
Setelah semua administrasi diselesaikan, hari ini Syila mulai kuliah. Pertama masuk dia diantar oleh Ayah dan Ibunya. Yang sekalian mau mengunjungi teman lama sang Ayah.
''Ayah, aku tidak pernah tahu Ayah bisa menyetir mobil sekeren ini.'' Syila terheran-heran. Ayahnya sedang mengendarai mobil sport Bibi Nuha.
''Wahh Bu, sepertinya kita melupakan untuk menceritakan sejarah kehidupan kita waktu masih di kota seperti apa.'' Ayah malah bicara dengan Ibu.
''Sudah. Jangan dibahas. Kita memfasilitasi Syila dengan kesederhanaan saja dia sudah sangat manja. Bagaimana jika dia hidup mewah. Pasti selain manja akan sangat susah dikendalikan.'' Ibu menjawab.
'Apa sih.. aku kan hanya ingin tahu saja. Siapa tahu selain membuat kue atau merecoki Ayah berkebun aku juga mempunyai bakat membuat cerita seperti dinovel-novel begitu'. Batin Syila.
***
Kesan pertama masuk kuliah menyenangkan. Semua berjalan mulus. Syila mengambil jurusan ekonomi.
Aku sudah bertekad. Sejauh ini aku melangkah, mengorbankan keluarga. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan berdiri atas nama Ayah dan Ibu. Aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga. Akan aku buktikan aku bukan lagi anak yang manja. Aku bisa memberikan nilai terbaikku. Aku ingin mereka bangga dengan hasilku sendiri.
Semangat Syila menggebu, walau didasar hatinya merasa sedih karena harus berjauhan dari keluarga tercintanya. Tempatnya berpulang dan berkeluh kesah setiap harinya
***
Ayah dan Ibu akan kembali ke kampung halaman hari ini.
''Ayah... Ibu... Hiks..hiks...'' Menangis tiada henti, bahkan semenjak bangun tidur Syila sudah mulai terisak.
''Kemarilah. Ibu ada hadiah kecil untukmu.''
Diberikannya sebuah kotak sedang. Aku membukanya.
''Ini sweater rajutan yang Ibu buatkan khusus untukmu bersama syal dan topinya ada namamu yang Ibu ukir disana juga. Dan ini...''
Ibu melepaskan kalungnya. Kalung yang tak pernah lepas dari lehernya walaupun Ibu mempunyai kalung lainnya yang lebih indah.
''Ini bagi Ibu adalah kalung terhoki, terbaik, dan paling Ibu sukai. Ayah memberikannya sebagai hadiah waktu kau terlahir di dunia ini.''
Kalung dengan liontin hati dihiasi berlian kecil-kecil. Yang bisa dibuka dan disana ada foto mesra Ayah dan Ibu serta foto bayi mungil yang lucu.
'Huaaa tangisku tambah menjadi, mengapa rasanya berat sekali. Aku menagis sejadi-jadinya dipangkuan Ibu'.
'Para orangtua yang melihatku hanya meringis. Menyaksikan betapa berlebihannya diriku ini'.
''Sayang, ini peganglah. Sudah saatnya kau mempunyai kartu ini. Gunakan dengan baik untuk keperluanmu. Jangan merepotkan Bibi dengan sifatmu yang manja dan suka berlebihan seperti ini.'' Ayah menyodorkan kartu atm beserta buku tabungannya. Yang selama ini aku tak pernah menggunakannya. Orangtuaku selau memberikan uang cash.
''Tidak apa, aku tidak keberatan, aku senang Syila disini, aku tidak merasa sendirian lagi.'' Sambung Bibi.
''Dengar, Bibi Nuha tidak apa-apa.'' Bantah Syila.
''Ayah.. Ibu.. bisakah kepulangan kalian diundur. Atau kita tinggal disini saja. Toko kue itu juga ada hak atas nama Ayah dan Ibu kan. Kita kelola toko kue itu saja.'' Masih dengan sesegukan.
__ADS_1
Ayah dan Ibu menghela napas berat. Sudah diprediksikan akan ada drama seperti ini.
''Heii.. Putri Ayah..'' Syila sudah berpindah dalam dekapan sang Ayah.
''Berjanji kepada Ayah ya sayang. Kau akan hidup dengan baik disini, sebagaimana kau hidup dengan Ayah dan Ibu selama di kampung. Tidak boleh menangis seperti ini lagi. Karena itu juga akan membuat Ayah sangat sedih. Kau mau Ayah menangis ?'' Syila menggeleng.
''Atau kau suka melihat orangtuamu ini bersedih ?'' Syila menggeleng lagi.
''Maka dari itu, kami sudah mendukung semua keputusanmu untuk cita-citamu. Belajar yang sungguh-sungguh. Berjanjilah, demi masa depanmu yang lebih baik.'' Lanjut Ayah dengan mengusap ujung kepala putrinya.
Syila hanya menganggukkan kepala tanda patuh.
Sementara tak jauh dari sana sudah ada Dika. Dia hanya mengamati dan mendengarkan sedari tadi.
Ikut bersedih melihat perpisahan antara anak manja dengan orangtuanya. Namun itu terlihat terlalu dramatis.
''Dika kemari nak.'' Seru Ibu.
Haah mendengar nama Dika disebut, Syila semakin membenamkan wajahnya dalam pelukkan sang Ayah. Dia malu sudah menangis dan merajuk seperti ini.
''Dia kenapa Bu ?'' Tanya Dika menunjuk objek dengan dagunya sembari duduk disofa seberang Syila.
"Drama sebelum berpisah dengan cinta pertamanya." Jawab Ibu setengah meledek. Padahal dia sendiri sangat sedih.
"Apakah dia juga menangis seperti itu Bu, ketika aku pergi kemarin ?"
''Dika. Kau lihat sendiri seperti apa calon istrimu ini ?''
''Kau harus mempunyai stok kesabaran." Kata Ayah.
Aku semakin mengeratkan pelukkanku kepada Ayah. Sebagai bentuk protes, sudah hentikan jangan bicara apapun lagi. Sekiranya seperti itu.
"Sudah aku siapkan Yah." Jawab Dika sembari tersenyum.
"Heii putri manja, lihatlah apa yang kubawakan untukmu." Bujuk Dika.
"Aku tidak tertarik dan namaku Arsyila Putri bukan Putri Manja." Jawab ketus.
Dika terkekeh. Begitupun dengan Bibi Nuha.
"Sungguh ? Apapun yang kubawa kau tidak mau ?" Masih dalam metode pembujukkan.
"Bawalah pergi lagi apapun itu." Sungguh mood yang buruk.
"Baiklah kau pasti akan menyesal karena sudah menolak tanpa melihat apa yang kubawakan. Ayah, Ibu, Bibi ayo kita makan sendiri saja. Ini ice cream yang sedang viral, rasa vanila strowberry. Aku tadi beli di kafe yang baru saja buka cabangnya. Dan ini menu favorite di kafe itu." Mereka kerjasama mencoba memancing Syila.
1...
__ADS_1
2...
3...
4...
Wadah ice cream itu sudah berpindah tangan secepat kilat ketangan Syila.
"Jangan bicara apapun dan jangan tertawa." Ucap Syila malu tapi mau.
"Ayah aku mau disuapi."
Ibu membiarkan saja. Sedangkan Dika tak henti-hentinya mengulum senyum lucu dengan tingkah Syila.
***
Mereka ke bandara diantar oleh Dika. Kursi belakang diisi oleh keluarga yang sedang bersedih-sedihan itu.
Syila tak melepaskan tangannya dari orangtuanya.
"Sayang sudah saatnya kami berangkat." Ibu.
"Aku ikut.." Sungguh sangat berat yang kini Syila rasakan.
"Arsyila Putri..." Ayah menghela napas beratnya lagi.
"Kami akan sering berkunjung kemari. Dan kita bisa berkomunikasi lewat video call. Jangan seperti ini. Kau tidak malu ? Kau menjadi tontonan banyak orang."
Akhirnya Syila membiarkan orangtuanya menaiki pesawat setelah drama panjang. Bahkan petugas bandarapun harus turun tangan menghadapi anak manja nan lebai ini.
Astaga, Dika bahkan setengah malu. Dia berusaha menenangkan kekasihnya itu.
"Sayang sudah berhentilah menangis. Ayah dan Ibu hanya pulang. Kau menangisinya seperti mereka pergi kemana saja."
"Kalau tidak mengerti, maka diamlah !!"
Hfff sabar Dika. Kau akan selalu salah dimata wanita yang sedang buruk moodnya.
"Ok aku akan diam setelah aku mengatakan ini. Lihat wajahmu." Dika menunjukkan cermin yang kebetulan ada didinding.
"Kau sangat jelek dan mengerikan. Jika anak kecil melihatmu seperti ini pasti mereka akan lari dan menangis kepada Ibunya."
Syilapun memperhatikan wajahnya. Sangat buruk. Batinnya juga.
Dia menutupi kepalanya dengan topi hoddienya. Dan memakai kacamata hitam Dika yang tergantung dikerah bajunya. Sedikit memaksakan senyum.
Benar saja banyak pasang mata mengarah kearahnya.
__ADS_1
"Bagaimana aku sudah kembali cantik bukan.''