Karma Cinta

Karma Cinta
Pov Adji


__ADS_3

Pov Adji


Aku kini merasa sangat menyesal. Mengapa harus mengenal dunia hitam. Yang harus menemukanku kepada waktu itu. Waktu keparat saat aku dengan seorang wanita sama-sama sedang terbuai nikmatnya dunia.


Aku fikir itu hanya akan menjadi kencan semalam. Nyatanya wanita itu telah lama mengagumiku. Saat itupun aku merasa tidak peduli. Hidupku lepas bebas. Aku sudah kebas dengan berbagai masalah. Maka dari itu aku memilih pergi tidak peduli mencari kesenangan yang lain.


Ya sebrengsek itu aku sebagai pria.


Sampai saatnya aku bertemu dengan Syila. Gadis mungil yang sederhana. Aku langsung jatuh cinta padanya.


Tatapannya, senyumannya, terasa sangat tulus dan teduh. Membuat dadaku berdebar bahagia setiap kali berdekatan atau hanya sekedar menyebut namanya.


Hingga bergulirnya waktu, kami semakin dekat. Sampai-sampai aku seperti tidak mau pergi jauh darinya. Tapi apalah daya. Aku harus ke kota pekerjaanku pindah ke sana.


Hubungan kami hubungan jarak jauh. Aku harus terpaksa merantau demi pekerjaan yang sudah aku perjuangkan. Aku selalu merindukannya.


Tapi aku masih belum bisa lepas dari duniaku seutuhnya yang sudah membuatku nyaman.


Hidup di tengah keluarga yang broken home membuatku menjadi tidak waras.


Kehadiran Syila kurasa membawa perubahan yang positif. Aku mulai bisa mengontrol emosiku. Aku mulai bisa berbicara santun dan lembut kepada lawan bicaraku yang lebih berumur.


Sampai suatu saat Ibuku terheran-heran dengan perubahanku. Ibu khawatir aku mengkonsumi obat terlarang yang mungkin berlabel halal. Karena membawa perubahan yang baik pada diriku.


Ibu ini, mana ada narkotika berlabel halal.


Lalu aku bercerita tentang sosok Syila kepada Ibu. Kutunjukkan fotonya. Ibu antusias sekali menanggapinya.


Itu untuk pertama kalinya aku berbicara dari hati ke hati tentang dan kepada wanita berbeda genre namun sama-sama aku cintai.


Dari sana Ibu memilih mengenalkan diri terlebih dahulu kepada Syila. Mereka lama kelamaan menjadi akrab.


Aku senang melihatnya.


Bahkan semenjak mengenal Syila aku sudah mulai berhenti dengan obat-obatan terlarang itu. Walau awalnya sungguh menyiksa diri namun karena semangat untuk dan dari Syila aku berhasil berhenti.


Bukankah aku harus mematutkan diri agar sepadan berdiri disamping bidadari.


Begitulah asumsiku saat itu.


Kenapa aku tidak tercium oleh polisi. Siapa bilang. Waktu masih duduk di bangku SMA aku pernah di rehabilitasi oleh anggota aparat. Dan Ibu harus mengeluarkan biaya yang besar untuk kesalahanku itu.

__ADS_1


Aku mengenalkan diriku kepada Syila dengan apa adanya. Aku bercerita tentang dunia hitamku. Sampai Syila mau membantuku perlahan meninggalkan duniaku itu. Dia menerimaku tanpa pandang masa silamku.


Hasilnya seperti sekarang. Mungkin sesekali aku masih minum alkohol. Aku tahu Syila membencinya. Namun entah mengapa akupun sulit meninggalkannya.


Sampai suatu hari ada wanita yang mencariku.


Aku berfikir keras. Ahh ingat wanita itu, mengapa kemari.


"Ada apa kau kemari ?" Tanyaku sarkas.


Wanita itu menceritakan semua kebenaran setelah malam itu. Kebenaran dia hamil darah dagingku. Dan ternyata anak itu sedang sakit parah. Dokter menyarankan transpalansi sumsum tulang belakang untuk menolong nyawa anak tidak berdosa itu. Dan yang bisa melakukannya salah satunya orang tua kandung.


Gemuruh batinku. Apa lagi ini apakah ini yang harus aku tuai dari apa yang aku tanam di masa lalu.


Tidak mungkin. Dan aku tidak mau. Bagaimana dengan bidadariku Syila.


Aku dan anak itu akhirnya melakukan tes DNA. Untuk meyakinkanku yang menolak jika semua itu benar.


Ibu mengetahuinya. Dia syok tentu saja. Ibu sudah berandai-andai Syila menjadi menantunya. Namun semua harus melebur bersama hasil tes yang menyatakan kami cocok sebagai anak dan ayah.


Ibu mengerti jika aku saat itu sedang dalam kondisi psikis yang tidak baik.


Ibu tidak ingin aku menjadi pria brengsek yang pengecut seperti itu. Di sisi lain anak itu terlihat sangat merindukan kehadiran seorang Ayah. Terbukti bahwa saat Ibunya mengenalkanku sebagai Ayahnya, anak itu tidak mau lepas dariku. Bahkan sampai tidur pun begitu ingin denganku. Gundah gulana aku jadinya.


Hatiku sedikit tersentuh dengan kehadiran anak itu. Entahlah apa mungkin ini yang disebut ikatan batin.


Aku belum mengambil keputusan untuk mau menikahi wanita itu atau tidak. Waktu luangkupun tersita untuk anak itu. Semakin hari semakin lebih peduli aku dengannya. Dia makhluk yang tidak tahu apa-apa. Tidak semestinya aku mengabaikannya.


Hingga suatu saat, anak itu memintaku untuk menetap bersama mereka. Dengan deraian air mata ketika melihat aku ingin kembali pulang.


Ahh ternyata akupun tak tega. Dengan desakan Ibuku untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah kulakukan. Rasa iba melihat bocah kecil yang begitu merindukan sosok Ayahnya, juga yang sedang berjuang melawan sakitnya. Dan juga rasa bersalahku yang tiba-tiba muncul menghantam ketenangan hidupku.


Aku bimbang sekali. Jika menikah aku harus melepas Syila. Aku harus berbicara apa. Aku tak sanggup untuk mengatakan semuanya. Itu terlalu kejam untuknya. Aku tidak ingin melihatnya bersedih.


Tapi kalau tidak di bicarakan membuatku semakin tidak tenang.


***


Akhirnya akupun menikahi wanita itu. Tanpa sepengetahuan Syila. Terpancar kebahagiaan darinya dan juga anakku. Akupun tersenyum simpul melihatnya ceria.


Beberapa hari setelah pernikahan, dia harus menjalani operasi transpalansi sumsum tulang belakang.

__ADS_1


Ketika aku menemui Syila waktu malam Minggu itu sebenarnya tujuanku untuk mengakhiri hubungan kami aku ingin menceritakan semuanya.


Namun nyatanya aku tak mampu, nyaliku tak sebesar itu, aku terlalu pengecut. Melihat Syila dengan wajah sumringah, senyum merekah, pipi merona membuatku benar-benar tak ingin melepaskannya.


Serakah sekali aku ini. Aku ingin menebus dosaku dengan wanita lain tapi aku juga tak mau melepaskan wanita yang sangat aku cintai untuk saat ini.


***


Serapi apapun kau menyimpan bangkai pasti akan terendus juga baunya.


Begitulah akhirnya. Belum sampai aku mengumpulkan nyaliku karena sudah berbohong dan mengkhianati Syila. Belum mampu aku menyampaikan kesungguhan maafku. Syila sudah menyadarinya dulu.


Dia begitu murka. Selama mengenalnya baru kali itu aku melihatnya benar-benar marah.


Dia menangis, membuatku juga merasa sakit.


Setelah semua penjelasan dan permintaan maafku, Syila mengakhiri semuanya. Seharusnya aku bisa menerima namun, kenyataannya itu membuatku depresi. Seperti kembali ke masa lalu. Detik-detik kehidupan yang terasa pahit dan sakit.


Aku memohon padanya. Menjatuhkan harga diriku sebagai laki-laki. Membuang ego tinggiku. Aku menangis dihadapannya. Bukan drama namun nyatanya kepergian Syila lebih menyayat hati dari apapun yang pernah kulalui.


Kulihat diapun menangis. Aku fikir akan ada kesempatan kedua. Tapi bodohnya aku. Wanita baik-baik sepertinya mana mau menunggu pria yang sudah beristri dan punya anak. Mana mau dia disebut orang ketiga.


Akhirnya tanpa daya apapun, diujung sebuah permohonan, aku hanya mendapati penolakkan dan kepergian.


Aku hanya mampu menatap punggungnya yang semakin menjauh. Semakin membuat jarak padaku. Semakin sulit untuk kugapai.


Wanita yang kucintai pergi karena diriku sendiri.


Ahhhhhhhhh.... bodohnya aku.. bajingannya aku..


Bahkan aku sendiri membenci diriku yang seperti ini.


**Pov Adji end


Hello readers... semoga berkenan ya.. maaf kalau masih banyak kurang dan typonya.


Jangan lupa like, koment, dan vote. Juga tambahin ke list favorite kalian.


Aku mencintai karyaku sendiri dan aku berharap kalian juga bisa mencintai karyaku yang amatiran ini.


Thank you yang udah mampir dan meninggalkan jejak**.

__ADS_1


__ADS_2