Karma Cinta

Karma Cinta
Hujan


__ADS_3

''Masalah menginap di pantai, awalnya memang hanya aku dan teman-teman. Tidak tahunya disana anak-anak mesin juga memesan tempat. Akhirnya kami gabungkan saja kan jadi lebih seru.''


''Yang kedua foto dengan pria lain. Namanya Doni. Dia satu-satunya teman pria yang kupunya. Lagi pula foto seperti itu dibagian mana yang terlihat mesra. Kita hanya duduk bersama itupun dengan jarak yang seluas samudra.''


''Dan yang ketiga, masalah di minimarket. Dia Samuel, senior di kampusku. Aku juga tidak tahu, dia tiba-tiba disana. Dan insiden Sam, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak mengira dia akan menghapus sisa cokelat dibibirku dengan jarinya.''


Aku tatap mata tajam Dika. Mata yang membuatku tertarik itu. Kuhembuskan nafas lelah.


''Aku sudah mengklarifikasinya, terserah kau mau beranggapan bagaimana. Mau percaya atau tidak. Mataku lelah, seharian untuk membaca. Aku ingin cepat istiraht.''


Aku berjalan meninggalkan Dika.


''Syila...'' Tanganku ditahannya.


''Apa lagi ? Kau tidak percaya padaku ?''


Dika menarik tanganku, membawanya dalam genggamannya.


''Aku hanya cemburu Syila, maafkan aku yang sangat berlebihan ini.'' Dika memohon.


''Iya kau sangat berlebihan !!"


''Sudah kulupakan, ayo pulang !''


Setelah perseteruan tadi, kami pulang. Dika kembali tersenyum saat ketahuan curi pandang dari kaca spoin.


'Sepertinya aku salah menilainya pria dewasa, dia hanya dewasa dari usia.' Batin Syila.


Baiklah lupakan kejadian tadi. Aku melingkarkan tanganku diperutnya. menyandarkan kepalaku dibahunya. Kupejamkan mata, menikmati perjalanan panjang di Ibu Kota.


''Sayang, turunlah.'' Perintah Dika.


Dika berhenti dikafe.


''Dika mengapa sudah berhenti ? Kau tadi tidak mendengarkanku ya, aku lelah ingin istirahat.'' Protesku.


''Ayo makan dulu. Lagipula jalan masih sangat macat.''


Aku melihat jalan, ehh iya mengapa separah itu ?


''Apakah setiap hari seperti ini jalanan Ibu Kota ?''


''Iya, selalu macat, tapi kali ini ada kecelakaan lalu lintas. Motor dengan motor. Makanya sampai parah begini.''


Mendengar kecelakaan lalu lintas, aku langsung teringat dengan mimpi burukku beberapa kali ketika masih di kampung.


''Kau kenapa ? Mengapa wajahmu mendadak pucat ?''


''Tidak apa, mungkin aku juga lapar.''


Akhirnya mereka makan di dalam cafe.


***

__ADS_1


''Dika sepertinya mau turun hujan !!'' Teriak Syila ketika mereka sudah melanjutkan perjalanan pulang.


Lalu hujan benar-benar datang begitu lebatnya.


Mereka meneduh di rumah kosong. Sebagian pakaian mereka sudah basah.


Dika menjadi salah tingkah sendiri, kala melihat baju dan rambut Syila yang basah. Membuat lekuk tubuhnya tercetak dengan jelas dan berkesan menggoda. Kaos putih lengan panjang, sedikit menerawang apa yang ada dibalik kaos itu.


'Dia benar-benar mengujiku hari ini.'


''Ada apa Dika ? Kau terlihat aneh.'' Tanya Syila yang melihat gelagat Dika.


''Bisakah kau berdiri dibelakangku saja ?''


Syila semakin bingung. Lalu datang beberapa pengendara motor lainnya. Segerombolan muda mudi.


Mata-mata itu mengawasi penampilan Syila.


Dika segera menarik tangannya, menyembunyikannya dibelakang punggung lebar Dika. Masih dengan menggenggam tangan Syila.


'Sial, aku tidak membawa jas hari ini.'


Lalu Dika melepaskan kemeja maroonnya. Dia kini hanya mengenakan kaos hitam berlengan pendek.


''Apa yang kau lakukan ?'' Tanya Syila.


Lalu Dika berbalik badan, memakaikannya pada tubuh ramping Syila. Kemeja maroon yang juga basah dan terlalu besar untuk Syila. Tapi setidaknya tidak menerawang bagian dalam tubuh kekasihnya itu.


Dika berbisik, ''Kau mau menggodaku juga menggoda anak-anak itu ?'' Ditunjuk dengan ekor matanya.


''Bra hitam, so sexy.'' Bisik Dika lagi dibuat sesensual mungkin.


Mata Syila melebar. Sadar dengan arah pembicaraannya, Syila buru-buru menutupi bagian tubuh yang memang tercetak itu.


Wajahnya sudah memanas bahkan sampai ke telinganya. Dia tidak berani mengangkat wajahnya karena malu.


'Idiot.. benar-benar idiot !' Merutuki kebodohannya sendiri.


Hujan mulai reda, Dika mengajak Syila melanjutkan perjalanan pulang.


Syila mengekori Dika dengan kepala masih menunduk. Mencoba mengejar Dika yang langkah kakinya lebih lebar darinya.


Bugh..


''Auhh..'' Rintih Syila ketika menabrak punggung Dika.


Dika menoleh, ''Sakit ?''


''Kau mengapa berhenti mendadak seperti itu ?'' Tanya Syila.


''Kau yang menabrakku Nona, aku berhenti sebelum kau berhenti. Aku lupa kunci motornya. Apa ada disaku kemejaku ?'' Tanya Dika.


Kemudian Syila mencari kunci itu. Ketemu. Benar ada disaku baju kemejanya.

__ADS_1


''Lagipula kau ini melihat apa ? Mengapa tidak tahu jika aku berhenti ?''


''Jangan dibahas, ayo pulang.'' Alih Syila masih dengan rasa malu. Berlalu mendahului Dika.


Dika tersenyum, ''Syila kau menggemaskan dengan kemejaku itu. Bolehkah aku mencubitmu ?'' Teriaknya pada Syila


Tanpa menoleh, Syila memberi kode dengan tangan yang mengepal, diangkatnya tinggi-tinggi. Membuat Dika kembali terkekeh.


***


''Astaghfirullah.. Syila, kau membuat Bibi cemas, sampai petang begini kau tidak memberi kabar Bibi. Kalian basah semua begini, cepat bersihkan tubuhmu.'' Cemas Bibi Nuha. Melihatku pulang dengan keadaan basah kuyup dan memakai kemeja Dika.


''Kau juga nak, pergilah membersihkan tubuhmu. Sepertinya Bibi masih punya beberapa potong pakaian baru almarhum suami Bibi. Nanti kau coba dulu untuk sementara kau pakai saja.''


Dikapun menurut, karena memang dia merasa kedinginan.


Syila selesai dengan ritualnya. Lalu pergi ke dapur hendak membuatkan minuman hangat untuknya juga Dika.


Lalu dibawanya ke ruang tamu. Sudah ada Bibi Nuha juga.


Dika keluar kamar mandi dengan penampilannya yang sangat berbeda. Sontak Syila menyemburkan minuman yang sudah ada dimulutnya.


"Hahahahahhaha..." Tawanya lepas. Bibi Nuha sontak melihat Dika, dia juga tertawa.


"Kau menggunakan kostum apa Dika ?" Tanya Syila.


"Diamlah !!" Dika terlihat kesal.


Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan pakaiannya. Hanya karena almarhum Paman postur tubuhnya 2 kali lipat dari Dika, membuat Dika seperti kurcaci waktu memakai baju Alm. Paman.


''Dika, kau seperti sedang memakai daster.'' Masih saja meledek.


''Sudah-sudah kemarilah, minum susu jahemu. Syila sudah membuatkannya tadi.'' Kata Bibi Nuha, sedangkan Syila masih mencoba meredakan tawanya. Dia sampai mengeluarkan air mata.


Syila pergi mencuci baju Dika yang basah tadi, yaa ampun pipinya merona, dia yang malu sendiri memegang pakaian mini berbentuk segitiga itu.


''Kau sedang apa dengan benda itu ?'' Tanya Dika tepat dibelakang tubuhnya, membuat Syila terkejut, bertambah malu, dan salah tingkah.


''Mengapa kau bersikap aneh begitu ? Telingamu memerah, itu baru tempatnya belum isinya.'' Tambah Dika bar-bar.


Syila melempar benda itu lalu pergi begitu saja, Dika tertawa terbahak-bahak.


''Satu sama Nona.'' Puas Dika.


Dika malam ini menginap, Bibi Nuha melarangnya pulang karena hujan turun lagi dan bertambah deras dari yang sebelumnya.


Syila sedang menyiapkan kamar untuk Dika.


Dika masuk menemui Syila.


''Melihat pemandangan seperti ini, aku sungguh tidak sabar untuk segera menikah.''


''Apa yang kau fikirkan ?'' Tanya Syila yang masih fokus memasang sprei.

__ADS_1


''Hanya berdua denganmu didalam satu kamar. Itu sudah mewakili semua yang ingin kau ketahui tentang apa yang aku fikirkan saat ini.'' Dika seringai liciknya.


__ADS_2