Karma Cinta

Karma Cinta
Berhijab


__ADS_3

Hari ini Syila kembali kuliah, Fanya memeluknya menceritakan hal-hal yang ia lewati selama kuliah tanpa Syila. Yang kesepian, yang kebingungan, yang tidak ada yang mengajarinya ulang ketika ia tidak mengerti dengan penjelasan dosen, yang makan sendiri, yang ke perpustakaan sendiri. Syila sampai mengantuk ketika di taman Fanya terus bercerita.


Syila juga harus mengejar pelajaran yang ia lewatkan selama izin. Dan ketika waktunya pulang seorang dosen merangkap menjadi pemilik kampus memanggilnya menuju ruangannya.


''Bapak memanggil saya ?'' Tanya Syila.


''Arsyila Putri ?'' Tanya dosen itu.


''Iya Pak.''


''Ada yang ingin bertemu denganmu,'' dosen itu menunjukkan sepasang suami istri seumuran dengan Ayah dan Ibunya. Syila merasa bingung, Syila tidak mengenal mereka. Dosenpun berlalu meninggalkan mereka bertiga.


''Syila ya ?'' Tanya seorang wanita.


''Iya Nyonya, ada keperluan apa mencari saya, dan anda ini siapa ?''


''Kami orangtua dari Samuel.''


'Ehh ada apa mengapa mencariku, bukankah Sam sedang mendekam di penjara seperti kata Fanya. Sam masih sehatkan, dia tidak terobsesi denganku lalu menyuruh orangtuanya untuk melamarku kan.' Pikiran Syila berimajinasi kemana-mana.


''Nak, tolong maafkan Sam, tolong cabut tuntutan pada Sam. Dia sudah menyesal.'' Wanita yang mengaku sebagai Ibunya Sam itu mulai berkaca-kaca. Syila menjadi bingung.


''Maksud Nyonya apa ? Mengapa meminta saya untuk mencabut tuntutannya ? Bahkan saya tahu Sam di penjara dari teman saya.''


Kedua orangtua itu saling pandang. Mereka tidak tahu, jika yang menutut anak mereka bukanlah Syila, tapi Kaisar. Partner bisnis Ayah Sam sendiri.


''Kau tahu kan, Sam di penjara karena kasus kerja sama untuk melecehkan seorang wanita ?'' Tanya Ayahnya.


''Ahh.. Benarkah ? Saya malah baru tahu detailnya.'' Jujur Syila karena memang saat Fanya mengabari tentang Sam, Syila tak bertanya dengan detailnya.


Syila tidak mau mengingat kejadian buruk yang menimpanya beberapa hari lalu. Tapi kedua orangtua ini secara tidak langsung malah mengingatkannya.


''Dan korbannya adalah dirimu nak,'' sesal Ibu Sam.


''Bukankah kau korban pelecehan beberapa hari lalu ? Jika bukan kau yang melaporkan dan menuntut para preman itu siapa lagi ?'' Kini Ayah Sam angkat bicara.

__ADS_1


Syila sedang mencerna kalimat mereka, beberapa detik Syila baru bisa mencerna. 'Jadi Sam menjadi dalang dari apa yang menimpaku.'


Syila sontak berdiri dari duduknya tak percaya, membekap mulutnya sendiri yang ingin meneriaki kedua orangtua Sam.


Setelah mampu menguasai dirinya sendiri Syila angkat bicara.


''Maaf Tuan dan Nyonya, jika memang saya yang melaporkan dan menuntut Sam, saya juga tidak ingin mencabutnya, biarkan saja Sam belajar dari kesalahannya. Dan yang perlu Tuan dan Nyonya ketahui, saya bukanlah orang yang menjebloskan putra kalian kedalam sel. Jadi saya rasa kalian salah alamat.''


'Siapapun yang menjebloskan para preman dan Sam dalam penjara semoga kau bahagia selalu dan sehat selalu.' Syila baru saja mendoakan orang yang tidak ia ketahui.


''Lalu siapa ? Dia mempunyai wewenang besar, begitu kata polisi.'' Sedih Ibu Sam.


''Maaf Nyonya, tapi memang bukan saya, saya sendiri sempat tidak sadarkan diri. Ohh.. Iya.. Saya sempat ditolong seorang pria. Mungkin pria itu. Saya sendiri tidak mengenalinya. Jadi sudah ya saya rasa pertemuan kita selesai disini saja. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan Sam.'' Syila langsung pergi setelah menunduk memberikan hormatnya kepada orang yang lebih tua, tanpa menunggu persetujuan orangtua Sam lagi.


Syila kembali mengingat bagaimana preman-preman itu mendekatinya, bersentuhan kulit, dan terlihat sangat menjijikkan, bahkan mereka berhasil merobek baju tepat di lengannya, mengekspos bahu yang sekalipun tak pernah ia perlihatkan.


Syila pulang dari kampus langsung menuju toko hijab yang tak sengaja ia lewati.


'Sepertinya aku memang memerlukan benda ini.' Syila dengan memegang salah satu jilbab cantik itu.


'Aku sendiri bingung, apa yang membuat Sam sampai begitu membenciku, aku rasa dari awal aku sudah menolaknya baik-baik dan tidak memberikannya harapan. Lagi pula apa baiknya diriku dari wanita-wanita lainnya.' Syila perang dengan pikirannya sendiri.


***


Dan mulai saat itu Syila mengikuti gaya Fanya yaitu berhijab, bahkan ia menggunakan hijab yang terjulur panjang menutupi dadanya.


Syila tanpa sengaja menyenggol boneka kelinci pemberian dari Dika, sebelum Dika berangkat dinas waktu itu.


Suasana yang sudah sedikit membaik kini mulai mendung lagi.


''Hai Tuan Kelinci, apa kau juga akan sedih jika aku mengembalikanmu pada Tuanmu ?'' Tanya Syila sembari memeluk boneka itu.


''Bahkan aku sudah menganggapmu sebagai temanku, bagaimana mungkin aku harus melepasmu, aku pasti akan sedih.''


''Namun jika kau berada disini terus, itu juga membuatku bersedih, karena kau mengingatkanku dengan Dika. Yang sekarang dia sama sekali tidak mengingatku.''

__ADS_1


Sudahlah biarkan saja boneka ini terus bersamaku. Toh hanya boneka, lagi pula aku tak ingin bertemu dengan Dika kembali.


Malam itu Syila beristirahat, mengistirahatkan pikiran dan hatinya.


'Aku rindu tidur dengan Ayah dan Ibu.'


***


Esok harinya Syila pergi kuliah dengan penampilan barunya, awalnya semua biasa saja, sampai mereka menyadari jika yang sedang mereka lihat itu Syila, wanita yang pernah menolak Sam secara gamblang.


Yang tidak suka, semakin mencibirnya. Dan tak sedikit juga ada yang memujanya. Wajah Syila semakin memancarkan auranya. Namun Syila malah terlihat tak nyaman saat menjadi pusat perhatian para penghuni kampus.


Ia berjalan dengan menundukkan pandangannya. 'Apa lagi yang salah dengan diriku. Mereka seperti ingin menghakimiku saja.'


Syila mengirimi pesan pada Fanya, dia mengatakan berada di kantin sedang sarapan.


''Hai..'' Sapa Syila langsung duduk dihadapan Fanya.


''Hai juga.'' Jawab Fanya tanpa mengalihkan pandangannya pada bakso berkuah merah itu.


Dan ketika Fanya mengangkat kepalanya guna melihat wajah sang penyapa, bakso yang baru saja masuk dalam mulutnya kembali keluar, menggelinding ke meja mendekati tangan Syila.


''Fanya !!! Kau menjijikkan !!!'' Syila sedikit berteriak mengangkat lengannya jauh-jauh.


Fanya masih mode terpesona, ''Indah sekali !! Sungguh !!''


''Fanya !! Jangan bilang setelah ini kau menyukaiku, jika iya, maka aku menolakmu. Sungguh.'' Syila buang muka.


Fanya tersadar, ''Kau ini, aku masih normal yang menyukai lawan jenis, tapi kau ada angin apa berpenampilan seperti ini ?''


''Tidak ada, aku hanya ingin merubah diriku menjadi lebih baik saja.'' Syila tersenyum manis.


''Aku bangga !!'' Hanya begitu jawaban Fanya.


Syila memang terlihat semakin cantik dengan menutup semua tubuhnya, dan dia juga nyaman dengan penampilannya saat ini. Karena dari sana, orang-orang yang biasa mendekatinya hanya untuk berbasa basi atau hanya mencari perhatian, kini semua nampak sungkan.

__ADS_1


'Kenapa baru terpikir hari ini memakainya ya, harusnya jauh-jauh hari aku menggunakan jilbab ini. Ini sangat nyaman.'


...****************...


__ADS_2