Karma Cinta

Karma Cinta
Apartemen II


__ADS_3

Harap bijak dalam membaca gaes...


Sesi hareudang, alias gembredeg, alias panas, alias hot. 😉😉😉


21+


Yang belum punya pasangan halal, atau yang imannya lemah, di skip aja.


Sedangkan Syila, ia tidak tahu harus berkata apa. Rasa malunya membuat bibirnya kelu untuk berucap. Apa lagi keadaan seperti ini. Ini sungguh intim bagi Syila, ia sedang membuka hijabnya, juga hanya memakai baju kemeja saja tanpa embel-embel lainnya.


Di depan wajahnya ada wajah Kaisar yang mengintimidasinya, membuat rasa malu dan gugup menyerangnya tanpa ampun. Jantung yang berdebar, juga napas yang memburu. Tadi ia merasakan dingin, namun sekejap hawa panas menggantikannya.


''Kau menjebakku!'' keluar juga kalimat itu dari mulut Syila. Kaisar hanya tersenyum simpul tanpa mengalihkan pandangannya.


''Kai, jangan begini, aku sungguh malu,'' lanjut Syila memelas.


''Dan menyingkir dariku, kau berat!!'' hujatan yang Syila harap bisa membuat Kaisar merubah posisinya, nyatanya malah semakin membuat hasrat Kaisar terpancing, karena sedari tadi Syila tanpa henti bergerak walau dalam kungkungan seorang Kaisar. Menyingkap kemeja bagian bawahnya, sehingga paha yang putih mulus yang selalu ia tutupi, tidak terjamah oleh pandangan pria manapun itu terpampang dengan jelas.


''Kenapa kau sangat menggoda, hm? aku takut jika aku tidak bisa menahannya,'' ucap Kaisar dengan mengecupi pipi dan beralih ke telinga sembari menghembuskan napas hangatnya yang sudah menderu.


''Kai..., ugghhh...,'' kalimat Syila terpotong terganti dengan lenguhan ketika Kaisar menyusuri leher Syila dan memberikan sebuah kecupan di sana dengan sedikit keras, sehingga meninggalkan bekas merah.


''Apa yang kau lakukan?!'' tidak terima dengan perlakuan Kaisar seperti tadi, walau sebenarnya ada rasa ingin mengulangnya kembali.

__ADS_1


''Kau sangat harum, aku menyukainya,'' kembali ia mengendus di area leher Syila. Syila terus memberontak, tangan yang bebas ia coba pukul-pukulkan pada bahu Kaisar, berharap pria itu menyudahi serangannya, jika terus-terusan begini, Syila yang tidak mampu menolaknya.


Kaisar kembali pada wajah istrinya itu, ia mendaratkan ciumannya kembali pada bibir ranum yang terasa manis. Tangannya membuka dua kancing kemeja Syila paling atas. Lama kelamaan, Syila terbuai oleh permainan Kaisar, ia menikmati, walau otaknya berkata 'jangan' namun berbeda dengan reaksi tubuhnya.


Kaisar kembali menyudahi ciumannya, ditatapnya lagi mata yang teduh dan terlihat sayu itu, dia seperti ingin berkata melalui tatapannya, 'bolehkah?' namun belum juga Syila mengijinkan Kaisar sudah kembali pada leher jenjang Syila, menghirupnya dalam-dalam semakin turun pada dada yang sudah terlihat belahannya. Syila memejamkan matanya, ini rasa asing, rasa geli, membuat tubuh meremang, terasa panas, tapi juga membuatnya menginginkan lagi dan lebih dari ini.


Jantungnya semakin terpicu dengan cepat, tangan Kaisar meraba bahu Syila yang sebagian masih tertutup baju, ia ingin menciptakan rasa nyaman untuk Syila. Tangan Syilapun sudah berhenti berprotes, mungkin lelah atau mungkin dia juga sudah mulai menikmatinya.


Terus mengusap, semakin turun dan berhenti pada salah satu daging lembut dengan lapisan kain kemeja itu. Syila langsung membuka matanya lebar-lebar, mengerti Syila ingin protes kembali, Kaisar segera membungkamnya dengan ciuman, lalu tangannya mulai pada tugasnya, memberi rangsangan berupa pijitan lembut, tangan Syila beralih di atas tangan Kaisar yang sedang melakukan tugasnya, rasanya ingin ia tepis tangan sialan itu, yang membuatnya terasa semakin lemas, namun bukan itu yang ia lakukan, tangannya tidak berbuat apa-apa, ia hanya menggenggamnya.


Tangan Kaisar melanjutkan aksinya, Syila mengigit bibir dalamnya, jangan sampai ia mengeluarkan kata-kata yang terdengar menjijikan itu, sentuhan dari Kaisar benar-benar membuatnya kehilangan akal. Sedangkan Kaisar yang memberikan jarak antara wajah, semakin merasa senang, melihat Syila mulai mengikuti permainannya.


''Jangan di tahan sayang, keluarkan saja apa yang ingin kau keluarkan, suaramu akan menambah semangatku!'' bisiknya di telinga yang sudah merona itu, di akhiri dengan sebuah gigitan kecil disana. Membuat sensasi bertambah luar biasa pada Syila.


Berawal dari luar kini, tangan Kaisar membuka dua kancing kemeja lagi, lalu perlahan masuk kedalamnya, masih pada daging lembut itu, ia cari titiknya lalu ia coba pilin, dan akhirnya mereka berdiri menantang juga.


''Membuatmu lebih rileks, supaya tidak terlalu terkejut nanti, ini pemanasan,'' santai Kaisar, tentu ia sudah sangat mahir, jangan lupa dia adalah duda.


Kaisar menyibakan kemeja dari dada Syila, dengan cepat Syila mencoba menutupinya lagi, ''Jangan, aku malu!'' sisa-sisa kewarasannya mengajaknya menolak.


Kaisar membiarkannya, membiarkan dadanya tertutup kain lagi, lalu kedua tangan Kaisar menggenggam tangan Syila, ia pandangi lagi, gadis yang beberapa tahun ini membuatnya seperti orang gila, sebentar lagi akan benar-benar menjadi miliknya. Syila mengalihkan pandangannya, ''Tatap aku Syila, lihat apa ada kebohongan di sana, aku sungguh serius mencintaimu, mengapa kau tidak mau menatapku?'' tanya Kaisar di sela-sela gair*h yang memburu.


'Karena aku malu, bodoh! aku sangat malu, tubuhku telah mengkhianatiku sebagai Tuannya dan memilihmu sebagai Tuan yang ia patuhi!' Syila.

__ADS_1


Kaisar mengecup kembali bibir Syila, lebih lama, dan Syila mencoba membalasnya, bukan dia yang mau, tapi tubuhnya yang bereaksi seperti itu. Terasa kaku sekali untuk Kaisar, tapi ia bahagia, Syila merespon dengan baik, lama saling menyecap dan bertukar saliva, Kaisar mengangkat wajahnya menyudahi, beralih pada pipi lalu telinga, ''Aku mencintaimu Arsyila Putri!'' setelah mengatakan itu, bibirnya turun pada leher jenjang Syila lagi, memberikan tanda seperti sebelumnya. Syila meremas tangan yang sedang menahan telapak tangannya itu.


Semakin turun bibir Kaisar menjelajah, ia sibakan dengan dagu kain penghalang itu, dan terpampang jelas sesuatu yang sudah berdiri tegak menantangnya. Kaisar tertegun, di tubuh Syila yang ramping, ternyata ada bagian tertentu yang melebihi kata ramping, membuat bentuk tubuhnya terkesan s*ksi.


Kaisar menciuminya, lalu melahapnya dan bermain dengan lidahnya, Syila semakin erat menggenggam tangan Kaisar.


''Emmpp... Ahhhhhh...'' lolos juga yang mati-matian Syila pertahankan.


''Kai...,'' panggil Syila di sela-sela napas yang terengah, terdengar sangat menggoda di telinga Kaisar menambah hasratnya semakin menjadi.


Kaisar melepas tangannya, ia ingin tahu, apa yang akan di lakukan Syila. Sedangkan tangan Kaisar satunya menemani lidah Kaisar bermain-main di daging lembut itu. Lalu membuka sisa kancing yang masih terpaut.


Syila menjambak rambut Kaisar dan semakin menekannya, tentu Kaisar senang dan menuruti kode dari Syila.


Semua kancing terlepas, tangannya beralih menyusuri bagian tubuh sensitif Syila yang lainnya, bagian inti dari sensitifnya, ia usap perlahan dan sedikit ia tekan dengan jarinya, mencari sesuatu yang bersembunyi disana, ''Ahhhh...,'' Syila mendes*h lagi, Kaisar bermain dengan satu jarinya dan itu membuat tubuh Syila bergetar hebat.


Kaisar mengangkat tubuhnya yang sedari tadi menindih Syila. Dia tersenyum sembari mengelus pipi Syila yang memerah dan basah, ''Heii, kau terlihat begitu lelah? padalah ini belum memasuki permainan intinya,'' goda Kaisar sukses membuat Syila semakin malu.


Syila menutupi lagi bagian tubuhnya dengan baju yang sudah terlepas kancingnya itu saat Kaisar sedang melepas kaosnya. Memperlihatkan otot dada dan perut yang sempurna pahatannya, Syila tak mampu menolak pesona duda gila itu, dia sanggat s*ksi dan menggoda. Kenapa Syila baru menyadarinya.


Suami mana suami??


Ehhh jauh disana 😢😢

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak.


...****************...


__ADS_2