
Sementara Dika dan Laura, kini sedang berada di rumah sakit, poli kandungan tepatnya. Iya Laura tengah hamil, baru 3 minggu. Rasa mual yang sampai membuatnya tak sadarkan diri membuat Dika dan Laura sampai di ruangan ini.
Ada binar bahagia pada Laura, namun tidak pada Dika, entah apa yang ia rasakan.
''Pak, istrinya jangan boleh terlalu lelah ya, jangan membuat pikirannya stres, kandungannya masih sangat rawan, jika bisa buat suasana bahagia untuk sang Ibu,'' Dika hanya mengangguk.
Selesainya, Dika menebus obat serta vitamin. Mereka sudah di mobil. Laura terus mengelus perutnya yang masih datar dengan senyum yang terus mengembang.
''Sayang, kira-kira anak kita perempuan atau laki-laki? aku tak menyangka aku bisa hamil secepat ini, aku bahagia sekali,'' tutur Laura panjang sekali namun respon dari Dika hanya tersenyum singkat.
''Kau tidak bahagia dengan kehamilanku?'' tanya Laura sinis.
''Kau mau makan apa?'' Dika mengalihkan membuat Laura merengut sebal.
***
Hari berlalu, Kaisar sudah di perbolehkan pulang. Keadaannya membaik, hanya nanti akan kontrol untuk mengganti perban.
Rana tinggal di apartement Kaisar, selama Kaisar belum bisa masuk kantor, selama itu pula Rana yang menggantikannya. Sementara di sana, di kantor Rana, ada Tuan Mahendra yang menghendel.
Rumah Kaisar sudah seperti istana kekaisaran. Banyak penjaga, juga terpasang beberapa CCTV yang tersebar di segala penjuru. Keamanan lebih di perketat apa lagi mengingat Adnan belum juga di ketahui keberadaannya.
Malam harinya setelah makan malam, Kaisar pergi ke ruang kerjanya, ruangan pribadi tanpa ada yang boleh masuk selain dirinya. Bahkan Lewis tak pernah masuk. Berbeda dengan malam ini, Kaisar memperbolehkan satu orang masuk, istrinya.
''Kai, minum dulu vitaminmu.''
''Iya, sebentar,'' tanpa beralih dari laptopnya.
''Aku buatkan susu hangat dan ada kue juga.''
''Iya terimakasih,'' masih fokus.
''Dan jangan terlalu larut, kau belum sembuh sepenuhnya,'' Syila masih setia berdiri di samping Kaisar yang tetap fokus pada laptopnya. Sampai tangan Kaisar meraba nampan yang tadi di bawa Syila, mencari susu hangatnya.
Uhuk... uhukk... uhukk... .
Kaisar tersedak minumannya, melihat Syila dengan gaun tidurnya, walau tidak menerawang tapi ini pertama kalinya Syila berpenampilan berani seperti itu. Baju tanpa lengan hanya tali selebar jari telunjuknya yang saling mengaitkan, dan panjang di atas lutut, rambut yang sengaja ia gerai. Membuat perasaan Kaisar ketar ketir dengan sendirinya.
''Ada apa?'' tanya sok polos.
__ADS_1
''Kau menggodaku?'' balik tanya Kaisar.
Syila tersenyum menggoda, dengan mata yang ia kedipkan dengan manja, ''Aku rasa sebagai suami istri tidak ada batasan untuk saling melihat, bahkan lebih dari melihat, bukankah semua itu sah-sah saja. Lagi pula menggoda suami sendiri itu bukan dosa, aku sedang berusaha mengumpulkan amal baik,'' kata Syila dengan mengigit bibir bawahnya. Membuat Kaisar resah dan gelisah. Suhu badannya mulai panas dingin.
''Oh Tuhan...,'' Kaisar mengusap wajahnya dengan kasar, merasa wajahnya pasti memerah menahan suatu gejolak.
''Apa kau sedang ingin menepati janjimu juga, untuk sebuah kehidupan baru, di sini?'' ia tunjuk bagian perut rata Syila.
Syila hanya mengangguk, entahlah, dia mendapat keberanian darimana untuk melakukan itu semua. Telinganya sendiri bahkan sangat malu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Syila.
''Kemari!'' Kaisar membawa Syila dalam pangkuannya, sedangkan Kaisar masih sibuk mengecek file dari laptopnya.
Dengan patuh, Syila merangkul bahu yang tidak terluka, ia ikut membaca apa yang di baca suaminya. Walau tidak mengerti, tapi ia setia mememani. Sampai saat Kaisar ingin memperjelas apa yang ia baca, ia memajukan wajahnya, saat itu pula Syila memajukan dadanya efek merenggangkan otot tangannya ke atas.
Meremang, terasa keseluruh tubuh Syila, walau bukan yang pertama, tapi mereka memang belum berhubungan lagi setelah malam itu. Berbeda dengan Kaisar yang nyaman terus mengusel di bagian lembut itu.
''Emmhh... Kai,'' suara tertahan Syila merasakan respon tubuhnya.
''Apa?! kau yang datang menggodaku, mengapa kau yang salah tingkah?''
Syila diam, mengiyakan apa yang Kaisar katakan.
Tangan kiri Kaisar memegang mouse, pipinya ia sandarkan di dada Syila, sesekali menguselnya, kadang menciumnya, bahkan hampir mengigitnya, tangan kanannya meraba bagian kaki Syila, sedangkan matanya masih fokus ke laptop. Kini gantian Syila yang di buat ketar ketir oleh perlakuan Kaisar.
''Emm,''
''Apa harus begini?'' 'Aku tidak tahan!!' jeritnya dalam batin.
''Apanya? aku sedang di posisi nyaman,'' tanpa rasa bersalah ia bicara seperti itu.
'Tapi aku yang tidak nyaman!' geramnya sendiri.
***
Sementara di tempat lain, Adnan sedang memantau orang suruhannya untuk mengintai di sekitar rumah Kaisar.
''Penjagaan sangat ketat bos!'' bicaranya melalui earphone.
''Cari celah! aku ingin mereka mati semua!'' setelah itu telfon di tutup.
__ADS_1
Adnan duduk sembari meminum kopi hitamnya, tersenyum licik dengan melihat foto Kaisar dan Syila, ''Siapa yang menyuruhmu untuk membangkang, kau memang manis, tapi aku tidak suka kau melawanku, siapapun itu, yang sudah membuat hatiku memburuk, maka aku akan menghabisinya, termasuk kau gadis manis! hahahaha!'' tertawa sangat senang seperti sedang mendapatkan jackpot.
***
Pagi hari, Syila sudah bangun terlebih dulu, ia langsung mandi, menyiapkan makanan untuk Kaisar. Sedangkan asisten rumah tangganya ia suruh kerjakan yang lain.
Ada tangan yang melingkar di perutnya, ketika Syila sedang mengaduk sayuran.
''Aku mengira kau akan pergi keluar dengan pakaian seperti semalam,'' menciumi pipi Syila yang sudah tertutup hijabnya lagi.
''Aku hanya rela kau yang melihatnya bukan orang lain,'' sukses membuat Kaisar bahagia.
''Kau sangat manis Syila, aku takut akan banyak semut yang mendekatimu jika kau tidak di bungkus rapat,''
''Aku sudah membungkusnya untukmu, Kai!'' jawab Syila.
Di balikkannya badan Syila menghadapnya, ''Mengapa kau pandai sekali membuatku berbunga-bunga, hm?'' ia elus pipi mulus Syila.
''Karena memang aku tempatmu untuk menumbuhkan bunga-bunga itu,'' ia sudah mengalungkan tangannya di leher Kaisar, lalu cup, satu kecupan mendarat di bibir Kaisar.
Kaisar sampai melongo di buatnya, biasanya dia yang akan melakukannya dan Syila hanya akan tersipu malu-malu.
''Kau sangat berani!''
''Sudah ku katakan, aku sedang mengumpulkan amal baik,'' Syila tersenyum lalu membalikkan tubuhnya lagi, mematikan kompor.
''Sekarang, duduklah, ayo makan dulu, ini sudah waktumu minum obat,'' dengan telaten Syila melayani Kaisar, untuk pertama kalinya tanpa paksaan.
''Sayang, putra Kak Rana akan ulang tahun, dan kita di undang, kau mau kesana?'' tanya Kaisar di sela-sela makannya.
Dengan wajah berbinar Syila menganggukkan kepalanya dengan mantab.
***
''Tuan, kami menemukan jejak Adnan tidak jauh dari lokasi kemarin,'' lapor salah satu detektif.
''Katakan!'' jawab Rana.
''Tim kami menemukan sebuah pintu masuk di dekat gundukkan tanah, dan tertutup tanah serta daun-daun kering. Dugaan sementara buronan bersembunyi di dalam sana,'' sambungnya lagi.
__ADS_1
''Jangan gegabah, siapkan pasukan dan strategi, untuk jaga-jaga jika ada jebakan lagi!''
''Mengerti!''