
Syila melihat mobil Dika sudah terparkir di halaman rumah, berarti sudah pulang. 'Ehh.. tiba-tiba mendung.' Batinnya. 'Allahumma Shoyyiban Nafi'an.' Belum juga turun hujan, Syila sudah menitip harapan jika hujan benar-benar turun akan menjadikan air hujan itu sebagai rejeki dan keberkahan.
Ya.. langit berubah menjadi sangat gelap, tadinya ada bintang namun sekarang menjadi kelam, Syila datang di jam selesai Maghrib.
Beberapa kali Syila menarik nafas dalam lalu menghembuskannya, begitu berulang kali. Sebelum ia mengetuk pintu.
Mengapa rasanya seperti ini ya.
Tok tok tok
Tidak ada sahutan.
Tok tok tok
Lebih kencang juga tidak ada respon.
Tok... pintu terbuka sendiri.
'Ehh tadi tidak rapat ya menutupnya.' Batin Syila lagi.
Syila berjalan, pandangannya tertuju pada paper bag yang berisikan kue buatannya.
''Dika..'' Ucapnya tertahan dan terhenti.
Belum selesai berkata, paper bag yang berada ditangannya terjatuh, isinyapun berceceran keluar, toples berpita yang sudah cantik itupun pecah, kala pandangannya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya kembali terpompa lebih cepat dan sangat cepat, membuat dadanya semakin sesak, oksigen ? Dimana oksigen saat ini, rasanya bumi sudah kehabisan oksigen.
Syila tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Dikanya... Bibirnya tak mampu berkata lagi. Mata sudah memanas apa lagi hatinya, mungkin sebentar lagi akan hancur menjadi debu yang tak beraturan.
Syila mendapati calon suaminya sedang bercumbu dengan panasnya dengan wanita lain, wanita yang ia sebut partner kerja dan masa lalunya.
Ingin rasanya berlari keluar dan menangis, namun langkah kakinya malah membawanya mendekat kepada dua sosok mesum itu. Dimana Laura sedang berada diatas pangkuan Dika, saling berhadapan, bercumbu, dan tangan Dika yang tak tinggal diam.
__ADS_1
Dika terlonjak kaget, dia sangat terkejut, bahkan dia panik, rasa bersalahnya semakin menjadi, ada rasa takut juga.
''Syila ?'' Panik dan takutnya menyelimuti dirinya, bahkan panas karena gairah yang sempat ia rasakan kini melebur tak tersisa.
''Apa yang kalian lakukan ? Apa seperti ini pekerjaan kalian selama ini ? Inikah yang kau sebut partner kerja ?'' Syila ingin menangis tapi matanya tak mau mengeluarkan air mata.
Duarrr..!!! Suara petir menyahut, seolah ikut serta mencibir sakitnya seorang Syila yang di khianati oleh calon suaminya sendiri.
Hujanpun datang dengan derasnya, seakan menjadi perwakilan saat airmata yang tidak dapat keluar dari sarangnya.
Syila memandang Laura penuh hina. Kancing baju kemeja yang terbuka memperjelas isi didalamnya, ada tanda merah banyak sekali disana, rok yang sangat minim. Syila menggelengkan kepalanya tak percaya.
Dan pakaian Dika, kancing baju kemejanya sudah terlepas semua, menampilkan otot perut yang bahkan Syilapun malu untuk meliriknya.
''Syila, kau kemari tanpa mengabariku, aku bisa menjelaskan semua ini padamu.'' Kata Dika dengan bodoh.
''Untuk apa aku memberitahumu jika niatku kemari ingin membawa kejutan, tapi ternyata kau telah menyiapkan kejutan yang jauh dari ekspektasiku sendiri. Kau berhasil membuatku terkejut, mungkin juga sampai terkena serangan jantung.'' Ucapnya penuh kecewa.
''Kau akan menjelaskan apa ? Bahwa kalian tidak sengaja melakukannya atau karena masa lalu yang kalian rindukan, maka sengaja melakukannya ?'' Geram Syila.
Laura hanya menjadi penonton bahkan dia dengan santai memperbaiki penampilannya, duduk dengan anggun menyilangkan kaki dengan meminum minumannya. Bak menonton sebuah drama secara live. Ketika Syila meliriknya, Laura hanya tersenyum penuh ejekan dan kemenangan.
''Syila, aku hanya berusaha menjagamu, menjaga kehormatanmu seperti yang kau pinta.'' Tutur Dika dengan bodohnya.
''Tapi kau tak menjaga hatiku Dika !'' Lantang Syila.
''Kau tak menjaganya sedikitpun, bahkan kau menghancurkannya tanpa sisa !''
''Syila mengertilah, aku mencintaimu, namun sebagai pria aku juga membutuhkan sentuhan aku tak mampu menahannya dan itu tidak kudapat darimu, walau hanya sebuah ciuman.'' Sesal Dika tiada tara.
Syila tak habis pikir dengan otak Dika.
__ADS_1
''Apa definisimu tentang mencintai itu hanya bercumbu dan **** ?!! Aku menolakmu karena aku ingin memberikannya kepadamu nanti, sebagai tanda hormatku sebagai wanita yang akan kau jadikan istri.'' Sesak batin Syila.
''Seharusnya kau bisa menahannya Dika, menjadikannya sebuah hadiah untuk pasangan hidupmu kelak. Bukan bertindak seperti binatang begini !!" Hardik Syila, ia sudah tak mampu menahan emosinya. Rasa sakit ini benar-benar menggerogoti hati dan bahkan jiwanya.
''Kau tahu, selama kau pergi dinas aku selalu mendapatkan teror foto tentang kemesraan kalian,'' matanya terpancar kekecewaan yang mendalam, ''tapi aku tetap berusaha mempercayaimu, sebagaimana yang pernah kujanjikan kepadamu, aku berusaha menekan segala macam rasa dalam batinku. Lalu kau ingin benar-benar tahu, kenapa waktuku sangat tersita waktu itu ? Kala itu aku kuliah dengan bekerja di sebuah kafe ternama, untuk apa aku bekerja kau ingin tahu, hm ? Untuk mewujudkan impianku membuka toko kue seperti yang pernah kuceritakan padamu waktu lalu jika kau masih mengingatnya, aku ingin membuktikannya kepadamu juga Ayah dan Ibu !!'' Nafas Syila tersenggal-senggal.
''Apa kau tahu, bagaimana aku melewati drama di kampus karena ada kakak kelas yang selalu menggangguku, aku bahkan harus menjadi perisai untuk diriku sendiri disaat banyak cibiran yang ditujukan untukku karena aku menolak senior mereka itu.'' Dika mendengarkan dengan hati terluka dan tak percaya jika selama ini apa yang dia pikirkan tentang Syila itu salah.
''Dan terakhir kita bertemu, kau menuduhku sedang berkencan dengan pria ingusan ? Aku bahkan tidak mengenalnya, tapi kau Dika...'' tuding Syila tepat diwajahnya, ''Kau yang sedang berkencan, mendua, bahkan mengkhianatiku !!'' Syila mengatur nafasnya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, memperkuat hati juga tubuhnya sendiri.
Syila melepaskan cincin dijarinya.
''Fine, aku pergi, dan ini..'' Syila mengangkat tinggi-tinggi cincin pertunangan mereka, ''Ambil !!'' Syila membuangnya tepat diwajah Dika.
''Aku akan mengatakan pada Ayah Ibu pertunangan dibatalkan, dan tenang saja aku tidak akan memakai alasan menjijikan ini, aku tak ingin membuat Ayah dan Ibu mempunyai pandangan jijik seperti yang kurasakan padamu saat ini.'' Syila berlalu.
Dika mengejarnya, Laura membiarkan Dika melanjutkan dramanya dengan Syila.
''Syila kumohon maafkan aku, jangan begini, jangan mengakhirinya, aku yang salah, hukum saja aku, tapi kumohon jangan mengakhiri hubungan kita !!'' Pinta Dika dengan mencoba meraih tangan Syila, namun Syila menghempaskannya.
''Jangan menyentuhku Dika, sedikitpun jangan pernah, walaupun itu hanya bayanganku !!''
Dika yang mendengarnya merasa miris, semenjijikkan itukah dia dipandangan Syila.
''Aku tanya, apa yang membuatku harus mempertahankan hubungan kita ? Cinta ? Cuihh...'' Syila meludah.
''Bedebah tentang cinta, otakku masih waras, aku memilih kewarasanku daripada cintaku !"
Syila pergi beberapa langkah lalu menoleh pada Dika kembali, ia teringat kejutan apa yang ingin ia sampaikan pada Dika.
''Dika, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu hari ini,'' Syila meyakinkan dirinya sendiri, ''Aku tadinya ingin menyampaikan bahwa aku siap kau pinang, aku siap menikah dalam waktu dekat ini, tapi anggap saja hal tadi hanya angin berlalu.'' Ucap Syila penuh kepedihan.
__ADS_1
...****************...