
"Aku masih sangat mengantuk, beri waktu 5 menit saja. Atau kalau tidak kau dengan Bibi Nuha dulu." Jawab Syila sembari menguap kembali.
"Apa yang kau lakukan semalam ? Apa kau bergadang ?" Syila tidak menjawab dia sudah merebahkan dirinya di kasur lagi.
Bibi Nuha tadi pamit mengantar kue pesanannya. Dan Dika disuruh membangunkan Syila sendiri.
Dika memasuki kamar Syila tanpa Syila sadari.
Mengambil laptopnya, wajah Syila memenuhi layar laptop, dengan pose seperti dia sedang tiduran dikursi dengan kepala dibawah dan kaki diatas, rambutnya tergerai indah jatuh menyentuh rumput dengan senyum yang merekah ditambah ada beberapa daun kering yang berjatuhan.
'Pose yang aneh, tapi dia terlihat cantik sekaligus menggoda.'
Dika mengotak atik laptop itu, sampai dia penasaran dengan file baru. Dika buka dan dia baca.
Cinta...
Jangan pernah ragu di kala aku bungkam
Untuk mencintaimu aku tak mau berucap
Karena kau adalah syair yang senantiasa membuatku gugup
Mungkinkah ini sebuah pertanda ?
Kala tatapku bergulir dengan nyata pada indahnya matamu
Tanpa kusadari kau telah memasung bahagiaku tanpa ampun
Tak peduli seberapa lemah getar itu menyisir kalam batinku
Yang aku tahu, aku mempunyai rindu untukmu
Dika tersenyum membaca artikel yang Syila buat ini.
'Sudah manis, pandai berkata-kata manis juga, tapi mengapa tidak ia praktekkan ketika denganku ya.' Batin Dika.
Lalu dia menoleh kesebelahnya dimana Syila terpulas. Sudah hampir satu jam Dika menunggunya tidur di dalam kamar. Tidak ada yang dilakukannya. Hanya diam mengamati kekasihnya tidur.
Disentuhnya surai yang menutupi wajah itu. Dari kening, mata, hidung, pipi dan bibir. Dika mengagumi semuanya. Semua terlihat pas untuk Syila. Bahkan ketika dia tertidur seperti ini tak mengurangi kesan ayu padanya.
Syila terusik dengan tangan yang menoel-noel pipinya.
"Yah.. Syila mengantuk, nanti saja ya berkebunnya." Oceh Syila.
"Bangun putri tidur, kalau kau tidak bangun juga pangeran tak berkudamu ini akan mencium bibirmu." Bisik Dika.
Sedetik
Dua detik
Apa pangeran tak berkuda ? Dika ? Cium ?
Syila langsung terkesiap duduk reflek menarik selimut menutupi tubuhnya, Dika tertawa melihat Syila begitu.
"Tidak sopan !!" Sudah siap dengan bantal yang akan diterjunkan pada Dika.
"Masuk kamar orang lain tanpa permisi !!" Dengan memukul-mukul Dika dengan bantal itu, Dika malah tertawa. Lalu dicekal tangan itu.
__ADS_1
"Aku sudah permisi Nona, kau bahkan tidak menutup kembali pintu kamarmu. Aku pikir itu tandanya kau mengizinkanku masuk."
"Apa yang kau lakukan disini ketika aku tidur ?" Syila waspada dan curiga.
Dengan sengaja Dika mengusap bibirnya dengan ibu jarinya dengan tatapan mata yang menggoda, "Semanis orangnya." Katanya. Sukses membuat Syila kembali kesal.
"Kau mengambil ciuman pertamaku !! Mencuri kesempatan untuk melakukannya, hah ?!"
"Dasar mesum, tidak punya etika, aku marah denganmu, keluar dari kamarku, Tuan Mesum !!"
Dikapun keluar dengan tawa yang pecah. Dia benar-benar suka melihat Syila yang begini.
'Aku akan awet muda jika setiap hari begini dan apa tadi ? Ciuman pertama, haha aku tidak percaya dia sepolos itu. '
Syilapun membersihkan diri. Dia menggosok bibirnya berulang kali. Walaupun Dika tunangannya, tapi tidak seharusnya dia menciumnya secara diam-diam begitu.
Padahal Dika tidak melakukan apapun.
***
Syila keluar kamar dengan pakaian santainya, rambutnya masih basah, dia melihat Dika sedang duduk manis di ruang tamu.
Syila pergi ke dapur untuk membuat susu kunyit untuknya sendiri. Lalu ikut bergabung dengan Dika.
"Kau tahu Bibi kemana ?"
''Dia mengantar pesanan kue. Kau sepertinya sangat menyukai susu kunyit, apa itu enak ?'' Dika melihat apa yang Syila minum.
Lalu tanpa aba-aba dia langsung merampas gelas Syila lalu meminumnya. Tepat dibekas bibir Syila.
''Dika...'' Ahh sudahlah ia malas berdebat.
''Dika bisakah kau berhenti bersikap seperti itu ? Kau membuatku geli sekaligus takut.''
Dikapun terkekeh.
''Kau itu lucu, aku sangat suka menggodamu. Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti.''
''Dika, bahkan kau belum berangkat, tapi kau sudah mengatakan rindu ribuan kali.''
Dika tertawa, ''Kau sudah seperti majas hiperbola saja, berlebihan dalam memilih kata.''
''Dan kau sudah seperti penyair saja membawa-bawa majas.''
Pertengkaran panjang di pagi hari, membuat Syila kesal, dan bahagia untuk Dika.
***
Hari ini Dika mengajak Syila keliling kota. Beberapa tempat yang mereka kunjungi, terakhir Dika mengajak Syila pergi ke mall.
''Syila tunggu sebentar.'' Syila menunggu Dika.
Hampir bosan, Syila sudah ingin beranjak dari duduknya. Sebelum sebuah boneka kelinci berukuran besar mengagetkannya dari samping.
Siapa lagi pelakunya jika bukan tunangannya itu.
''Untukmu.'' Ucap Dika.
__ADS_1
''Aku bukan bocah, Dika.'' Namun tetap Syila menerimanya dengan girang.
''Jika kau perlu pelukkan atau merindukanku saat kita jauh nanti, kau bisa memeluknya sebagai gantiku.'' Syila terkekeh. Dia mengangguk.
''Dika, kau sudah tua, sudah tidak pantas bertingkah seperti ini, apa kau tidak malu ?''
''Ck.. Aku masih muda, apalagi jika selalu bersamamu, aku akan terus muda.'' Tatapnya dalam membuat hati Syila luluh.
''Kau suka penyair ?'' Tanya Dika.
''Sedikit.''
''Sepertinya kau cocok menjadi penyair, puisimu bagus.'' Kata Dika.
''Kau mengotak atik laptopku ?'' Dika mengangguk.
''Apa lagi yang kau lihat ?''
''Hanya beberapa tugas kuliahmu.''
'Dia tidak membahas lamaran pekerjaan, berarti dia tidak membuka emailku.'
''Sayang aku ke toilet dulu ya.'' Pamit Dika.
Syila sedang menikmati makanannya dengan melihat-lihat hilir mudik orang-orang disana. Lalu terlihat beberapa orang yang terdiri dari 3 lelaki dan satu perempuan, sangat menonjol diantara pendatang lainnya. Pakaiannya, penampilannya.
''Orang kaya.'' Kata Syila untuk dirinya sendiri.
Ketika orang-orang itu sudah berlalu, Dika datang.
''Hayo lihat apa !?" Dika.
''Itu tadi, ada segerombolan orang datang membuat heboh para pengunjung disini. Siapa sih ? Apa dia aktor ?''
''Kau tak tahu siapa dia ?''
''Ayolah.. jika aku tahu, aku tak akan bertanya.'' Sahut Syila.
''Dia Kaisar Javier Mahendra, putra ke dua dari Tuan Mahendra. Dia yang mengelola anak perusahaan keluarganya di kota ini.'' Jelas Dika.
''Ohh begitu, pantas kedatangannya sudah seperti jenderal saja.'' Jawab Syila acuh.
''Kau tidak tertarik dengannya ?'' Dika.
''Kau ingin aku mendua darimu ?'' Syila.
''Itu terlalu horor, sayang.'' Jawab Dika ngeri sendiri.
''Pasalnya karyawati di tempatku bekerja semua membicarakannya, ada yang bilang dia duda loh.'' Dika.
''Berhenti bicara tentang orang lain, Dika. Kau membuatku berfikir jangan-jangan kau juga menyukainya.'' Syila memicingkan matanya.
''Sayang, aku pria normal, doyannya dengan lawan jenis bukan sesama jenis.'' Bela Dika.
'Dia membayangkan bagaimana caranya 'bermain' dengan sesama jenis.'
Dika bergidik ngeri dan merasa mual sendiri dengan apa yang ada di pikirannya.
__ADS_1
''Kau kenapa ?'' Tanya Syila.
''Tidak, hanya sedikit mencerna apa yang kau katakan.''