
Hahh aku tak menyangka Ayah mengajakku ke kebun. Tapi kebun sudah disulap demikian rupa menjadi tempat untuk berkemah.
Dan disana sudah ada satu tenda yang berdiri kokoh. Dan Ibu terlihat sedang menyiapkan makanan untuk kami.
''Ini sebagai perayaan kecil-kecilan atas kelulusanmu dengan nilai yang lebih baik dari biasanya kau dapat, nak.'' Kata Ayah.
Aku mengerucutkan bibir. Ayah ini mengina sekali sih.
''Ayah..!! Begini-begini juga anak Ayah. Aku sudah sangat berusaha memberikan yang terbaik untuk Ayah.'' Jawabku sedikit merajuk.
Ayah dan Ibu tertawa.
''Kamu memang kebanggan Ayah dan Ibu. Bagaimanapun nilai-nilaimu, tak akan mempengaruhi rasa bangga dan sayang kami untukmu sayang.'' Ibu menengahi.
Kami melewatkan malam ini di kebun. Tidur dalam satu tenda. Aku benar-benar seperti anak bayi lagi.
***
Tok.. tok.. tok..
Terdengar bunyi ketukan pintu. Kami sedang di dapur membantu Ibu, ralat, lebih tepatnya menganggu Ibu yang sedang membuat pesanan kue. Sedangkan aku dan Ayah hanya sibuk bicara sesekali perang tepung.
Akupun menyudahi perang yang memporakporandakan dapur Ibu. Ibu tidak keberatan atas ulahku dan Ayah. Malah kalau sempat Ibu mengabadikan melalui ponselnya.
''Siapa sih mengganggu saja. Padahalkan aku hampir menang.'' Gerutuku kesal.
''Mungkin Pak Salim nak. Kemarin Ibu pesan ikan untuk dimasak, ini bawa uangnya nanti berikan sekalian.'' Sahut Ibu.
Aku berjalan menuju pintu. Kubuka, belum menatap wajahnya.
''Ini uangnya Pak, kata Ibu, Ibu pesan i...'' Tercekat suaraku ditenggorokkan ketika melihat siapa yang datang. Bukan tukang ikan.
Yang aku panggil Pak mengernyit bingung, setelah itu tertawa setelah mengamati penampilanku yang astaghfirullah sekali.
Dika... aku terkejut.
Huaaa kenapa dia datang disaat keadaanku begini sih.
Aku salah tingkah sendiri, ingin merapikan yang mana dulu. Semua penuh tepung. Wajahku apa lagi.
Yaa Tuhan..
__ADS_1
''Sedang membuat kue ? Atau sedang mandi tepung ?'' Tanyanya dengan tangan yang terulur menuju pipiku, pelipisku dan rambutku.
Aku hanya mematung dengan mata yang terus awas mengawasi wajahnya. Perlakuan manisnya ini selalu bisa meluluhlantakkan perasaanku.
Aku tersadar, aku sudah terbuai.
''Sudah. Biar aku bersihkan sendiri. Mari masuk.'' Gugup aku dibuatnya.
Aku langsung menuju dapur, memberi tahu Ayah dan Ibu di depan ada Dika.
Sedangkan aku sendiri bergegas masuk kamar.
Setelah semua selesai, aku keluar kamar menemui pujaan hatiku. Terlihat dia sedang bercanda dengan Ayah. Aku teringat kata-katanya kemarin 'memperistri'. Yaa ampun deg degan sekali.
Aku duduk disamping Ayah. Dan Ibu menyembul dari dapur dengan kue ditangannya. Ibu ikut bergabung dengan duduk disampingku. Aku berada ditengah-tengah Ayah dan Ibu.
Terlihat Dika sedang menghirup napas dalam-dalam.
''Yah, Bu.. kedatanganku kemari, ada yang ingin aku sampaikan.'' Ucap Dika. Dia melirikku. Tanganku sudah berkeringat. Jantungku sudah ber dizco ria.
''Ada apa nak ?'' Tanya Ayah.
Dengan mata yang terlihat yakin. Dia datang sendiri untuk melamar. Aku sangat menghargai usahanya dan keberaniannya itu.
Lalu Ayah dan Ibu nampak terkejut sekali dengan penuturan Dika. Ayah menatapku sebentar.
''Kau sadar dengan ucapanmu itu nak ? Apakah kau benar-benar serius ?'' Tanya Ayah.
Dika mengangguk mantab.
''Sangat serius Yah.''
''Kau bagaimana Syila ?'' Kali ini Ibu yang bertanya.
Aku menunduk. Mengapa jadi resah begini. Ibu membawa tanganku dalam genggamannya melihatku nampak tidak percaya diri.
''A.. aku.. bagaimana ridho Ayah dan Ibu saja.'' Jawabku terbata.
''Kau dengarkan nak. Tunggulah sampai Syila mampu beradaptasi dengan ibu kota. Mungkin 6 bulanan atau 1 tahun lagi. Jika memang kau tak percaya dengan hubungan tanpa ikatan yang resmi. Kau bisa bertunangan dulu.'' Kata Ayah.
Terlihat raut kecewa diwajah Dika.
__ADS_1
''Bukannya kami ingin putri kami terus menumpuk dosa, atau kami bermaksud meremehkan niat baikmu. Hanya saja tolong mengerti sedikit, Syila masih remaja dia masih mempunyai mimpi. Dia ingin kuliah. Tolong biarkan dia beradaptasi sebentar dengan dunianya. Jika memang nanti dia sudah mengerti dunia luar tanpa orangtuanya, dia mampu memantabkan hatinya untukmu. Dengan bahagia Ayah serahkan putri kesayangan Ayah ini kepadamu.'' Jawab Ayah lugas.
Aku tak mengerti, alih-alih aku kecewa mendengar jawaban Ayah yang seperti menunda niat baik Dika. Namun nyatanya aku senang sekali dengan tertundanya niat baik itu.
Dika nampak berfikir lagi. Seperti menimbang-nimbang ucapan Ayah.
''Jodoh sudah diatur nak, Ibupun tidak keberatan jika Syila menikah diusia yang sangat muda. Tapi bagaimana denganmu nanti. Sanggupkah mengurus dan membimbing putri kami ini ?? Dia gadis yang tak pernah mengerti dunia luar. Apa lagi tentang pernikahan. Dia tidak pernah menangis berada disisi kami.'' Sambung Ibu seakan benar-benar berat melepaskan putrinya.
Menjalani bahtera rumah tangga itu pasti akan banyak rintangannya. Akan ada pertengkarannya. Salah pahamnya. Cemburunya. Dan yang paling dijauh-jauhkan dari pikiran adalah sebuah pengkhianatan. Sedangkan Syila dia masih dengan emosi yang labil. Masih dengan perasaan yang sensitif. Anak manja orangtuanya. Hidup penuh cinta kasih. Tanpa mengerti berjuang. Orangtua Arsyila hanya mengkhawatirkan itu.
Mereka sangat khawatir putrinya merasa syok dengan semua suguhan berumah tangga.
Merekapun tak luput dari pertengkaran, hanya saja, mereka mampu menyimpannya bahkan dari putrinya sendiri. Jadi yang terlihat Syila selama ini hanya kebahagiaan dan keharmonisan.
''Baiklah Yah, Bu, aku akan menunggunya sampai dia siap begitupun dengan ridho Ayah dan Ibu. Aku siap menggantikan peran kalian untuk Syila.'' Jawaban Dika masih terdengar mantab.
Syila terharu mendengarnya.
''Aku akan mempersiapkan semuanya untuk acara pertunangan ini.'' Imbuhnya lagi.
Orangtua Syila hanya menganggukkan kepala.
''Jika begitu aku pamit undur diri.'' Sambung Dika lagi.
***
Setelah Dika pergi, yang tadinya Syila sangat tegang kini bertambah tegang ketika Ayah dan Ibu memasang mode serius.
Ohh Tuhan rasanya melebihi ketika menghadapi kelulusan.
''Kau yakin dengan hatimu nak ? Yakin dengan pria yang tadi datang memintamu untuk menjadi istrinya.'' Ibu bertanya. Ayah mengamatinya.
Syila menundukkan kembali kepalanya. Tangannya bertautan satu sama lain, menyalurkan berbagai rasa yang berkecamuk dihatinya.
''Kau yakin ingin menikah muda ? Kau yakin bisa membagi waktu antara rumah tangga dan pendidikkanmu ??'' Tanya Ibu kembali.
''Aku tidak tahu Bu. Masih ada sedikit keraguan dihati Syila. Dika juga mengatakannya dengan sangat mendadak. Bahkan aku merasa lega karena Ayah memberiku waktu untuk berpikir dan beradaptasi. Karena sejatinya memang aku ingin mengenalnya lebih dulu. Karena selama ini kami hanya berhubungan melalui ponsel. Tapi aku rasa itu bukan alasan yang tepat. Entahlah aku sendiri bingung.'' Jawabku jujur.
Ayah dan Ibu saling pandang. Lalu mereka menghela napas bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1