Karma Cinta

Karma Cinta
Samuel


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan sudah berganti bulan. Kue Syila laris dipasaran, kini dia sudah mampu menyewa ruko berlantai dua, ia gunakan sebagai tempat usahanya sekaligus tempat tinggalnya. Dia mempekerjakan dua orang karyawan, itupun orang kepercayaan dari toko Bibi Nuha.


Usahanya penuh dengan rintangan, tak jarang Syila mendapat penolakkan juga komplenan dari para calon konsumennya. Tak apa, ia menikmati setiap prosesnya. Semua menjadikannya untuk banyak belajar.


Sudah terhitung lima bulan Syila tinggal di ruko, selama itupun orangtuanya juga Dika tidak ada yang tahu. Bibi Nuha sudah memegang janji akan merahasiakan ini semua. Karena suksesnya kelak akan ia buatkan kejutan untuk orang-orang terkasihnya.


***


Masalah kuliahnya, Syila tetap menjadikannya nomor satu, ia terus belajar dengan giat, diwaktu luangnya ataupun diwaktu sibuknya.


Bahkan otak Syila yang dulu tumpul, dan susah sekali menerima materi, kini sudah diasah olehnya. Bahkan tak begitu sulit untuk Syila menyesuaikan mata pelajaran yang seharusnya sudah ia kuasai tapi pada kenyataannya tidak.


Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang juga angin menerpanya.


Ada Sam, salah satu angin yang mencoba menerpanya, menerpa kehidupan Syila yang baru akan mulai ia tata.


''Syila, aku menyukaimu, bahkan aku mencintaimu sejak awal kita bertemu, tidak bisakah kau memberiku kesempatan ? Apa kurangnya aku ? Sampai kau selalu mengacuhkanku ?'' Sam sedang berada di kelas Syila, dengan aksi membawa sebuket mawar merah besar, lengkap dengan drama serta atribut berupa spanduk bertulis 'i love you Arsyila' juga supporter yang siap mendukung Sam, disaksikan oleh teman-teman Syila. Syila sudah sangat malu, diusirpun Sam tidak goyah, yang ada malah semakin menggila.


''Sam !!'' Teriak Syila geram namun tak bisa apa-apa.


''Katakanlah, kau ingin memberiku kesempatan itu ?'' Kata Sam lagi dengan penuh harap.


''Kau sudah tidak waras Sam, pergi ke toilet cuci mukamu, siapa tahu kau sadar diri setelah itu !" Ucap Syila kesal. Membuat teman-teman sekelasnya tersenyum geli mendengar perkataan Syila.


Sekalipun mereka belum pernah mendengar seorang Samuel mendapat penolakkan dari wanita apalagi sampai memohon seperti ini. Syila pemecah rekor.


''Aku akan waras jika kau memberiku kesempatan !'' Lagi-lagi, dasar Sam gila.


''Sam, kau tahu aku sudah bertunangan, jangan terus mengejar sesuatu yang tidak akan menjadi milikmu Sam, karena itu hanya akan sia-sia. Kau akan membuang waktu dan tenagamu bahkan uangmu.'' Nasehat Syila.


''Kenapa ? Janur kuningpun belum melengkung, kenapa aku tak boleh mengejarmu ?!'' Sarkas Sam.


''Betulll betulll !'' Supporter dari Sam.


Syila mamijat pelipisnya, pusing menghadapi Sam. Ditambah lagi ada supporter yang memenuhi kelasnya.


''Sam, kumohon jangan begini ! Kita bisa berteman, tapi jangan meminta lebih. Maaf aku tidak bisa.'' Ucapnya untuk kesekian kali.

__ADS_1


''Yaahhh...'' Supporter Sam menunjukkan wajah sedih mereka.


'Ini yang ditolak siapa sih ? Mengapa mereka yang bersedih.' Batin Syila.


Wajah Sam berubah menjadi garang, bahkan tatapan matanya sesaat berubah seperti iblis.


''Kau akan menyesal karena sudah menolakku.'' Ucap Sam berlalu dari kelas Syila, dengan membanting buket mawar tadi tepat di hadapan Syila. Membuat Syila amat terkejut. Begitu juga dengan supporternya, mereka langsung bubar dari barisannya.


''Sehebat apa sih tunangannya sampai-sampai menolak pangeran kampus ?'' Sindir seseorang.


''Sok jual mahal !''


''Lah nanti diluar kampus juga langsung nempel sama Sam !"


Omongan-omongan orang yang tak berperasaan. Siapa mereka menghakimi tanpa mengetahui masalahnya.


Syila acuh memilih pergi ke perpustakaan kampus mencari ketenangan untuknya berpikir.


Semenjak saat itu, Syila seperti mendapat teror. Mulai dari kiriman paket yang berisi bangkai, ada juga foto Syila dalam bingkai yang pecah, dan yang membuatnya begitu resah adalah kiriman foto kedekatan Dika dengan Laura. Hampir setiap 2 hari sekali Syila mendapatkan foto itu. Foto-foto yang sangat mesra.


Mau tak mau Syila menekan lagi rasa cemburu dan curiganya. Dia memendam dalam-dalam apa yang ia rasakan.


Syila memilih menyibukkan diri, dengan kuliahnya juga dengan usaha yang ia rintis.


***


Toko kue Syila sudah tutup, pukul sembilan malam kedua karyawannya pun sudah pulang, kini Syila memilih rebahan di kamarnya lantai dua.


Ruangan itu ia sulap sedemikan rupa menjadi kamar yang nyaman untuk ia singgahi, melepas penat dan leleh setiap harinya.


''Aku merindukan Ayah dan Ibu. Tunggu Syila ya, Syila pasti akan pulang membawa segudang kesuksesan untuk kalian.''


Syila mengambil ponselnya mencoba menghubungi Ayah Herman.


''Ayah ? Ayah sedang apa ?'' Ketika panggilan tersambung dan diangkat oleh Ayah.


''Ayah baru saja mengantar pesanan Ibu, bagaimana kabarmu, sayang ? Bagaimana dengan kuliahmu juga bagaimana kabar Dika ?''

__ADS_1


''Aku baik, kuliahku juga lancar, doakan selalu Syila ya Yah, dan tentang Dika, dia baik dia masih di luar kota.'' Jawab Syila.


Percakapan antara anak dan orangtua itupun bisa menghibur Syila. Ayah menceritakan banyak hal, tentang teman rondanya, tentang kebunnya, bahkan tukang ikanpun tak luput dari cerita Ayah.


''Ayah sehat-sehat ya, Syila sangat sayang Ayah dan Ibu.'' Ucap Syila sebelum panggilan berakhir.


Setelah itu Syila lagi-lagi mendapat pesan berupa foto Dika dan Laura. Foto yang menampilkan Dika membantu Laura membenarkan tali gaun yang berada di leher. Laura terlihat anggun dengan gaun malam itu, 'mereka mau kemana ?'


Syila mencoba menghubungi nomor Dika.


''Hallo sayang, ada apa ? Kau belum tidur ini sudah larut.'' Memang ini sudah menunjukkan hampir jam 11 malam.


''Kau sendiri mengapa belum tidur ? Aku tiba-tiba resah memikirkanmu.'' Jawab Syila.


''Kau hanya merindukanku, akupun begitu, aku punya kabar baik untukmu. Lusa aku pulang.''


Jelas Syila senang mendengarnya.


''Kau tidak berbohongkan ?''


''Tidak sayang, kau mau oleh-oleh apa ?''


''Tidak ingin, kau cepatlah pulang saja dengan keadaan sehat aku sudah senang.'' Jawab jujur Syila.


'Gadis ini sungguh baik, bagaimana mungkin aku menyakitinya, bahkan sejujurnya aku belum siap bertatap muka dengannya.' Lagi-lagi rasa bersalah merasuki hatinya.


Syila sangat senang mendengar kabar dari Dika bahkan ia sangat tidak sabar untuk menunggu lusa.


''Tuan Kelinci.'' Syila mengobrol dengan bonekanya.


''Kau tahu, sebelumnya aku hanya menganggap dia sebagai Kakak, tidak tahunya sekarang dia menjadi tunanganku, dan mungkin esok dia akan menjadi suamiku.'' Syila tertawa sendiri, pikirannya melayang jauh.


''Tapi entah mengapa hatiku terselip kegelisahan, apakah begini rasanya ? Penantian seorang putri untuk pangerannya yang lama tidak berjumpa ?'' Masih bercerita tentang hatinya kepada boneka.


''Jika di dunia bidadari atau peri, pasti pertemuan itu akan dihiasi bunga-bunga yang berjatuhan atau semacam bintang-bintang yang bertebaran.'' Syila cekikikan sendiri membayangkan itu.


* ****

__ADS_1


__ADS_2