
Aku pulang dengan hati yang tidak baik-baik saja. Apalah daya walau bibirku berucap tidak apa-apa ternyata sisi lain dari hatiku begitu pelik.
Sepulang kuliah ini, Fanya mengajakku pergi berkeliling, dia yang membawa vespaku, aku hanya duduk manis sambil menikmati jalanan saja. Entah kemana ia berjalan, berbelok kekanan lalu kekiri sesekali berputar, memutari bundaran yang ada ditengah-tengah jalan. Hah dia ini membuang waktuku saja, batinku protes, namun aku tak menolak dengan tindakannya itu.
Ia berkata, jika semenjak ditunjuk menjadi asisten dosen dan tokoku berkembang, hidupku menjadi sangat kaku dan monoton. Dia merasa kasihan denganku karena seperti tidak mempunyai waktu hanya sekedar merefresh otak. Memang benar aku juga kadang merasa seperti itu, hanya saja aku tak mau mengeluh. Bukankah ini sebuah proses menuju apa yang kumau ?
Fanya menghentikan laju vespanya. Berhenti tepat di pinggir taman, ''Syila lihat, sepertinya disini sedang ada acara, hiasannya mewah sekali.'' Aku mengikuti arah yang ditunjuk oleh Fanya. Iya Fanya benar, dekorasi yang mewah memang, taman sederhana terlihat elegan oleh tangan-tangan kreatif event organizer.
Aku memperhatikan tulisan ditengah panggung.
Deg
'Happy engagement Dika Vishaka & Laura Yunanda.'
'Disini mereka akan melakukan acara pertunangannya ?' Tanyaku pada diri sendiri.
Lalu kupegang dadaku, tepat dijantungku, detakannya semakin kencang yang diiringi dengan rasa hatiku yang sakit. Mengapa begini, aku yang menginginkan mengakhiri hubungan kami, tapi mengapa aku merasa sangat tidak rela. Bahkan takdir seperti mendukungku, membuat Dika melupakanku dengan cara sangat singkat, tapi bukan itu yang kumau. Aku merasa di campakan, setelah mendua dariku, mereka malah bahagia, sedangkan aku masih merangkak bangun dari keterpurukkan.
''Fanya bisakah kita pulang saja ?'' Aku lelah, lelah dengan hati yang lagi-lagi tak sekuat karang, masih saja seperti tahu, lembek, jika itu berhubungan dengan Dika.
Kamipun pulang, Fanya tidak banyak protes walau terlihat sangat penasaran dengan diriku yang tiba-tiba mendung.
***
Sampai di ruko aku sudah kedatangan brondong manis, Rayhan.
Kuubah mimik wajahku seceria mungkin, mencoba menutupi rasa sedihku.
''Ray.'' Sapaku.
''Kak, kau baru pulang ? Aku menunggumu satu jam lebih.'' Laporannya.
''Oh ya ? Sudahkah kau merasa bosan menungguku ?'' Godaku. Terlihat Ray menjadi salah tingkah.
__ADS_1
''Tadinya, tapi melihat Kakak kembali rasa bosanku menghilang.'' Aku tergelak mendengarnya berkata seperti itu. Aku tak pernah menganggapnya serius, hanya candaan semata. Dia ini lucu, bisa mengantarkan tawa untukku, aku menganggapnya sebagai adik saja, karena memang usianya lebih muda dariku.
''Ada apa Ray ? Kau sampai rela menungguku sangat lama ?'' Tanyaku kembali pada topik awal.
''Aku ingin mengajakmu minum kopi, apa Kakak ada waktu ?'' Ray terlihat gugup, ada apa padahal cuma mengajak minum kopi.
''Aku lelah sekali sebenarnya, jika kau mau, kita minum kopi disini saja ya, aku buatkan untukmu.'' Tawarku yang memang sedang buruk moodnya. Rayhan mengangguk setuju.
Aku pergi ke dapur meracik kopi, dan kubawa beberapa potong kue. Aku sendiri memilih es cokelat.
Kami duduk disamping ruko, sebuah taman kecil dengan dua kursi dan meja yang mungil.
Tidak ada obrolan, aku masih mencoba membangkitkan moodku. Sedangkan Ray ? Entahlah dia kenapa ? Dia terlihat berbeda dan aneh.
''Ray, kau kenapa ? Kau sakit ?'' Tanyaku. Rayhan nampak terkejut, karena sedari tadi pikirannya seperti tidak bersama raganya.
''Emm Kak aku ingin bicara.'' Ucapnya ragu.
''Kak..'' Aku menunggu kalimat selanjutnya.
''A.. A.. Aku...'' Masih sabar.
''Emmm... Aku..'' Mulai menipis sabarku.
''Katakan Ray, kenapa tiba-tiba kau menjadi gagu begitu ?''
''Aku memyukaimu !'' Kata Ray secara spontan.
''Aku tahu itu, kalau kau tak memyukaiku, kau tak akan sering-sering kemari membeli kue dan mau berteman denganku.'' Jawab Syila tidak koneks dengan maksud Ray.
''Bukan suka yang itu Kak, tapi suka selayaknya pria kepada wanitanya, aku tertarik dengan Kakak semenjak pertama kali aku melihatmu. Sampai aku tidak bisa melupakanmu walau aku dalam keadaan tidur.'' Syila termangu tak percaya. Pria setengah matang ini sedang menggombali Syilakah.
''Heiii bocah, sekolah dulu lulusin, baru berkata suka sebagai lawan jenis kepadaku.''
__ADS_1
''Kak tapi bukannya cinta itu tidak memandang usia apa lagi status ? Begitu yang kurasakan saat ini, aku tak melihat sebuah perbedaan dengan usia atau status diantara kita.'' Syila mengehela nafasnya berat.
''Rayhan, aku terlalu sibuk untuk memikirkan masalah cinta-cintaan, kau benar cinta itu buta tidak bisa memandang sebuah perbedaan. Tapi maaf. Aku benar-benar tidak mempunyai rasa untukmu selain sebagai teman. Atau sebagai Kakak kepada Adiknya.'' Jelas Syila.
''Jika iya, aku menyukaimu sebagai wanita pada prianya, lalu kita pacaran, aku yakin kau tak akan mampu menghadapiku. Apa lagi dengan waktuku yang sangat padat.''
'Kau juga akan melampiaskan kesepianmu kepada wanita lainkan, seperti yang Dika lakukan padaku saat itu.'
'Kenapa malah rumit begini, ini bocah !'
''Aku patah hati sekarang.'' Wajahnya dibuat sesedih mungkin. Syila tertawa melihatnya.
''Kau ini lucu, aku akan membawakan kue untukmu, berikan juga pada Mamimu. Setelah itu pulang dan belajarlah dengan sungguh-sungguh, kau tahu wanita itu ingin mempunyai pendamping yang mapan, dan menuju mapan kau harus berjuang mulai dari pendidikanmu. Kalau masalah tampan, kau sudah memilikinya tanpa diminta.'' Nasehat Syila untuk bronisnya itu.
Rayhan kini yang tertegun, 'Dia dewasa, dia pasti ingin pria yang bukan hanya sekedar mampu mengucapkan good night dan i love you tiap harinya.'
Merasa belum pantas bersanding dengan Syila akhirnya Ray memilih mudur dulu, mundur untuk memperbaiki dirinya, dan akan kembali ketika dia sudah mapan seperti yang Syila bicarakan tadi.
Syila sudah membawa plastik berisi box kue, ''Ini bawalah, untukmu juga Mamimu.''
Ray masih saja diam, namun matanya tak berkedip menatap wajah yang berbalut dengan hijab.
''Ray...!''
''Eh iya terimakasih Kak, Mami pasti suka.''
Rayhan sudah melangkah ingin pulang, sebelum sebuah perkataan menghentikan kakinya.
''Berjuanglah untuk dirimu sendiri Ray, untuk hidup lebih baik, jangan pernah mengharapkan sesuatu yang terlihat tidak mungkin untukmu gapai. Kau pasti akan menemukan wanita yang lebih pantas untukmu, untuk bersanding denganmu suatu saat nanti daripada diriku.''
Ray berhenti, ''Aku akan berjuang demi apa yang kuinginkan, termasuk cinta Kakak, suatu saat nanti aku akan kembali untuk itu. Jadi Kakak hanya perlu menunggu waktu itu tiba. Aku pastikan Kakak juga akan menyukaiku.'' Ucapnya tanpa menoleh, setelah itu berlalu meninghalkan Syila dan toko kuenya.
'Dasar pria, kau bahkan belum mengerti bagaimana rasanya merindu namun tak mampu menggapainya. Aku sudah bilang jangan mengaharapkanku. Karena aku tabu untukmu, Ray.' Syila masuk ke toko, ikut para pegawainya bekerja, semampunya karena memang ia bosnya.
__ADS_1