
Ditempat lain disebuah taxi, Ayah dan Ibu Syila berada. Mereka memilih jalanan yang agak senggang.
''Pak, percepat sedikit kami sudah sangat telat.'' Protes sang Ayah yang sedari tadi tidak tenang dalam duduknya, memikirkan Syila yang pasti akan sedih sekali. Ibu mencoba menenangkan Ayah, bahwa semua baik-baik saja. Sang sopir taxipun menambah laju kecepatannya.
Didepan taxi itu tiba-tiba ada sebuah mobil yang melintas dari arah belokan pertigaan namun pengendaranya tidak melihat ke arah jalan. Mobil milik Kaisar.
Kaisar sedang menelfon klien pentingnya, namun earphone yang ia kenakan terjatuh, ia mencoba meraba sekitar terjatuhnya benda kecil itu tanpa mengetahui ada taxi yang melaju kencang. Karena tadi jalanan memang sepi.
Mereka sama-sama terkejut, sang sopir taxi mencoba menghentikan laju mobilnya namun ternyata remnya tidak berfungsi dengan baik. Begitu juga dengan Kaisar, dia membanting stir ketika mobil mereka sempat berserempetan.
Mobil Kaisar membentur pohoh besar, sedangkan mobil taxi terjun ke jurang setelah menabrak pembatas jalan dan menghancurkannya. Kedua penumpangnya terpental keluar dari mobil. Dan kepalanya langsung terhantam batu dan pepohonan. Sedangkan sang sopir taxi mengikuti arah mobilnya melaju.
Kecelakaan yang tidak dapat dihindari memang. Kaisar bangun, ia mencoba menyadarkan dirinya. Lalu dengan buru-buru Kaisar mencari taxi itu, terlihat dari atas sana dua orang yang terkapar lemas tak berdaya dengan darah yang mengalir disekitar kepalanya.
Sebelum Kaisar turun, datang mobil menghampirinya, dia adalah Ayah Kaisar beserta Ibunya.
''Ada apa Kai ?'' Tanya sang Ayah ketika melihat putranya berdiri dipinggir jalan.
''Ayah bantu aku, disana ada korban kecelakaan !" Tunjuk Kaisar kebawah jurang.
Mereka turun ke jurang dengan susah payah. Dan Ibu Kaisar menelfon ambulan. Kebetulan posisi mereka saat ini dekat rumah sakit.
''Herman ?!!" Terkejut Ayah Kaisar ketika menemukan siapa korban kecelakaan itu. Ia juga memeriksa sopir taxi, namun sudah tak bernyawa.
Dengan tertatih keduanya merangkak naik, bala bantuan dari warga yang melintaspun datang. Ambulan juga segera datang.
''Herman sadarlah, bertahanlah, kita belum meminum kopi dan memakan kue buatan istrimu. Bagaimana bisa kau terkapar begini ?'' Ayah Kaisar sangat sedih, salah satu tujuannya pulang bersama Kaisar karena akan membahas sesuatu dengan teman lamanya ini.
Mereka berdua adalah teman baik sedari SMA. Kuliahpun satu kelas dan satu jurusan. Herman orang yang cerdas, ia bisa berkuliah berkat beasiswa.
Mereka menuju rumah sakit terdekat.
Sedangkan ditempat lain, Syila tengah menikmati es degannya. Hatinya tiba-tiba bersedih, lagi-lagi ia memecahkan gelas tanpa disengaja. Syila meminta maaf pada penjual es itu lalu menggantinya dengan uang.
Ponselnya berdering, Ayah. Bukannya senang namun dia tambah berdebar ketakutan.
__ADS_1
''Ayah...'' Tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika ia mendengar suara pria lain yang bicara.
''Siapa kau ? Dimana Ayahku ? Mengapa memakai ponselnya ?'' Yang ada dipikiran Syila orangtuanya tengah diculik.
''Orangtuamu kecelakaan mereka dirumah sakit Pelita.'' Ponselnya terjatuh, tidak bisa berucap apapun, tubuhnya gemetar hebat, bahkan airmatanya sudah mengalir membasahi pipinya. Jadi apa mimpi-mimpi itu adalah pertanda ini ?
Fanya yang melihatnya juga terkejut, ''Syila ada apa ?''
Syila ingin membayar minumannya, ia membuka tas dan dompetnya sangat susah, Fanyapun inisiatif membayarnya. Syila hanya berucap terimakasih denga terbata. Lalu ia menghentikan taxi, ia lupa jika ia membawa motor. Fanya mengikuti Syila dengan mengendari motor vespanya.
'Ada apa anak ini mengapa tergesa-gesa ?' Fanya.
Syila berlari menuju ruangan Ayah dan Ibunya, sesekali ia tak sengaja menabrak orang yang sedang melintas juga.
''Maaf aku tidak sengaja.'' Ucapnya lalu berlari lagi.
Syila masih menggunakan toga lengkapnya dengan tangan yang membawa berbagai sertifikat penghargaan.
Pikirannya sangat kalut, rasa takut menyeruak dalam hatinya. Ia lagi-lagi mengingat mimpi buruk yang sering ia alami.
Syila datang dengan keadaan yang menyedihkan. Tiga manusia yang berada didepan ruang operasi ikut merasakan kesedihan gadis itu.
Terutama Kaisar, jantungnya sudah terpicu dengan cepatnya. Matanya tak lepas dari gadis yang selama ini ia cintai dalam diam. Bahkan ketika ia mengetahui statusnya sudah bertunangan, Kaisar tak bisa berhenti mencintai gadis itu.
''Ayah, Ibu.'' Ucapnya ingin masuk ke ruang operasi. Namun ditahan oleh seseorang.
''Kau putrinya Herman ?'' Syila mengangguk dalam tangisnya.
Kaisar terkejut, Ayahnya mengenal Ayah Syila.
''Bersabarlah dan berdoalah semoga orangtuamu bisa melewati semua ini dan lekas pulih.''
''Paman ini siapa ?''
''Aku teman Ayahmu, dan Ayah dari putra yang juga ada dalam kecelakaan Ayahmu tadi.''
__ADS_1
Syila menatap Kaisar yang tangan dan kepalanya juga terbalut perban. Ia menghampirinya.
''Katakan padaku bagaimana kronologi kecelakaannya ?''
Kaisar dibuat membisu, ia terlalu senang bisa bertemu dengan Syila lagi, namun juga takut karena pertemuannya kali ini dalam situasi tidak baik.
Kaisar berdiri dari duduknya, berhadapan dengan Syila yang tubuhnya lebih pendek, hingga ia harus menunduk untuk melihat wajahnya.
''Maafkan aku, aku yang kurang hati-hati.'' Jawab Kaisar.
''Apa maksudmu ?'' Syila sudah berspekulasi.
Kaisar menceritakan dari segi keadaannya dan itu membuat Syila marah.
''Apa kau tidak bisa menyetir, bagaimana bisa kau mendapatkan SIM ? Jika menyetir itu tidak boleh dengan bermain ponsel Tuan, apa lagi mencari benda tanpa memperhatikan jalanan. Kau lihat orangtuaku di dalam sana sekarang. Bagaimana jika terjadi yang tidak-tidak, hm ?!!'' Geram Syila.
''Aku akan menuntutmu, tidak peduli seberapa hebatnya kau, aku pastikan kau mendapat balasannya.'' Dengan menuding wajah Kaisar. Rasanya Kaisar ingin menggapai tangan itu, mengecupnya dan memohon pengampunan, namun itu hanya menjadi sebuah keinginan saja.
Syila kalut tidak bisa berpikir jernih, ia mengeluarkan apa yang ada dibenaknya. Menangis sejadi-jadinya. Fanya menghampiri saat menemukan keberadaan Syila. Ia tadi sempat kehilangan jejak Syila. Ketika mencari kesana kemari, lalu ia melihat sahabatnya itu dalam keadaan marah juga menangis.
Syila memeluk Fanya dengan isakan yang menyedihkan, ''Ayah Ibuku kecelakaan Fanya, padahal kami belum merayakan kelulusanku, tapi mereka malah terbaring diruangan itu.''
Fanya mencerna dengan mengusap punggung Syila berusaha memberi kekuatan dan kesabaran.
Sedangkan Kaisar hatinya seperti teriris melihat marah dan sedihnya Syila, bagaimana bisa begini, seharusnya pertemuan selanjutnya adalah momen romantis bukan momen tragis.
Kedua orangtua Kaisar hanya memperhatikan tanpa ingin ikut campur, biarkan Syila melampiaskan kekesalannya. Begitu yang ada dipikiran Ayah Kaisar.
Dokter keluar, ''Keluarga pasien ?''
''Saya putrinya !" Syila menghampiri dokter itu.
''Pasien saat ini telah sadarkan diri dan ingin bertemu dengan orang yang bernama Arsyila juga Kaisar. Silahkan masuk, hanya tolong jangan membuat keributan. Pasien walaupun sadarkan diri namun keadaannya sangat lemah.'' Jelas sang dokter.
Syila memasuki ruangan itu dengan perasaan berkecamuk.
__ADS_1