Karma Cinta

Karma Cinta
Mimpi Buruk Lagi


__ADS_3

Dika menelisik. Dari bawah keatas, atas ke bawah.


''Tidak terlalu buruk.'' Ucapnya berlalu, dengan menggandeng tangan Syila.


Syila menaiki mobil Dika. Disepanjang perjalanan Dika hanya fokus menyetir, karena makhluk disampingnya tertidur pulas.


Mungkin efek menangis terlalu lama.


***


Berhentilah mobil Dika di halaman rumah. Tidak kecil, tidak juga mewah namun terasa asri dan nyaman.


''Sayang bangunlah.'' Syila hanya menggeliat.


''Putri tidur apa perlu sebuah ciuman agar kau terbangun ?'' Syila yang mendengarnya langsung membuka mata lebar-lebar.


''Aku sudah bangun. Ayo turun.'' Syila langsung turun dari mobil berjalan penuh percaya diri. Namun dengan langkah yang sedikit oleng.


Ketika sudah ada sepuluh langkah dia berhenti. Sadar akan sesuatu yang berbeda. Lalu dia menoleh kearah pak sopir tersayangnya.


''Ini dimana ? Ini bukan rumah Bibi Nuha.''


Bukannya menjawab, Dika malah mendahuluinya. Lalu membukakan pintu, mengajak Syila masuk.


Syila mengamati setiap ruangan itu. Sederhana tapi sangat nyaman. Jika dibandingkan dengan rumah di kampungnya, mungkin tidak jauh berbeda ukurannya, lebih lebar bangunan ini sedikit.


''Duduklah. Aku buatkan minum.'' Syila patuh.


Tak lama Dika keluar dari arah dapur. Karena dia membawa nampan beserta minuman juga cemilan.


''Diminum dulu. Kau pasti haus.'' Memang benar. Menangis membuatku lelah sekali. Aku baru menyadari itu.


''Ini rumahku Syila. Apa kau suka ?''


''Mungkin ini juga akan menjadi rumahmu kelak. Jika kita sudah menikah.'' Tutur Dika.


''Jika kau lelah kau bisa istirahat disalah satu kamar ini. Atau mau di kamarku juga tak masalah.''


Mata Syila sudah yang awas waspada memberikan tatapan horor kepada Dika.


''Kau ini terlalu banyak menonton sinetron atau banyak berhalu karena novelmu. Aku tahu batasanku Syila. Kau tak perlu takut.'' Mengerti apa yang ada dipikiran kekasihnya itu.


''Oh iya. Tadi ponselmu berdering lama. Ternyata panggilan dari Bibi Nuha. Lalu aku angkat. Dia berkata bahwa malam ini mungkin akan pulang agak larut. Dia mengunjungi tokonya yang berada di daerah XX. Takut jika kau pulang rumah sepi. Karena pembantu disana juga pulang pergi kerjanya.'' Jelas Dika lagi.


''Baiklah tak masalah. Jadi kau sendiri yang membersihkan rumah seluas ini ?''


''Tidak aku menyewa jasa orang lain. Seperti Bibi Nuha. Namun 3 hari ini orang itu ijin anaknya sedang sakit.'' Terang Dika.


Syila hanya ber oh ria.

__ADS_1


''Kau membeli semua ini dari uangmu sendiri ?''


''Menurutmu ?''


Syila memutar bola mata. Malas. Bukannya menjawab malah memberi pertanyaan.


''Aku tidak tahu.''


''Jika aku bercerita apa kau akan marah ?''


''Dan mulailah bercerita agar kau tahu aku marah atau tidak ! Jika kau selalu bertanya maka akupun tidak tahu, aku akan marah atau tidak ?'' Masih dengan mood yang amburadul.


Dika meringis. Ini benar-benar Syila bukan sih. Kenapa lebih seperti emak-emak berdaster kurang uang bulanan. Alias sewod-an dan garang. (wkwkwk ini mah author banget).


''Aku pernah bercerita tentang putusnya aku dengan mantanku tanpa alasan yang logis itukan. Ini adalah impian kami berdua. Tidak, lebih tepatnya aku yang ingin memberikan segalanya yang aku miliki. Kami pernah merencanakan untuk menikah di masa depan. Aku kerja dari pagi sampai malam ibarat kaki untuk kepala, kepala untuk kaki. Gajiku tidak aku gunakan sama sekali. Untuk kebutuhan sehari-hari aku menjadi sopir taxi online. Aku mengejar target tanpa kenal waktu. Hingga dua tahun kemudian aku mampu membeli rumah ini secara tunai. Namun dua tahun terakhir itu juga hubungan kami berakhir.''


''Ck.. Tragis sekali.'' Hahahha. Syila bukannya ikut prihatin malah menertawakan Dika sepuasnya.


Dika sebal, namun dia juga ikut tersenyum melihat kekasihnya tertawa lepas seperti itu. Wajahnya kembali ayu dan manis. Walau dengan mata bengkak seperti tersengat lebah.


''Lalu ?'' Tanya Syila.


''Tidak ada. Ya sudah hitung-hitung untuk investasiku sendiri. Entah untuk keuangan atau untuk jodoh masa depanku dan anak-anakku kelak.''


''Huooo aku merinding mendengarnya.'' Masih dalam mode meledek.


''Tidak apa. Teruskan saja meledekku. Aku senang melihatmu kembali tertawa.'' Ucap Dika.


''Ayo ikut aku.'' Dika mengajak Syila pergi ke dapur.


''Kau bisa memasak ?''


''Menu apa yang paling kau kuasai ?''


''Kau suka sayur apa ?''


''Apakah kau juga tidak menyukai seledri seperti Ayah ?''


''Ayah bilang seledri itu bau. Padahal menurutku tidak begitu. Seledri sangat sedap aromanya.''


Setelah menertawakan. Sekarang dia bertanya tanpa koma dan titik.


Dika memakai celemek/apron.


''Kau mau apa Dika ?''


''Mau menutup mulutmu dengan ciuman. Jika benar-benar kau tidak bisa berhenti bertanya.''


''Heii...'' Tidak jadi melanjutkan setelah Dika benar-benar berjalan mendekatinya.

__ADS_1


''Apa ? Kau menantangku ?'' Syila menggeleng kuat kepalanya dengan menutup mulutnya dengan tangan.


Dika mendekat, Syila yang mundur, terus begitu. Hingga tanpa sadar Syila terjerambah disalah satu kursi. Jantungnya mulai terpicu.


''Duduk manis disini. Tunggu aku menyelesaikan pekerjaanku. Dan diamlah. Aku membutuhkan konsentrasi.'' Ucap Dika penuh sensasi.


Syila memejamkan matanya. Merasakan hembusan napas Dika yang menyapu area kulit leher dan telinga. Panas menjalar. Membuat semburat merah tercetak dipipi juga ujung telinganya.


Lagi-lagi Syila mengangguk cepat.


''Good girl.'' Mengelus ujung kepalanya.


Sungguh ini tidak baik untuk jantungku. Tapi dia terlihat semakin menggemaskan memakai apron seperti itu. Aku jadi ingin mencubit pipinya. Ucap Syila dalam hati.


''Boleh aku membantumu ?''


Setelah sekian menit hanya menunggu. Bosan. Dika hanya memberi isyarat dengan tangannya yang berarti tidak.


Tak berbuat apa-apa membuat mata Syila berat. Efek lelah dan bosan juga. Dia menelungkupkan wajahnya diatas meja makan. Lalu tidur dengan pulasnya.


Dika menoleh untuk mengecek keadaan kekasihnya itu. Lantaran tidak terdengar suara apapun. Dika tersenyum manis ketika menemukan Syila dalam keadaan terpulas.


Beberapa saat kemudian masakan selesai dibuatnya. Sop ceker ayam jahe, ayam goreng dan sambal.


Setelah menata di meja dengan sangat hati-hati, Dika ingin membangunkan Syila.


Dahi Dika mengernyit. Melihat Syila seperti cemas dalam tidurnya. Dahi yang dipenuhi keringat, mata yang berair seperti menangis lagi.


''Sayang.. Bangunlah.. Ayo kita makan.. Kau bilang tadi lapar.'' Dengan membelai lembut kening dan pipinya.


''Sayang...'' Panggilnya sekali lagi.


''Jangan pergiii..!!!'' Teriak Syila setelah terbangun. Dengan napas yang memburu.


''Aku tidak akan pergi. Aku disini. Kemarilah !''


Dika memeluk Syila. Mencoba menenangkannya. Namun dia malah terisak kembali.


''Ada apa ?''


''Aku mimpi itu lagi. Aku sangat takut.''


''Tenanglah itu hanya mimpi. Mungkin karena kau tertidur dalam keadaan lapar, makanya kau mimpi buruk.'' Ucap Dika selembut mungkin.


Syila melerai pelukkan mereka. Dia baru menyadari hal itu.


''Sudah siapkah ?'' Dika mengangguk seraya memperhatikan wajah Syila.


''Apa aku terlalu lama tidurnya ?'' Dika mengangguk kembali seraya menghapus sisa airmata Syila.

__ADS_1


''Dimana toiletnya. Aku ingin ke toilet sebentar.'' Ucap Syila langsung diantar ke toilet oleh Dika.


__ADS_2