
Dika pulang dengan perasaan yang berkecamuk.
Setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan Laura tadi, membuatnya enggan memejamkan matanya. Padahal waktu sudah menunjukkan lebih dari tengah malam dan esok dia akan kerja.
Pikirannya berkelana ke masa lalu. Masa-masa indahnya dengan Laura. Penuh cinta dan kasih. Sampai dia menyatakan putus dengan alasan tidak logis.
Saat itu Dika ingin memberinya kejutan sebuah rumah yang dia tempati saat ini beserta melamarnya. Namun pahit yang harus dia terima saat dia mengakhiri hubungannya. Dan sepekan kemudian dia sudah menggandeng pria lain.
Ironis. Bahkan setelah kejadian itu, hati Dika masih menyimpan rasa untuknya, dia tidak marah atau membencinya. Hanya rasa kecewa.
Lalu Dika menatap jari tangannya yang ada cincin pertunangannya dengan Syila.
Lalu bayangan Syila hadir dinetranya. Senyumnya, ocehannya, sifat manjanya.
Jika dibandingkan, Laura wanita matang, berkarier dan terlihat dewasa. Sedangkan Syila dia masih termasuk remaja yang labil, bahkan sangat manja namun menggemaskan.
''Aku merasa bersalah dengan Syila.''
***
Paginya, Syila berangkat dengan motor Bibi Nuha.
Menempuh jarak sekitar 1 jam menuju kampusnya. Dan itu tidak membuatnya patah semangat. Wajah bahagia Ayah dan Ibunya lagi-lagi menjadi motivasinya.
Sampainya dikampus Syila memakirkan motor. Tepat dengan motor besar klasik datang disebelah Syila.
Dia menoleh kepada Syila. Hanya memperhatikan tanpa ingin menyapa.
Syilapun turun lalu sedikit menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
''Menarik.'' Ucap sang pria ketika Syila sudah pergi.
Dikelasnya Syila mempunyai teman, Fanya namanya. Wanita tak kalah mungil dengan Syila, hanya hijab yang membedakan mereka.
Tiba-tiba para mahasiswi dibuat heboh dengan kedatangan senior, yang menurut mereka paling keren dan tampan.
''Fanya, ada apa ? Kelas heboh sekali, sudah seperti mau terkena ****** beliung saja.'' Kata Syila.
''Kakak senior kemari. Dengar-dengar mau mengadakan semacam bakti sosial rutin setiap hari Jumat untuk disumbangkan ke yayasan yang membutuhkan.''
''Kau tahu banyak informasi sepertinya.''
''Tidak juga, hanya tidak sengaja menguping tadi.''
''Kau ini, mana ada menguping tidak sengaja.'' Fanya cengengesan.
Fanya ini gadis dengan perpaduan sifat Una dan Talita. Diam-diam, sekali bicara suka aneh kadang suka langsung pada intinya. Tanpa disaring dulu.
''Apakah diwajibkan ?''
''Sepertinya tidak.''
Dan benar saja, para senior itu menawarkan acara bakti sosial. Persis dengan yang dikatakan Fanya.
''Ikut yuk !'' Ajak Syila.
''Boleh.''
Mereka mendaftarkan diri. Tanpa mereka sadari, salah satu senior mereka ada yang memperhatikan Syila tanpa jeda.
Dia Samuel. Biasa dipanggil Sam. Anak orang kaya yang menjadi donatur tetap di kampus ini.
***
''Hai..'' Sapa Sam saat melihat Syila sendirian di bawah pohon dengan membaca bukunya.
__ADS_1
Syila malah celingukkan, mencari orang selain dirinya. Tapi tidak ada, dia hanya sendirian di bawah pohon itu.
''Kau menyapaku ?''
''Siapa lagi ? Disini hanya ada kau.''
''Ohh baiklah. Ada apa ya emm...?'' Bingung mau memanggilnya siapa.
''Aku Samuel. Panggil saja Sam. Boleh bergabung ?''
''Silahkan saja Sam.''
''Aku harus memanggilmu apa ?''
Ini secara tidak langsung mengajak kenalan ya. Batin Syila.
''Syila. Maaf aku ada keperluan yang lain. Aku permisi.''
Sam meyunggingkan senyumnya, ''Manis.'' Ucapnya lagi setelah Syila menghilang.
***
Sementara di ruangan Dika.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar ketukan pintu dari luar.
''Masuk.'' Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
''Permisi, Pak, ini ada karyawan baru, akan menggantikan karyawan lama yang risegn.''
''Dia ditugaskan membantu pekerjaan Pak Dika.'' Jelasnya.
''Saya Laura Destyana...''
Deg..
Lagi lagi hanya mendengar suara itu, jantung Dika terpompa lebih kencang, 'Laura ?'. Dika mengangkat kepalanya dan pandangan merekapun bertemu. Dika melepas kacamata, lalu menyuruh karyawan yang membawa Laura pergi.
Laurapun sersenyum penuh arti. Tadinya ia pun terkejut. Ketika ia dijelaskan siapa yang akan menjadi rekan kerjanya dan tugas-tugasnya.
''Kau yang akan menjadi partner kerjaku ?'' Seakan tak percaya.
''Apakah keberatan ?''
Dika memijat pangkal hidungnya. Mengapa menjadi begini.
''Lupakan saja. Aku membutuhkan kinerjamu yang apik dan disiplin. Kemarilah, aku mempunyai tugas untukmu.'' Titah Dika yang memang pekerjaannya hari ini sangat menumpuk.
Tak terasa jam makan siangpun tiba. Mereka selesai meeting dengan para petinggi perusahaan lainnya. Membahas proyek yang akan didirikan sebagai cabang.
Entah bagaimana ceritanya, kini Dika dan Laura sedang berada disebuah rumah makan.
Mereka makan bersama.
''Aku tidak menyangka kau mempunyai pekerjaan sebagai manager.''
''Itu bukan apa-apa.''
Laura tersenyum tipis.
''Dika, aku ingin bicara, tapi bukan tentang pekerjaan.''
''Katakanlah.''
__ADS_1
''Kau bilang kau sudah memaafkanku bukan ?'' Dika mengangguk.
''Kalau begitu bisakah kita kembali ?'' Pintanya terang-terangan.
Dika berhenti menyendokkan makanannya. Lalu menatap Laura yang memang ia sendiri bingung dengan hatinya.
''Kau lihat'', menunjukkan jarinya.
''Aku sudah bertunangan, dan jarak kurang dari setahun aku akan menikah.''
Lagi-lagi Laura dibuat terkejut. Ahh bodohh. Seandainya dulu dia tidak pergi, mungkin hidupnya lebih layak dan bahagia. Mungkin bukan orang lain yang mendampingi Dika.
''Baiklah, maaf, aku mengerti, namun bisakan kita menjalin hubungan layaknya teman. Aku mohon.''
''Terserah kau saja.'' Jawab Dika.
**
''Dika...'' Dika menoleh merasa ada yang memanggil.
''Syila ?'' Dia terkejut. Rasanya mengapa seperti sedang ketahuan selingkuh ya.
''Kau sedang disini juga. Dengan siapa ?'' Tanyanya ketika melihat wanita yang cantik dan modis ala wanita karier.
''Ahh iya tadi selesai meeting lalu makan siang sekalian. Dia rekan kerjaku.''
''Haii.. Syila.'' Syila mengulurkan tangannya.
Laura menyambut, ''Laura.''
''Nama yang cantik.'' Tersenyum tulus.
''Kau sudah makan sayang ?'' Tanya Dika, mencoba menetralkan degup jantungnya. Padahal dia tidak berbuat apa-apa. Hanya karena yang menjadi rekannya adalah mantan yang susah dilupakan, ia merasa mengkhianati Syila.
''Berhenti memanggilku begitu Dika, apalagi ini di tempat umum,'' berbisik ''Aku malu dengan rekan kerjamu.''
''Kalau aku tidak mau ? Duduklah aku pesankan makanan dulu.'' Syila patuh. Niat datang memang ingin makan siang.
''Kau tunangan Pak Dika ?'' Tanya Laura.
''Iya.'' Jawab malu-malu.
''Masih sangat muda, berapa usiamu ?''
''18 tahun.'' Laura dibuat menganga, tak percaya mengapa Dika pindah selera. Setahunya dulu, Dika lebih tertarik dengan wanita dewasa. Paling tidak yang seumuran dengannya.
''Kau kenapa ? Mengapa seperti terkejut begitu. Oh iya kau sudah lama bekerja dengan Dika ?''
''Tidak apa. Kau masih sangat muda. Aku baru hari ini masuk kerja. Sebelumnya bekerja di perusahaan lain.''
Syila hanya manggut-manggut dengan ber oh ria.
Selesai makan.
''Kau kenapa bisa sampai disini ? Kampusmu kemari lumayan jauh.'' Tanya Dika.
Tadinya hanya ingin keliling sebentar. Tidak tahunya nyasar.'' Nyengir dengan kebodohannya.
''Kau ini, nanti kalau aku libur aku ajak berkeliling. Jangan pergi sendirian, bahaya.''
''Kau seperti sedang menasehati seorang bocah Dika !" Mulai kesal.
''Memang apa lagi kalau bukan bocah, hm ?'' Gemas Dika sembari menarik hidung Syila.
Sedangkan Laura sedari tadi hanya mengamati interaksi pasangan ini. Ada yang sakit yang ia rasakan. Membuatnya mengepalkan tangannya. Melampiaskan kecemburuan yang ada.
__ADS_1