
Sepanjang perjalanan aku melamun, tepatnya memikirkan ungkapan perasaan Dika.
Jawaban apa yang harus kuberi. Sedangkan aku belum yakin dengan apa yang kurasa pada Dika.
Sesekali Dika mengusap tanganku yang berada diperutnya. Mengapa begini saja sudah menciptakan sensasi.
***
Setelah perjalanan panjang penuh dengan ketegangan yang aku rasa. Akhirnya motor memasuki halaman rumah. Ayah dan Ibu masih diluar, tumben sekali.
Dika ikut turun dengan membawa kantong plastik berisi martabak telor yang masih hangat. Tadi sempat berhenti membelinya dulu.
Dika menyalami kedua orangtuaku.
''Kamu baik-baik saja kan, nak ??'' Tanya Ayah dengan nada bercanda namun juga dengan mata menelisik ke arahku.
Ayah ini pertanyaan apa coba. Membuatku malu di depan Dika.
''Tenang Yah, sesuai amanat Ayah, anak gadis Ayah tidak ada yang kurang sedikitpun.'' Jawab Dika dengan memberikan bingkisan tadi.
Iya tidak kurang. Tapi berlebihan, dia membuat jantungku kualahan menerima getaran hebat Yah. Ingin aku mengadunya.
''Harus, kalau tidak lihat saja konsekuensi yang akan kau dapatkan !'' Ancam Ayah.
''Di suruh menikah ?'' Jawaban Dika berupa pertanyaan yang tak kalah jenakanya dengan melirikku.
Aku yang mendengar kata menikah langsung bergidik ngeri. Aku masih pelajar dia sudah membahas menikah saja.
''Kepalamu !! Anak Ayah masih pelajar, kau mau mengurusi bocah ingusan seperti Syila ??''
Lalu Ayah mengamati wajah Dika.
''Ada apa dengan wajahmu Nak ??''
''Ahh... Ohh ini... Biasa Yah tadi ada yang mau jadi jagoan. Terkena sedikit.'' Jawab Dika tak mau membahas secara detail tentang kejadian tadi.
''Jangan sok jagoan. Untung hanya sedikit. Coba kalau banyak. Bisa-bisa dia tidak mau melirikmu karena wajah tampanmu menjadi hancur.'' Jawab Ayah dengan melirikku lagi.
Dika hanya tersenyum manis. Aku yang menjadi topik pembicaraan merekapun hanya mengerucutkan bibir. Ayah ini apa sih..
"Besok jadi berangkat ke ibu kota, nak ??'' Tanya Ibu.
Lohh Ibu malah sudah tahu.
''Jadi Bu, lusa sudah harus kerja lagi.'' Jawabnya.
''Mampir kemari dulu ya.. Ibu buatkan kue kesukaanmu dan Arief. Nanti tolong berikan kepadanya juga.'' Titah Ibu.
Dika mengiyakan perintah Ibu.
Setelah pembicaraan yang ngalor ngidul tidak berfaedah aku pamit masuk lantaran sudah mengantuk begitupun Dika yang langsung pamit pulang.
***
__ADS_1
Paginya. Masih pagi namun sudah tercium aroma manis dari dapur. Ibu benar membuat kue.
Aku menyusul Ibu.
''Pagi Bu..'' Sapaku dengan ku kecup pipi kanan yang sudah mulai keriput itu.
''Pagi sayang.."
''Ini sungguh untuk Dika, Bu ??'' Pasalnya Ibu membuat kue sudah 5 toples.
"Iya juga buat sepupumu Arief.''
''Bu..'' Aku ingin meminta pendapat Ibu, tapi mengapa malu.
''Ada apa ? Ingin bercerita tentang kencanmu semalam ?'' Tebak Ibu.
Aku jadi malu. Karena tebakan Ibu benar, aku nyengir begitu saja.
''Menurut Ibu, Dika itu bagaimana, Bu ?''
''Emmm anaknya baik, sopan, Ibu rasa dia juga dewasa dan bertanggungjawab. Mengapa memang ?'' Kali ini Ibu yang memberi pertanyaan dengan menatapku lekat.
Lalu dengan malu-malu aku ceritakan permintaan Dika semalam.
Entahlah, walaupun aku mempunyai teman di sekolah tapi, aku merasa teman sesungguhnya ya hanya Ibu.
''Mengapa tanya kepada Ibu, Ibu sudah punya Ayah..!!'' Sarkas Ayah tidak terima, Ibu aku mintai pendapat tentang pria lain. Uhh begitu mencintainya kah Ayah kepada Ibu.
Ibu yang mendengar keposesifan Ayah pun hanya menggelengkan kepala dengan seulas senyum.
''Itu bagaimana hatimu saja, masalah perasaan jangan tanya kepada orang lain. Tapi pada dirimu sendiri. Karena kau yang merasakan, sedangkan Ayah maupun Ibu pasti akan bahagia jika kau bahagia.'' Tambah Ayah. Mengecup pipiku lalu pipi Ibu. Dengan tangan yang menyomot kue yang hampir saja masuk ke dalam toples.
Aku senang mendengar penuturan Ayah yang memberi kebebasan untukku memilih.
''Bagaimana kalau Tuan Saga Yah, Bu.." Ucapku ketika aku teringat tokoh novel yang membuatku tak berhenti berhalusinasi, mengharapkan seorang pria yang nyata seperti dia suatu saat nanti.
''Siapa dia ?'' Tanya Ayah. Lalu aku ceritakan dengan serius dari A hingga Z siapa Saga itu. Ayahpun tak kalah seriusnya mendengarkan dan menanggapi. Berbeda dengan Ibu yang nampak ingin tertawa melihat reaksi Ayah tentang cerita haluku.
'' Woooaaahh... Kau bertemu dimana nak ?? Harusnya kau kenalkan kepada Ayah.'' Ucap Ayah menggebu-gebu.
Aku bertos ria dengan Ibu secara diam-diam, mengerlingkan mata jahilku. Memberi kode seolah berkata yes kena. Ibu hanya menggelengkan kepalanya sembari menahan tawa.
''Di buku novel favoriteku Yah, kami bertemunya dalam dunia halusinasi.'' Jawabku sesantai mungkin.
Sontak Ibu tertawa dengan keras akupun begitu melihat Ayah yang terlihat cengo. Lalu sebelum Ayah benar-benar sadar karena telah aku kerjai aku sudah mengeluarkan jurus seribu kakiku. Menuju kamar lalu menguncinya.
"Arsyilaaaa...." Teriak Ayah.
Tawaku semakin pecah.
"Iya Ayah.. aku sungguh mencintaimu, sungguh hanya Ayah !!" Jawabku dengan teriakkan juga.
***
__ADS_1
Selesai dengan urusanku di kamar, aku keluar. Mencari keberadaan Ayah. Ibu sedang berjalan membawakan 3 cangkir teh hangat dari dapur.
Lalu samar-samar aku mendengar Ayah bicara dengan orang lain.
Saat aku melihatnya ternyata Dika.
Wahh jantungku kambuh lagi. Ini apa perlu aku cek up ke dokter ya.. sepertinya ada yang keliru.
" Sayang, bawakan kue di meja dapur itu kemari." Titah Ibu. Otomatis semua mengarah kepadaku. Aku jadi salah tingkah sendiri di tatap mereka. Khususnya Dika. Dia pasti akan menanyakan jawabanku tentang tragedi semalam.
Akupun masuk kembali lalu mengambil apa yang di suruh Ibu.
Ini masih terlalu pagi mengapa dia sudah disini. Batinku.
''Ini Bu..'' Ibu mengambilnya.
''Ini bawa,, Ibu sudah buatkan. Bagikan juga untuk rekan kerjamu ya atau tetanggamu.'' Kata Ibu.
Ibu pamit masuk mau menyiapkan sarapan. Sedangkan Ayah di suruh Ibu pergi ke kebun untuk mengambil beberapa sayuran di sana.
Tinggallah aku dan Dika.
Aduh suasana yang aku tidak suka ini. Aku ambil dan ku minum teh buatan Ibu tadi. Mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba datang menyerang.
Dika menatapku lekat. Dalam begitu sangat dalam.
''Bagaimana ??'' Tanyanya.
''Apa ?'' Pura-pura tidak tahu.
''Yang semalam, apakah sudah ada jawabannya. Aku butuh sekarang juga.'' Tegasnya.
Kutarik nafas dalam. Bagaimana ini. Disisi lain aku masih tak ingin menjalin hubungan apapun dengan pria lain. Dan disisi lainnya lagi, aku juga tak mau kehilangan perhatian dari sosok pria yang kini sedang menatapku.
''Bisakah kita jalani saja dulu ?'' Jawabku.
Dika nampak menaikkan alisnya. Seperti bertanya maksudnya bagaimana.
''Kau benar, aku masih terlalu takut membuka hati karena luka yang belum kering. Tapi disisi lain, kau.. aku..'' Duhh segugup ini sih.
''Apa katakan dengan jelas !! Kau kenapa.. aku kenapa ??'' Tanya Dika tak sabar.
''Aku tak mau kau berpaling dariku. Apa lagi dengan perhatianmu selama ini untukku. Aku merasa sedikit di pedulikan. Dan itu membuatku senang.'' Menunduk dalam. Akupun tak mengerti mengapa kalimat seperti itu yang meluncur.
**Hello readers... semoga berkenan ya.. maaf kalau masih banyak kurang dan typonya.
Jangan lupa like, koment, dan vote. Juga tambahin ke list favorite kalian.
Aku mencintai karyaku sendiri dan aku berharap kalian juga bisa mencintai karyaku yang amatiran ini.
Thank you yang udah mampir dan meninggalkan jejak**.
****
__ADS_1