
''Kau cemburu kepadanya?'' Kaisar menunjuk Syila dengan ekor matanya. Dan diangguki oleh gadis yang bernama Mimi.
''Dengar, kau tetap akan menjadi kesayangan Paman, walaupun Paman membawa gadis lain, Paman akan tetap memakan coklat bersamamu, dan bermain bersamamu,'' bujuk Kaisar.
''Syila kemarilah,'' Syila mendekat.
''Dia Misheila, aku lebih suka memanggilnya Mimi, sejak pertama kali bertemu dengannya aku merasa dia sebagai penghiburku, dia mengalihkan sedihku dengan caranya yang manis, jika sedih dia selalu membagi cokelatnya denganku. Dan Mimi, kenalkan dia Bibi Syila, teman hidup Paman,'' jelas Kaisar.
Mimi nampak memperhatikan wajah Syila lagi, ia mengingat-ingatnya, sampai uluran tangan Syila ia abaikan karena terlalu keras berpikir.
''Bibi, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?'' tanya Mimi.
''Emmm, entahlah, hanya dulu waktu Bibi kuliah, Bibi sering melakukan acara bakti sosial ke sini,'' jawab Syila.
Mimi langsung mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya, ''Bibi, apa ini kau yang memberikannya waktu itu?''
Syila mengamatinya, jepit rambut miliknya, ahh iya dia ingat, dia pernah memberikan jepit itu untuk seorang gadis yang sedang bersedih karena seseorang yang ia tunggu tidak ikut berkunjung saat itu.
''Hei, kau gadis manis itu? sekarang kau semakin cantik, Bibi ingat, kau yang saat itu bersedih karena orang yang kau tunggu tidak ikut datangkan?'' Syila girang sekali dengan memori kecil yang ia ingat.
Mimi langsung loncat dari pangkuan Kaisar, ia tak kalah antusiasnya dengan Syila, ''Aku hampir melupakanmu, Bi, kau sangat cantik dengan kain penutup rambutmu itu,'' matanya berbinar.
''Paman, dia Kakak yang pernah aku ceritakan waktu itu padamu, yang memberikan jepit rambut yang Paman bilang aku bertambah cantik jika memakainya, wahh ternyata Paman lebih mengenalnya, kenapa baru membawanya kemari, huh?!'' Mimi sudah bersedekap dada.
Kaisar melirik Syila, Syila hanya mengendikan bahunya. Ternyata secara tidak sengaja antara Kaisar dan Syila sudah sangat dekat.
''Kenapa merajuk, Paman juga baru menemuinya, makanya Paman baru membawanya kemari. Ayo, kita bermain bersama,'' tapi Mimi tetap memasang wajah kesalnya yang terlihat menggemaskan.
''Emmm, aku punya sesuatu untukmu, tapi kau harus berjanji sudahi marahmu, oke?'' bujuk Syila.
Syila mengambil jilbab di tasnya yang masih baru, tadi sengaja ia bawa beberapa ketika tahu Kaisar ingin mengajaknya ke panti.
Syila memakaikan pada gadis kecil itu, ''Lihat, kita sama, ini namanya jilbab, wanita beragama Islam di wajibkan memakainya, agar rambut juga lehermu tidak dilihat orang lain,'' namun Mimi nampak bingung.
Syila tertawa canggung, ''Ahh sudahlah, suatu saat nanti kau akan mengerti, namun lihat, kau sangat cocok mengenakannya, iya kan Paman Kai?'' alih Syila pada Kaisar.
__ADS_1
''Tentu saja, Mimi terlihat sangat cantik, sama seperti Bibi Syila,'' kata Kaisar.
''Tapi nanti jepit ini tidak bisa dipakai lagi, jika Mimi menutup rambut Mimi?'' keluhnya.
Syila mengambil jepit rambut itu, ia sematkan di jilbab dekat pelipisnya, Syila mengambil cermin lalu memperlihatkannya kepada Mimi, setelah itu bocah itu begitu bahagia.
Kaisar juga Syila seharian bermain di panti dengan anak-anak, belajar bersama, memberi kuis juga hadiah. Tak terasa keduanya sama-sama melupakan beban mereka, melepas tawa mereka bersama.
***
Dika dan Laura sedang makan bersama, ''Sayang, kau tahu, Syila sudah mempunyai suami.''
''Aku tahu!'' jawab Dika.
''Benarkah? kau tahu jika Kaisar adalah suaminya?''
''Aku tahu!'' jawab Dika lagi.
''Dan kau tahu, wedding cake yang aku pesan itu dari toko kue Syila yang terhubung dengan kafenya juga?'' Laura bicara.
Lalu ia teringat dengan perkataan Syila waktu Syila memutuskan untuk pergi waktu malam dimana Dika dan Laura sedang bercumbu. Dia menghabiskan waktu untuk bekerja demi cita-citanya, dan sekarang dia benar-benar menjadi CEO untuk usahanya sendiri.
Pantas penampilannya waktu di pernikahannya sangat elegan, tapi apa yang Dika tuduhkan malah yang tidak-tidak pada Syila, bahkan dengan terang-terangan Dika memandang hina Syila, karena cemburu.
Laura menatap curiga pada Dika, ''Dika, berhentilah mengejarnya atau mengharapkannya, atau hanya sebatas memikirkannya, dia sudah menikah begitupun denganmu. Ada aku yang sangat mencintaimu, bahkan kita belum melakukan malam pertama kita, aku yakin itu juga karena otakmu hanya fokus dengan wanita itu,'' ungkapan hati Laura.
''Aku kenyang,'' jawab Dika, lalu ia pergi ke kamar, menyambar kunci mobil juga dompetnya. Melewati Laura yang hendak menyusulnya ke kamar.
''Dika, kau mau kemana?'' teriak Laura yang hanya di anggap angin berlalu saja oleh Dika.
Dika mengendarai mobilnya menuju toko kue Syila, terlihat begitu ramai, ia memesan kue yang biasa Ibu Rahma buatkan, pikirnya pasti ada dimenunya disini. Dan benar, memang ada. Lalu Dika beralih ke kafenya, ia melihat lemon tea, Dika memesannya.
Perlahan tapi pasti Dika mencoba menu disana, sama persis seperti racikan Syila. Lidahnya pun tidak bisa melupakan apa yang sudah Syila pernah sajikan untuknya.
''Syila, bagaimana ini? bagaimana dengan hatiku? mengapa menjadi sakit sekali?''
__ADS_1
Matanya menangkap sosok yang baru saja memenuhi pikirannya. Syila. Dari belakang di susul Kaisar, yang langsung menyambar pinggangnya, dan Syila tidak menolak. Hati Dika semakin teriris dan terbakar cemburu.
Kaisar yang menyadari keberadaan Dika dengan sengaja membuat adegan drama romantis.
''Sayang, sebentar,'' Kaisar menahan langkah kaki Syila.
''Ada apa?''
Kaisar seperti membenarkan jilbab yang di kenakan Syila, padahal sudah rapi, ''Aku ingin melihat lagi mata juga bibirmu yang hari ini di penuhi binar kebahagiaan dan terus tersenyum.''
Syila sedikit curiga tadinya, namun mengingat jika suaminya ini memang gila, ia abaikan saja pemikirannya.
Kaisar mengecup ujung kepala Syila yang tertutup itu, lalu menggandeng tangannya. Melihat Dika, lalu tersenyum dengan liciknya.
Dika mengepalkan tangan, ''Jika aku tidak bahagia, maka kau pun tidak Syila! sekalipun perisaimu adalah Kaisar,'' ucapnya, hanya dia yang mendengar.
Ternyata penyesalan, juga sakit ditolak membuat penyakit hati dalam diri Dika semakin rimbun dan memenuhinya. Entah apa yang di pikirkannya, hanya saja ia benar-benar muak melihat Kaisar selalu memamerkan kemesraan mereka di khalayak seperti itu.
Dika memainkan jemarinya di atas meja, mengetuk sesuai irama bergantian. Ia teringat seseorang yang sebenarnya sangat menjadi rivalnya namun sepertinya bisa di ajak bekerja sama.
Dika bergegas pergi dari kafe itu, ini masih sore, seharusnya ia masih bisa menemuinya.
Mobil ia jalankan lagi, dengan mata hati yang tertutup rasa sakit membuat Dika nekat.
Menelusuri jalanan yang padat, ia mengingat-ingat jalan mana yang harus ia lewati.
Dan mobil berhenti, di sebuah rumah sederhana, terlihat sangat berantakan, lebih mirip bangunan untuk uji nyali. Namun tak menggetarkan niat Dika juga.
Ia masuk begitu saja, karena memang pintu tidak terkunci dan sedikit terbuka.
Prangggg... terdengar suara benda terjatuh dan pecah, membuat Dika terkejut. Ia terus mencari sumber suara itu.
Haii para pembaca yang budiman, jangan lupa tinggalkan jejak ya
Biar aku semakin semangat ngehalunya 😍😍
__ADS_1
...****************...