Karma Cinta

Karma Cinta
Royal Wedding Cake


__ADS_3

Malam ini Syila bergelut dengan pikirannya sendiri. 'Apa mungkin semua foto yang dikirimkan peneror itu adalah benar ? Bukan hanya sekedar editan seperti yang Dika katakan kepadaku ?'


''Tuan Kelinci, bagaimana menurutmu ? Apa salah aku mencurigai calon suamiku sendiri. Aku tak ingin begini, hanya saja hatiku berkata demikian.'' Syila melirik boneka kelinci yang nangkring di meja kecil bersisihan dengan buku-bukunya.


''Kau mengapa tersenyum seperti itu Tuan Kelinci !!? Kau sedang meledekku, hah !??''


''Atau kau tahu sesuatu tentang Dika ?'' Syila memicingkan mata, mengambil boneka itu, lalu ia hadapkan dengan dirinya, seolah-olah mereka sedang mengobrol.


''Cihh.. tatapan matamu seolah sedang meledekku juga, awas saja kau tak mau memberitahu sesuatu kepadaku, aku juga akan marah padamu Tuan.''


''Hahhh.. Sebentar lagi mungkin aku benar-benar akan gila.'' Menyadari suasana hatinya yang membuatnya tertekan dengan keadaan, tidak ada tempat berkeluh seperti sebelumnya. Ayah dan Ibu hanya boleh tahu jika aku disini baik dan bahagia.


''Sudah, tutup matamu dan berhenti tersenyum seperti itu. Aku lelah.'' Lagi-lagi Syila menganggap jika boneka itu hidup.


(Kasihan boneka kena sasaran)


Hari ini hari libur, seharusnya Syila pergi bersama Dika seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya. Namun Syila tidak bisa, dia mendapatkan pesanan kue begitu banyak, hingga dia juga harus ikut terjun ke tokonya sendiri.


Sedangkan Dika, dia tetap pergi, hanya beda teman kencannya.


'Semangat untuk kesekian kalinya !! Demi hidup lebih baik, hidup mandiri, tentu demi Ayah dan Ibu.' Serunya dalam hati dengan memegangi liontin dari Ibu.


Syila sudah bersiap dengan apron, rambutnya ia cepol lalu memakai topi khusus agar rambut tidak ada yang terjatuh di adonan. Tangannya juga sudah di bersihkan.


Bergelut dengan adonan kue, mencetak, memanggang, dan menghias membuat perasaannya jauh lebih baik.


Syila sedang membuat pesanan royal wedding cake, begitu mewah dan besar. Ia langsung terjun sendiri tanpa bantuan karyawannya.


Masalah hias menghias sudah menjadi kebiasaan Syila ketika masih belajar dengan sang Ibu, dan kini tangannya semakin terampil karena ia memiliki toko kue sendiri.



Pesanan untuk calon pengantin. Dia tiba-tiba teringat dirinya sendiri yang mungkin juga akan menjadi pengantin.


'Aku juga ingin kue seperti ini nanti ketika aku menikah.'


'Huh.. Aku merasa semakin hari semakin berat berjauhan dengan Dika, pikiranku selalu tidak tenang, apa aku bicarakan saja, aku siap menikah, daripada begini terus, aku dibuat makan hati.'

__ADS_1


Ya Syila meyakini dirinya sendiri untuk menikah, bahkan dia sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan yang di sebut kota. Bukankah dia juga sudah mulai mandiri. Membuat Dika menunggu terlalu lama pikirnya juga tidak baik. Syila sudah takut dengan argument-argument yang selalu bersliweran di otaknya.


Dengan semangat dan percaya diri Syila akan mengatakan keinginannya ini kepada Dika nanti.


***


Di tempat lain, Dika sedang makan siang bersama Laura, di sebuah restorant mewah bergaya klasik.



Memilih makanan kesukaan mereka. Ketika itu Laura tidak sengaja menabrak tamu lainnya, pria dengan pakaian sederhana, celana jeans dan kaos panjang berwarna putih juga sendal ala rumahan. Dia menutupi wajahnya dengan kacamata hitam.


''Huhh kacamatanya di lepas Tuan, agar bisa melihat jika disini ada orang lain juga.'' Sarkas Laura.


Tak berapa lama datang seseorang, bersetelan jas yang terlihat mahal menghampiri pria berkaos putih lalu memberi hormat.


''Ada yang bisa saya bantu Nona ?'' Tanyanya sopan kepada Laura, sedangkan pria berkaos putih itu langsung pergi meninggalkannya.


Laura terbengong tidak percaya, siapa dia, main pergi-pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Begitulah hatinya. Padahal dia sendiri yang tidak melihat jalan tadi, karena keasyikan mengupoload foto selfinya.


''Aku hanya ingin dia meminta maaf padaku !" Jawab Laura enteng.


Sedangkan Dika baru saja datang dari mengangkat telfonnya.


''Ada apa ini ?'' Tanyanya.


''Tadi bosnya menabrakku, bukannya minta maaf malah pergi, terus dia nih yang minta maaf, membuatku sangat kesal saja !" Adu Laura.


''Kami sedang terburu-buru, jika ada yang perlu ganti rugi katakan saja.'' Tak sabar.


''Tidak, terimaksih, pergilah Tuan.'' Dengan mengangguk sopan dia langsung pergi.


''Sayang, kau ini bagaimana seharusnya biarkan saja dia ganti rugi !!'' Protes Laura pada Dika.


''Sudah, sudah jangan merusak suasana.'' Ucap Dika.


Pesanan merekapun segera datang, mereka makan siang dengan sangat mesra.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada gadis lain yang sejak Laura dan Dika masuk restourant terus mengawasi, bahkan saat adegan memeluk, mencium serta suap-suapan ia rekam dalam ponsel canggihnya. Mulanya ia tidak yakin jika pria ini adalah tunangan sahabatnya. Namun saat sesekali wanita itu memanggilnya 'Dika' dia jadi yakin jika memang benar apa yang sedang ia pikirkan.


Selesai, ketika mau menghubungi Syila, ia melupakan sesuatu,


''Ini kan ponsel baru beserta nomornya, aku tidak punya kontak Syila, maupun teman lainnya.'' Talita mendesah lesu.


Ya gadis itu adalah Talita, ia baru saja datang beberapa hari untuk liburan juga untuk menemani tunangannya yang ada proyek di kota ini.


'Sudahlah nanti biar coba kuhubungi teman lainnya lewat medsos.'


Talita memperhatikan kembali pasangan itu, jika memang dia masih tunangan Syila, maka Syila sudah di khianati.


''Kasihan Syila, yang ia anggap pangeran, ternyata pangeran gadungan. Sungguh tidak cocok sekali bersanding dengan Syila.''


Talita yang hanya mengandai-andai jadi geram sendiri. Akhirnya dia memilih pergi dari sana daripada terbawa emosi.


***


Syila kini baru saja selesai mengantar pesanan wedding cake di sebuah hotel berbintang, acara itu akan berlangsung sore nanti.


''Dekorasi yang simple namun mewah.'' Kagum Syila.


''Apa aku nanti bisa memesan seperti ini ya ?'' Andai-andai Syila lagi sambil cengengesan.


''Tidak usah deh, sayang uangnya pasti modalnya sangat fantastis ini, mending untuk memperbesar tokoku.'' Masih berbicara sendiri.


Syila kembali pulang setelah urusannya selesai, dia melihat semacam geng vespa ala anak SMA.


''Ahh mereka sangat manis-manis, aku jadi merindukan sahabat masa SMK ku.''


Lalu langkah kakinya membawanya ke dealer motor. Syila ingin membeli motor, setelah uang hasil berjualan dia sisihkan, dia memilih motor vespa, seperti yang ia lihat di jalanan tadi.


Syila langsung mengendarainya dan berkeliling sebentar, dia membeli motor bekas, karena adanya memang itu dan ia langsung jatuh cinta.


Syila berhenti di tukang bakso, memesannya lalu memakannya di tempat. Lalu ada pria mungkin juga masih SMA yang mendekatinya.


''Haii adik, boleh kenalan ? Anak SMA XX ya ? Kenapa tidak gabung dengan gengnya ?''

__ADS_1


Sontak syila langsung tersedak di panggil adik, lalu di anggap anak SMA.


__ADS_2