Karma Cinta

Karma Cinta
Tersadar


__ADS_3

5 hari sudah Kaisar tertidur, tanpa ada tanda-tanda akan terbangun. Lewis dan Rana mengurus pekerjaan mereka secara online. Dengan masih mencari jejak Adnan juga.


5 hari juga Syila membawa hidupnya ke rumah sakit. Urusan toko dan kafe ia pasrahkan kepada Fanya hanya sesekali ia datang jika ada pesanan kue besar yang harus di hias.


Tangannya sudah mulai sembuh ia merawat Kaisar dengan sangat telaten.


"Kai, cepatlah bangun, kau tak berniat menjadikanku janda mudakan?"


Dengan tangan kanan menompang wajah dan tangan kiri bermain-mwin di lengan kokoh suaminya, "Kau tahu, aku merindukanmu, sungguh, apa kau tak ingin mendengar pengakuan hatiku?"


Syila memperhatikan wajah Kaisar lagi yang terlihat damai, ''Kai..., apa ini semacam cerita dongeng, yang dimana kekasih hatinya tertidur pulas dan akan bangun jika mendapatkan ciuman dari cinta sejatinya?"


Syila mempraktekkannya, ia mencium bibir Kaisar, bukan hanya bibir tapi seluruh wajahnya dengan pelan, "Lihat, tapi kau tidak bangun juga, bahkan tanpa reaksi apapun, walaupun aku sudah menciummu."


"Kai, bangunlah, jangan seperti ini, aku sendirian," air mata kembali meleleh.


"Oke apapun itu, jika kau cepat sadar, apapun yang kau mau aku turuti. Aku ingat kau ingin seorang anak bukan? bagaimana itu bisa terjadi jika kau terus tertidur seperti ini? anak-anak panti menanyakanmu, juga anak-anak yang kau beri pendidikan secara cuma-cuma mereka semua mengkhawatirkanmu, bangun Kai... ." Syila sesegukan sembari menjatuhkan kepalanya yang berat di sisi ranjang Kaisar.


Terdengar pintu terbuka, Rana masuk dengan Lewis.


"Syila, beristirahatlah, pulanglah dulu, biar kami yang menjaganya," kata Rana yang baru saja pulang dari kantor Kaisar.


Syila hanya menggelengkan kepala, "Di rumah sepi Kak, aku tidak mau. Biar aku yang disini."


Rana mendekati adiknya yang masih betah tertidur, "Bagaimana kabarnya hari ini?" tanyanya kepada Syila.


"Masih seperti kemarin," jawab Syila pilu.


Hening.


"Kak, bagaimana perkembangan tentang Adnan? apa sudah tertangkap?"


"Belum, kepolisian sedang menyelidikinya. Dia benar-benar seperti hilang di telan bumi, tidak ada jejak. Jangan khawatir, dia pun terluka dia belum bisa leluasa bergerak," Syila paham.


Syila mendapatkan panggilan dari Fanya, jika ada pesanan kue yang harus Syila hias. Dengan begitu Syila berpamitan dengan Rana, memintanya untuk bergantian menunggu Kaisar sebentar.


Syila pergi di antar salah satu bodyguard dari Kaisar. Mulanya menolak, namun teringat kembali kejadian waktu menaiki taxi, dia akhirnya menurut.


Ketika Syila pergi, tak lama Kaisar mulai menggerakan tangannya, membuka matanya perlahan, Lewis yang kebetulan sedang disana melihatnya langsung memanggilkan dokter. Sedangkan Rana sedang keluar.


Hasil pemeriksaan mengatakan jika semua baik. Kaisar sudah sadar tinggal menunggu dia pulih. Kabar membahagiakan itu langsung di sampaikan kepada orangtua Kaisar yang baru saja sampai di negaranya. Mereka tidak bisa lama untuk tinggal. Mereka juga sama bahagianya. Tak henti-hentinya mengucap syukur.

__ADS_1


***


Syila kembali di waktu petang, Rana Dan Lewis menunggunya di depan ruangan Kaisar dengan wajah yang sedih.


"Kalian kenapa? mengapa wajah kalian begini? ada masalah dengan perusahaan?" kompak mereka menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Masuklah Syila, Kaisar...," Rana tak melanjutkan kata-katanya membuat Syila gusar sendiri.


Syila membuka pintu, ia lihat monitor sudah di matikan, infus juga sudah tidak ada, jantungnya sudah bedegup lebih kencang, air matanya juga sudah lolos dari tempatnya. Pemikiran terakhir Syila adalah kematian.


"Kai?" Syila berhambur kepelukan Kaisar.


"Kau tidak boleh pergi bangun Kai, aku sama sekali tidak mengijinkanmu pergi!! kau tidak patuh? baiklah aku akan membencimu sampai urat nadiku berhenti berdenyut!" sampai ia tidak menyadari dengan detak jantung yang masih berdetak bahkan kini lebih kencang dengan deru napas yang tertahan.


"Aku bahkan baru mulai mencintaimu, bagaimana kau tega membuat cintaku tanpa pemiliknya!" tanpa mau mengangkat wajahnya dari bahu Kaisar, masih menangis sesegukan.


"Benarkah kau mencintaiku?"


Syila berhenti menangis mendengar suara yang beberapa hari ini ia rindukan, ia harapkan bisa mendengarkannya kembali, ia terkejut lalu mengangkat wajahnya. Terlihat disana wajah Kaisar yang masih pucat namun sudah bisa tersenyum, melihatnya penuh rindu.


"Apa yang kau lihat? aku bukan hantu!"


"Akhh, ini sakit," Kaisar meringis.


"Benarkah? maaf aku terlalu kencang memukulmu?" sudah khawatir kembali.


"Tidak, aku bercanda, hehe," kata Kaisar dengan terkekeh.


"Itu tidak lucu Kai, kau senang sekali membuat jantungku terasa ingin loncat dari tempatnya,'' sesekali mengusap pipinya yang basah.


Hening.


Mereka saling tatap dengan senyum merekah. Bayangan kehilangan akhirnya terhapus juga. Menyelami rasa yang akhirnya Syila sadari jika itu sudah hadir di hatinya, tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Rasa yang selalu suaminya tanyakan, rasa yang dulu Syila enggan merasakannya kembali.


''Aku mencintaimu Kai, jangan biarkan cinta yang baru tumbuh ini tanpa pemilik, dia sangat susah tumbuh di hati yang gersang dan tandus, sekalinya tumbuh lagi aku berharap dia punya pemilik setianya, jangan lagi membuatku merasa sangat takut begitu,'' kata Syila.


''Kemarilah, aku merindukan aromamu,'' Syila mendekat, memeluk suaminya dengan perlahan. Kaisar membelai pelan punggung Syila.


''Aku senang akhirnya kau luluh juga, walau aku harus koma beberapa hari,'' mereka melerai pelukan.


''Kau siap mengandung?'' tanya Kaisar kemudian.

__ADS_1


Syila sedikit mengerutkan keningnya, ''Kau mendengar bagian itu juga?''


''Aku mendengar semuanya, hanya ketika ingin menjawab itu sangat susah, aku tidak sabar ingin segera pulang,'' jawab Kaisar.


"Kenapa hanya bagian itu yang kau pikirkan dan kau ingat? kau tak menanyakan keadaanku terlebih dulu?!'' Syila merajuk.


Tak lama pintu terbuka, menampakkan kedua sosok pria yang ikut tersenyum.


Syila mengingat sesuatu, ''Sejak kapan kau sadar?'' ia sudah bersedekap dada.


''Sejak kau pergi Nona,'' jawab Lewis.


''Jadi kalian mengerjaiku, hm?! ini pasti ulahmu?'' tatapan setajam silet ia layangkan kepada Kaisar.


''Kak, panggilkan dokter, sepertinya aku harus tidur lagi, punggungku masih sakit, dan sekarang sudah mau mendapat amukan dari istri sendiri,'' Rana hanya tertawa melihat adiknya yang sudah kembali sadar, juga langsung mendapatkan balasan dari perasaannya itu.


Memang Kaisar yang meminta untuk tidak memberitahu Syila, ia ingin memberi kejutan. Tak di sangka ketika sedang menunggu malah ia ketiduran. Dan bodohnya lagi Syila tidak menyadari napas juga detak jantung yang masih ada saking khawatirnya.


***


Dia...


Yang hadir dengan membawa penawar luka


Menyelami lautan rindu yang tak bertuan


Dia...


Yang ku kira hanya dermaga, tak tahunya dia adalah istana


Dari sulitnya menerima, hingga ia membuatnya mudah bahkan terus merindu


Dia...


Bukan senja, yang indah namun hanya sesaat


Dia adalah sebuah nirwana


Tempat hati ini melabuhkan dan bersandar dengan rasa ternyamannya


^^^Arsyila Putri*^^^

__ADS_1


__ADS_2