
Tidurnya terusik, ada rasa geli yang ia rasakan di sekitar lehernya dan telinganya.
''Emmhh.'' Lenguhan terdengar, Kaisar semakin gencar mengerjai istrinya yang sedang terlelap itu.
Syila sangat terganggu, mau tidak mau ia membuka matanya, mencari sumber pengganggunya.
''Kai?'' Suara khas bangun tidur terdengar seksi untuk Kaisar. Kaisar mengusap pipi mulus istrinya, sesekali menusuknya dengan jari.
Syila membuka matanya lebar-lebar. 'Harum sekali, bukan dedemit kan yang sedang di sampingnya.' Karena sebelumnya Syila terbawa mimpi karena tadi mendengarkan cerita pegawainya tentang hantu.
''Kai, kau baru pulang? Jam berapa ini?'' Syila meraih ponselnya dengan malas, jam sebelas malam.
''Tidurlah, ini masih malam.'' Ucap Kaisar.
''Bagaimana bisa tidur, kau menggangguku terus.'' Syila memunggungi Kaisar. Kaisar hanya tersenyum menanggapinya, ia juga ikut merebahkan dirinya dengan memeluk Syila dari belakang. Tidak ada penolakan karena Syila perlahan sudah mulai terbiasa.
****
Pagi menyapa, mentari membiaskan cahayanya. Memasuki ruang tanpa permisi sang Empu-nya. Namun juga tidak mengganggu kenyamanan di balik selimut kedua keturunan Adam dan Hawa itu.
Suara ketuka pintu membangunkan Syila, terasa terhimpit, Syila yang di dekap keseluruhan oleh tubuh Kaisar mencoba melepaskan diri dengan pelan, agar suaminya tidak terganggu.
Syila membuka pintu, sedikit terkejut, orang ini?
''Selamat pagi, Nyonya, maaf mengganggu, di ruang tamu ada Tuan Lewis.'' Ucap Bibi Lila.
''Ada apa?'' Tanya Kaisar tiba-tiba mengagetkan Syila.
''Ada Tuan Lewis di ruang tamu.'' Ucap Bibi Lila seraya pamit meninggalkan Kaisar dan Syila.
Kaisar menutup pintunya, kembali pada istrinya. Memeluk dan memberi kecupan sana sini memenuhi wajah Syila.
''Kai, hentikan!'' Perintah Syila yang di anggap angin berlalu saja.
''Kai, aku mau bicara sesuatu. Lepaskan!'' Akhirnya Syila terlepas juga dari serbuan Kaisar.
''Ada apa?'' Tanyanya.
''Aku nanti sepertinya pulang larut.'' Jawab Syila.
''Mau kemana?''
__ADS_1
''Mendatangi acara pernikahan Dika dan Laura.''
Rupanya Kaisar melupakan itu, dia malah mengejar pekerjaan dan memajukan beberapa pertemuannya dengan kolega bisnisnya agar nanti bisa libur panjang lagi bersama Syila.
***
Syila datang ke acara Dika sendirian, dia berangkat menaiki taxi. Berbalut gaun maroon yang cantik, memakai high hells yang dulu anti sekali, kini ia sudah pandai memakainya. Wajah yang di beri sedikit polesan juga bros kecil cantik dari berlian asli bertengkar manis di hijabnya. Menambah kesan dewasa dan elegam malam ini.
Syila mengedarkan pandangannya, berharap bertemu satu manusia yang ia kenal, agar dia tidak merasa sendiri. Namun tidak ada, Syila disana seperti orang asing, mereka bukanlah kalangan Syila, Syila tidak mengenal satupun diantara mereka.
Syila memasuki aula diadakannya pesta.
Tap..
Tap..
Tap..
Peraduan antara sepatu dan keramik yang ia pijaki menimbulkan suara nyaring. Seperti memberi tanda, sang putri telah hadir, beberapa pandangan matapun tertuju kepada Syila.
Syila memberi senyum canggungnya.
Di sana, di ujung kerumunan para pria yang terlihat berkelas, ada pria yang menatap kehadiran Syila tanpa berkedip dan juga sendu. Rasa bersalah kembali memenuhi hatinya. Bodoh! Harusnya dia menikahi Syila bukan Laura. Seperti itu terus hatinya menyalahkan Dika tanpa mau berbelas kasih.
'Dia cantik, sangat cantik malam ini, sampai-sampai menjadi pusat perhatian seperti itu.' Dika.
Ya Dika sedang menyapa kolega-koleganya. Ia pun beranjak dari sana. Lalu mendekati Syila.
''Syila?''
Ada yang bergetar, hanya mendengar suara itu memanggil namanya, Syila mendongakkan wajahnya, rasa sakit yang sudah lama ia kubur, dan berharap mati, ternyata masih tersisa di dasar sana. Apa Dika sudah mendapatkan ingatannya kembali, 'Ayo Syila!' Menyugesti dirinya sendiri. Syila segera mengembalikan kesadarannya kembali.
''Haii!'' Sapa Syila.
Dika mengulurkan tangannya, ingin menjabat tangan wanita yang masih ia cintai, ''Apa kabarmu, Syila?''
Syila menyambut dengan mengatupkan kedua tangannya, mencondongkannya ke arah Dika namun tidak bersentuhan, ''Aku baik.''
Dengan rasa canggung Dika menarik kembali tangannya, sekarang dia semakin jauh dari sentuhan pria. Betapa beruntungnya suaminya kelak.
''Selamat menempuh hidup baru ya, semoga langgeng dan bahagia selalu.'' Doa Syila tulus, namun terdengar menyayat di hati Dika.
__ADS_1
''Iya, terimakasih. Kau dapat undangan dari siapa? Apa kau membawa pasangan?'' Tanya Dika, ingin menutupi semua rasanya untuk Syila. Bahkan matanya yang sendu seperti ingin mengeluarkan cairan beningnya. Dika sangat merindukan Syila, melihatnya hari ini dengan balutan pakaian yang terlihat elegan, Dika menyimpulkan bahwa hidupnya sudah lebih baik.
''Aku tamu khusus, istrimu yang mengundangku secara langsung.'' Jawab Syila apa adanya.
''Syila maafkan aku.'' Mata sendu itu tak lepas menatap wajah Syila, dan Syila sesekali memalingkan wajahnya sendiri.
''Apa kau sudah mengingat semuanya?'' Dika mengangguk sebagai jawaban.
Syila mengela napas, membuang rasa di hati yang tiba-tiba terasa sesak.
''Sudah ku maafkan, dan semua sudah berlalu. Jangan pernah di ungkit lagi.'' Suara Syila bergetar, ia teringat lagi rasa pengkhianatan yang di lakukan calon suaminya sendiri.
Lalu Laura datang dengan bergelayut manja di leher Dika, Dika mendongakkan wajahnya, tanpa sungkan Laura mengecup bibir Dika. Syila memalingkan wajahnya.
''Hai, kau datang sendirian?''
''Seperti yang kau lihat.'' Laura semakin bergelayut manja disana. Membuat Syila mual seketika.
Laura tersenyum sarkastik, 'Bagaimana hatimu? Pasti sakitkan? Kau hanya pura-pura baik bocah!''
''Oh iya, ini, aku membawakan ini, semoga kalian suka.'' Disodorkannya kotak berbentuk kado itu untuk Laura.
''Apa yang kau bawa?'' Terdengar seperti merendahkan, namun tangannya membuka hadiah itu di sana.
Laura terdiam.
''Seharusnya kau tahu fashion, jika hanya untuk menilai harga sebuah benda, aku yakin kau lebih pandai dari pada aku.'' Syila berucap langsung membungkam mulut Laura.
Mereka pergi dengan bergandengan mesra, menuju podium, saat pembawa acara memanggil mereka untuk acara selanjutnya.
Masuk dalam sesi dansa, pengantin akan mengawali dansa mereka, para tamu undangan juga di ajak untuk berdansa.
Lalu sang pembawa acara dengan semangatnya mengatakan jika mereka malam ini kehadiran tamu luar biasa, saat tanpa sengaja pintu ruangan itu terbuka menampilkan sosok yang mengangumkan. Semua mata mencari siapa yang membuat mata pembawa acara itu begitu berbinar.
Dari pintu masuk sana terlihat dua pria beda usia sedang berjalan dengan ponggahnya. Sudah seperti para model, bahkan pengantin yang menjadi raja dan ratupun terasa tenggelam hanya dengan kedatangan dua pria yang sudah pasti banyak yang mengenalnya dalam dunia bisnis itu.
Mereka adalah Kaisar dan Lewis, Kaisar langsung berjalan menuju podium, memberikan selamat kepada para mempelai.
Tatapan tidak suka langsung terbaca oleh Dika, seperti menghunus tepat di jantungnya.
Laurapun sama bingungnya kenapa Tuan Kaisar seperti memiliki dendam kepada suami barunya itu.
__ADS_1