
Semenjak hari itu, Syila menjadi lebih aktif masalah ranjang. Dia sendiri juga bingung dengan perubahan yang ada pada dirinya. Terkadang walau pagi sudah terpenuhi, dua jam setelah keberangkatan suaminya, ia tiba-tiba ingin, lalu menyusul Kaisar ke kantor. Walau pun aneh untuk Kaisar, tapi ia menyukai perubahan Syila yang satu itu.
Untuk makan, Syila juga lebih banyak makan, terutama makanan ringan.
Seperti hari ini, ia sedang menemani Kaisar yang masih berkutik dengan layar monitornya. sudah ada lima belas bungkus snak makanan ringan.
''Sayang, sudahlah ini terlalu banyak, jika lapar kau bisa makan nasi, atau ganti saja dengan buah seperti biasanya,'' cegah Kaisar yang melihat Syila ingin membuka bungkus makanan ringan lagi.
''Kembalikan Kai, aku masih ingin!'' bibirnya sudah maju.
Kaisar menyimpannya, lalu memberikan beberapa potongan buah yang tersedia di sana.
Kesal juga, tapi ia tidak bisa membantah. Memang dia sudah menghabiskan banyak sekali makanan berkemasan itu.
.
.
.
Hari resepsi tinggal tiga hari lagi, Syila semakin menggilai suaminya. Sampai ia malu setelah melakukan. Akhirnya ia memutuskan untuk konsultasi ke psikiater. Takut jika ada kelainan hiperseksual pada dirinya agar mudah di tangani lebih dini.
''Apa keluhannya, Nona?'' tanya dokter psikiater.
Syila menceritakan semua yang ia rasakan dan lakukan. Emosi yang naik turun, kadang garang semenit kemudian melemah. Dari segi makan juga Syila ceritakan. Dokter mendengarkan dengan tenang dan santai sesekali tersenyum. Dengan memegang denyut nadi Syila di tangannya.
''Saya rasa Nona seharusnya pergi ke dokter kandungan, kapan terakhir mentruasi?"
Deg
'Dokter kandungan? menstruasi? aku tidak mengingatnya, memang sudah terasa lama sekali rasanya tidak mendapatkan jadwal bulanan.'
''Aku lupa dok, jadwal menstruasiku tidak teratur dari dulu, jadi aku tidak pernah bisa memprediksinya dengan tepat,'' ucap Syila jujur.
Dokter itu masih saja tersenyum, ''Baiklah, diagnosa saya mungkin Anda hamil. Maka saya sarankan ke dokter SPOG. Jika saya salah, saya akan memeriksa Anda lebih dalam lagi.''
Setelah mengucapkan itu, Syila tak mau menunggu lagi, ia langsung ke pendaftaran dokter kandungan. Kedatangannya ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Kaisar. Setelah merecoki metting Kaisar dengan koleganya tadi hanya karena kebutuhan ranjang, Syila merasa bersalah sekaligus malu. Maka ia berpikiran untuk berkonsultasi. Walau Kaisar tidak memberatkannya, karena dia sendiri paham bagaimana jika rasa ingin itu datang namun tidak tersalurkan. Kaisar tidak ingin menyiksa istrinya.
__ADS_1
Setelah mengantri beberapa menit, giliran Syila yang masuk ke ruangan dokter kandungan itu. Tak ingin berharap banyak, namun harapan itu dengan lancangnya sudah bersemayam di hati Syila. Bayangannya kepada Kaisar. Pasti suaminya itu akan sangat bahagia jika dirinya benar-benar hamil, penantiannya selama ini.
Sebelumnya, mereka saling konsultasi dan memberikan masukan. Lalu Syila di persilakan untuk berbaring guna melakukan USG.
Claer Ultrasound Gel sudah mulai dioleskan pada perut Syila, dingin, semoga menyejukkan kabar yang akan ia terima. Dokter mengarahkan alat USG, tak lama ia tersenyum lalu mengernyit. Membuat Syila yang mulanya sudah tersenyum langsung di selimuti rasa khawatir.
''Dok, apa yang terjadi? ekspresi dokter membuatku takut mendengar hasilnya,'' kata Syila mulai cemas.
Si dokter masih saja tersenyum, ''Selamat ya Nona, Anda memang sedang mengandung.''
Perasaan haru dan bahagia membuncah seketika di hati Syila.
''Lihat di monitor itu, ada dua kantung janin, kemungkinan kehamilan Anda adalah kehamilan kembar,'' lanjut dokter.
Syila langsung menatap layar monitor itu, tidak mengerti sebenarnya mana yang di maksud dengan kantung janin seperti dokter bilang ada dua. Hanya saja ia bahagia hanya dengan melihat dimana buah cintanya dengan Kaisar tumbuh.
''Kehamilan Anda memasuki tujuh minggu, masih dalam keadaan rentan, jadi Anda perlu menjaganya,'' saran dokter ketika pemeriksaan USG sudah selesai.
''Lalu bagaimana dengan keinginan aneh saya tadi dok?'' tanya Syila dengan wajah malu. Membahas masalah ranjang dengan orang lain seperti membuka aib sendiri.
''Ibu hamil tidak ada larangan dan pantangan selama itu sesuai porsi. Buatlah suasana hati Anda sebaik mungkin, itu akan mempengaruhi juga untuk kandungannya, jangan stres. Setelah ini berkunjunglah setiap bulan sekali, ada yang ingin ditanyakan?'' dokter menuliskan resepnya.
Syila menggeleng dan mengangguk patuh kemudian pergi.
.
.
.
Di kamar, Syila memandangi foto hasil USG tadi dengan senyum tanpa pudar. Ia menyimpannya dalam kotak kado yang begitu cantik. Tak sabar hati ingin menyampaikan kepada Kaisar. Tapi ia urungkan, akan ia tahan sampai selesai resepsi nanti. Sebagai hadiah. Syila tersenyum senang sekali. Ia menyimpannya tak lama pintu terbuka, membuat Syila sedikit terkejut.
''Kai, sudah pulang?'' Syila memberikan pelukkannya, pelukkan yang begitu erat, seperti sedang menyalurkan sebuah perasaan. Membuat Kaisar sedikit bingung juga curiga.
''Ada apa, hem? terjadi sesuatukah?'' Syila menggeleng sebagai jawabannya.
'Ah, bagaimana mungkin tidak terjadi apa-apa. Ini kejadian yang begitu besar,' jerit Syila dalam batin.
__ADS_1
Syila memilihkan baju ganti untuk Kaisar, tangan Kaisar melingkar di tubuhnya. Ia kecupi bahu sang istri.
''Kenapa aku sangat merindukanmu, Syila? padahal kita sudah bertemu tadi,'' manja Kaisar.
''Aku memang selalu kau rindukan, sebagaimana aku yang selalu merindukanmu. Sudah mandi dulu sana,'' tak ingin terbuai terlalu lama.
Beberapa menit Kaisar keluar dengan keadaan yang lebih segar, ia menuju meja rias ingin mengambil parfumnya, sekali semprot bersamaan dengan larangan Syila yang mengagetkannya.
''Jangan pakai!'' teriak Syila.
Dengan menutup hidungnya, 'Kenapa tiba-tiba mual mencium aroma parfum itu,' bicara sendiri.
''Kenapa?'' tanya Kaisar bingung.
''Ganti lagi bajumu, aku tidak ingin kau memakai parfum, aku lebih suka mencium aroma tubuh alamimu,'' pinta Syila.
Tak menyadari sebabnya, Kaisar memilih menurut, daripada akan terjadi perdebatan.
Setelah itu mereka turun untuk makan malam. Sudah ada Rayhan yang menunggu.
''Kak, akhir-akhir ini kau terlihat lebih berseri, apa karena kalian akan mengadakan resepsi?'' celetuk Rayhan yang merasa wajah Syila semakin bersinar.
''Mungkin, aku sedang bahagia, Ray,'' jawaban Syila membuat Kaisar bungkam yang sebelumnya sudah ingin menegur Rayhan agar tidak memperhatikan Syila berlebihan.
Selesai makan malam, Syila mengambil air mineral dan juga bungkus obat berupa vitamin penambah darah dan asam folat. Ia meminumnya segera.
''Sayang apa yang kau minum?'' melihat istrinya secara sembunyi-sembunyi membuka bungkus obat sudah diliputi rasa khawatir.
''Ehh, emm ini hanya vitamin, aku merasa sering pusing tadi aku memeriksanya ke dokter dan ini hanya vitamin penambah darah.''
'Percayalah, percayalah!'
''Kenapa tidak memberitahuku jika ke rumah sakit? aku akan mengantarmu,'' cerca Kaisar.
''Sudahlah, aku sungguh tidak apa-apa, jangan khawatir,'' jawab Syila gugup.
Kaisar curiga, begitu dengan Rayhan yang merasa ada sesuatu yang Syila sembunyikan.
__ADS_1