Karma Cinta

Karma Cinta
Ulat Bulu


__ADS_3

''Emm Doni... terimakasih yah untuk waktu-waktumu kemarin. Untuk bantuannya. Dan kebaikan-kebaikanmu selama ini kepadaku.'' Ucapku tulus.


''Semoga setelah kita tak lagi satu sekolahan nanti, kita masih bisa menjalin tali pertemanan ini dengan baik.'' Imbuhku.


**


Aku tertegun.


Setelah sekian lama meyakinkan diri bahwa memang di antara kami tidak akan menjalin hubungan melebihi teman, namun saat Syila mengatakan 'tali pertemanan' hatiku masih saja merasa kecewa.


Setelah kejadian tentang Adji aku mencoba mengalihkan fikiranku kepada wanita lain. Namun lagi-lagi yang teringat hanya Syila.


''Hemm..''


''Jaga dirimu baik-baik nanti. Jangan biarkan pria manapun menyakiti hatimu lagi. Hubungi aku jika suatu saat kau membutuhkanku.'' Jawabku.


Hanya di angguki oleh Syila dengan senyumannya. Sungguh aku pasti akan sangat merindukan senyuman itu.


''Syila... emm... bolehkah aku meminta fotomu. Emm.. maksudku kita foto berdua.'' Pintaku dengan keraguan.


''Jangan berfikir yang tidak-tidak hanya untuk kenang-kenangan saja.'' Imbuhku meyakinkan.


''Kau ini seperti mau meminta apa saja. Kemari ! Mendekatlah.. jarak membuatmu tidak terlihat dikamera ponselku.'' Aku menarik Doni mendekat lalu kuarahkan kamera dengan banyak pose.


''Hahahaha lihat wajahmu tegang sekali.. Seperti sedang ditagih hutang rentenir saja.'' Aku memperlihatkan hasil jepretan singkat itu kepada Doni.


Dia hanya cengengesan. Bagaimana tidak tegang.. Kau membuat jarak diantara kita seperti itu. Membuat jantungku tak karuan.


''Aku pobia kamera Syila. Kamera selalu membuatku merasa semakin tampan.'' Jawab Doni.


Aku tambah tertawa mendengar kata-kata Doni. Narsis habis.


''Mau kesana ?'' Aku menunjukkan sebuah pedagang kembang api.


''Kau ingin ?'' Tanyanya kemudian.


Aku menganggukkan kepala. Pantai disini sedang mengadakan konser. Maka para pedagangpun ramai berdatangan.


''Ayoo..'' Doni mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya untuk membantuku berdiri.


Setelah itu dia berlari dengan berteriak.


''Syila.. yang kalah yang membayarnya..!!''


Mataku membola.


''Kau curang..!!'' Teriakku. Akupun berlari mencoba mengejarnya.


Huft huft.. Tapi sia-sia. Aku lelah. Nafasku sudah tersenggal-senggal. Kulihat Doni sudah sampai dipedagang itu.


Aku bersandar dibawah pohon kelapa yang terlihat terang karena ada lampu kecil-kecil yang melilitnya. Tiba-tiba aku melihat seperti ulat bulu sedang menggerayahi tanganku.

__ADS_1


''Aaaaaaaa...'' Aku panik sungguh panik. Aku takut. Ingin membuang dengan tanganku yang lain tapi tak mampu. Ahh jijik, geli, takut.


Aku berlari tanpa memperhatikan jalan dengan tangan yang masih kukibas-kibaskan.


Bughh..


Auhh.. sakit aku menabrak orang sampai-sampai kami terjerambah di pasir pantai.


''Maaf Tuan..'' Tak terasa aku mulai menangis. Ya Tuhan selemah ini aku dengan serangga berbulu ini.


''Nona ? Kau tak apa ? Mengapa menangis ?'' Tanya pria asing itu. Dengan sedikit tertegun.


''Tolong to.. tolong periksa lenganku. Apa masih ada ulat bulu. Aku tak berani melihatnya.'' Jawabku dengan terisak tak sabar.. Jika bisa, ingin rasanya lenganku kulepas, kubuang jauh-jauh, tempat yang sudah disinggahi serangga menjijikkan tadi.


Pria tadi nampak cengo sesaat lalu tersenyum geli. Lalu mulai memeriksa.


''Ohh ini.. Sudah kuambil dari lenganmu nona.'' Dia malah memperlihatkan didepan wajahku. Sontak aku semakin mundur ketakutan.


''Ahhh kau..!! Singkirkan hewan itu. Jauh-jauh buangnya.'' Teriakku.


Aku masih mencoba membersihkan lengan yang terkena ulat bulu tadi dengan tanganku yang lain. Lalu aku usapkan dengan kasar ke pasir pantai. Rasanya seluruh tubuh menjadi gatal. Huhh menyebalkan sekali.


''Terimakasih Tuan sudah membantuku. Maaf juga tadi aku menabrakmu. Sungguh aku tidak sengaja.'' Tanpa menunggu jawaban pria asing ini aku membungkukkan sedikit tubuhku lalu berlalu. Tak mau menyusul Doni, aku memilih kembali kepada teman-temanku.


****


''Kau kenapa ?'' Tanya Talita yang melihatku kembali dengan wajah kusut. Aku hanya menggelengkan kepala.


''Kau kalah, lalu kau kabur, ck.. kau sungguh curang..!!'' Sarkas Doni.


''Kau yang curang. Memberi intruksi namun sudah berlari lebih dulu.'' Jawab Syila


Doni hanya tertawa. Lalu memperhatikan wajah Syila yang berantakkan.


''Apa kau tadi bertemu hantu ?? Mengapa wajahmu kusut dan tegang sekali ??'' Tanya Doni.


''Melebihi hantu seramnya.'' jawab Syila.


''Benarkah ? Apa itu ?'' Doni sudah membayangkan yang tidak-tidak.


''Ulat bulu''. Sontak teman-teman mereka tertawa semua mendengar penuturan Syila. Syila yang ditertawakan hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


**


Malam berlalu dengan indah. Makan-makan, di temani dengan alunan musik dan api unggun. Saling bercerita, saling memeluk dan mengenggam satu sama lain. Seolah mereka tidak akan bertemu lagi.


Syila, Talita, dan Dea sedang bermain kembang api yang tadi Doni belikan. Dengan sesekali berfoto.


Doni ikut tersenyum melihat Syila seceria ini.


Malam sudah larut sekali, bahkan konser musik yang di adakan sekitar sana sudah selesai dari tadi.

__ADS_1


Namun perkumpulan para remaja ini semakin menjadi hangat.


Hingga waktunya untuk mereka kembali ke penginapan, karena masih ada hari esok.


**


Keesokkan paginya mereka kembali berkumpul untuk sarapan. Selesai itu mereka langsung berlari menuju pantai.


Huaaa deburan ombak yang menggoda. Teman-temanku sudah memesan segala permainan. Sekarang mereka sedang menikmati permainan banana boat. Tapi tidak denganku. Aku hanya menikmati segelas orange juice dengan buku novel yang aku bawa.


Tiba-tiba Doni menghampiriku.


Wahh penampilan yang berbeda sekali. Dia menggunakan celana pendek dan baju kemeja khas pantai dengan kancing yang terbuka hingga dadanya.


Aku memalingkan wajahku. Malu.


Tanpa dipersilakan dia sudah duduk disampingku.


''Mengapa tidak ikut bermain ?''


''Kau sendiri mengapa tidak ikut dan memilih kemari ?'' Bukannya menjawab malah memberi pertanyaan.


''Tadi sudah, sekarang mau istirahat. Lelah.'' Jawab Doni.


Membuatku tak percaya, pasalnya pakaian yang ia kenakan belum basah sama sekali. Tapi aku tak mau memperpanjang.


''Aku mabuk laut.'' Jawabku singkat.


''Hah ?'' Terlihat dia terkejut.


''Lalu mengapa kau memilih tempat ini untuk liburan ? Sedangkan kau tak bisa menikmatinya ??'' Tanya Doni.


''Karena teman-temanku suka. Aku menikmatinya Doni. Walau tak bisa ikut ke tengah sana bukan berarti aku tidak suka dengan lautkan !" Doni semakin tak mengerti.


''Hemmm.. aku suka pantainya, suka pasirnya, suka pemandangannya, dan suka sekali melihat kabahagiaan dan kebersamaan disini bersama teman-temanku. Tempat ini penuh kenangan.'' Jawabku menatap jauh menerawang.


Donipun mengangguk setuju. Lalu mengalihkan pandangannya pada apa yang ada ditanganku.


''Apa yang kau baca ?'' Tanyanya kemudian.


''Ohh ini buku novel romansa.'' Jawabku.


''Bagaimana inti ceritanya.'' Tanya Doni lagi.


''Bagus, manis, bahkan aku suka berhalusinasi berperan sebagai tokoh wanitanya.'' Jawabku sangat antusias.


''Lalu bagaimana karakter prianya ??''


''Dia tipe penyayang, bucin akut sama tokoh wanitanya. Pria terhormat, pria baik-baik. Tapi tidak peka terhadap kebutuhan wanita. Dia benar-benar menggemaskan.'' Tambah antusias saja Syila membeberkan isi novelnya.


Lalu Doni mengulum senyumannya melihat Syila dengan ekspresi begitu.

__ADS_1


''Heii mengapa jadi membahas isi novel yah ?'' Diapun terkikik dan Doni hanya bisa tersenyum dengan menggelengkan kepala.


__ADS_2