Karma Cinta

Karma Cinta
Aku Ingin Kita Bercerai


__ADS_3

Syila sudah memejamkan matanya sedari tadi, namun Kaisar tetap terjaga, tidur bersama dengan wanita yang ia cintai serapat ini dan tidak melakukan apa-apa, nyatanya membuat sisi lain dari tubuh Kaisar terbangun. Ingin meminta haknya, hubungannya masih jauh dari kata 'melakukan', ingin memaksa, Kaisar tidak mau Syilanya menambah kesan tidak suka kepadanya. Padahal cuaca sangat mendukung, diluar sedang hujan deras.


Kaisar mencoba memberi jarak, bahkan setelah menikah, Syila tak pernah melepas hijabnya walau hanya berdua dengan Kaisar. Itu berarti dia masih meninggikan batasan untuk hubungan lebih jauh. Syila belum mempercayai Kaisar, belum sepenuhnya menerimanya juga.


Wajah yang tenang, yang tadi sempat cemas ketakutan, Kaisar menyusuri setiap inci wajah istrinya itu. Alis, mata, hidung, pipi, dan bibir. Ia usap bibir polos tanpa sentuhan pewarna namun tetap mengoda imannya, bibir mungil berwarna merah muda yang selalu berkata ketus kepadanya, namun malam ini ia menggunakannya untuk memanggil namanya, itu membawa desiran berbeda dihati Kaisar.


'Ahhh... Dia bahkan masih menutup tubuhnya dengan rapat, namun sudah berhasil membuatku tidak bisa tidur.' Frustasi Kaisar.


Pukul satu tengah malam, Syila terbangun ingin pergi ke kamar mandi, lampu belum juga nyala, hanya ada cahaya dari ponsel Kai, karena lilin sudah habis.


Syila merasa sedang diperhatikan, ia mengerjapkan matanya, 'sulit bergerak?' dia baru menyadari ternyata dia tidur dalam dekapan pria yang baru-baru ini menyandang status sebagai suaminya.


''Kai, lepaskan aku.'' Kaisar tersenyum dan tak kunjung juga melepaskan.


''Kai!!''


''Jika aku melepaskanmu, kau akan kembali tidur seperti ini tidak?''


'Pertanyaan apa itu, harus dijawab apa? Sudah tahu ini masih gelap.'


''Kai, kau sudah tahu jawabannya, jangan memaksaku untuk berucap, sekarang lepaskan aku, dan ayo antarkan aku ke toilet ini sudah diujung.'' Syila sudah tak tahan, Kaisar melepaskan dekapannya, benar-benar mengantarnya ke depan pintu toilet.


Baru juga ia hendak ikut masuk, pintu sudah ditutup oleh Syila membuat dahinya terpentok daun pintu.


''Sayang, aku belum masuk.'' Kaisar mengetuk pintunya.

__ADS_1


''Nanti setelah aku selesai,'' jawab Syila. Tak lama Syila keluar dengan wajah lega, ia tersenyum pada Kaisar. Suaminya benar-benar masih menunggu di depan pintu. Kaisar diam, terpesona dengan senyum tanpa dibuat-buat itu. Sangat manis dan meneduhkan.


Setelah bergantian ke toilet, menuntaskan panggilan alamnya, mereka kembali berbaring bersama, dalam selimut yang sama, tidak melakukan apapun, hanya tidur bersama. Begitulah aturan Syila yang harus dipatuhi Kaisar, karena dia Tuan Rumahnya dan karena dia masih takut.


''Syila...'' Panggil Kaisar dengan mengusap lembut punggung Syila.


''Emmm...'' Jawab Syila malas.


''Apa aku akan dapat imbalan karena sudah menemanimu?'' Syila sontak menatap wajah tampan yang masih membuatnya kesal itu.


Tatapan mereka bertemu dalam cahaya yang remang-remang.


''Memangnya kau kekurangan uang? Sampai kau meminta imbalan dariku hanya menemaniku tidur, apa aku menggunakan tenagamu begitu besar, kau bahkan mempunyai bisnis yang lebih besar dariku, duda serakah.''


Kaisar malah tertawa mendengar umpatan dari Syila, ''Aku bukan lagi duda, aku sudah punya istri, yaitu kau. Dan aku tidak meminta imbalan berupa materi, hanya, bolehkah kau melepas hijabmu ketika berdua denganku?'' Pinta Kaisar sembari menyusuri wajah Syila dengan jarinya. Mata Syila terpejam kala yang disentuh adalah pipi dan bibir, ada rasa asing yang menjalar ditubuhnya.


Syila kesal, ia membelakangi Kaisar. Kaisar mendekat melingkarkan tangan diperut Syila, memposisikan wajahnya diceruk leher yang tertutup hijab itu, mengendus wanginya. Membuat Kaisar menginginkan lebih dari ini.


''Kai jaga sikapmu!!'' Kata Syila ketus namun ia tak memberontak.


''Kau bahkan menikmati setiap yang kulakukan padamu Syila, termasuk ini..'' Kaisar semakin memperdalamkan wajahnya diceruk leher Syila, menguselnya membuat Syila bergerak gelisah.


''Kai hentikan!'' Sentak Syila, dengan nafas yang memburu.


'Respon apa ini? Tubuhku terasa panas.' Syila.

__ADS_1


Tepat dengan nyalanya lampu, Syila langsung membuka pintu pergi dari kamarnya, ia masuk ke kamar mendiang orangtuanya. Panggilan dari suaminya pun tak ia hiraukan. Mengunci diri disana. ''Pria gila, apa yang dia lakukan saat aku tidur tadi ya, aku bahkan merasa nyaman saat aku sedang ketakutan, tapi untuk permintaannya, itu tidak mungkin.''


Sedangkan Kai merasa miris, sebegitu bencinya Syila kepadanya.


Keesokan paginya, Syila semakin diam didepan Kaisar.


''Syila, maafkan permintaanku semalam. Tolong jangan membuat jarak kita semakin menjauh lagi.'' Pinta Kai saat mereka selesai dengan sarapannya.


''Aku mau ke kota siang ini.'' Jawab Syila menghindar dari pembahasan Kaisar.


''Maksudmu mengatakan ini kau mengajakku pergi bersama begitu?'' Kaisar sudah berbinar dengan imajinasinya.


Syila tersenyum sinis, ''aku tidak peduli denganmu, maksudku, rumah ini akan kukosongkan, jadi kau juga harus meninggalkan rumah ini siang nanti, terserah kau mau kemana.''


Jlebbb...


Ada yang sakit, namun tidak nampak lukanya.


''Syila bisakah kau bersikap manis sedikit saja padaku, jangan berkata seolah-olah aku bukan siapa-siapamu.'' Kaisar protes.


Syila menatap dengan angkuh, ''Kau pikir kau ini siapa? Kau hanya orang lain yang terpaksa harus masuk kesini karena kecerobohanmu sendiri. Dan aku tak pernah menginginkannya.'' Syila bangkit dari duduknya, ''Bahkan jika bisa menukar, aku ingin menukarmu dengan nyawa Ayahku!!'' Syila berlalu pergi dari hadapan Kaisar yang masih diam membisu, sakit yang dia rasakan, dibenci oleh wanita yang ia cintai.


''Mau seberapa subur kau memupuk bencimu itu padaku Arsyila, aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untukmu, mengapa kau tak memberiku sedikit celah untuk memasuki hatimu?'' Teriak Kaisar, membuat langkah Syila terhenti, ia membalikan tubuhnya.


''Melakukan terbaik? Iya kau melakukan itu atas dasar permintaan Ayah, bukan karenaku, jika kau memang ingin melakukan yang terbaik untukku, cerai!! Aku ingin kita bercerai. Aku tidak ingin mempunyai hubungan apapun dengan pria manapun, termasuk kau!!'' Syila dengan amarahnya. Sakit hati yang ia dapat dari pria masa lalunya, ternyata membawa dampak untuk pria masa depannya.

__ADS_1


Mendengar kata cerai, Kaisar tak kalah kesalnya. Ia maju melangkah, mendekati Syila yang sudah masuk kamarnya untuk bebenah. Kaisar mencekal lengan Syila, ia sandarkan didinding, tentu Syila sangat terkejut. Tanpa aba-aba Kaisar mencium bibir Syila dengan sedikit kasar demi menyalurkan emosinya setelah mendengar kata cerai, semakin menekan tengkuk leher Syila ketika wanita itu memberontak, tidak ada respon atau balasan apapun dari Syila karena memang ia tidak tahu harus berbuat apa.


Kaisar melepaskan pangutan mereka dengan napas yang terengah-engah. Saling mengontrol oksigen yang terasa habis. Merasakan detak jantung keduanya yang semakin menjadi.


__ADS_2