Karma Cinta

Karma Cinta
Permohonan


__ADS_3

Setelah itu mereka bertukar nomor ponsel lagi, Syila pamit ingin menyusul Ayahnya. Talitapun melanjutkan perjalanannya.


Ayah sedang memilah tanaman dari rumput liar, agar tak mengganggu tumbuh kembang sang tanaman. Aku duduk di gubuk sembari memperhatikan Ayah, embun pagi masih terasa, dedaunan yang lembab dan pagi yang tak secerah biasanya.


'Wahai langit mengapa kau juga menjadi sendu begini, apa kau juga merasakan kesedihanku ?'


Tanyanya meminta pendapat pada sesuatu yang tak bisa bicara.


''Ayah, Syila bisa bantu apa ?'' Teriak Syila agar Ayah mendengarkan.


Bukannya menjawab, Ayah malah menghampiri Syila, dan duduk bersila kaki meminum teh buatan putri tersayangnya.


''Apa teh ini masih kau beri resep cinta yang luas sekali ?'' Tanya Ayah usai menyicipi teh yang masih panas itu.


Syila terkekeh mendengarnya, ''Tentu Yah, bahkan cinta yang tak pernah Syila berikan untuk orang lain, hanya Ayah dan Ibu saja.'' Ucapnya lantang.


Ayah tersenyum hangat.


''Yah, Syila sepertinya tidak ingin mengenal pria manapun lagi.'' Ucapnya tiba-tiba setelah beberapa saat mereka saling diam menikmati udara sejuk bercampur embun.


''Mengapa ?'' Tanya Ayah.


''Sepertinya tidak ada pria yang tulus dan sebaik Ayah, aku tak bisa mempercayai pria asing lagi.'' Kata Syila menyiratkan kekecewaan yang mendalam.


''Kau hanya terluka sayang, jika lukamu sudah sembuh kau tidak akan berfikiran jika semua pria sekejam itu.'' Balas Ayah.


Syila terdiam, pandangannya lurus menerawang hari-hari yang sudah berlalu. Ia mengingat bagaimana dua orang pria yang menjelma menjadi preman hampir melecehkannya, seniornya yang juga terus mengganggunya, ada Adji yang mengkhianatinya, dan kini juga Dika pria yang sepenuhnya ia percaya juga menggoreskan luka.


'Bagaimana aku bisa percaya, pria yang kuberi hati dan cinta selalu membalasnya dengan luka.'


''Mungkin begitu, tapi untuk saat ini, Syila tak ingin berbagi cinta dengan pria manapun selain Ayah.'' Syila meyakini ucapannya.


''Ayah mengerti.'' Ayah tulus.


Hari semakin mendung, Ayah dan Syila memutuskan untuk kembali pulang. Tak henti-hentinya Ayah bercerita, cerita recahan yang membuat Syila tertawa terbahak.

__ADS_1


''Ada lagi, Pak Mamat, diajak ngeronda malah tidur dengan pulas di pos, sama temannya di beri pohon pisang lalu dibungkus dengan kain putih, lalu diikat tepat diatasnya, sontak dia terbangun ingin buang air kecil, langsung buang air kecil ditempat alias ngompol. Dengan berkata ''Ampun jangan ganggu saya, saya orang baik, hanya sesekali melakukan khilaf mari hidup berdampingan dengan tentram.''.'' Ayah memperagakan ekspresi Pak Mamat.


Syilapun tertawa terpingkal-pingkal melihat Ayahnya memainkan drama seperti itu. Sudut matanya sampai mengeluarkan air.


Di sela-sela tawanya, ''Yah sepertinya kita mempunyai tamu.'' Sadar ada motor asing yang terparkir di halaman rumah.


Syila masuk masih dengan sisa tawanya, Ayah menaruh cangkul yang sempat ia bawa tadi di gudang samping rumah.


Deg...


Syila langsung menghentikan tawa juga langkahnya. Kebahagiaannya tiba-tiba terenggut tergantikan oleh rasa sakit yang beberapa waktu lalu sudah mulai lupa.


Syila berjalan berlalu, mata Dika terus memperhatikan Syila.


''Syila kita perlu bicara ! Kumohon.'' Kata Dika.


Syila menghela nafasnya, rasa sakitnya menyeruak memenuhi rongga hatinya. Ibu keluar dari dapur mengantarkan minuman untuk Dika.


Tepukkan lembut dibahu Syila menyadarkan dari lamunannya. Ayah. Kapan dia masuk.


''Apa yang perlu dibicarakan Yah, seharusnya dia mengerti dengan apa yang Syila katakan waktu itu.'' Kata Syila masih tanpa memandang siapapun, ia membelakangi orang-orang di sekitarnya.


''Syila kumohon...'' Belum selesai kalimat Dika sudah dipotong oleh Syila dia membalikkan tubuhnya menghadap Dika.


''Sudah kukatakan jangan datang untuk memohon. Jika kau meminta maaf, sudah kumaafkan, tapi jangan memohon untuk yang lainnya.'' Sarkas Syila.


Dika menjatuhkan lututnya, bersimpuh pada Syila, membuang harga dirinya sebagai pria.


''Aku menyesal Syila, aku yang salah hukum aku, apapun itu asal jangan mengakhiri hubungan kita.''


Tercubit hatinya, sangat sakit, tapi bagi Syila tidak ada toleransi bagi sebuah pengkhianatan, apalagi itu baru sebatas pertunangan, belum ada tuntutan harus mempertahankan seperti sebuah rumah tangga.


Syila juga berat, lagi-lagi harus melepas orang yang mulai memenuhi hatinya, namun rasa sakit dari pengkhianatan yang di lakukan dengan kesadaran dan akal sehat itu terlalu merobek hatinya juga.


Dika mencoba meraih tangan Syila, dengan cepat Syila menghempaskan, ''Sudah kubilang jangan menyentuhku ! Sedikitpun itu, bahkan dengan bayanganku jangan pernah menyenguhku !!'' Dengan menuding Dika lagi.

__ADS_1


Marah Syila, dia kehilangan kendali, orangtua Syila yang menyaksikannya juga terkejut, Syila bisa sekasar itu.


''Pergilah Dika, kau tak perlu menguras tenangamu untuk hal ini.''


''Ayah, Ibu aku pergi ke kamar dulu, LE LAH !!'' Kata lelah ia beri tekanan yang berbeda. Syilapun berlalu, sedangkan Dika sudah berdiri dari memohonnya.


''Duduklah ada yang ingin Ayah bicarakan padamu.'' Ayah membuka obrolan.


''Ayah tidak tahu apa masalah kalian hingga membuat Syila sampai begitu murkanya, Ayah juga terkejut dengan kemarahannya tadi. Tapi dari sana Ayah melihat dia sangat kecewa dan terluka. Kau tahu, kemarin ia datang walau bibirnya terus mencoba tersenyum tapi matanya menyiratkan kesedihan dan luka. Dia meminta untuk membatalkan pertunangan kalian. Jadi, tolong hargai keputusannya.'' Ayah mencoba membuat Dika mengerti.


''Ayah juga tidak mau membantuku ? Aku mencintai putri Ayah.'' Masih dalam permohonan.


Ayah sedikit geram.


''Jika kau benar-benar mencintai putriku, seharusnya kau bisa menjaga hatinya, bukan malah menghancurkannya.''


''Itu salahku Yah, aku menyesal, tapi bukankah setiap manusia pasti melakukan salah, kenapa dia tidak memberiku kesempatan ?'' Masih membela diri.


''Ayah tahu, tidak ada makhluk sempurna, kesalahan pasti ada. Namun jika makhluk itu punya akal, pasti dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama berkali-kali. Itu namanya di sengaja. Dan masalah kesempatan, Ayah pikir Syila sudah memberikanmu kesempatan, kesempatan untuk bahagia dengan pilihanmu sendiri.''


Kata-kata Ayah begitu menohok, sepertinya memang sudah tidak ada restu lagi darinya karena kesalahannya sendiri.


''Kami minta maaf, kami ingin membatalkan pertunangan ini. Pulanglah jangan menyiksa dirimu seperti ini. Dan tolong berlapanglah dengan keputusan Syila. Saran Ayah, lain kali sebelum berbuat pertimbangkan akibatnya dulu agar kau tak tersiksa dengan penyesalan.''


Dikapun pulang dengan segala penyesalan dan kecewanya. Kecewa karena Syila tidak memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.


Dia marah, marah dengan dirinya sendiri, sampai ia tidak sadar dengan motornya yang melaju dengan sangat kencang.


Menerobos lampu merah yang saat itu sedang ramai-ramainya. Kecelakaanpun tidak bisa terhindari.


Dika terkapar ditengah jalanan, tubuhnya terpental dari motornya, ia beradu dengan truk pengangkut sampah.


Dika langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Mendapatkan penanganan terbaik.


Pihak rumah sakit menghubungi kerabat Dika, dan nomor Bibi Liyana yang terakhir melakukan panggilan dengannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2