku mengabaikan teman-temanku kini aku kembali nimbrung.
Ternyata mereka sibuk mencatat rumus khas matematika bukan hanya di secarik kertas tapi juga di telapak tangan, di balik dasi, parahnya ada yang di balik rok, tepat nya di bagian kulit paha.
Mereka ini paling horor dengan pelajaran itu. Berbeda denganku yang malah menyukainya.
Ada panggilan dari Dika.
"Hallo". Sapaku.
"Syila kau baik-baik saja kan ? Sebentar.." Aku menunggu panggilan di ubah menjadi video call.
Aku menjauh mencari tempat yang sekiranya aman.
Tersambung...
Lalu dia tersenyum.
"Syukurlah kau terlihat baik hari ini." Dika.
"Aku mengkhawatirkan mu, Syila."
"Aku baik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tenanglah aku bisa menjaga diri." Jawabku.
"Tapi aku takut kau tak bisa menjaga hatimu sendiri. Aku tahu hubunganmu dengan Adji sudah selesai. Namun aku kurang mengetahui apa alasannya. Makanya aku khawatir."
Bagaimana bisa tahu. Apa jangan-jangan dia punya mata-mata.
"Hehe.. Tak apa aku baik. Yang sudah biarkan berlalu. Terimakasih sudah khawatir"
Tak lama kemudian terdengar bunyi bel tanda masuk kelas.
"Ehh sudah waktunya masuk. Aku tutup ya."
"Baiklah"
Aku tersenyum tulus bukti bahwa aku tidak apa-apa. Aku sudah ikhlas berdamai dengan hatiku.
Tidak ingin terpuruk terlalu lama. Walau kemungkinan memang susah untuk melupakan. Dan aku rasa itu tidak mungkin.
***
Doni melintasiku dia tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Aku pura-pura tidak melihatnya.
Kertas di bagikan. Aku sudah bersemangat sekali. Lancar seperti dugaan. Banyak rumus yang aku pelajari terjabar dalam soal-soal ini. Jadi tidak terlalu rumit bagiku.
Kursiku di tendang kecil dari belakang. Doni meminta jawaban dari beberapa soal. Dia terlihat stres sekali. Hahaha
Kujulurkan lidahku tanda aku meledeknya. Mata Doni membola. Semakin terkikik aku melihatnya.
Oke oke 15 menit lagi. Diam-diam Aku beri saja kertas jawabannya kepada Doni. Aku masih pura-pura mikir. Padahal aku sudah selesai.
Pengawas kali ini menegangkan namun sering merasa bosan, jadi terkadang dia meninggalkan ruangan begitu saja.
Waktu pengawas itu keluar. Bim salabim satu ruang langsung membagi menjadi beberapa kelompok. Mereka bukan mengerjakan tugas semesteran tapi tugas kelompok. Terutama anak mesin yang langsung menyerbu jawaban anak akuntansi.
Masa-masa ini akan menjadi kenangan paling dirindukan suatu saat nanti.
***
Selesai sudah tugas hari ini di sekolah. Aku berjalan dengan Talita sambil bercengkrama. Tiba-tiba Adji datang menemuiku. Sepertinya dia kurang tidur penampilannya acak-acakan sekali.
"Syila kumohon dengarkan aku. Jangan seperti ini jangan menjauh. Aku sungguh mencintaimu. Aku menikahinya untuk sementara hanya sampai anak itu membaik. Untuk menebus kesalahanku pada mereka dimasa lalu. Aku tidak mencintai wanita itu. Aku mohon Syila."
Plak..
Tanpa intruksi tanganku mendarat ke wajah tampan yang pernah aku beri kesetiaan sepenuh hatiku.
Airmataku mengalir tanpa permisi.
Kata-kata Adji sungguh tidak di saring. Atau mungkin dia tidak waras.
Dengan tubuh gemetar, bibir yang gemetar aku geram dengan perilaku Adji sekarang. Tidak memandang ini tempat umum. Aku melampiaskan apa yang ada di benakku.
"Apa kau sudah gila..!! Dia hamil denganmu dan anak itu darah dagingmu. Sudah semestinya kau bertanggungjawab jauh-jauh hari."
"Kau fikir dengan ungkapan cintamu itu aku akan luluh lalu aku akan kembali. Tidak. Aku bukan fakir asmara. Yang akan mengemis melakukan apapun demi cinta walau dengan terang-terangan sudah di sakiti dan di kecewakan. Aku ini juga wanita sama seperti istrimu. Jangan jadikan aku wanita jahat."
Pecah tangisku. Talita yang tak mengerti apa-apa hanya merangkul bahuku. Menyalurkan kekuatan tanpa berniat menengahi.
"Aku memang mencintaimu. Tapi aku sudah merelakan cintaku kau bawa pergi. Dan yang hanya meninggalkan luka kecewa."
"Aku tidak apa-apa. Jangan kembali meminta. Jangan kembali berharap. Pergilah dan berbahagialah dengan pilihanmu. Mari sama-sama kita berdamai dengan keadaan. Akan aku pastikan aku pergi tanpa membawa apapun darimu. Entah itu cinta ataupun luka. Aku tak ingin membawa keduanya."
"Aku tahu kau orang yang baik. Jadi tetaplah menjadi baik. Dengan cara jangan menemuiku lagi."
Aku mulai memberi jarak. Memundurkan langkah kaki, berbelok. Sebelum benar-benar pergi aku berkata lagi.
"Ohh iya.. Sudahi minuman alkoholmu. Itu sungguh tidak berguna hanya akan membuat kewarasanmu semakin terkikis."
Adji mematung. Dia menangis. Akupun teriris melihatnya seperti itu. Tapi aku rasa itu yang terbaik untuk kami. Dia sudah memilih dan aku harus menerima.
Di bilang cinta aku masih mencintainya. Namun aku tak ingin cintaku merubahku menjadi wanita iblis. Yang dengan tega menyakiti hati sesama wanita berserta anak tidak berdosa.
Kutarik tangan Talita. Menjauh pergi dari hadapan Adji. Berlama-lama begini sungguh aku tak mampu.
Hatikupun tak kalah terlukanya. Kami terpisah dengan kepiluan. Aku harap Adji berbahagia seperti kata-kataku tadi.
Dan aku... Entahlah... Aku tak ingin memikirkannya...
__ADS_1